Tugas Pengantar Teknik Industri - Perencanaan dan Pengendalian Produksi Es Buah

  • Published on
    16-Sep-2015

  • View
    311

  • Download
    6

DESCRIPTION

Tugas Pengantar Teknik Industri - Perencanaan dan Pengendalian Produksi Es Buah

Transcript

TUGAS IVMata Kuliah TKI 124 Pengantar Teknik IndustriSie APERENCANAAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI

DISUSUN OLEH:Alfian (2008-043-170)Anastasia Cindy Claudia (2013-043-050)Regina Andriani (2013-043-087)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSRIFAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA2014KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah karena atas rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas ini. Penulis pun sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, memberi saran, dan masukanmasukannya untuk kelancaran usaha ini. Khususnya kepada Bapak Hotma Antoni Hutahaean, S.T., M.T., yang sangat berperan dalam pengarahan kegiatan usaha ini.Tugas ini adalah tugas keempat dari matakuliah Pengantar Teknik Industri, dimana penulis diwajibkan untuk menjelaskan Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Pada makalah ini akan dibahas materi mengenai cara merencanakan produksi suatu barang secara tepat menurut pemikiran orang Teknik Industri mulai dari perencanaan bahan, jumlah pekerja, sampai merencanakan berapa banyak produk yang diproduksi dalam satu periode.Penulis menyadari, bahwa masih banyak kekurangan dalam tugas ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk ke depannya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Akhir kata, zpenulis ucapkan terima kasih dan selamat membaca.

Jakarta, 12 Juni 2014

Tim Penulis

KEGIATAN PERENCANAAN & PENGAWASAN OPERASI1. PeramalanIni merupakan tahap awal dalam perencanaan dan pengendalian produksi. Didalam tahap ini akan mengestimasi permintaan yang akan daatang berdasarkan data penjualan masa lampau yang dianalisis dengan cara tertentu. Data yang dibutuhkan untuk melakukan peramalan adalah data historis mengenai permintaan produk yang telah ada sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah pernyataan dari jumlah permintaan yang diharapkan untuk beberapa produk selama periode perencanaan tertentu. Misalnya, kemarin produksi mentega sebanyak 20 dus, hari ini juga 20 dus, maka diperkirakan besok produksi 20 dus saja. Peramalan Subyektif. Menekankan pada keputusan-keputusan hasil diskusi, pendapat pribadi dan institusi. Metode DelphiMetode Delphi adalah cara/teknik untuk meramalkan kejadian yang akan datang dan bukan dipakai untuk merencanakannya. Para pakar akan mencoba memberikan jawaban terhadap kuisioner yang berkaitan dengan kondisi dan permasalahan masa depan dalam forum panel diskusi. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi peserta forum untuk mengutarakan pendapatnya tanpa merasa segan karena tidak ada koleganya yang mengetahui isi pendapatnya seperti dalam forum diskusi terbuka. Metode ini sangat efektif untuk peramalah kebutuhan jangka panjang/ long term predictions/ forecasting) dimana tidak ada data masa lalu. Metode Penelitian PasarMetode ini menganalisa fakta secara sistematis pada bidang yang berhubungan dengan pemasaran. Biasanya dengan teknik survei konsumen yaitu diminta untuk mengisi kuisioner. Peramalan Obyektif. Prosedur peramalan yang mengikuti aturan- aturan matematis dan statistik. Metode Intrinsik Peramalan yang hanya berdasarkan proyeksi permintaan historis (data masa lalu terkait berapa jumlah barang yang laku terjual) tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi besarnya permintaan.Digunakan untuk peramalan jangka pendek. Misalnya menggunakan analisis deret waktu (time series)Rata-rata Bergerak Tunggal (moving average)Tujuan utama dari penggunaan metode rata-rata bergerak adalah untuk menghilangkan atau mengurangi acakan (randomness) dalam deret waktu. Cara menghitungnya rata-rata bergerak tiga bulanan adalah dengan merata-ratakan tiga data sebelumnya misalnya data kelima adalah hasil rata-rata dari data pada bulan ketiga, keempat, dan kelima, sedangkan cara menghitung rata-rata bergerak lima bulanan adalah dengan merata-ratakan lima data sebelumnya.Soal : Diketahui penjualan es buah di Kantin Unika Atmajaya per periode selama periode satu sampai dua belas. Ramalkan penjualan menggunakan metode rata-rata bergerak tunggal (moving average).BulanDataRata-rata bergerak tiga bulananRata-rata bergerak lima bulanan

1700--

2710--

3720--

4710710-

5720713-

6700717712

7700710712

8720707710

9690707710

10680703706

11700697698

12702690698

Jadi hasil penghitungan menggunakan metode rata-rata bergerak tiga bulan pada periode empat sampai dua belas berturut turut sebesar 710, 713, 717, 710, 707, 707, 703, 697, dan 690. Sementara dengan metode rata-rata bergerak lima bulan pada periode enam sampai dua belas sebesar 712, 712, 710, 710, 706, 698, dan 698. Metode EkstrinsikMempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi besarnya permintaan dimasa datangDigunakan untuk peramalan jangka panjang, karena dapat menunjukkan hubungan sebab-akibat (disebut metode kausal). Misalnya menggunakan metode regresi linier.Dalam metode regresi linear, pola hubungan antara suatu variabel yang mempengaruhinya dapat dinyatakan dengan suatu garis lurus. Persamaan regresi linear dapat dinyatakan sbb:

Dengan :Y = Besarnya nilai yang diramala = Nilai trend pada periode dasarb = Tingkat perkembangan nilai yang diramalx = Unit tahun yang dihitung dari periode dasarSoal : Diketahui penjualan es buah di Kantin Unika Atmajaya per periode selama periode satu sampai dua belas. Ramalkan penjualan selama periode tiga belas sampai tujuh belas menggunakan metode regresi linier.

Jawaban: Penjualan (Y)Periode (X)X2XY

70011700

710241420

720392160

7104162840

7205253600

7006364200

7007494900

7208645760

6909816210

680101006800

700111217700

702121448424

Total84527865054714

= 1.5666 = 714.512Y = 714,512 - 1,5666 (x)Ramalan ke 13 Y = 714.512 1.5666 (13) = 694,1462Ramalan ke 14 Y = 714,512 1,5666 (14) = 692,5796Ramalan ke 15 Y = 714,512 1,5666 (15) = 691,0130Ramalan ke 16 Y = 714,512 1,5666 (16) = 689,4464Ramalan ke 17 Y = 714,512 1,5666 (17) = 687,8798Jadi, menurut penghitungan dengan metode regresi linier, didapatkan persamaan Y = 714.512 - 1.5666 (x) dengan peramalan pada periode ke 13 sebesar 694,1462 ; periode ke 14 sebesar 692,5796 ; periode ke 15 sebesar 691,0130 ; periode ke 16 sebesar 689,4464 ; periode ke 17 sebesar 687,8798.2. Perencanaan Operasi / ProduksiData yang dibutuhkan adalah data peramalan permintaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui berapa produk yang harus diproduksi berdasarkan hasil peramalan dan persediaan. Berikut adalah tabel rencana produksi berdasarkan peramalan permintaan di atas.BulanPeramalanKomulatifRencana Produksi 1Rencana Produksi 2

Persediaan AwalProduksiPersediaan AkhirPersediaan AwalProduksiPersediaan Akhir

170070026004902390500960760

27101410239049021707609601010

3720213021704901940501960741

4710284019404901720741960991

5720356017204901490502960742

67004260149049012807429601002

7700496012804901070503480283

87205680107049084028348043

96906370840490640504480294

10680705064049045029448094

117007750450490240505480285

1270284522404902828548063

3. Pengawasan dan Rencana PersediaanPersediaan adalah sumber daya menganggur yang menunggu proses lebih lanjut (artinya akan digunakan). Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya menyimpan banyak jenis biskuit di dalam lemari makanan. Biskuit yang banyak itu tidak akan dikonsumsi dalam satu waktu, melainkan akan dijadikan persediaan atau cadangan makanan yang akan dikonsumsi sebagai pengganjal perut ketika lapar di tengah malam. Contoh lainnya adalah menyimpan beras di rumah. Beras tidak akan sekaligus dimasak semua, tetapi menunggu untuk digunakan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.Fungsi utama pengawasan dan perencanaan persediaan adalah sebagai berikut. Sebagai penyangga, penghubung antar proses produksi dan distribusi untuk memperoleh efisiensi. Sebagai stabilitor harga terhadap fluktuasi permintaan.Masalah umum persediaan dalam suatu system dapat dibedakan menjadi dua, yaitu masalah kuantitatif dan masalah kualitatif.1. Masalah KuantitatifMasalah kuantitatif yaitu semua hal yang berhubungan dengan penentuan kebijakan persediaan, antara lain: Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan. Kapan pemesanan barang harus dilakukan. Berapa jumlah persediaan pengaman. Metode pengendalian persediaan mana yang paling tepat.2. Masalah KualitatifMasalah kualitatif yaitu semua hal yang berhubungan dengan sistem pengoperasian persediaan, antara lain: Jenis bahan/barang apa yang masih ada. Dimana barang tersebut ditempatkan. Berapa banyak barang dalam proses pemesanan. Siapa saja yang ditunjuk sebagai pemasok, dsb.Dalam masing-masing pertanyaan ini terdapat biaya yang saling berlawanan. Misalnya saja pada masalah kuantitatif. Pada pertanyaan pertama, faktor biaya akan terjadi jika order yang dibuat terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam satu waktu. Pada pertanyaan kedua, faktor biaya akan terlibat jika order dibuat terlalu sering atau terlalu jarang. Tujuan kita secara umum adalah untuk menentukan tindakan yang dapat meminimasi total biaya yang harus dikeluarkan.Persamaan total biaya sangat tergantung pada kondisi-kondisi tertentu. Berikut adalah komponen biaya dalam rangka penentuan persediaan. Biaya Pembelian (Purchasing Cost = C)Biaya pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang persediaan. Besarnya biaya tergantung dari jumlah barang yang dibeli dari harga satuan.Biaya Pembelian = D = Demand = Pembelian TahunanC = Cost = Harga Barang per item Biaya Pengadaan (Procurement Cost)Biaya pengadaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:1. Biaya pemesanan (Ordering Cost = k). Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar.2. Biaya penentuan pemasok, administrasi pesanan, pengiriman pesanan, pengangkutan, penerimaan dsb.Biaya Pengadaan = Co = Biaya Pesan = Kuantitas Pemesanan Biaya Persiapan (Setup Cost = k = Co)Biaya persiapan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang, contohnya biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, persiapan gambar kerja dsb. Biaya Penyimpanan (Holding Cost = h = Cc)Biaya penyimpanan yaituu semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan barang, meliputi:1. Biaya dari uang yang diinvestasikan dalam persediaan yang dapat saja digunakan untuk yang lain.2. Biaya dari ruang penyimpanan biaya gudang perlengkapan seperti penyediaan tekanan, penerangan, dan lain-lain.3. Biaya penyusutan, kerusakan, dan kehilangan.4. Biaya untuk asuransi dan pajak untuk persediaan.Biaya Penyimpanan = = h = Biaya Simpan = Q rata-rata Biaya Kekurangan Persediaan/Kehabisan Stock (Shortage Cost = p)Biaya kekurangan persediaan/kehabisan stock adalah biaya yang timbul sebagai akibat kekurangan persediaan (stock out) pada saat produksi

Berikut merupakan contohnya, data didapat dari tabel perencanaan produksi sebelumnya.rata-rata persediaan akhir pada rencana produksi 1 = 1.188rata-rata persediaan akhir pada rencana produksi 2 = 526

Rencana Produksi 1Diketahui:= Rp3.000D= 1.188= Rp1.000C= Rp6.000/gelas

Q== = 84Biaya pesan= = 3.000 = Rp42.429Biaya simpan = = 3.000 = Rp35.714Biaya pembelian = D x C= 1.188 x 6.000 = Rp7.128.000Total Cost = Biaya pesan + Biaya simpan + Biaya pembelian= Rp42.429 + Rp35.714 + Rp7.128.000= Rp7.206.143

Rencana Produksi 2Diketahui:= Rp3.000D= 526= Rp1.000C= Rp6.000/gelas

Q== = 56Biaya pesan= = 3.000 = Rp28.179Biaya simpan = = 3.000 = Rp53.571Biaya pembelian = D x C= 526 x 6.000 = Rp3.156.000Total Cost = Biaya pesan + Biaya simpan + Biaya pembelian= Rp28.179 + Rp53.571 + Rp3.156.000= Rp3.237.750

Analisa: Dari data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa rencana produksi yang kedua adalah yang terbaik. Hal ini dikarenakan nilai Total Cost yang lebih kecil, yaitu Rp3.237.750

4. Material Requirement Planning (MRP)Tahap ini adalah untuk merencanakan berapa bahan yang harus ada untuk membuat suatu produk karena tidak mungkin produk ada kalau tidak ada bahan untuk membuat produk ini.Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya kue keju. Bahan-bahannya ada tepung terigu, telur, dan keju. Bahan pembentuk kue keju inilah yang akan dihitung dalam tahap MRP.5. Line BalancingArtinya keseimbangan lintasan. Dalam tahap ini diharapkan mesin-mesin kerja terpakai secara efisien dan seimbang dengan jumlah pekerjaan yang sama dan status kerja yang sama. Misalnya ada 4 mesin di dalam suatu pabrik dengan 10 produk yang harus diproduksi. Diharapkan tiap mesin mengerjakan jumlah yang sama sehingga tidak menimbulkan ongkos simpan dan status pekerja yang sama baik sibuk (work) atau menganggur (idle)M1M3M2M4Storage5555SibukSibukSibukSibuk

6. Just in TimePengerjaan produksi pada waktu dan jumlah yang tetap, kualitas baik, dan harga yang paling murah.

TEORI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI

Dalam perencanaan manajemen produksi/operasi, perencanaan hingga pengambilan keputusan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kalsifikasi hirarkhis (Hierarchical Classifications). Artinya, perencanaan dan keputusan ditempatkan pada tiga kategori yakni:

1. Strategic Plans and DecisionsPada tataran ini, perencanaan dan keputusan memiliki skop yang luas dan meliputi seperti misalnya, penentuan product line, distribution and marketing channel, new plant and warehouse, dll.

2. Tactical Plans and DecisionsMerupakan keputusan-keputusan perencanaan taktis terutama yang terkait penyusunan skedul operasi, alokasi dana, penggunaan mesin, perencanaan tingkat produksi , penentuan jumlah tenaga kerja yang diperlukan, penentuan perlu tidaknya lembur, penentuan perlu tidaknya persediaan dan berapa banyak.3. Operational Plans and DecisionsMerupakan keputusan jangka pendek yang terkai misalnya menetukan pekerjaan yang harus dilakukan hari ini atau minggu ini, menentukan siapa melakukan tugas apa, menentukan tugas-tugas apa yang harus diprioritaskan. Perencanaan dan keputusan operasional ini merupakan tingkatan yang terakhir yang mencakup perencanan dan keputusan tugas-tugas rutin sehari-hari, nisalnya penjadualan karyawan dan peralatan, penyesuaian tingkat produksi, keputusan melakukan tindakan-tindakan penyesuaian bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pengoperasian mesin, pengawasan terhadap kualitas produksi.

Rencana produksi yang telah dikembangkan dengan cermat akan memungkinkan perusahaan Anda memenuhi tujuan sebagai berikut: Meminimalkan biaya / memaksimalkan laba Memaksimalkan layanan nasabah Meminimalkan investasi inventaris Meminimalkan perubahan dalam nilai produksi Meminimalkan perubahan dalam tingkat tenaga kerja Memaksimalkan pemanfaatan pabrik dan perlengkapan

TEKNIK TEKNIK UNTUK PERENCANAAN PRODUKSIDalam Perencanaan Produksi adalah penentuan kebutuhan untuk perencanaan masa depan. Perkiraan permintaan memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan ketiga tugas ini. Oleh karena itu para manajer perlu sadar akan berbagai faktor yang akan mempengaruhi ketepatan dari ramalan permintaan dan penjualan.Agar dapat melaksanakan proses perencanaan agregat, informasi berikut perlu tersedia bagi tim perencanaan produksi ini. Data ini mencakup hal-hal sebagai berikut: Informasi bahan / pembelian Informasi operasional / manufaktur Rancangan teknik / proses Informasi penjualan, pemasaran dan distribusi Informasi keuangan dan akuntansi Informasi sumber daya manusia

Pengendalian produksi adalah aktivitas yang menetapkan kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana. Tujuan utamanya adalah memaksimumkan pelayanan bagi konsumen, meminimumkan investasi pada persediaan, perencanaan kapasitas, pengesahan produksi dan pengesahan pengendalian produksi, persediaan dan kapasitas, penyimpanan dan pergerakan material, peralatan, routing dan proses planning, dan sebagainya.Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi adalah sebagai berikut:

a. Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektifb. Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal mungkinc. Mengusahakan agar pabrik dapat menguasai pasar yang luasd. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan

Fungsi dari perencanaan dan pengendalian produksi adalah :a. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktub. Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpanganc. Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibelid. Menetapkan sistem persediaan yang ekonomise. Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentuf. Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukang. Membuat jadwal produksi, penugasan, serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci

Sistem pengendalian dan perencanaan produksi terbagi ke dalam tiga tingkatan :1. Perencanaan jangka panjang (long range planning)Perencanaan ini meliputi kegiatan peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan,perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan, dan perencanaan finansial

2. Perencanaan jangka menengah (medium range planning)Perencanaan jangka menengah meliputi kegiatan berupa perencanaan kebutuhan kapasitas (capacity reqiurement planning),perencanaan kebutuhan material (material requirement planning), jadwal induk produksi (master production schedule), dan perencanaan kebutuhan distribusi (distribution requirement planning)

3. Perencanaan jangka pendek (short range planning)Perencanaan jangka pendek berupa kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir (final assembly schedule), perencanaan dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan pengendalian purchase, dan manajemen proyek

Kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi meliputi :

1. Peramalan kuantitas permintaan2. Perencanaan pembelian/pengadaan: jenis, jumlah, dan waktu3. Perencanaan persediaan (inventory): jenis, jumlah, dan waktu4. Perencanaan kapasitas: tenaga kerja, mesin, fasilitas5. Penjadwalan produksi dan tenaga kerja6. Penjaminan kualitas7. Monitoring aktivitas produksi8. Pengendalian produksi9. Pelaporan dan pendataang

Tipe ProduksiBertrand, Wortman & Wijngaard (1990) mengklasifikasikan sistem manufaktur berdasarkan tipe produksi menjadi 4 kategori, yaitu :

Make To Stock (MTS) Pada strategi MTS, persediaan dibuat dalam bentuk produk akhir yang siap dipak. Siklus dimulai ketika perusahaan menentukan produk, kemudian menentukan kebutuhan bahan baku, dan membuatnya untuk disimpan, Konsumen akan memesan produk jika harga dan spesifikasi produk sesuai dengan kebutuhannya. Operasi difokuskan pada kebutuhan pemenuhan tingkat persediaan dan order yang tidak diidentifikasi pada proses produksi. Sistem produksi mengembangkan tingkat persediaan yang didasarkan pada order yang akan datang, bukan pada order sekarang. Pada strategi ini, resiko persediaan lebih besar. Contoh produk: makanan, minuman, mainan, dan lain-lain

Assemble to Order (ATO)Strategi ATO, semua subassembly masuk pada persediaan. Ketika order suatu produk datang, perusahaan dapat dengan cepat merakit komponen menjadi produk jadi. Strategi ini digunakan oleh perusahaan yang mempunyai produk modular, yang dapat dirakit menjadi beberapa produk akhir. Strategi ini mempunyai moderate risk terhadap investasi persediaan. Operasi lebih difokuskan pada modul atau part. Contoh produk: automobile, elektronik, komputer komersil, restoran fast food yang menyediakan beberapa paket makanan, dan lain-lain.Make To Order (MTO)Sistem manufaktur Make to Order (MTO) adalah sistem manufaktur yang beroperasi berdasarkan pesanan. Sistem manufaktur ini dibagi lagi menjadi MTO non-repetitif dan MTO repetitive.Aktivitas proses dimulai pada saat konsumen menyerahkan spesifikasi produk yang dibutuhkan dan perusahaan akan membantu konsumen menyiapkan spesifikasi produk, beserta harga dan waktu penyerahan. Apabila telah dicapai kesepakatan, maka perusahaan akan mulai membuat komponen dan merakitnya menjadi produk dan kemudian menyerahkan kepada konsumen. Pada strategi ini, resiko terhadap investasi persediaan kecil, operasionalnya lebih fokus pada keinginan konsumennya. Contoh produk: komponen mesin, komputer untuk riset, dan lain-lainSistem produksi flow shop umumnya merupakan sistem produksi untuk sistem manufakturmake to stock (MTS) yang cenderung untuk memproduksi produk-produk dalam jumlah besar dan variasi yang sedikit. Pada sistem manufaktur MTS, peningkatan performansi stasiun kerja dilakukan dengan memeperbaiki cara kerja yang dilakukan di setiap stasiun. Sistem manufaktur MTO dapat juga memiliki sistem produksi flow shop, tetapi peningkatan performansi stasiun kerja tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki cara kerja melainkan juga dengan mengatur urutan order-order yang akan diproses

Engineering to Order (ETO)Dalam ETO, tidak ada persediaan. Produk belum dibuat sebelum ada order. Ketika order datang, perusahaan akan mengembangkan desain produk berserta waktu dan biaya yang diperlukan. Apabila rancangannya disetujui konsumen, maka produk baru dibuat. Strategi ini tidak mempunyai resiko (zero risk) persediaan. Dan cocok untuk produk baru atau unik. Misalnya: Kapal, komputer untuk militer, prototype mesin baru, dan lain-lain. Operasi lebih difokuskan pada spesifikasi order dari konsumen daripada partnya itu sendiri.

Fungsi PeramalanDalam fungsi peramalan tidak hanya termasuk di dalamnya teknik khusus dan model, tetapi juga termasuk input dan output dari subyek peramalan .Pengembangan fungsi peramalan dibutuhkan untuk mengidentifikasi output, karena spesifikasi output dapat menyederhanakan pemilihan model peramalan, tetapi fungsi permalan tidaklah lengkap tanpa mempertimbangkan input.Peramalan biasanya meliputi beberapa pertimbangan berikut ini :1. Item yang diramalkan2. Peramalan dari atas (top-down) atau dari bawah (buttom-up)3. Teknik peramalan (model kuantitatif atau kualitatif)4. Satuan yang digunakan5. Interval/horison waktu6. Komponen peramalan7. Ketepatan peramalan8. Pengecualian dan situasi khusus9. Perbaikan parameter model peramalan.

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi PeramalanPermintaan suatu produk pada suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yang saling berinteraksi dalam pasar yang berada di luar kendali perusahaan. Dimana faktor faktor lingkungan tersebut juga akan mempengaruhi peramalan. Berikut ini merupakan beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi peramalan :1. Kondisi umum bisnis dan ekonomi2. Reaksi dan tindakan pesaing3. Tindakan pemerintah4. Kecenderungan pasar5. Siklus hidup produk6. Gaya dan mode7. Perubahan permintaan konsumen8. Inovasi teknologiKarakteristik Peramalan yang BaikPeramalan yang baik mempunyai beberapa criteria yang penting, antara lain akurasi, biaya, dan kemudahan. Penjelasan dari criteria criteria tersebut adalah sebagai berikut: Akurasi. Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasan dan kekonsistensian peramalan. Hasil peramalan dikarakan bias bila peramalan tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah dibanidng dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan peramalan relatif kecil. Biaya. Biaya yang diperlukan untuk pembuatan suatu peramalan tergantung dari jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan, dan metode peramalan yang dipakai. Kemudahan. Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat, dan mudah diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Beberapa Sifat Hasil PeramalanDalam membuat peramalan atau menerapkan suatu peramalan, maka ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu :1. Ramalan pasti mengandung kesalahan, artinya peramal hanya bisa mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi, tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian tersebut.2. Peramalan seharusnya memberikan informasi tentang beberapa ukuran kesalahn, artinya karena peramalan pasti mengandung kesalahan, maka adalah penting bagi peramal untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin terjadi.3. Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalan jangka panjang. Hal ini disebabkan karena peramalan jangka pendek, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan relatif masih konstan sedangkan semakin panjang periode peramalan, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan.

Ada dua aspek dari horison waktu yang berhubungan dengan masing-masing metode peramalan yaitu:1.Cakupan waktu di masa yang akan dating2.Perbedaan dari metode peramalan yang digunakan sebaiknya disesuaikan.3.Periode peramalan

Ada teknik dan metode peramalan yang hanya dapat meramal untuk peramalan satu atau dua periode di muka, teknik dan metode lain dapat meramalkan beberapa waktu di depan.

Tingkat ketelitian Tingkat ketelitian yang dibutuhkan sangat erat hubungannya dengan tingkat perincian yang dibutuhkan dalam suatu peramalan. Dalam suatu pengambilan keputusan diharapkan variasi atau penyimpangan atas ramalan antara 10% -15% sedangkan pengambilan keputusan yang lain variasi 5% sudah berbahaya.

Ketersediaan dataMetode yang digunakan sangat besar manfaatnya. Apabila dari data yang lalu diketahui adanya pola musiman, maka untuk untuk peramalan satu tahun ke depan sebaiknya digunakan metode variasi musiman. Sedangkan apabila diketahui hubungan antar variabel saling mempengaruhi, maka perlu digunakan metode sebab akibat atau korelasi.

Bentuk pola dataDasar utama metode peramalan adalah anggapan bahwa pola data yang diramalkan akan berkelanjutan. Sebagai contoh, beberapa deret yang menunjukan pola musiman, atau trend. Metode peramalan yang lain mungkin lebih sederhana, terdiri dari satu nilai rata-rata, dengan fluktuasi yang acakan atau random yang terkandung. Karena perbedaan kemampuan metode peramalan untuk mengidentifikasi pola-pola data, maka perlu adanya usaha penyesuaian pola data.

BiayaUmumnya ada empat jenis biaya dalam proses peramalan yaitu: biaya pengembangan, biaya penyimpanan, biaya operasi, dan biaya kesempatan penggunaan teknik peramalan. Adanya perbedaan nyata berpengaruh atas menarik tidaknya penggunaan metode tertentu untuk suatu keadaan yang dihadapi.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan peramalan adalah :1. Tentukan tujuan peramalan2. Pembuatan diagram pencar3. Pilih minimal dua metode peramalan yang dianggap sesuai4. Hitung parameter-parameter fungsi peramalan.5. Hitung kesalahan setiap metode yang terbaik, yaitu yang memiliki kesalahan terkecil6. Pilih metode yang terbaik, yaitu yang memiliki kesalahan terkecil.7. Lakukan verifikasi peramalan.SISTEM SISTEM MRPDalam sebuah proses manufaktur selalu terjadi proses transformasi yang dimulai dari bahan bakku sebagai input yang kemudian diproses menjadi produk sebagai outputnya. Proses transformasi tersebut membentuk sebuah sistem produksi yang mencakup empat unsur pengaturan yakni :1.Pengaturan material;2.Pengaturan sumber daya manusia;3.Pengaturan modal; dan4.Pengaturan mesin.MRP merupakan sistem yang dirancang khusus untuk situasi permintaan bergelombang yanng secara tipikal karena permintaan tersebut dependen. Oleh karena itu tujuan daripada sistem MRP adalah menjamin tersedianya material, item atau komponen pada saat dibutuhkan untuk memenuhi jadwal produksi dan menjamin ketersediaan produk jadi bagi konsumen; selainn itu juga menjaga tingkat persediaan pada kondisi minimum dan terakhir merencanakan aktifitas pengiriman, penjadwalan dan aktifitas pembelian.langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses perhitungan MRP adalah sebagai berikut :1.Menentukan kebutuhan bersihKebutuhan bersih (net requirement) adalah selisih antara kebutuhan kotor (gross requirement) dengan persediaan yang ada di tangan (on hand). Data yang diperlukan dalam menentukan kebutuhan bersih adalah kebutuhan kotor setiap periode, persediaan yang ada di tangan dan rencana penerimaan (scheduled recepts) pada periode mendatang sedangkan kebutuhan kotor yang dimaksudkan adalah jumlah permintaan produk akhir. Untuk komponen yang lebih rendah maka kebutuhan kotor dihitung dari komponen yang berada di atasnya dengan dikalikan kelipatan tertentu sesuai dengan kebutuhan. Perhitungan kebutuhan bersih dapat diperbaiki dengan menambahkan faktor persediaan pengaman tetapi hanya ditujukan untuk permintaan independen. 2.Menentukan jumlah pesananPenentuan jumlah pesanan baik untuk item maupun komponen didasarkan kebutuhan bersih. Alternatif yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya ukuran lot pemesanan yaitu penyeimbangan antara biaya set up dengan ongkos simpan, fixed order quantity, lot for lot ordering, periodic order quantity dan metode akumulasi.3.Menentukan BOM dan kebutuhan kotor setiap komponenBom ditentukan berdasarkan struktur produk dengan memuat informasi nomor dan jenis komponen, jumlah kebutuhan komponen di atasnya dan sumber diperolehnya komponen sedangkan kebutuhan kotor setiap komponen ditentukan oleh rencana pemesanan (planned order releses) komponen yang berada di atasnya dengan dikalikan kelipatan tertentu sesuai kebutuhan.4.Menentukan tanggal pemesananMenentukan saat yang tepat untuk melakukan pemesanan dan dipengaruhi oleh rencana penerimaan (planned order receipts) dan tenggang waktu pemesan (lead time)

JIT manufacturingPrasyarat penting yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan Ohno untuk menjaga agar stasiun kerja mendapatkan apa yang dibutuhkannya adalah kondisi lingkungan produksi yang harus demikian sempurna. Para ahli menduga mungkin karena kebiasaan bangsa Jepang menggunakan simbol-simbol komunikasi atau karena kesulitan penterjemahan arti sebenarnya dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris (the words translate, but the cultural context does not) prasyarat penting ini dilukiskan dalam istilah ideal mutlak, misalnya penggunaan istilah stockless production dan zero inventories. Kedua istilah tersebut jelas tidak dapat diterjemahkan sebagai ketiadaan inventory dalam sebuah sistem produksi.Penterjemahan yang lebih bebas dari JIT menghasilkan pemikiran yang lebih luas tentang kondisi yang harus dipenuhi untuk menerapkan konsep JIT dalam proses manufaktur. Pemikiran tersebut dituangkan dalam satu istilah yaitu seven zeros yang pada dasarnya adalah prasyarat untuk mencapai zero inventories. Secara ringkas seven zeros mencakup hal-hal berikut:1.Zero defect: JIT mensyaratkan bahwa setiap stasiun kerja harus menghasilkan output tanpa cacat untuk menjamin seluruh proses produksi tidak terganggu. Setiap kebutuhan stasiun kerja harus dapat dipenuhi setiap saat diminta, sehingga kebutuhan tersebut harus mampu disediakan dalam kualitas prima. Penyimpangan kualitas, akan menyebabkan penyimpangan target produksi. Hanya zero defect pada tingkat nol yang dapat diterima.2.Zero (excess) lot size: Di dalam sistem produksi JIT, setiap stok kebutuhan harus segera diganti sejumlah yang telah diambil oleh stasiun kerja hilir. Setiap stasiun kerja harus memiliki kemampuan untuk mengganti setiap bahan yang diperlukan stasiun hilir satu per satu. Jika suatu stasiun kerja hanya mampu memproduksi kebutuhan dalam jumlah besar, maka stasiun kerja tersebut tidak akan mampu mengejar target waktu karena kebutuhan stasiun kerja hilir bisa berbagai jenis bahan.3.Zero setup: Alasan utama mengapa suatu stasiun kerja harus berproduksi dalam jumlah besar adalah karena waktu persiapan (setup time) untuk memulai proses sangat signifikan. Jika suatu proses memerlukan persiapan yang lama, maka logis jika setiap kebutuhan diproduksi dalam jumlah besar. Jumlah produksi yang rendah memerlukan waktu persiapan yang singkat sehingga akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas stasiun kerja. Oleh karena itu, hanya waktu persiapan yang hampir nol yang akan mampu memenuhi kebutuhan zero lot size pada syarat 2.4.Zero breakdown: JIT yang dimodelkan Ohno menghendaki produksi tanpa kelebihan inventory, juga WIP, karena kelebihan inventory hanya akan meningkatkan biaya. Karena adanya pengetatan ini, gangguan yang terjadi pada mesin-mesin produksi tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali gangguan seluruh jalur produksi. Gangguan terhadap mesin (atau operator) yang tidak direncanakan sangat tidak ditolelir dalam lingkungan JIT yang ideal.5.Zero handling: Jika suatu kebutuhan diproduksi tepat sesuai dengan yang dibutuhkan dan pada saat dibutuhkan, maka kebutuhan tersebut harus tidak boleh memerlukan waktu penanganan melebihi dari yang mutlak diperlukan. Idealnya kebutuhan tersebut diantarkan langsung dari satu stasiun ke stasiun lain yang membutuhkan tanpa jeda. Adanya tambahan penyimpangan waktu penanganan, hanya akan menjauhkan sistem produksi dari just in time.6.Zero lead time: Aliran bahan dalam JIT yang ideal adalah setiap kebutuhan harus dipenuhi segera pada saat diperlukan. Hal ini berarti bahwa stasiun kerja hulu harus mempunyai waktu tunggu nol. Tentu saja ukuran lot sama dengan 1 akan cocok diterapkan untuk memenuhi waktu tunggu nol, tetapi waktu proses per satu unit output juga sangat penting diperhitungkan.7.Zero surging: Kebutuhan bahan-bahan yang harus dipenuhi hanya sejumlah yang diperlukan akan dapat dilakukan jika dan hanya jika seluruh aliran proses produksi berjalan sesuai rencana. Adanya perubahan jumlah kebutuhan yang mendadak (surge), maka, karena tidak ada kelebihan inventory dan WIP yang dipersiapkan, seluruh jalur produksi harus dipaksa untuk merespon perubahan mendadak tersebut. Kecuali sistem memiliki kapasitas lebih, kebutuhan mendadak tidak mungkin dapat dipenuhi dan hanya akan mengacaukan seluruh jalur.