tgas makala istilah karaeng dan Daeng di kota makassar

  • Published on
    02-Jul-2015

  • View
    126

  • Download
    3

Transcript

Manusia ditakdirkan oleh Allah Swt, hidup dalam lingkungan yang berbeda beda. Dari lingkungan yang berbeda -beda itu lahir peradaban manusia yang sangat beragam. Peradaban dalam kehidupan yang beragam kadangmenimbulkan persinggungan antar peradaban. Persinggungan antar peradaban yang terjadi bisanya menghasilkan kompromi -kompromi yang menggugah akal pikiran manusia menciptakan kompromi peradaban yang permanen. Nah, kompromi peradaban yang permanen itulah yang disebut budidaya (budaya). Manusia ditakdirkan oleh Allah Swt, hidup dalam lingkungan yang berbeda beda. Dari lingkungan yang berbeda -beda itu lahir peradaban manusia yang sangat beragam. Peradaban dalam kehidupan yang beragam kadangmenimbulkan persinggungan antar peradaban. Persinggungan antar p eradaban yang terjadi bisanya menghasilkan kompromi -kompromi yang menggugah akal pikiran manusia menciptakan kompromi peradaban yang permanen. Nah, kompromi peradaban yang permanen itulah yang disebut budidaya (budaya). Manusia yang memiliki akal pikiran d an juga instink setiap saat dapat mengembangkan peradaban dalam kehidupannya. Hasil budaya yang demikian beragam, ada dalam bentuk adab pergaulan sehari -hari, ada dalam bentuk seni. Dan pada umumnya lebih dikenal dengan hasil kebudayaan. Dari beragam kebudayaan yang ada di muka bumi ini, sebagian kalangan memilahnya atas Kebudayaan Barat dan Kebudayaan Ketimuran. Lebih spesifik bahwa Kebudayaan Barat yang menjadi tuntunan kehidupan manusia yang meng-kultuskan pemuasan material belaka, sehingga dijuluki sebagai Kebudayaan Materialisme. SedangkanBudaya Ketimuran yang dilandasi ajaran agama, misalnya Ajaran Agama Islam pada umumnya menyeimbangkan antara pemuasan material dan pemuasan spiritual.Berdasarkan daerahnya kota Makassar merupakan pintu gerbang dari daerah Indonesia timur. Kota Daeng, merupakan julukan yang disematkan di kota makassar ini. Namun, beberapa masyarakat makassar itu sendiri masih cukup banyak yang belum paham tentang makna karaeng atau daeng itu sendiri. Ada perbedaan dalam suku Bugis dan suku Makassar sebagai dua suku terbesar di Sulwesi Selatan dalam memaknai daeng itu sendiri. Dalam tradisi suku Bugis, kata daeng hanya dipakai sebagai kata sapaan kepada orang yang lebih tua, laki -laki maupun perempuan. Sedangkan dalam kebudayaan suku Makassar, kata daeng selain sebagai sapaan kepada orang yang lebih tua juga berfungsi sebagai nama tambahan selain nama kandung yang sudah dibawa sejak aqiqah. Dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja, kemudian di bawahnya ada Tumajai atau orang kebanyakan. Kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng dan Tumajai berhak mendapat padd aengang sementara pada Ata tidak. Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang yaitu daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan sehingga nama aslinya menjadi : I Mallombassi daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangk ana . I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah bercabangNama paddaengang atau karaeng diberikan oleh orang tua kepada anak anaknya dengan merujuk nama -nama paddaengang milik orang -orang tua mereka atau kerabat dekat dalam keluarga mereka, nama paddaengang tidak pernah dibuat baru. Sebagian b esar nama paddaengang adalah nama -nama yang berisi doa dan harapan, namun ada juga nama paddaengang yang dilekatkan berdasarkan ciri -ciri fisik atau sifat yang bersangkutan. Paddaengang yang berisi doa dan harapan misalnya, daeng Lewa (tegak) dengan harapa n sang anak nantinya bisa menjadi orang yang menegakkan keadilan dan kebenaran. Sebelum memberi nama paddaengang orang tua biasanya berembuk dulu, mencari nama yang cocok. Biasanya sambil mengingat kerabat atau keluarga mereka (biasanya orang yang sudah me ninggal) yang punya kelebihan kelebihan atau disegani orang banyak karena sifatnya yang baik atau karena hal hal positif lainnya. Setelah kata sepakat ditemukan, maka dalam rangakaian acara khitanan baik untuk laki -laki maupun perempuan, nama paddaengang sang anak pun diumumkan kepada khalayak ramai. Sesaat setelah resmi diberi paddaengang dalam acara khitan maka sang anak akan lebih sering disapa dengan nama paddaengang -nya. Nama aslinya atau areng kasarak -nya pun jadi jarang disebut. Makanya tidak heran bila banyak orang suku Makassar yang susah dikenali bila hanya menyebut areng kasarak nya saja. Biasanya areng kasarak hanya ditulis inisialnya saja di depan nama paddaengang, misalnya H.M dg. Lawa. Karena namanya yang areng kasarak atau nama kasar, maka adalah hal yang tidak sopan bila orang -orang yang lebih muda memanggil langsung nama seseorang tanpa menggunakan paddaengang -nya. Biasanya teguran akandiberikan kepada si anak yang memanggil tersebut karena dianggap melanggar norma-norma kesopanan dalam t atanan kehidupan suku Makassar. Paddaengang juga bisa diberikan kepada orang -orang yang bukan bersuku Makassar. Biasanya sebagai pernghormatan atas jasa -jasa yang bersangkutan terhadap masyarakat banyak, atau karena kedekatan secara historis. Khusus untuk pemberian yang diberikan oleh kaum bangsawan, acara pemberian paddaengang akan melalui suatu upacara khusus. Saat ini gelar-gelar paddaengang telah mengalami pergeseran. Anak -anak muda suku Makassar mungkin masih tetap mendapat nama paddaengang dari orang tua mereka, tapi hanya sedikit sekali yang mau memakainya. Alasan utamanya karena nama paddaengang berkesan ketinggalan jaman atau jadul istilah anak sekarang. Apalagi karena nama daeng saat ini identik dengan masyarakat golongan kelas bawah di kota Maka ssar, misalnya tukang becak, tukang sayur, tukang ikan, dll. Secara singkat daeng adalah panggilan penuh hormat kepada orang yang lebih tua atau dituakan meski belakangan generasi yang lebih muda mengalami kesalahan persepsi dikarenakan penggunaannya yang lebih bersifat umum. Para pengayuh becak, pedagang sayur dan ikan keliling serta beberapa pelaku industri non formil lainnya biasa disapa dengan panggilan daeng sehingga kemudian banyak orang yang menganggap kalau daeng itu asosiasinya lebih kepada mereka yang berada di strata sosial rendah. Pandangan yang sama sekali tidak benar tentu saja.

Recommended

View more >