Revisi Proposal Terapi Bermain

  • Published on
    11-Jan-2016

  • View
    34

  • Download
    16

Transcript

PROPOSAL KEGIATAN TERAPI BERMAINDI RUANG BOUGENVILLERSD Dr. HARYOTOLUMAJANGdisusun guna memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Ners (P3N)Stase Keperawatan AnakOleh:Kelompok 4Dessy Pertiwi P.P., S.Kep092311101035Erna Sulitioningsih, S.Kep102311101008Faradila Risky Susyanti, S.Kep102311101018Kurnia Eka Maulida, S.Kep 102311101037Fis Citra Ariyanto, S.Kep102311101049Mafa Afnes Sukowati, S. Kep102311101050Muhammad Athok , S.Kep102311101065Daniel Kusuma Darmawan, S.Kep102311101077PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERSPROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS JEMBER2015PRAKATAPuji syukur kehadirat Allah Swt, karena atas ridho dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan proposal kegiatan terapi bermain di Ruang Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajang. Penyusunan proposal kegiatan ini dapat penulis selesaikan atas bimbingan dan bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Pembimbing Klinik yang telah membimbing dan memberikan masukan serta saran untuk kesempurnaan proposal kegiatan ini;2. Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga proposal kegiatan dapat tersusun dengan baik;3. Jajaran perawat dan karyawan Ruang Anak Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajang;4. Teman-teman Program Pendidikan Profesi Ners (P3N) Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember angkatan XIII dan XV yang telah memberikan dukungan dan saran selama penyusunan proposal kegiatan ini.Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna penyempurnaan proposal kegiatan ini. Akhir kata, semoga proposal kegiatan ini dapat membawa manfaat. Lumajang, Juli 2015PenulisBAB 1. PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangHospitalisasi adalah suatu proses oleh karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Anak yang sakit dan harus dirawat dirumah sakit akan mengalami masa sulit karena tidak dapat melakukan kebiasaan seperti biasanya. Lingkungan dan orang-orang asing, perawatan dan berbagai prosedur yang dijalani oleh anak merupakan sumber utama stres, kecewa dan cemas, terutama untuk anak yang pertama kali dirawat dirumah sakit (Nelson, 1988).Anak memerlukan media untuk dapat mengekspresikan perasaan tersebut dan mampu bekerja sama dengan petugas kesehatan selama dalam perawatan (Supartini, 2004). Terapi bermain diyakini mampu menghilangkan batasan, hambatan dalam diri, stres, frustasi serta mempunyai masalah emosi dengan tujuan mengubah tingkah laku anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan dan anak sering diajak bermain akan lebih kooperatif dan mudah diajak kerjasama (Nurjaman, 2006). Hal tersebut membuat aktivitas bermain menjadi salah satu cara untuk mengajak anak untuk kooperatif dalam perawatan dan dapat memperlancar pemberian pengobatan dan perawatan serta mengurangi rasa takut terhadap tindakan perawatan.Untuk mengurangi ketakutan anak yang harus mengalami rawat inap di rumah sakit dapat dilakukan beberapa cara salah satunya adalah lakukan permainan dokter-dokteran dengan membiarkan anak bereksplorasi dengan alat-alat kedokteran, seperti jarum suntik dan stetoskop. Anak berperan menjadi dokter, sementara anak lain atau orang tua dapat menjadi pasiennya (Imam, 2008). Kegiatan ini diharapkan akan dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit anak dan dapat mencegah pengalaman yang traumatik saat anak mendapat perawatan lagi di rumah sakit.1.2 Tujuan1.3.1 Tujuan Instruksional UmumSetelah mendapatkan terapi bermain selama 1x45 menit diharapkan anak dapat memahami dan menerapkan terapi bermain dokter-dokteran.1.3.2 Tujuan Instruksional KhususTujuan dilaksanakannya terapi bermain di Ruang Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajang, yaitu:a. Meningkatkan hubungan perawat dengan anak (pasien)b. Anak (pasien) dapat beradaptasi terhadap stressorc. Mengurangi rasa traumatik (cemas dan frustasi) selama hospitalisasiBAB 2. TINJAUAN TEORI2.1 Pengertian BermainBermain merupakan seluruh aktivitas anak yang dilakukan berdasarkan kesenangannya dan merupakan suatu metode bagaimana anak-anak belajar tentang lingkungan sekitar dan mulai beradaptasi sesuai tumbuh kembangnya dalam mengenal dunia. Fungsi permainan yang dilakukan anak akan menghasilkan suatu pemahaman pada anak, memberikan informasi pada anak, dan untuk mengembangkan imajinasi anak (Sudono, 1995).2.2 Fungsi BermainAnak bermain pada dasarnya agar memperoleh kesenangan, sehingga tidak akan merasa jenuh. Fungsi utama bermain menurut Soetjiningsih (1995), antara lain:a. perkembangan sensoris-motorikPermainan yang dilakukan oleh anak akan melibatkan aktivitas sensoris-motoris yang merupakan komponen terbesar yang digunakan oleh anak. Hal tersebut akan membuat kemampuan penginderaan anak mulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan), dan stimulasi kinetik.b. perkembangan intelektual (kognitif)Permainan yang dilakukan oleh anak akan dimodifikasi sedemikian rupa untuk melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek.c. perkembangan sosialPerkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak akan membuat anak belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut.d. perkembangan kreativitasBermain dapat mengembangkan kreativitas dimana melalui kegiatan bermain anak akan belajar mengembangkan kemampuannya dan mencoba merealisasikan ide-idenya.e. perkembangan kesadaran diriBermain yang dilakukan anak akan mengembangkan kemampuannya, membandingkannya dengan orang lain, dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru, serta mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.f. perkembangan moralBermain yang dilakukan oleh anak akan membuat anak dapat mempelajari nilai yang benar dan salah dari lingkungan, terutama dari orang tua dan guru. Aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak akan memberikan kesempatan pada anak untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya.g. bermain sebagai terapiPada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Permainan yang dilakukan anak akan melepaskan anak dari ketegangan dan stress yang dialaminya (proses distraksi).2.3 Klasifikasi PermainanWong (2008) mengklasifikasikan permainan berdasarkan isinya dan berdasarkan karakteristik sosialnya. Klasifikasi permainan berdasarkan isinya antara lain:a. bermain afektif sosial (sosial affective play)Permainan ini ditandai dengan adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Usia bayi akan mendapat kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tua atau orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah cilukba, berbicara sambil tersenyum/tertawa atau sekedar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya.b. bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play)Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan. Contohnya dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunung atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuk dengan pasir. c. permainan ketrampilan (skill play)Permainan ini akan menumbuhkan keterampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Contohnya, bayi akan terampil akan memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan.d. permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role)Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa. Misalnya, meniru ibu guru, ibunya, ayahnya, atau kakaknya. Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting bagi anak untuk memproses / mengidentifikasi terhadap peran tertentu.Sedangkan klasifikasi permainan berdasarkan karakteristik sosialnya antara lain:a. solitary playSolitary play adalah jenis permainan yang dimulai dari bayi hingga usia todler dan merupakan jenis permainan yang dilakukan sendiri atau independen walaupun ada orang lain di sekitarnya. b. pararel play Pararel play adalah jenis permainan yang dilakukan oleh suatu kelompok anak balita atau prasekolah yang masing-masing mempunyai permainan yang sama tetapi satu sama lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung dan karakteristik khusus pada usia todler.c. associative playAssociative play adalah jenis permainan kelompok dengan tanpa tujuan kelompok yang dimulai dari usia todler dan dilanjutkan sampai usia prasekolah dan merupakan permainan dimana anak dalam kelompok dengan aktivitas yang sama tetapi belum terorganisir secara formal.d. cooperative playCooperative play adalah suatu permainan yang terorganisir dalam kelompok, ada tujuan kelompok, dan ada pemimpin yang memimpin permainan dengan mengarahkan permainan pada pencapaian misi tertentu. Permainan ini dimulai dari usia prasekolah dan dapat berlanjut hingga usia sekolah dan remaja.e. onlooker play Onlooker play adalah jenis permainan yang menekankan pada anak melihat atau mengobservasi permainan orang lain. Permainan ini tidak mengikutkan anak untuk bermain, walaupun anak dapat menanyakan permainan itu. Permainan ini biasanya dimulai pada usia todler.f. therapeutic playTherapeutic play adalah jenis permainan yang menjadi pedoman bagi tenaga tim kesehatan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial anak selama hospitalisasi. Permainan ini dapat membantu mengurangi stress serta memberikan instruksi perbaikan kemampuan fisiologis anak. 2.4 Manfaat BermainManfaat terapi bermain terhadap perkembangan anak, yaitu:a. Mempengaruhi perkembangan fisik anakb. Digunakan sebagai terapic. Menambah pengetahuand. Meningkatkan kreativitas anake. Mengembangkan tingkah laku sosial anakf. Mempengaruhi nilai moral anak2.5 Fungsi Bermain Wong (2008) menjelaskan bahwa fungsi terapi bermain selama hospitalisasi, yaitu:a. memfasilitasi penguasaan situasi yang tidak familiarb. memberikan kesempatan utnuk membuat keputusan dan controlc. bantu mengurangi stress terhadap perpisahand. beri kesempatan untuk mempelajari tentang bagian-bagian tubuh, fungsi, dan penyakite. memperbaiki konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan/prosedur medisf. memberikan peralihan dan relaksasig. membantu anak untuk merasa lebih aman dalam lingkungan yang asingh. memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan mengekspresikan perasaani. menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap positifj. memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minatk. memberikan cara untuk mencapai tujuan terapeutik2.6 Tugas Tumbuh Kembang AnakUsia 1 bulan1. Memiliki gerak reflek alami terhadap cahaya dan suara2. Menggenggam tangannya ketika disentuh3. Tersenyum4. MenangisUsia 2 bulan 1. Membedakan suara, mengikuti arah datangnya suara2. Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan3. Reflek terkejut terhadap suara kerasUsia 3 bulan 1. Mengangkat kepala 45 derajat2. Mengoceh dan menyahut ocehan3. Tertawa dengan suara4. Bisa membalas senyum5. Mengenal pengasuhUsia 4 bulan1. Telungkup dan telentang2. Mengangkat kepala 90 derajat3. Menggenggam benda4. Memperluas jarak pandangUsia 5 bulan1. Meraih benda dalam jangkauannya2. Tertawa3. Bermain sendiri4. Tersenyum melihat gamabarUsia 6 bulan1. Mempertahankan posisi kepala tegak dan stabil2. Mulai memainkan dan memegang tangannya sendiri3. Matanya sudah bisa tertuju pada benda kecilUsia 7 bulan1. Duduk sendiri dengan bersila2. Belajar merangkak3. Bisa bertepuk tanganUsia 8 bulan1. Merangkak mendekati pengasuh atau mainan2. Memindahkan benda dari tangan kanan ke kiri3. Memegang makanan sendiri4. Mengambil benda sendiriUsia 9 bulan1. Belajar berdiri2. Mengambil benda yang dipegang kedua tangan3. Mencari dan mengambil benda jatuh4. Melemparkan bendaUsia 10 bulan1. Berdiri sendiri2. Menggenggam benda dan dipegang erat3. Mengulurkan badan atau lengan untuk meraih mainanUsia 11 bulan1. Berdiri dan berpegangan selama 30 detik2. Memasukkan sesuatu ke dalam mulut3. Mengulang atau menirukan bunyi4. Senang bermain cilukbaUsia 12 bulan 1. Berjalan dituntun2. Menyebutkan 2-3 suku kata3. Mengembangkan rasa ingin tahu4. Mengenal dan berkembang dengan lingkungan5. Reaksi cepat terhadp suara berbisikDari 2 sampai 3 tahun1. Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki2. Membuat jembatan dengan 3 kotak3. Mampu menyusun kalimat4. Mempaergunakan kata-kata saya, bertanya, mengerti kata-kata yang ditunjukan kepadanya5. Menggambar lingkaran6. Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganyaDari 3 sampai 4 tahun1. Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga2. Berjalan pada jari kaki3. Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri4. Mengenal 2 atau 3 warna5. Bicara dengan baik6. Menyebut namanya, jenis kelamin, dan umurnya7. Banyak bertanya8. Mengenal sisi atas, sisi bawah, sisi muka, sisi belakangDari 4 sampai 5 tahun1. Melompat dan menari2. Pandai bicara3. Dapat menghitung jari-jarinya.4. Mengenal 4 warna 2.7 Karakteristik Permainan pada Anak Hospitalisasia. Prinsip bermain1. Tidak membutuhkan banyak energy2. Waktu singkat3. Mudah dilakukan4. Aman5. Sesuai kelompok umur6. Tidak bertentangan dengan terapi7. Melibatkan keluargab. Tujuan1. Mengurangi kecemasan dan rasa frustasi2. Melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama menjalani perawatan3. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan fantasi2.8 Bentuk-Bentuk Permainan1. Usia 0 12 bulanTujuannya adalah :a. Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap, menggenggam.b. Melatih kerjasama mata dan tangan.c. Melatih kerjasama mata dan telinga.d. Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.e. Melatih mengenal sumber asal suara.f. Melatih kepekaan perabaan.g. Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.Alat permainan yang dianjurkan :a. Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.b. Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.c. Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.d. Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.e. Alat permainan berupa selimut dan boneka.2. Usia 13 24 bulanTujuannya adalah :a. Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.b. Memperkenalkan sumber suara.c. Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.d. Melatih imajinasinya.e. Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan yang menarikAlat permainan yang dianjurkan:a. Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.b. Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.c. Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil berwarna.3. Usia 25 36 bulan Tujuannya adalah ;a. Menyalurkan emosi atau perasaan anak.b. Mengembangkan keterampilan berbahasa.c. Melatih motorik halus dan kasar.d. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan membedakan warna).e. Melatih kerjasama mata dan tangan.f. Melatih daya imajinansi.g. Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.Alat permainan yang dianjurkan :a. Alat-alat untuk menggambar.b. Lilin yang dapat dibentuk c. Pasel (puzzel) sederhana.d. Manik-manik ukuran besar.e. Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.f. Bola.4.Usia 32 72 bulanTujuannya adalah :a. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.b. Mengembangkan kemampuan berbahasa.c. Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.d. Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara).e. Membedakan benda dengan permukaan.f. Menumbuhkan sportivitas.g. Mengembangkan kepercayaan diri.h. Mengembangkan kreativitas.i. Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).j. Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.k. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.l. Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian mengenai terapung dan tenggelam.m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.Alat permainan yang dianjurkan :a. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.b. Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.5.Usia PrasekolahAlat permainan yang dianjurkan :a. Alat olah raga.b. Alat masakc. Alat menghitung d. Sepeda roda tigae. Benda berbagai macam ukuran.f. Boneka tangan.g. Mobil.h. Kapal terbang.i. Kapal laut dsb6.Usia sekolahJenis permainan yang dianjurkan :4.1 Pada anak laki-laki : mekanik.4.2 Pada anak perempuan : dengan peran ibu.7.Usia Praremaja (yang akan dilakukan oleh kelompok)Karakterisrik permainnya adalah permainan intelaktual, membaca, seni, mengarang, hobi, video games, permainan pemecahan masalah.8.Usia remajaJenis permainan : permainan keahlian, video, komputer, dll.2.8 Alat Permainan Edukatif (APE)Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakatContoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.BAB 3. PELAKSANAAN KEGIATAN3.1 Khalayak SasaranKlien yang menjalani perawatan di Ruang Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajang dengan karakteristik sebagai berikut.a. Anak usia toddler dan pra sekolah di Ruang Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajangb. Kesadaran compos mentisc. Anak dengan diagnosa medis bukan penyakit menulard. Anak dengan kondisi stabil (di ruang perawatan regular)e. Anak yang kooperatiff. Anak dengan keluarga3.2 Masalah KeperawatanFear (Takut) berhubungan dengan hospitalisasi ditandai dengan panik, marah, menangis, tindakan memberontak (attack behavior) 3.3 Alat dan Metode yang DigunakanPermainan : Wayang Hewana. Alat1. Wayang aneka hewan2. Backgroun tempatb. MetodeBermain dan bercerita3.4 Waktu dan Tempat PelaksanaanHari/tanggal: Selasa, 18 Agustus 2015Waktu: 08.00 s/d 09.30 WIBTempat:Ruang Bougenville RSD Dr. Haryoto Lumajang3.5 Susunan AcaraNo.WaktuKegiatanPerawatAnak1.08.00-08.03Pembukaan:Memberikan salam dan memperkenalkan diri kepada anak-anak yang dilaksanaakn oleh leaderMemperhatikan dan menjawab salam2.08.03-08.20Pelaksanaan:a. Perawat menceritakan tokoh hewanMemperhatikan 3.08.20-08.30Evaluasi:a. Bagaimana hubungan anak dengan perawat setelah dilakukan terapi bermain?b. Bagaimana tingkat kecemasan anak setelah diberikan terapi bermain?c. Bagaimana pencapaian tumbuh kembang anak?Memperhatikan dan memberi umpan balikMenampilkan ekdpresi ceria dan hilang kecemasannyaMengikuti perintah yang diinstruksikan3.6 Antisipasi Masalaha. Penanganan anak yang tidak aktif saat aktifitas kelompok1) Memanggil anak2) Memberi kesempatan kepada anak tersebut untuk menjawab sapaan perawat3) Bila anak menangis, libatkan orang tua untuk menenangkan anak dan beri permainan yang disukai anakb. Apabila anak meninggalkan permainan tanpa pamit :1) Panggil nama klien2) Tanya alasan klien meninggalkan permainan3) Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan bahwa anak dapat melaksanakan keperluannya setelah itu anak boleh kembali lagi3.7 Pengorganisasiana. Leader : Kurnia Eka Maulida, S,Kepb. Co Leader: Mafa Afnes Sukowati, S.Kepc. Fasilitator: Dessy Pertiwi P.P., S.Kep Erna Sulistioningsih, S.Kep Faradila Risky Susyanti, S.Kepd. Observer : Fis Citra Ariyanto, S.Kep Muhammad Athok S.Kep Daniel Kusuma Darmawan, S.KepDAFTAR PUSTAKAHurlock, E., 1978. Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta; EGC.Markum, A,H. 1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran UIMontolalu, dkk, 2007. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Penerbit Universitas TerbukaPotter, P,A & Perry, A,G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 2. Jakarta:EGC. Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep Keperawatan Anak. Jakarta:EGCSudono, Anggani. 1995. Alat Permainan dan Sumber Belajar. Jakarta: DepdikbudSugianto. 1995. Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta: Depdikbud Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.Supartini, Y., 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC. JakartaWong, Donna L. 2008. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC