Proposal terapi bermain siap edit.docx

  • Published on
    22-Jan-2016

  • View
    227

  • Download
    2

Transcript

ProposalSATUAN ACARA BERMAIN Puzzle PADA ANAK USIA SEKOLAH DI RUANG rawat inap anak rsud dr. ahmad mochtarbukittinggiOleh : kelompok iiandam dewi, s.KepFADLY ILHAMY, S.KepLIGA PURNAMA SARI, S.KepMEGA YULIANTI, S.KepNELLI ISBIANI, S.KepNORA PUTRI NOPITA, S.KepNOVITA, S.KepSRI EMIL DARMIZA, S.KepVINNY ARIESTA PISHESA, S.KepYENGGI FERMADI, S.KepYOLANDA FITRIA WIRMAN, S.KepPROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGITAHUN AJARAN 2015/2016BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGAnak merupakan individu yang berbeda dalam suatu rentang perubahan dari bayi sampai remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang di mulai dari bayi 0-1 tahun, toddler 1-3 tahun, prasekolah 3-6 tahun, sekolah 6-12 tahun dan 12-18 tahun adalah remaja (Hidayat, 2005). Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini, yaitu 0-5 tahun. Masa ini sering di sebut juga sebagai fase Golden Age. Golden age merupakan masa yang paling penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin terdeteksi apabila terjadi kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga kelainan yang bersifat permanen dapat di cegah (Narendra,2003). Anak yang masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan pengalaman traumatik pada anak, yakni ketakutan dan ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan kontrol dan perlakuan tubuh akibat tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri. Akibatnya akan menimbulkan berbagai reaksi seperti menolak makan, menangis, teriak, memukul, menyepak, tidak kooperatif terhadap aktifitas sehari-hari serta menolak tindakan keperawatan yang diberikan (Narendra,2003).Pada usia toddler anak merasa takut bila mengalami perlukaan, karena ia menganggap bahwa tindakan dan prosedur yang dilakukan di rumah sakit semuanya dapat mengancam integritas tubuhnya. Anak masuk rumah sakit akan bereaksi dengan agresif, ekspresi verbal dan dependensi. Maka sulit bagi anak untuk percaya bahwa mengukur suhu, mengukur tekanan darah, mendengarkan suara napas dan prosedur lainnya tidak akan menimbulkan perlukaan. Jika hal ini berlanjut maka tindakan keperawatan dan pengobatan tidak akan berhasil sehingga masalah anak tidak teratasi (Narendra,2003).Pemeriksaan anak yang beragam jenisnya juga merupakan penyebab stress bagi anak, orang tua atau pengasuh anak yang mendampinginya untuk dilakukan pemeriksaan. Dalam hal ini rumah sakit juga memfasilitasi dan berupaya ke arah positif sehingga anak merasa nyaman, dapat beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit, begitu juga orang tua atau pengasuh yang mendampingi anak. Upaya yang dilakukan adalah meminimalkan pengaruh negatif dari hospitalisasi yaitu melakukan kegiatan Terapi Bermain.Manfaat Terapi Bermain dalam penanganan anak yang dirawat di rumah sakit maka akan memudahkan anak menyatakan rasa kecemasan dan ketakutan lewat permainan, anak dapat berkumpul dengan teman sebayanya di rumah sakit sehingga tidak merasa terisolir, anak mudah diajak bekerja sama dengan metode pendekatan proses keperawatan di rumah sakit. Salah satu terapi bermain yang dapat mengurangi dampak negatif dari hospitalisasi adalah terapi bermain puzzle Karena pentingnya manfaat Terapi Bermain dalam penanganan anak sakit dan perawat harus mampu melaksanakan hal ini maka rencana penerapan terapi bermain terhadap anak yang dirawat di ruang 7A rumah sakit saiful Anwar Malang perlu segera dilaksanakan. Salah satu cara agar dapat mengembangkan kreativitas anak adalah melalui beberapa kegiatan kreatif dan menyenangkan yaitu bermain puzzle.Berdasarkan fenomena diatas, maka peraktikan merasa tertarik untuk melakukan kegiatan terapi aktifitas bermain tentang terapi bermain puzzle terhadap anak Usia sekolah di Rumah Sakit Dr.Saiful Anwar Malang.B. TUJUAN TERAPI AKTIFITAS BERMAIN1. Tujuan umumAnak akan merasa aman dan mau mengikuti program penyembuhan yang ada dirumah Sakit2. Tujuan khususa. Menerapkan sarana permainan terapi bermain puzzle yang tepat sehingga anak dan orang tua secara pro aktif dapat menerima program penyembuhan yang ada di Rumah Sakit.b. menerapkan tempat yang tepat untuk bermain di Sekolah, sehingga anak tidak merasa takut dengan lingkungannya.c. menerapkan waktu yang tepat untuk melakukan permainan sehingga anak tidak kehilangan waktu bermain.d. menerapkan sosialisasi yang tepat sehingga anak butuh terhadap program terapi bermain di Rumah Sakit dan tidak merasa terisolir. e. Mrningkatkan kreatifitas anak dalam mengembangkan potensi yang ada pada anak dalam bermain puzzle.f. Meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.BAB IIKONSEP TEORIA. KONSEP DASAR TERAPI BERMAINa) Definisi Konsep BermainBermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktekkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan, dan berperilaku dewasa (Hidayat, 2005). Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi (Wong, 2009).b) Fungsi Bermain Pada Anak1) Membantu perkembangan sensorik dan motorikPada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motoris merupakan komponen terbesar yang digunakan anak sehingga kemampuan penginderaan anak dimulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik. 2) Membantu perkembangan kognitifBermain dapat membuat anak mencoba melakukan komunikasi dengan orang lain dengan bahasa anak, mampu memahami objek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan.3) Meningkatkan sosialisasi pada anakPada anak pra sekolah, anak mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang lain.4) Meningkatkan kreativitasAnak dapat belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang digunakan.5) Meningkatkan kesadaran diri anak terhadap orang lain dan lingkunganBermain dapat memberikan kemampuan pada anak untuk mengeksplorasi tubuhnya dan menjadikan anak sadar bahwa dirinya merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku, dan membandingkan perilakunya dengan orang lain.6) Memiliki nilai terapeutikBermain dapat menjadikan anak merasa senang dan nyaman, dan menghibur anak, sehingga dapat mengurangi stres dan ketegangan yang dirasakan anak. 7) Memberikan nilai moral pada anakBermain dapat memberikan nilai moral pada anak jika anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah, di sekolah, ketika berinteraksi dengan temannya, dan di dalam permainan juga terdapat aturan-aturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilanggar. c) Macam-macam PermainanMenurut Hidayat (2005), sifat bermain pada anak ada dua, yaitu:1) AktifJika anak selalu berperan aktif dalam permainan, selalu memberika rangsangan, dan melaksanakannya.2) PasifJika anak hanya memberikan respon pasif terhadap permainan, sedangkan orang lain dan lingkungan memberikan rspon secara aktif.Berdasarkan kedua sifat diatas, maka macam-macam permainan:1) Bermain afektif-sosialMenunjukkan adanya perasaan senang dalam berhubungan dnegan orang lain. Sifat dari bermain ini adalah orang lain berperan aktif dan anak hanya berespons terhadap stimulasi sehingga akan memberikan kesenangan dan kepuasan anak.2) Bermain bersenang-senangMemberikan kesenangan pada anak melalui objek yang ada sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa adanya kehadiran orang lain. Sifat dari bermain ini adalah tergantung dari stimulasi yang diberikan pada anak, seperti bermain boneka-bonekaan, binatang-binatangan, dan lain-lain.3) Bermain keterampilanBermain ini dengan mengunakan objek yang dapat melatih kemampuan keterampilan anak yang diharapkan mampu untuk berkreasi dan terampil dalam berbagai hal. Sifat dalam permainan ini adalah bersifat aktif dimana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam keterampilan tertentu, seperti bermain bongkar pasang gambar, latihan memakai baju, dan lain-lain.4) Bermain dramatikPermainan ini dapat dilakukan jika anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan sosial. Sifat dari bermain ini adalah anak dituntut aktif dalam memerankan sesuatu, seperti berpura-pura berperan sebagai orang dewasa, seperti ibu, guru, dan lain-lain.5) Bermain menyelidikiSifat permainan ini adalah dengan memberikan stimulasi pada anak, sehingga dapat menambah kecerdasan anak. Permainan ini dilakukan dengan memberikan sentuhan pada anak untuk berperan dalam menyelidiki sesuatu atau memeriksa alat permainan, seperti mengocok untuk mengetahui isinya.6) Bermain konstruksiPermainan ini bertujuan untuk menyusun suatu objek permainan agar menjadi sebuah konstruksi yang benar, seperti permainan menyusun balok. Sifat dari permainan ini adalah aktif, dimana anak-anak selalu ingin menyelesaikan tugas yang ada dalam permainan, sehingga dapat membangun kecerdasan anak.7) PermainanPermainan ini dapat dilakukan sendiri atau bersama temannya dengan menggunakan beberapa peraturan, seperti permainan ular tangga. Sifatnya aktif, anak memberikan respon kepada temannya sesuai jenis permainan dan berfungsi untuk memberikan kesenangan dan mengembangkan emosi anak. 8) Bermain onlookerJenis bermain ini adalah dengan melihat apa yang dilakukan anak lain yang sedang bermain, tetapi tidak berusaha untuk bermain. Sifat dari bermain ini adalah pasif, tetapi anak akan mempunyai kesenangan dan kepuasan sendiri untuk melihatnya.9) Bermain soliter/mandiriBermain yang dilakukan secara mandiri, sendiri, hanya terpusat pada permainannya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Sifatnya aktif, tetapi stimulasi tambahan kurang, tetapi dapat membantu menciptakan kemandirian pada anak.10) Bermain paralelBermain sendiri di tengah anak lain yang sedang bermain, tetapi tidak ikut dalam kegiatan orang lain. Sifat bermain ini adalah anak aktif sendiri, tetapi masih dalam satu kelompok dengan harapan kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas mandiri dalam kelompok terlatih dengan baik.11) Bermain asosiatifBermain bersama tanpa terikat aturan yang ada. Bermain ini akanmenumbuhkan kreativitas anak karena terdapat stimulasi dari anak lain, tetapi belum dilatih dalam mengikuti peraturan dalam kelompok.12) Bermain kooperatifBermain bersama dengan aturan yang jelas, sehingga terdapat perasaan dalam kebersamaan, sehingga terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. Sifat permainan ini adalah aktif, anak akan selalu menumbuhkan kreativitasnya dan akan melatih anak untuk mengikuti peraturan dalam kelompok. d) Prinsip dalam Aktivitas BermainPermainan dengan menggunakan alat-alat medik dapat menurunkan kecemasan dan untuk pengajaran perawatan diri. Pengajaran dengan melalui permainan dan harus diawasi seperti: menggunakan boneka sebagai alat peraga untuk melakukan kegiatan bermain seperti memperagakan dan melakukan gambar-gambar seperti pasang gips, injeksi, memasang infus dan sebagainya. Menurut Soetjiningsih (1995), agar anak-anak dapat bermain dengan maksimal, maka diperlukan hal-hal seperti: 1) Ekstra energi, untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang sakit kecil kemungkinan untuk melakukan permainan. 2) Waktu, anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal. 3) Alat permainan, untuk bermain alat permainan harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif bagi anak. 4) Ruang untuk bermain, bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, halaman, bahkan di tempat tidur. 5) Pengetahuan cara bermain, dengan mengetahui cara bermain maka anak akan lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam menggunakan alat permainan tersebut. 6) Teman bermain, teman bermain diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi anak dan membantu anak dalam menghadapi perbedaan. e) Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas BermainMenurut Supartini (2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak dalam bermain yaitu: 1) Tahap perkembangan anakAktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. 2) Status kesehatan anakUntuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang sakit. 3) Jenis kelamin anakSemua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas dan kemampuan sosial anak. Akan tetapi, permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri. 4) Lingkungan yang mendukungMenstimulasi imajinasi anak dan kreativitas anak dalam bermain. 5) Alat dan jenis permainan yang cocokHarus sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. f) Fungsi Bermain di Rumah SakitMenurut Wong (2009), ada banyak manfaat yang bisa diperoleh seorang anak bila bermain dilaksanakan di suatu rumah sakit, antara lain: 1) Memfasilitasi situasi yang tidak familiar2) Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol3) Membantu untuk mengurangi stres terhadap perpisahan4) Memberi kesempatan untuk mempelajari tentang fungsi dan bagian tubuh5) Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan dan prosedur medis6) Memberi peralihan dan relaksasi7) Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing8) Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan9) Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif terhadap orang lain10) Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat11) Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutikg) Prinsip Permainan Pada Anak di Rumah Sakit1) Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruangan rawat.2) Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana3) Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak4) Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama5) Melibatkan orang tuah) Keuntungan Bermain Pada Anak di Rumah Sakit1) Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat2) Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.3) Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang dan nyeri.4) Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positifB. KONSEP DASAR PUZZLE1) Pengertian PuzzlePuzzle merupakan suatu masalah atau misteri yang harus diselesaikan dengan kretivitas. Sebelum mengerjakan puzzle, anak harus mengetahu lebih dulu bentuk awal puzzle, setelah dirombak, ia akan menggunakan ingatannya untuk menyusun puzzle sesuai dengan bentuk awalnya. Bermain puzzle tidak membutuhkan energi yang besar, sehingga dapat dilakukan pada anak yang berada di rumah sakit.Ada berbagai tipe puzzle, seperti Maze yang merupakan tipe puzzle tour, puzzle gambar, puzzle konstruksi, puzzle balok (batang), puzzle lantai, puzzle angka, puzzle transport, puzzle logika, puzzle mekanik, dan lain-lain.2) Manfaat Puzzlea) Mengasah otakPuzzle dapat digunakan untuk merangsang pikiran kreatif anak, karena anak harus mencocokkan bagian-bagian kecil menjadi bentuk yang utuh.b) Melatih koordinasi mata dan tanganPuzzle dapat melatih koordinasi mata dan tangan, karena anak harus mencocokkan keping-keping puzzle menjadi suatu gambar. Permainan ini membantu anak mengenal bentuk.c) Melatih nalarMemadukan atau memasangkan bentuk puzzle akan membantu anak secara aktif mengembangkan kemampuan pembuatan kesimpulan, memahami logika sebab akibat, dan gagasan bahwa objek yang utuh semula berasal dari bagian-bagian yang kecil.d) Melatih kesabaranPuzzle dapat melatih kesabaran anak dalam menyelesaikan tantangan.e) PengetahuanDari puzzle, anak dapat belajar tentang warna dan bentuk yang ada. Anak juga dapat belajar tentang konsep dasar bentuk dan warna, binatang, alam sekitar, alfabet, buah, dan lain-lain, tetapi anak tetap harus didampingi ibu atau orang lain.C. KONSEP DASAR ANAK 1. PengertianAnak adalah individu yang berusia 0-18 tahun. Anak dipandang sebagai individu yang unik yang mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, melainkan individu yang sedang berada dalam proses tumbuh kembang dan mempunyai kebutuhan yang spesifik (Supartini, 2004).Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) anak adalah individu yang berusia 0-21 tahun.2. Kategori anakMenurut Soetjiningsih (1995) membagi kategori anak sebagai berikut:a. Masa bayi atau infant: usia 0-1 tahun Merupakan masa penyesuaian terhadap kehidupan baru diluar rahim ibu sehingga bayi dituntut untuk dapat mempertahankan diri dengan lingkungannya sangat berbeda dengan sewaktu dalam rahimb. Masa usia toddler: usia 1-3 tahun Pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak masih sangat cepat, pada usia 1 tahun lingkar kepala 47 cm, sedangkan berat otak bayi baru lahir 25% berat otak dewasa, pada usia 2 tahun sudah 75% berat otak dewasa.c. Masa pra sekolah: usia 3-6 tahun Pada masa prasekolah ini mulai dapat dikenal potensi bakat dan minat anak meskipun belum nyata benar. Pada saat inilah sudah dapat dimulai stimulasi oleh lingkungan keluarga agar potensi bakat dan tumbuh kembangnya berkembang seoptimal mungkin.d. Masa sekolah: usia 6-12 tahun Awal masa sekolah merupakan pertumbuhan fisik yang relatif mantap dan stabil, yang kemudian akan berakhir dengan suatu percepatan tumbuh sekitar umur 10 tahun pada anak perempuan dan 12 tahun pada anak laki-laki.e. Masa remaja atau adolesent: usia 12-18 tahun Masa remaja merupakan suatu periode transisi perubahan fisik dan psikologi seorang anak menjadi dewasa. Masa ini ditandai oleh adanya kematangan fungsi seksual (pubertas) dan tercapainya bentuk tubuh dewasa yang terjadi karena kematangan fungsi endokrin.BAB IIIPROGRAM TERAPI BERMAINPADA USIA sekolahTopik: Terapi Bermain Pada Anak Usia Sekolah Sasaran: Anak Usia SekolahTempat: Area Bermain Ruang Rawat Inap AnakHari/ tgl: Waktu: 45 menitJenis: PuzzleA. Waktu dan Tempata. Perencanaan tempat dan waktu Tempat: Area Bermain Ruang Rawat Inap AnakWaktu : Jam : B. Metode 1. Merangkai potongan-potongan gambar 2. ObservasiC. Krtiteria PesertaUntuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah peserta yang memenuhi kriteria1. Anak yang tidak berpenyakit menular2. Anak yang berusia sekolah3. Anak yang mau melakukan terapi bermain puzzle4. Anak yang di rawat di ruang rawat inap anak D. Media / AlatPuzzle E. Pengorganisasian1. Leader: 2. Co Leader:3. Observer: F. Pembagian Tugas1. Leader, bertugas :a) Memimpin dan mengorganisasikan jalannya terapi mulai dari pembukaan sampai selesaib) Mengarahkan permainanc) Memandu proses permainan2. Co leader, bertugasa) Membantu leader dalam memandu proses permainanb) Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesaic) Mengarahkan permainand) Memandu proses permainan3. Fasilitator, bertugas :a) Memfasilitasi anak untuk bermainb) Membimbing anak bermainc) Memperhatikan respon anak saat bermaind) Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya4. Observer, bertugas :a) Mengawasi jalannya permainanb) Mencatat proses permainan di sesuaikan dengan rencanac) Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermaind) Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan moderatorG. Kegiatan Terapi BermainNOTAHAPWAKTUKEGIATAN1Persiapan 5 menit1. Menyiapkan tempat / ruangan2. Menyiapkan puzzle.3. Menyiapkan peserta2Orientasi 10 menit1. Salam terapeutik (salam dari terapis kepada anak) 2. Evaluasi atau validasi(Menanyakan perasaan anak saat ini)3. Kontraka) Terapis menjelaskan tujuan kegiatanb) Terapis menjelaskan aturan mainnya: Jika ada anak yang ingin meninggalkan ruangan harus minta izin kepada terapis3Tahap Kerja20 menit1. Anak diberikan kebebasan dalam memilih gambar puzzle sesuai selera.2. Anak diberi kesempatan menyusun rangkaian puzzle.3. Memberikan bantuan atau arahan jika diperlukan.4.Terminasi 5 menit1. Terapis menanyakan perasaan anak setelah mengikuti terapi bermain2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan anak3. Terapis memotivasi anak untuk bermain puzzel agar selalu merasa senang dan gembira meskipun berada di lingkungan Sekolah4. Kontrak Kegiatan yang akan datang5. Terapis membuat kontrak untuk terapi bermain puzzel yang akan datang6. Menyepakati waktu dan tempat5Evaluasi 5 menitMengevaluasi kemampuan anak sesuai dengan tujuan terapi bermain puzzleH. Antisipasi masalahJika pada saat kegiatan berlangsung terjadi masalah seperti anak tiba-tiba menolak atau tidak mau mengikuti kegiatan maka perawat akan menganjurkan kepada orang tua anak untuk membujuk dan mau mendampingi anak pada saat dilakukan terapi bermain puzzle.I. Evaluasi1. Anak dapat merangkai puzzle dengan sabar dan tekun2. Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik.3. Anak merasa senang.4. Anak tidak takut lagi dengan lingkungan sekitarnya

Recommended

View more >