Materi Terapi Bermain Autis

  • Published on
    08-Nov-2015

  • View
    44

  • Download
    13

DESCRIPTION

:)

Transcript

MATERIKONSEP AUTISMEA. Pengertian Autis merupakan salah satu dari lima tipe gangguan perkembangan pervasif atau yang ditandaitampilnya abnormalitas pada domain interaksi dan komunikasi (Priyatna, 2010)B. Penyebab autisPenyebab autisme secara pastinya masih merupakan misteri, autisme yang ditemukan biasanya banyak disebabkan oleh gangguan saraf otak, virus yang ditularkan oleh ibu kejanin, dan lingkungan yang terkontaminasi (Hidayat, 2005).C. Tanda dan gejala anak autisMenurut Maulana (2008), padda penderita autis penyebab paling sering yang terjadi adalah gangguan nafsu makan dan gangguan proese makan. Gejala yang umum muncul dan bisa digunakan orang tua untuk mendeteksi autisme pada anaknya adalah :1. Anak usia 30 bulan belum bisa bicara untuk berkomunikasi2. Bersikap cuek dan cenderung hiperaktif terhadap lingkungannya3. Anak tidak mampu bermain dengan teman sebayanya4. Terjadi pengulangan pada perilaku yang tidak sewajarnyaD. Terapi bermain anak autis Menurut Adriana (2011), ada 12 terapi untuk anak autis, terapi ini diperlukan untuk membangun kondisi yang lebih baik. Terapi-terapi tersebut antara lain :1. Terapi biomedik2. Terapi okupasi3. Terapi integrasi sensoris4. Terapi bermain5. Terapi perilaku6. Terapi fisik7. Terapi wicara8. Terapi musik9. Terapi perkembangan10. Terapi visual11. Terap medikamentosa12. Terapi melalui makananDari keduabelas terapi ini, kelompok berencana untuk memberikan terapi bermain pada anak autis.E. Faktor Yang Mempengaruhi Permaiana Anak 1. Faktor kesehatan.Anak-anak yang memiliki kesehatan yang baik tentu saja memiliki lebih banyak energi untuk bermain daripada anak-anak yang kurang sehat dan sering sakit-sakitan, sehingga anak-anak yang sehat biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan permainan yang membutuhkan energi yang lebih banyak.2. Faktor intelegensi.Anak-anak yang memiliki kecerdasan biasanya lebih aktif dalam bermain dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang kurang. Anak-anak yang cerdas biasanya lebih memilih permainan yang bersifat intelektual dan merangsang daya fikir mereka, sementara anak-anak yang kurang cerdas biasanya memilih permainan yang monoton.3. Faktor LingkunganLingkungan yang menyediakan fasilitas, ruang maupun waktu bermain bagi anak-anak biasanya merangsang anak-anak untuk banyak bermain. Karena itu penting bagi orang tua untuk memilih kompleks perumahan yang menyediakan lokasi perumahan yang menyediakan lokasi permainan umum.4. Faktor jenis kelaminBiasanya anak-anak perempuan lebih senang melakukan permainan yang tidak menghabiskan energi yang lebih banyak, seperti bermain boneka, rumah-rumahan, dan biasanya mereka malas melakukan permainan seperti memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain karena lebih menghabiskan banyak energi, hal tersebut berbeda dengan anak laki-laki.5. Fakto ekonomi Status ekonomi seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga berada, yang difasilitas dengan mainan, berbeda dengan anak yang tumbuh dalam keluarga dengan status ekonomi yang lebih terbatas.TERAPI BERMAIN PENGERTIANDunia anak adalah dunia bermain, dalam kehidupan anak anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktifitas bermain. Filsuf Yunani, Plato, merupakan orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Anak anak akan lebih mudah mempelajari aritmatika melalui situasi bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Istilah bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mempergunakan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian, memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan mengembangkan imajinasi anak.Menurut Mulyadi (2004), secara umum bermain sering dikaitkan dengan kegiatan anak anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat 5 pengertian bermain:1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak.2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik.3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak.4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kreatifitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial, dsb.FUNGSI BERMAINMenurut Adriana (2011), fungsi bermain pada anak yaitu: 1. Perkembangan sensorimotora. Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta koordinasib. Meningkatkan perkembangan semua inderac. Mendorong eksplorasi pada sifat fisik duniad. Memberikan pelampiasan kelebihan energi2. Perkembangan intelektuala. Memberikan sumber sumber yang beraneka ragam untuk pembelajaranb. Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna, pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep abstrak.c. Kesempatan untuk mempraktekkan dan memperluas keterampilan berbahasa.d. Memberikan kesempatan untuk melatih pengalaman masa lalu dalam upaya mengasimilasinya kedalam persepsi dan hubungan baru.e. Membantu anak untuk memahami dunia dimana mereka hidup dan membedakan antara fantasi dan realita.3. Perkembangan sosialisasi dan morala. Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk prilaku peran seks.b. Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan.c. Mengembangkan keterampilan sosial.d. Mendorong interaksi dan perkembangan sikap yang positif terhadap orang lain.e. Menguatkan pola prilaku yang telah disetujui dan standar moral.4. Kreatifitasa. Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat yang kreatif.b. Memungkinkan fantasi dan imajinasi.c. Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus.5. Kesadaran diria. Memudahkan perkembangan identitas dirib. Mendorong pengaturan prilaku sendiric. Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian sendiri)d. Memberikan perbandingan antara kemampuan sendiri dan kemampuan orang lain.e. Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku sendiri dapat mempengaruhi orang lain6. Nilai terapeutika. Memberikan pelepasan stres dan keteganganb. Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan inpuls yang tidak dapat diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterimac. Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan dengan cara yang amand. Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan nonverbal tentang kebutuhan, rasa takut, dan keinginan.ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)Alat permainan yang didapat mengoptimalkan perkembangan anak sesuai usia dan tingkat perkembangannya yang berguna untuk pengembangan aspek fisik, bahasa, kognitif dan sosial anak (Hidayat, 2005).Pengembangan aspek fisik dilakukan melalui kegiatan yang dapat merangsang pertumbuhan fisik anak, seperti belajar berjalan, merangkak, naik turun tangga, atau bersepeda. Pengembangan aspek kognitif dilakukan dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna objek dan lain lain. Sementara pengembangan aspek sosial dilakukan dengan cara berhubungan atau berinteraksi dengan orang tua, keluarga dan masyarakat. Untuk memberikan stimulus pada berbagai aspek perkembangan maka diperlukan alat permainan yang bervariasi, dengan harapan ada keseimbangan antara bermain aktif dan bermain pasif (Adriana, 2011).Menurut Maulana (2008), bermain aktif merupakan aktifitas bermain yang membuat anak memperoleh kesenangan dengan melakukan sendiri, misalnya : 1. Mengamati atau menyelidiki (Eksploratorie Play) seperti memeriksa, memperhatikan, mencium, menekan dan kadang kadang berusaha membongkar alat alat permainan.2. Membangun (Contruction Play) seperti menyusun balok balok menjadi bentuk rumah, mobil, dll.3. Bermain peran (Dramatic Play) seperti bermain sandiwara, rumah rumahan dan boneka4. Bermain bola voli, sepak bola, dll.Bermain pasif merupakan suatu hiburan atau kesenangan yang diperoleh dari orang lain. Dalam hal ini anak berperan pasif dan melihat atau mendengar saja, seperti : melihat gambar, mendengarkan cerita, menonton TV, dll.DAFTAR PUSTAKAAdriana. 2011. Terapi Bermaik Anak. salemba medika. jakarta Maulana Mirza. 2008. Anak Autis Mendidik Anak Autis Dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas Dan Sehat. KATAHATI: Jogjakarta Hidayat. 2005. Buku Ajar Keperawatan Anak I. Salemba Medika.Jakarta Mulyadi. 2004. Asuhan Keperawatan Anak. EGC. JakartaPriyatna Andri. 2010. Amazing Autism Memahami, Mengasuh, Dan Mendidik Anak Autis. Elek Media Komputindo. Jakarta