KINA 2 2014 WEB

  • Published on
    11-Nov-2015

  • View
    23

  • Download
    15

DESCRIPTION

Magz

Transcript

  • EDISI 02 - 2014

    PenguatanIndustrI Manufaktur

    Made In IndonesIa KIKO IndonesiaPT. Eta Sidoarjo Tenun Baduy Lurik Cawas Lenan Pearl of Silk Denim Tenun Elhaus F-Flo Design MT Jewelry Anbiyaa Collections Puspa Collection Webe Bag Kayun Wiracana Handycraft Mandiri Art Komunitas Pensil Kertas Banana Paper ABC Toys Jogjakarta Koperasi Petani Kopi Kayumas Farrel Pattiserie

    teknologI Alat Konversi Energi Mobil Listrik Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut

    opInI Ade Sudrajat

    apa & sIapa Runi Palar

    Strengthening the national Manufacturing induStry

  • KEMENTERIAN PERINDUSTRIANwww.kemenperin.go.id

  • KEMENTERIAN PERINDUSTRIANwww.kemenperin.go.id

    Daftar IsiContents

    AktuAlitA Penguatan Industri Manufaktur 4

    mAde in indonesiA KIKO Indonesia 10PT. Eta Sidoarjo 12Tenun Baduy 14Lurik Cawas 16Lenan Pearl of Silk 18Denim Tenun Elhaus 20F-Flo Design 22MT Jewelry 24Anbiyaa Collections 26Puspa Collection 28Webe Bag 30Kayun 32Wiracana Handycraft 34Mandiri Art 38Komunitas Pensil Kertas 40Banana Paper 42ABC Toys Jogjakarta 44Koperasi Petani Kopi Kayumas 46Farrel Pattiserie 48

    teknologi Alat Konversi Energi Mobil Listrik 50Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut UKI 52

    opini Ade Sudrajat 54

    ApA & siApA Runi Palar 58

    REDAKSI Pemimpin Umum: Ansari Bukhari | Pemimpin Redaksi: Hartono | Wakil Pemimpin Redaksi : Siti Maryam | Redaktur Pelaksana: Habibi Yusuf Sarjono | Editor: Intan Maria | Photografer: J. Awandi | Anggota Redaksi: Feby Setyo Hariyono, Krisna Sulistiyani, Titin Fauziyah Rochmawati, Djuwansyah, Hafizah Larashati, I Nyoman Wirya Artha, Dewi Meisni

    Alamat RedaksiPusat Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Perindustrian, Lt 6, Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53, JakartaTelp: (021) 5255609, 5255509, Pes. 4074, 2174.

    Redaksi menerima artikel, opini, surat pembaca. Setiap tulisan hendaknya diketik dengan spasi rangkap dengan panjang naskah 6000 - 8000 karakter, disertai identitas penulis. Naskah dikirim ke redaksi Majalah KINA Kementerian Perindustrian.Majalah ini dapat diakses melalui: www.kemenperin.go.id

    dari meja redaksiSebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri

    pengolahan non migas (manufaktur) menempati posisi strategis sebab kontribusi industri manufaktur terhadap PDB industri cukup besar, yaitu relatif di sekitar angka 24%. Pasca krisis 2008, kontribusi industri manufaktur sempat anjlok, kemudian naik lagi pada tahun 2009, 2010 dan 2011, namun kontribusi itu turun lagi pada tahun 2012.

    Namun dari sisi pertumbuhan, pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan dari 6,74% pada tahun 2011 menjadi 6,42% pada tahun 2012 dan menjadi 6,10% pada tahun 2013. Pada kuartal I 2014 pertumbuhan industri kembali turun menjadi 5,56%.

    Memang salah satu penyebab turunnya pertumbuhan industri manufaktur disebabkan lesunya perekonomian nasional dan global. Namun, hal ini tetap harus ditanggapi secara serius oleh pemerintah karena makin besarnya tantangan yang dihadapi industri nasional ke depannya. Untuk tahun 2015 saja, Indonesia harus menghadapi penerapan kawasan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Belum lagi adanya penerapan perjanjian perdagangan bebas yang lebih luas lagi dengan negara-negara lain atau regional lainnya yang membuat Indonesia menjadi lebih terbuka bagi masuknya produk-produk dari negara lain.

    Agar bisa bersaing dengan negara-negara lain di era yang terbuka itu, tentunya diperlukan sektor industri yang tangguh dan berdaya saing tinggi. Dengan potensi yang ada, industri manufaktur nasional bisa dijadikan andalan untuk bersaing dengan negara lain.

    Berkaitan hal itu, dalam KINA edisi 02 Tahun 2014 ini, redaksi menampilkan tema penguatan industri manufaktur pada rubrik aktualita. Berbagai kendala yang dihadapi industri manufaktur di dalam negeri dan upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan pemerintah untuk memperkuat industri manufaktur nasional dibeberkan secara gamblang. Semua itu redaksi rangkum dan sajikan dengan baik untuk pembaca.

    Dalam KINA edisi 02 Tahun 2014 ini, juga ditampilkan sejumlah produk karya anak bangsa Indonesia yang telah mampu menembus pasar internasional serta produk-produk kreatif berbahan baku di dalam negeri yang memiliki potensi besar untuk menjadi andalan Indonesia dalam menghadapi makin ketatnya persaingan dengan negara-negara lainnya.

    Beberapa temuan dan kreasi anak bangsa di bidang teknologi juga redaksi tampilkan pada rubrik teknologi, seperti tenaga listrik yang dihasilkan dari gelombang laut yang dihasilkan oleh beberapa mahasiswa jurusan teknik mesin.

    Untuk rubrik opini, redaksi menampilkan Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang membahas tentang berbagai persoalan yang terjadi serta peluang besar yang bisa diperoleh Indonesia dari sektor tekstil dan produk tekstil.

    Redaksi berharap semua yang ada pada KINA edisi 02 tahun 2014 ini bisa memberikan wawasan baru bagi pembaca serta dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak dalam upaya mengembangkan industri nasional secara menyeluruh.

    As the prime mover of economic growth, industrial sector, particularly non-oil manufacture industries, takes a strategic position because the contribution of manufacture industries to GDP is reasonably big, approximately at 24%. After economic crisis in 2008, the contribution of manufacture industries had plunged before risen in 2009, 2010, and 2011, but decreased again at 2012.

    However, on growth side, the growth of manufacture industries in current years has continued to decline, from 6,75% in 2011 to 6,42% in 2012 and 6,10% in 2013. In the first quarter of 2014, the industrial growth felt to 5,56%.

    One of the causes of decrease in the growth of manufacture industries is the sluggishness in national and global economic. Somehow, this should be seriously responded by the government because of the bigger challenges that will be faced by national industrial sector in future. Speak about 2015, Indonesia should face the implementation of a free-trade area called ASEAN Economic Community (AEC). Moreover, the implementation of free trade agreemements with more countries or regions will make Indonesia to be more open for the entry of goods from abroad.

    To be able competing with other countries in this open era, a tough and competitive industrial sector is needed. With its potentials, national manufacture industries are able to be the mainstay to compete with other countries.

    Related to that, in KINA no. 02/2014, editor presents the theme of strengthening national manufacture industries in Aktualita rubric. Some barriers faced by manufacture industries in the countries and efforts that have been done or being performed by government to strengthen national manufacture industries are clearly presented. All of the information are summarized by the editor and well presented for the readers.

    This edition of KINA also features some products by local producers that have already succeeded penetrating international market and creative products using raw materials from the country that have big potentials to become Indonesias mainstay to face the tough competition with other countries.

    Other innovations and creations in the field of technology are also presented in Teknologi rubric, such as electricity power produced from ocean wave by several students of mechanical engineering program.

    For Opini rubric, the Chairman of Indonesia Textile Association (Asosiasi Pertekstilan Indonesia; API) was interviewed about some issues and big opportunities for Indonesia in textile and textile products sector.

    Editor expects that the content of the present KINA gives new knowledge for readers as well as inputs for stakeholders in order to develop national industries comprehensively.

    EDISI 02 - 2014

    PenguatanIndustrI Manufaktur

  • 4 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Kondisi ini perlu segera disikapi pemerintah untuk mencegah semakin terpuruknya sektor industri ini di masa-masa mendatang. Dengan kata lain, diperlukan langkah-

    langkah penyelamatan industri manufaktur agar cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh di dunia pada tahun 2025 dapat dicapai.

    Berbagai langkah dan kebijakan strategis untuk menyelamatkan industri manufaktur itu sudah sangat mendesak untuk dilakukan pemerintah mengingat banyak industri di dalam negeri yang kini sudah dalam kondisi kritis. Lebih-lebih, tidak lama lagi Indonesia akan memasuki arena perdagangan bebas yang lebih

    selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi yang dari tahun 2011 sampai kuartal I 2014 berturut-turut sebesar 6,49% (2011), 6,26% (2012), 5,78% (2013) dan 5,21% (kuartal I tahun 2014).

    Industri manufaktur memiliki peranan yang cukup penting bagi ekonomi nasional. Sebab, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB industri cukup besar, yaitu relatif berkisar di sekitar angka 24%. Pasca krisis 2008, kontribusi industri manufaktur sempat anjlok, kemudian naik lagi pada tahun 2009, 2010 dan 2011, namun turun lagi pada tahun 2012.

    Menurut Harjanto, tren penurunan pertumbuhan industri manufaktur nasional antara lain disebabkan

    luas lagi di ASEAN, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015.

    Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto, mengatakan pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan dari 6,74% pada tahun 2011 menjadi 6,42% pada tahun 2012 dan menjadi 6,10% pada tahun 2013. Pada kuartal I 2014 pertumbuhan industri kembali turun menjadi 5,56%. Tren penurunan pertumbuhan industri manufaktur ini juga sejalan dengan tren penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Walaupun demikian, sejak tahun 2011 pertumbuhan industri manufaktur nasional

    PenguatanIndustri ManufakturPertumbuhan industri manufaktur di tanah air dalam beberapa tahun terakhir ini terus memperlihatkan tren penurunan yang berkelanjutan.

    AktuAlitA

  • 5Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    oleh adanya serbuan barang impor dan relatif rendahnya daya saing industri nasional sehingga harus segera ditingkatkan. Ini tidak melulu karena kesalahan industri manufakturnya sendiri, tapi faktor eksternal juga sangat berpengaruh, seperti kesiapan infrastruktur teknologi, infrastruktur fisik (pelabuhan, jalan, listrik, dll). Kadang-kadang orang melihat industri hanya dari satu sudut pandang, sehingga cenderung mengatakan bahwa industri tidak perlu dilindungi. Mungkin itu benar, tapi di sisi lain faktor-faktor eksternal pendukung industri yang pengaruhnya seringkali sangat besar terhadap industri juga harus dibangun.

    Berdasarkan Global Competitiveness Report 2013-2014, daya saing Indonesia di dunia pada tahun 2013 berada di urutan 38, naik dari urutan 50 pada tahun 2012. Posisi Indonesia berada di atas sejumlah negara ASEAN seperti Filipina (urutan 59), Vietnam ((70), dan Kamboja (88), namun masih di bawah Thailand (37), Malaysia (24) dan Singapura (2). Indikator penilaian daya saing tersebut antara lain mencakup kelembagaan, infrastruktur, lingkungan ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar jasa, pembangunan pasar finansial, kesiapan teknologi, volume pasar, inovasi

    dan kemudahan berbisnis.Daya dukung logistik Indonesia, kata Harjanto,

    merupakan salah satu kelemahan daya saing industri Indonesia akibat seringnya terjadi kongesti (antrian) di pelabuhan. Akibatnya, pengapalan barang dari Beijing ke Indonesia lebih murah ketimbang pengapalan dari Jakarta ke Kalimantan. Selain itu, kelemahan lainnya adalah ketersediaan bahan baku dan energi. Gangguan terhadap ketersediaan bahan baku dan energi akan mengganggu pertumbuhan industri. Karena itu, dalam UU No.3 tahun 2014 tentang Perindustrian ketersediaan bahan baku industri ini dijamin dengan UU.

    AktuAlitA

  • 6 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Kalau tidak dijamin akan sulit. Kita akan melihat bersama kementerian lainnya sektor mana saja yang perlu diatur. Misalnya, untuk bahan baku sekarang yang diatur di Kementerian ESDM baru di tier-1, yaitu bijih tembaga sudah tidak boleh diekspor, sedangkan konsentratnya masih boleh diekspor. Mulai tahun 2017, hanya copper cathode yang boleh diekspor. Tapi kalau suatu saat industri turunannya seperti industri kabel yang membutuhkan tembaga sedangkan bahan bakunya diekspor besar-besaran dan tidak ada DMO, bagaimana industri kabel bisa tumbuh. Hal seperti itu nanti akan diatur oleh Kemenperin.

    Harjanto mengatakan, untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional, pihaknya akan mulai dengan melakukan tata kelola sumberdaya industri, melakukan domestic market obligation (DMO), dan memberlakukan larangan terbatas (lartas) sumberdaya industri yang ditujukan agar pasokan kebutuhan industri bisa terjamin.

    Kalau tidak dijamin akan sulit. Kita akan melihat bersama kementerian lainnya sektor mana saja yang perlu diatur. Misalnya, untuk bahan baku sekarang yang diatur di Kementerian ESDM baru di tier-1, yaitu bijih tembaga sudah tidak boleh diekspor, sedangkan konsentratnya masih boleh diekspor. Mulai tahun 2017, hanya copper cathode yang boleh diekspor. Tapi kalau suatu saat industri turunannya seperti industri kabel yang membutuhkan tembaga sedangkan bahan bakunya diekspor besar-besaran dan tidak ada DMO, bagaimana industri kabel bisa tumbuh. Hal seperti itu nanti akan diatur oleh Kemenperin, tuturnya.

    Lingkungan strategis, tambah Harjanto, juga jadi masalah. Dewasa ini, Indonesia menghadapi berbagai macam fora internasional mulai dari AFTA 2010, MEA 2015 yang tekanannya lebih kepada jasa, FTA dengan

    UE, dan EFTA (European Free Trade Association). Pada dasarnya, negara-negara maju di Eropa kini sedang mencari pasar karena pertumbuhan di negara maju ini relatif sudah stagnan dan daya tarik ekonomi dunia saat ini berada di Asia karena Asia sedang membangun.

    Pertumbuhan ekonomi yang antara lain dicirikan dengan maraknya pembangunan gedung-gedung, jalan, infrastruktur membutuhkan banyak sekali sumberdaya ekonomi. Ke depan, Indonesia bercita-cita menjadi negara maju dan perekonomiannya akan tumbuh 7%-8%, berarti industri harus tumbuh di atas itu.

    Menurut Harjanto, salah satu hal paling pragmatis yang harus dihadapi Indonesia saat ini antara lain adalah membanjirnya baja impor dari luar negeri, padahal industri baja ini di mana pun di dunia merupakan tulang punggung industri. Artinya, kalau kita tidak memiliki industri baja yang kuat, jangan bermimpi menjadi negara industri. Sebab, the mother of industry is steel industry. Jadi, kita tidak bisa begitu saja melepaskan industri baja hulu kita. Makanya industri hulu baja selalu kita pertahankan dan kita menjadikan industri baja sebagai industri prioritas.

    Namun, di dalam negeri sendiri seringkali antara industri baja hulu dan baja hilir seolah bertolak belakang. Jika industri baja hulu diproteksi, maka industri baja hilir berteriak. Karena, industri hilir baja di dalam negeri cenderung lebih suka mengimpor bahan bakunya.

    Kalau mereka memang membutuhkan produk baja hulu untuk kegiatan industrinya sih tidak masalah. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya,

    | Harjanto

    AktuAlitA

  • 7Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    dimana produk baja hulu lokal sebetulnya secara teknis dapat digunakan oleh industri baja hilir, tetapi mereka tetap melakukan impor. Alasannya aspek teknis, padahal mereka ingin memanfaatkan perbedaan tarif dengan melakukan pelarian tarif, tegas Harjanto.

    Selama ini, baja konstruksi banyak yang dilindungi di dalam negeri (karena Indonesia memang lebih banyak unggul di baja konstruksi ketimbang baja engineering), namun banyak industri hilir baja nasional yang mengimpor baja konstruksi atas nama baja engineering hanya untuk mendapatkan BM yang rendah.

    Selain menghadapi banjirnya produk impor, naiknya tarif dasar listrik (TDL) juga semakin memperberat kondisi daya saing industri nasional. Belum lagi ada kenaikan upah buruh regional baru-baru ini. Di negara lain, infrastruktur tidak terlalu masalah, seperti di Vietnam yang pemerintahnya sudah menyiapkan pembangkit listrik tenaga nuklir.

    Untuk memperbaiki kinerja industri manufaktur nasional, kami di Kemenperin berupaya keras untuk mengendalikan impor, karena kita tidak ingin kehilangan pasar dalam negeri. Pengendalian dilakukan melalui tata niaga. Intinya kita tidak ingin ada surplus produk di dalam negeri. Kalau terjadi surplus pasti terjadi injury. Walaupun injury bisa diobati dengan kebijakan safeguard, anti dumping atau subsidi, namun kami ingin mencegah terjadinya injury dengan cara mempertahankan keseimbangan pasar, tegas Harjanto.

    Negara manapun di dunia tidak menginginkan terjadinya over stock dan over supply. Supaya

    itu tidak terjadi dan agar tidak ada korban, maka impornya perlu diatur melalui instrumen perdagangan sedemikian rupa supaya tidak terjadi over stock dan over supply.

    Dari dua instrumen perdagangan yang ada, yaitu tarif dan non-tarif, hanya instrumen non-tarif (non-tariff measure/NTM) yang masih bisa dikembangkan. Karena untuk instrumen tarif, Indonesia sudah sulit dikembangkan mengingat tarifnya sudah sangat rendah dan sudah sangat liberal. Instrumen non-tarif lah yang harus dikembangkan ke depan. Penerapan NTM bisa dengan alasan untuk melindungi konsumen, bisa juga karena alasan lingkungan, labor right atau national interest. Salah satu dari NTM yang sudah dikembangkan pada saat ini diantaranya SNI dan tata niaga.

    Selain itu, juga perlu diatur mengenai besaran TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri), yang tujuannya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin proyek-proyek pemerintah bagi kepentingan produksi dalam negeri.

    AktuAlitA

  • 8 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    to 6.42% in 2012 and down to 6.10% in 2013. In the first quarter of 2014, the growth continued to decline to 5.56%. The downward trend in the growth of manufacturing industry has also been in line with the downward trend faced by national economic growth in general. Notwithstanding, since 2011 the growth of manufacturing industry has been still higher than national economic growth as shown from 2011 until the first quarter of 2014 amounting to 6.49% (2011), 6.26% (2012), 5.78% (2013 ) and 5.21% (first quarter 2014) respectively.

    The manufacturing industry inevitably has an important role for the national economy. The contribution of manufacturing industry to GDP is quite significant, that is around 30% of GDP. Post-2008 crisis, the contribution of manufacturing industry decreased drastically, then experienced increase in 3 consecutive years in 2009, 2010 and 2011, and felt again in 2012.

    According to Harjanto, the downward trend

    of manufacturing industry growth, among others, is due to the invasion of imported products and relatively low competitiveness of domestic products. Therefore, the competitiveness of national industry should be improved. This is not only the mistakes of manufacturing industry itself, the influence of external factors also takes into account such as the readiness of technology infrastructure and physical infrastructure (ports, roads, electricity etc.). Sometimes people view the industry only from one perspective and tend to argue that it does not need to be protected. It might be true, but on the other side the external factors supporting the industry and contributing a significant influence on industry performance should also be developed.

    Based on the Global Competitiveness Report 2013-2014, Indonesias competitiveness in the world in 2013 was ranked at number 38, went up from number 50 in 2012. The position of Indonesia is above a number of ASEAN countries such as the

    By considering the wide variety of domestic herbal products (jamu), the government will issue some sort of industry standards.

    Strengthening The National Manufacturing Industry

    The growth of manufacturing industry in domestic market in recent years has continued to show a downward trend. It should be immediately addressed by the government to prevent further decline. In other words, the rescue measures for manufacturing industry should be taken to pursue the target of bringing Indonesia to be a powerful industrial country in the world by 2025.

    Various measures and strategic policies to save the manufacturing industry has been very urgent for the government since so many industries in the country have been in critical condition, much less Indonesia will soon enter the era of wider free trade in ASEAN, namely ASEAN Economic Community (AEC) by 2015.

    Harjanto, The Director General of Industrial Based Manufacture, the Ministry of Industry said that the growth of manufacturing industry in recent years has continued to decline from 6.74% in 2011

    AktuAlitA

  • 9Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Philippines (59), Vietnam ((70), and Cambodia (88), but still below from Thailand (37), Malaysia (24) and Singapore (2). Some indicators used in the competitiveness assessment include the institutional, infrastructure, macroeconomic environment, health and basic education, higher education and training, goods market efficiency, services market efficiency, financial market development, technology readiness, market volume, innovation and easiness of doing business.

    The carrying capacity of Indonesian logistics, Harjanto said, is one of the weaknesses of Indonesias industrial competitiveness due to the frequent congestion at the ports. Consequently, the shipment of goods from Beijing to Indonesia is cheaper than shipping from Jakarta to Borneo. In addition, another weakness is the availability of raw materials and energy. Disorders to the availability of raw materials and energy will inhibit industrial growth. Therefore, in Industrial Law No. 3 the availability of raw materials for industry is secured by the law.

    He further said that to improve the competitiveness of national manufacturing industry, the government will start implementing the industrial resource management, carrying out Domestic Market Obligation (DMO), and imposing a limited ban of industrial resources which is intended to secure the supply of the needs of industry.

    If not secured it will be difficult. We will discuss with other related ministries which sectors need to be regulated. For example, the Ministry of Energy and Mineral Resources has regulated for raw materials just for tier 1, that is the copper ore is prohibited to be exported, while the concentrates still can be exported. Starting in 2017 only copper cathode can be exported. In case in the near term the derivative industries such as cable industries require the raw material of cooper but at the same time the copper is massively exported and there is no DMO, how the cable industries can grow. Things like that will be regulated by the Ministry of Industry, he said.

    Strategic environment, Harjanto added, could also be a problem. Today Indonesia is facing a variety of international forum such as AFTA in 2010, AEC in 2015 which emphasizing more on services, FTA with the EU, and EFTA. Basically, the developed countries of Europe are now looking for markets since the economic growth in those countries have been relatively stagnant and the world economy has been considering the attractiveness of Asia market since Asian counries are actively carrying out the development.

    The economic growth, among others is characterized by the rampant of the development of buildings, roads, and infrastructure and it requires a lot of economic resources. Indonesia has targetted to be a developed country with annual economic growth around 7%-8%. It means that the manufacturing industry should grow at rate of more than that.

    According to Harjanto, one of most worrying things to be addressed by Indonesia today is the flood of imported steel product in domestic market, while in any country in the world the steel industry is considered to be the backbone of the industrial

    development. It means, if we do not have a strong steel industry, do not ever dream of being an industrialized country. Certainly, the mother of industry is steel industry, so that we can not just let go of our upstream steel industry. Hence, we should always maintain our upstream steel industry and make the steel industry to be one of the priority industries.

    In our country, however, between the upstream and downstream steel industries often show contradictory interests. When the upstream steel industry gets a protection, then the downstream steel industry screams. It happens, because the domestic downstream steel industry prefers to import its raw materials.

    If they really require upstream steel products for their industrial activities it does not matter, but what oftenly happens is contradictory. Technically, the local products of upstream steel industries can be used by the downstream steel industries, but they remain to import. The reason is for the sake of technical aspects, they actualy take the advantage in terms of tariff differences, Harjanto explained.

    So far, most of the steel for construction is protected in the country (because Indonesia is much more superior in construction steel than in engineering steel), but many national downstream industries importing construction steel and giving the label of engineering steel just simply to get the lower import duty.

    In addition to facing the flood of imported products, the increase of electricity tariff also much more hampers the condition of national industry competitiveness, not to mention the increase of regional wage recently. In other countries the infrastructure is not the problem, as in Vietnam,

    for example, the government has already set up a nuclear power plant.

    To improve the performance of manufacturing industry, the Ministry of Industry has implemented a strict control on imports since we do not expect to lose the home market opportunity. The control system is carried out through the trade governance. The point is we do not want any surplus of products in domestic market. If any surplus happens, inevitably it will cause injury. Although the injury can be overcome with the safeguard policies, anti-dumping or subsidies, but we want to prevent the injury by maintaining the market balance, Harjanto further expained.

    Any country in the world does not want the condition of over stock or over supply. In order to avoid it and no victims from it, the import activities should be firmly regulated through the trade instruments in such a way that could prevent from over stock and over supply condition.

    From two existing trade instruments, namely tariffs and non-tariffs, only non-tariff instruments (non-tariff measure/NTM) that still open to be developed. Because, for the tariff instrument, it has been very difficult to address because the tariff has already been very low and liberal. Only non tariff instruments that should be developed in the future. The implementation of NTM could be imposed with the reason to protect consumers, or it could be for environmental reason, labor rights, and also national interest. One of the NTM that has been developed among others is the SNI with its trade governance.

    Moreover, the local content should also be regulated, aiming to maximize the government projects for the benefits of domestic production.

    AktuAlitA

  • 10 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    KIKOIndustri komponen otomotif di Indonesia semakin tumbuh seiring dengan perkembangan industri otomotif dalam negeri yang terus menunjukkan tren positif.

    Hingga saat ini, industri komponen otomotif nasional telah mencapai 1.550 perusahaan. Dari ribuan perusahaan tersebut, diperlukan wadah untuk saling bersinergi sehingga bisa

    berdaya saing dan berkembang bersama-sama.Salah satu organisasi yang memayungi para

    produsen komponen otomotif lokal yaitu Koperasi Industri Komponen Otomotif (KIKO) Indonesia. Koperasi ini didirikan pada 10 Februari 2012 dengan memiliki visi untuk membangun industri komponen otomotif unggulan dalam rangka memenuhi kebutuhan lokal dan mampu ekspor. Oleh karena itu, diharapkan melalui peran KIKO Indonesia, persoalan bahan baku, pemasaran, permodalan, dan pengadaan mesin produksi dapat dimediasi dengan baik.

    Industri Komponen Otomotif Harus Kompetitif

    Ketua KIKO Indonesia, M. Kosasih menceritakan, terbentuknya KIKO Indonesia berdasarkan kesepakatan dari 20 pengusaha lokal yang bergerak di bidang industri komponen otomotif setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan atas kerjasama The Association for Overseas Technical Scholarship (AOTS) Tokyo dengan pemerintah prefektur Fukuoka, Jepang.

    Pada tanggal 27 Januari 2012, kami yang terdiri dari 20 pengusaha IKM komponen otomotif lokal dengan dipimpin oleh KADIN lndonesia melakukan kunjungan ke Jepang dalam rangka membangun kerjasama bisnis Fukuoka lndonesia. Sepulang dari Fukuoka tersebut, kami dengan beberapa pengusaha lain hingga mencapai 70 perusahaan sepakat melakukan rapat untuk membentuk koperasi industri komponen otomotif, yang kami selenggarakan di Jakarta tanggal 10 Februari 2012. Pada saat itulah, ditetapkan susunan pengurusnya dan saya didaulat sebagai ketua, tutur Kosasih ketika ditemui sebagai peserta PPI 2014 di Bandung, beberapa waktu lalu.

    Adapun misi yang diemban KIKO Indonesia antara lain: membangun kebersamaan sesama industri komponen otomotif, membangun sinergi antar UKM industri komponen otomotif di lndonesia, meningkatkan SDM UKM industri komponen otomotif lndonesia, memenuhi kebutuhan UKM industri komponen otomotif seperti material, pasar, teknologi dan kebutuhan lainnya, serta diharapkan memiliki produk komponen dengan merek KIKO dan dapat diterima oleh pasar lokal maupun ekspor.

    Kosasih memastikan, pertumbuhan industri komponen otomotif di Indonesia, termasuk suku cadang, peralatan, dan aksesori otomotif, terus menunjukkan perkembangan yang positif. Saat ini, sekitar 60% industri dari 4.700 berbagai macam bidang industri yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bergerak di industri komponen otomotif. Khususnya yang ada di Bekasi, Jawa Barat, memang banyak industri komponen otomotif di sana, katanya.

    Secara nasional, industri komponen otomotif merupakan sektor strategis dari seluruh industri yang ada. Kosasih menyebutkan, omzet penjualan industri

    komponen otomotif nasional menembus angka Rp 30 triliun. Sementara itu, pada tahun 2013, total omzet penjualan dari 70 perusahaan komponen otomotif yang tergabung di KIKO Indonesia telah memberikan kontribusi sebanyak Rp 1,4 triliun. Kami akan terus berdayakan secara maksimal para anggota KIKO Indonesia, yang saat ini mencapai 70 perusahaan dengan total karyawan sebanyak 7.780 orang. Anggota kami meliputi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang komponen, supporting, dan after market, ujarnya.

    Kosasih mengungkapkan, sebanyak 90% anggota KIKO Indonesia mampu memenuhi permintaan pasar Original Equipment Manufacturer (OEM), dimana hasil produksi digunakan untuk memasok langsung ke perusahaan perakitan otomotif untuk dirakit menjadi kendaraan. Sedangkan sisanya digunakan untuk memenuhi pasar after market, yakni menjual suku cadang untuk keperluan layanan purna jual terhadap kendaraan yang sudah beredar dan dipasarkan melalui jaringan distribusi di Indonesia. Kalau OEM itu pasarnya sudah pasti dan pembayarannya juga pasti. Sedangkan untuk after market, mencari pasarnya harus berjuang dulu, kalau produknya belum dikenal harus terus promosi, dan masih perlu biaya tinggi.

    Oleh karena itu, dalam program kerjanya, KIKO Indonesia rutin melakukan program kunjungan ke beberapa anggotanya yang sudah dianggap bertaraf perusahaan besar agar membagi pengetahuan dan teknologinya kepada para anggota yang berkelas IKM. Diharapkan dari kunjungan tersebut dapat saling memanfaatkan dan terjadi ikatan bisnis, dimana mereka yang masih IKM bisa menjadi second layer bagi anggota yang sudah besar, kata Kosasih seraya memastikan bahwa para anggota KIKO Indonesia adalah murni pengusaha lokal. Syarat menjadi anggota KIKO adalah pemilik modalnya harus 100% lokal, bukan asing, lanjutnya menegaskan.

    Ia pun berjanji, KIKO Indonesia akan terus mengupayakan peningkatan kualitas industri komponen otomotif nasional agar menghasilkan produk yang kompetitif. Untuk itu, Kosasih memberikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, yang terus mendorong pertumbuhan industri komponen otomotif melalui peningkatan kualitas dan ketersediaan bahan baku dalam negeri, kompetensi SDM industri, peningkatan teknologi dan standardisasi, serta perluasan akses pasar.

    Sementara itu, Kementerian Perindustrian akan terus mendorong penyerapan komponen otomotif lokal, khususnya yang berasal atau dibuat oleh industri kecil dan menengah (IKM). Syaratnya, kualitas harus ditingkatkan, harga yang kompetitif dan pengiriman tepat waktu. Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi IKM dengan memberikan pelatihan unit-unit pelayanan teknis (UPT), bantuan mesin dan peralatan, pelatihan dan pendampingan tenaga ahli, serta memfasilitasi standardisasi produk pada IKM otomotif.

    MAde in indonesiA

  • 11Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    The Industry of Automotive Components Should be Competitive

    MAde in indonesiA

    The number of national automotive components businesses have reached about 1,550 companies. Of these large number of companies, an organization is required to synergize them so that they can be competitive and grow together.

    One of the organization coordinating the local automotive component manufacturers is the Cooperative of Indonesia Automotive Components Industry (so called KIKO Indonesia). It was established on February 10, 2012 with the vision to building the competitive automotive components industry to meet domestic demand as well as export market. Therefore, with the role of KIKO Indonesia, the problems associated with raw materials, marketing, financing, and procurement of production machineries can be better mediated.

    The Chairman of KIKO Indonesian, M. Kosasih explained the formation of KIKO Indonesia was triggered by the common understanding of 20 local SMEs engaged in automotive components industry soon after the completion of the training jointly organized by The Association for Overseas Technical Scholarship (AOTS) Tokyo and the Fukuoka prefectural government, Japan.

    On January 27, 2012, the 20 local SMEs of automotive components, led by the Indonesian Chamber of Commerce made a visit to Japan to establish business partnership between Fukuoka and Indonesia. Returning home from Fukuoka, we and other 70 SMEs owners held a meeting to establish a cooperative venture of automotive components industry in Jakarta on February 10, 2012. At that time, the composition of management was appointed and I was asked to be the chairman, said Kosasih when met as a participant of the Indonesian Product Expo (IPE) 2014 in Bandung, few months ago

    The mission of KIKO Indonesia is, among others: building the unity among the automotive components industry, building synergies between

    SMEs in automotive components industry in Indonesia, improving the human resources of SMEs in automotive components, meeting the needs of SMEs such as raw materials, markets, technologies and other needs, and also producing automotive components with KIKO brand that is acceptable by both local and export markets.

    Kosasih argued that the growth of automotive components industry in Indonesia, including spare parts, equipments, and automotive accessories has continued to show a positive trend. Currently, approximately 60% of the total 4,700 SMEs in various industries located in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek) are engaged in automotive component industry.

    The automotive components industry is considered to be one of the strategic sectors in the country. Kosasih stated the sales turnover of national automotive components industry exceeded Rp30 trillion. Meanwhile, in 2013, the total sales turnover of 70 automotive component companies that are the member of KIKO Indonesia contributed as much as Rp 1.4 trillion. We will continue to empower all of the 70 KIKO Indonesia members with a total employees of about 7,780 people. Our members include SMEs engaging in the component, supporting, and after-market, he explained.

    Kosasih revealed that about 90% of KIKO Indonesia members have been able to meet the market demand for original equipment manufacturer (OEM), in which their outputs are directly supplied to the automotive assemblers to be further assembled into the vehicles. While the remaining product is to meet the demand of after market, such as spare parts for after-sales services for the vehicles that have circulated and marketed through a distribution network in Indonesia. For OEM, the market and the payment has been defined. As for the after-market, however, the market should be fought first, and if the product has not been known, the effort of promotion

    is required, and high cost is also needed.Therefore, in its work program, KIKO Indonesia

    has routinely made visits to some of the members that have been considered to be relatively large companies to share their knowledge and technology to KIKO Indonesia members that are still categorized as SMEs. From the visit program, it is expected to get mutual benefits and the business partnership is also expected to occur, in which the SMEs could be a second layer or sub contractor of the larger companies, Kosasih said while ensuring that all members of KIKO Indonesian are genuine local companies. The requirement to be a member of KIKO Indonesia is that the capital owner of SMEs should be local, not foreign, he asserted.

    He also promised KIKO Indonesia will continue to increase the quality of national automotive components industry in order to produce the competitive products. For that reason, Kosasih has given appreciation to government, especially the Ministry of Industry, which has continuously supported the development of automotive components industry by improving the quality and availability of domestic raw materials, improving the human resource competencies, advancing technology and standardization, as well as expanding the market access.

    Meanwhile, the Ministry of Industry will continue to encourage the market absorption of local automotive components, particularly those that are produced by SMEs. As prerequisite, the product quality must be improved with the competitive prices and timely delivery. The Minister of Industry Mohamad S. Hidayat said that his party will facilitate the SMEs by providing training through technical service units, giving the aid of machines and equipments, training and mentoring experts, as well as facilitating the standardization of SME automotive products.

    The Indonesian Industry of automotive component has been growing along with the positive trend of the development of national automotive industry.

    informasi | information KIKO Jl. HR Rasuna Said X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950Tlp (021) 5274484Email : kos_hur@yahoo.com

  • 12 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    ETA GROUP INDONESIAProduk yang dihasilkan eta group Indonesia ini adalah fuse switch breaker atau alat kelengkapan listrik yang berfungsi mengubah dan menginterupsi alur listrik, saat terjadi kelebihan beban di masa beban puncak.

    Selama ini masyarakat awam lebih mengenal circuit breaker yakni pengubah yang membuka sirkuit ketika terjadi kelebihan beban puncak. Alat ini dapat memecah atau

    membuka sirkuit listrik, sehingga ia mampu mengubah dari satu konduktor ke konduktor lainnya. Dua-duanya sama-sama melindungi perangkat komponen elektronik.

    Seperti dikemukakan Agung Kurniawan selaku GM for SCM & Business Development PT ETA Indonesia di kantor pusatnya, di Berbek Industri, Sidoarjo, Jawa Timur beberapa waktu yang lalu, pemecah sirkuit dilakukan sebagai perlindungan untuk melindungi panas yang berlebih. Beda fuse switch breaker dengan circuit breaker adalah apabila sudah rusak biasanya circuit breaker langsung dibuang. Sedangkan fuse switch breaker, melakukan perlindungan terhadap produk elektronik yang bisa di-reset. Alat ini merupakan teknologi terbaru pengganti sekring (fuse), dan melindungi pencegahan terhadap perangkat listrik dari penggunaan listrik berlebihan, untuk mencegah dari terjadinya kebakaran,paparnya.

    ETA Indonesia adalah bagian dari ETA Group, yang berdiri tahun 1948 di Jerman. Di seluruh dunia pegawai ETA mencapai 7.500 orang, dengan penjualan sekitar 100 juta per tahun, karena produk yang dihasilkannya memang kecil. Produk sisekring dimulai tahun 1948, dan sekarang sudah mengarah pada proteksi perangkat listrik. ETA merupakan brand global di mana 8% dari penjualan tahunannya, digunakan untuk mengembangkan produk berteknologi tinggi. Para pelanggannya di tingkat global antara lain seperti BMW dan Ducati, serta operator telekomunikasi seperti Motorolla dan Alcatel.

    Perusahaan ini mensuplai kebutuhan di bidang vessel vehicle seperti untuk kebutuhan tank, craft, ambulans, dan industri berat lainnya (heavy duty). Standard laboratorium perusahaan tersertifikasi dunia seperti Under Laboratory (UL), sertifikasi ISO 9001, termasuk juga untuk kebutuhan ruang angkasa, transportasi, aplikasi untuk kapal, MIL (Military Standard), dan standard untuk pembangkit tenaga listrik (power plant). Laboratorium tersebut juga bisa untuk menguji produk non ETA.

    Perusahaan juga sudah mengadopsi standard ISO 2100 untuk quality manajemen, karena kami

    PRODUSEN LOKAL ALAT PEMECAH SIRKUIT LISTRIK

    mensuplai ke Airbus, sehingga harus punya standard AF 2100 yang biasanya diadopsi bagi industri ruang angkasa dan pesawat udara. Ada juga standard TL 1949, sertifikasi untuk produk-produk yang suplainya untuk produk otomotif, transportasi, dan menjadi tuntutan mutlak bagi merek Daimler, BMW, VW, dan General Motor. Ini erat kaitannya dengan tingginya standard produk, sehingga setahun sekali, para pelanggan ini selalu melakukan audit keperusahaan kami. Sampai akhirnya mereka percaya, produk ETA sudah mampu dihasilkan di Indonesia, dan melihat kemampuan tersebut sudah dapat menghasilkan volume dalam jumlah cukup secara berkesinambungan, jelasnya.

    Agung menjelaskan juga di setiap negara Asia ada divisi penjualan. Tetapi untuk produksi di dunia hanya ada di Indonesia, Tunisia, Chicago (AS), dan Nurnberg (Jerman). Khusus di Indonesia ada dua pabrik, yakni di Surabaya dan Pasuruan Industrial Estate Rungkut. ETA Indonesia berdiri tahun 1996 yang awalnya ada di Pasuruan. Seluruh saham ETA Indonesia dimiliki oleh ETA Gmbh. Perusahaan berkembang tahun 2008 ke Berbek Industri, Surabaya.

    Total produksi seluruh jenis fuse circuit breaker yang dihasilkan adalah 5,8 juta unit dalam puluhan tipe. Khusus dalam industri penerbangan, setelah mengalami kelesuan di tahun 2011, maka kini kebutuhan alat ini begitu besar. Sebab dalam produksi satu unit pesawat Airbus saja diperlukan antara 300 s/d 1.000 unit fuse circuit breaker, khususnya di bagian kokpit. Di Indonesia kami juga bekerjasama dengan PT PINDAD untuk produksi Anoa. Pelanggan kami untuk tank seperti Leopard dan juga Scorpion. Jika tidak dipasangi alat circuit breaker, resiko pesawat terbang atau tank menjadi terbakar lebih besar lagi.

    Saat ini penggunaan komponen lokal masih rendah, baru sekitar 17% yakni pada bahan plastik dan plat logam (metal platting). Kendati buatan Indonesia, namun alat ini harus lulus sertifikat militer. Itu sebabnya salah satu kendala mengambil komponen dari Indonesia, karena tingginya standard produk kami, sehingga mitra perusahaan penyuplai dari lokal kerap tidak sanggup memenuhinya. Saat ini kami bermitra dengan salah satu perusahaan yang berlokasi di Cikarang, Bekasi, dan mereka harus memenuhi spesifikasi produk otomotif.

    Kami sendiri kebanyakan menggunakan standard

    produk untuk pesawat terbang yang lebih tinggi dari standard untuk produk otomotif. Ada juga persyaratan khusus dari pelanggan kami seperti Airbus yang tidak mengizinkan perusahaan menggunakan komponen lokal, kecuali mereka langsung melakukan audit ke penyuplai mitra kami tersebut. Itu sebabnya kami sulit sekali memenuhi syarat komponen dari kandungan lokal di dalam negeri.

    MAde in indonesiA

  • 13Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    The products of ETA Group of Indonesia is the fuse switch breaker electrical fittings which function to change and interrupt electric currents when there is an overloaded condition.

    A Local Producer of Electric Circuit Breaker Equipment

    MAde in indonesiA

    To date the general public is more familiar with the circuit breaker as a device functioning to break or open an electric circuit so that it is able to change from one conductor to another. The both similarly protect the electronic components.

    As stated by Agung Kurniawan, the General Manager of SCM & Business Development of PT ETA Indonesia at the headquarter, in Berbek Industry, Sidoarjo, East Java some time ago, a circuit breaker is installed as a protection, to protect from the excessive heat. The difference between fuse switch breaker and circuit breaker is when the circuit breaker is out of order, it is immediately discarded, while the fuse switch breaker can be reset. This device is the latest technology as the replacement of fuse, to prevent the electrical devices from the excessive electricity use, to prevent the fire occurrence, he explained.

    ETA Indonesia is a part of ETA Group, founded in 1948 in Germany. In worldwide, ETA has employed about 7,500 people, with sales turnover of approximately 100 million per year. The fuse production has begun in 1948, and recently it has moved to the protection of electrical devices. ETA is a global brand in which 8% out of its annual sales is used to develop the high-tech products. Its global customers, among others, are BMW and Ducati, as well as the telecommunication operators such as Motorola and Alcatel.

    The company has supplied the devices for cars, trains, and space purposes. For vessel vehicles, for example, it supplies the devices for tanks, crafts, ambulances, and heavy duties. It also supplies for Airbus, Euro Fighter and Boeing. The laboratory standard of the company has been globally certified such as Under Laboratory (UL), the certification of ISO 9001, and its laboratory can also test the products of non - ETA.

    In order to supply to Airbus, ETA has adopted ISO 2100 and standards of AF 2100 usually adopted by the aerospace industry and aircraft. There has been also standard of TL 1949, certification to supply automotive products, transportation, and it is to be an absolute requirement by Daimler, BMW, Volkswagen, and General Motors. Since the products are closely related to the high standard, every year our main customers always carry out an audit to our company. Until at the end the people assure that ETA products has been produced in Indonesia, and they have known that ETA has been able to continuously produce a large amount of products, he explained.

    Agung explained in every Asian country there is an ETA sales division. But for the production process in worldwide they are only in Indonesia, Tunisia, Chicago (USA), and Nurnberg (Germany). There are two factories in Indonesia, namely in Surabaya and Rungkut Industrial Estate, Sidoarjo. ETA Indonesia was established in 1996. At the beginning it was

    domiciled in Pasuruan, but due to the problem of Lapindo mudflow as well as the reason for further expanding and growing, in 2008 it opened a new factory in Berbek Industry, Sidoarjo, Surabaya. All of ETA Indonesia shares are owned by ETA Gmbh.

    The total production of all types of fuse circuit breakers are 5.8 million units with various types. Specifically for the aviation industry, after experiencing a business slump in 2011, nowadays the demand is so high. For the production of one unit of Airbus aircraft, for example, about 300 to1,000 units of fuse circuit breakers are required, especially in the cockpit. In Indonesia we also set a partnership with PT PINDAD for the production of Anoa, for tanks like Leopard and also Scorpion. If not equipped with fuse circuit breakers, the risk of fire to aircrafts or tankswill be much higher.

    Today the use of local components is still limited, only about 17% mainly for plasticand metal platting materials. Although made in Indonesia, but these devices must pass the military certificate. One of the obstacles faced by the local suppliers is due to the high standard of ETA products, so they face difficulty to meet the standard requirement. Currently we have been partnering with a company located in Cikarang, Bekasi, and it should fully meet with our product specifications, because the quality should be maintained, should not be above or below the standard.

    We implement standard of products for aircraft higher than for automotive products. There is also specific requirements from the customers like Airbus to not allowing the company to use local components, unless it has performed an audit by it self to the local supplier partner. That is why we face a difficult task to meet the requirements of local content.

    informasi | information PT. E-T-A Indonesia Jl. Berbek Industri III/5 SIDOARJO 61256Tel. +62 31 8496226, 99549854Fax. +62 31 8496224/5customer.service@e-t-a.co.id

  • 14 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Ditemui ketika menjadi peserta Pameran Produk Indonesia 2014, Saidam Azh, pemilik Rumah Baduy mengemukakan, dirinya kini tengah mengembangkan motif baru yakni

    Adu Mancung, yang sebenarnya dinilai cukup sulit dalam penggarapannya. Kriteria pengerjaan sulit atau tidaknya, terlihat dari produk tenun, yang setelah menjadi kain akan terlihat apakah motif bentukannya relatif lebih rapat atau justru lebih jarang, jarak satu dengan lainnya.

    Mengaku meneruskan usaha keluarganya yang sudah dimulai sejak tahun 1980an, produksi kain tenun yang dilakukan di lingkungan rumahnya yang beralamat di Desa Kenekes, Kecamatan Lewidamar, Kabupaten Lebak, Banten ini, adalah termasuk wilayah Baduy Luar. Saidam menjelaskan, warga Baduy Dalam lebih banyak menggarap produksi dengan ciri khas warna hitam. Sementara warga Baduy Luar lebih memiliki kebebasan mengembangkan warna, namun masih tetap berpatokan pada warna dasar seperti

    guna memperkaya khasanah motif tenun Baduy, kini mulai dikembangkan oleh perajin setempat.

    hitam dan putih. Di wilayah Kampung Kadu Ketug, di Desa Kanekes tersebut, usaha kain tenun menjadi sandaran hidup bagi sekitar 200 penenun.

    Produk yang dihasilkan Rumah Baduy adalah kain tenun dengan berbagai kreasi seperti kain rajutan dan juga aneka tas tangan, yang menggambarkan motif batik cap khas Baduy. Misalnya Motif Swasomatta dan Motif Swat Songket. Khusus Motif Swat Songket dikembangkan pertama kali oleh penduduk Baduy. Ada juga motif lainnya seperti tenun Motif Samping Poleng yang coraknya kotak-kotak, tambah Saidam. Teknik pewarnaannya masih menggunakan pewarna kimia, karena untuk menggunakan pewarna alam agak sulit, terutama ketika dicuci, kadang masih banyak yang luntur.

    Dalam satu minggu, para penenun yang rata-rata masih kerabat dan para tetangga yang tinggal di wilayah sekitarnya itu, menghasilkan satu lembar kain tenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Para pembeli ada yang datang

    dari Jakarta, dan ada sebagian yang berasal dari luar Jakarta. Diakuinya tidak mudah memasarkan produk tenun Baduy ini, karena kendati usahanya sudah dimulai sejak tahun 1980an, namun pembeli baru mengetahui eksistensi mereka dan membeli produknya sekitar tahun 2009. Para pembeli tenun Baduy kebanyakan adalah mereka yang umurnya sekitar 40 tahun dan biasanya adalah mereka yang sudah mengenali produk Baduy. Namun kini ada juga beberapa remaja yang mulai tertarik pada produk khas Baduy ini.

    Saidam mengaku pameran menjadi sarana yang cukup efektif dalam menjangkau para pembeli. Selain mengikuti pameran di Jakarta dan Bandung, dirinya juga kerap diajak ikut berpameran di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Gedung Smesco di Jakarta Selatan, yang difasilitasi oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Harga jual produknya bervariasi antara Rp 50 ribu untuk sehelai selempang, sampai Rp 500 ribu untuk satu lembar kain tenun ukuran panjang 1 meter dan 2 meter. Selain membeli secara langsung di tempat, Saidam juga menyediakan layanan pengiriman kepada para pelanggannya. Cara seperti ini menjadi salah satu daya tarik bagi para pembeli, yang kelihatannya mulai menggemari corak khas tenun Baduy.

    Kembangkan Motif Tenun BaruTENUN

    Baduy

  • 15Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    informasi | information TENUN BADUYDesa Kenekes, Kecamatan Lewidamar, BantenTelp. 0856-177-2795

    Develops A New Woven Product MotifIn order to enrich the variety of Baduy woven motifs, a new motif is now beginning to be developed by local artisans.

    Interviewed when becoming a participant of Indonesia Product Expo 2014, Saidam azh, the owner of The House of Baduy (Rumah Baduy) claimed that recently he has been developing a new motif namely Adu Mancung, which has a fairly high level of difficulty in production process. The criteria of level of difficulty can be seen from the final products of woven. The more density and complexity of the motifs the more difficult to be produced.

    Claiming to continue the business of his famiy firstly started in 1980s, he has produced his woven products in his village, the territory of outer Baduy, located in Kenekes, Subdistrict of Lewidamar, District of Lebak, The Banten Province, He explained that the people living in the territory of inner Baduy have produced more on the products characterized by black color. While the people of outer Baduy have been more flexible in using the variety of colors, but still based on the basic color of black and white. In Kampung Kadu, within in the village of Kanekes, the business of woven fabric has become the main livelihood for about 200 weavers.

    The product of the House of Baduy is woven fabric

    the effective way to capture the potential buyers. In addition to participating in the exhibition held in Jakarta and Bandung, he has also been often invited to participate in the exhibition inTaman Mini Indonesia Indah (TMII), East Jakarta and at Smesco building, South Jakarta which is facilitated by the National Crafts Council (Dekranas). The Product prices vary from Rp 50 thousand for a piece of sling, to Rp. 500 thousand for a sheet of fabric with the size of 1 meter. Beside serving the customers to buy the product directly on the spot, he also serves the delivery services to customers. The direct delivery services to customers has become one of the attractiveness for the buyers, who seems to start favoring the uniqueness of Baduy woven product.

    with its various creations such as knitted fabrics and a variety of hand bags, representing the printed batik motifs of typical Baduy such as Swasomatta and Swat Songket motif. Swat Songket motif, for example, is the first motif developed by the Baduy artisans. There is also another motif such as Samping Poleng motif characterized by boxes pattern, he added. The coloring techniques, however, has been still using chemical dyes, due to the difficulty of the use of natural dyes, especially when the fabric being washed, sometimes it still tends to fade.

    In a week, a weaver can be able to produce a sheet of woven by using manual machines (handloom). The buyers come from Jakarta and others. He admitted that it is not easy to market the woven product of Baduy. Despite his business has begun since 1980s, but the customers have just recognized the existence of woven product of Baduy in about 2009. The main buyers of the products are the people of about 40 years old and have been familiar with the product. But recently there have been some teenagers who are interested in this typical woven product of Baduy.

    Saidam admitted that the promotion has become

  • 16 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Dahulu memang produk tersebut dikenal dengan lurik pedan karena dikerjakan di daerah Pedan tetapi karena mayoritas pekerjanya dari daerah Cawas dan adanya

    keinginan untuk menggali potensi warga Cawas, maka Desa Cawas membuat brand baru dengan memakai nama desanya sendiri. Akhirnya bukan lagi Pedan seperti saat itu karena pekerjanya bukan lagi bekerja di Pedan tapi sudah bekerja di rumahnya masing-masing sehingga tidak ada alasan untuk menutupi kemunculan nama Cawas, ucap Yusuf Sri Subroto pemilik Sumber Rejeki Tax dan ketua Cawas Lurik Center paguyuban pengrajin tenun se- kecamatan Cawas.

    Pada tahun 2008, kelompok kecil di tiap desa memiliki produk kreasi yang mirip seperti lurik yang dihasilkan di Pedan karena dahulu bekerja di Pedan sehingga terbiasa dengan motif tersebut. Selanjutnya, generasi muda mencoba mengaplikasikan motif lama dengan konstruksi alat dan struktur kain serta motif baru. Kita konsultasi dengan Balai Besar Tekstil Bandung, akhirnya ada masukan-masukan, ada fasilitas untuk uji mutu produk sehingga bisa menghasilkan lebih dari 10.000 meter kain halus setiap bulan, ungkap Yusuf.

    Ada perbedaan mendasar yang terletak pada kehalusan kain, struktur kain Lurik Cawas lebih halus jika dibandingkan dengan Lurik Pedan, selain itu bahan baku yang dibutuhkan juga lebih bagus sehingga harganya lebih mahal. Untuk harga, Yusuf mengaku per satu meter bahan lurik Cawas dihargai Rp40 ribu, sebelum dijahit menjadi pakaian dan belum dikombinasikan dengan motif batik, bahan sutera dan serat alam ataupun pewarna alam, sedangkan Lurik Pedan masih dihasilkan di daerah Cawas tetapi untuk harganya lebih rendah jika dibandingkan dengan Lurik Cawas.

    Yusuf menambahkan, dua macam produk

    tergugah untuk mengangkat nama Desa Cawas, masyarakat yang berada di perbatasan Jawa tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta mengembangkan batik yang awalnya dikenal sebagai Lurik Pedan menjadi Lurik Cawas.

    pewarna digunakan dalam proses produksinya, salah satunya adalah pewarna alam yang disebut dengan lurik pewarna alam. Lurik Cawas yang menggunakan pewarna ini mempunyai pangsa pasar serta level yang berbeda dan respon yang dihasilkan juga baik, tetapi karena kurangnya kemampuan memproduksi pewarna yang bagus mengakibatkan tidak dapat diproduksi secara masal sehingga harga yang ditawarkan juga masih tinggi karena tidak bisa menekan ongkos produksi.

    Produk yang dihasilkan antara lain selendang lurik klasik, selendang bahan batik, selendang gerai. Kain lurik terdiri dari tiga tingkatan: grade A dengan kisaran harga per meternya di atas Rp50ribu, untuk grade B dan C masing-masing dengan selisih harga Rp30ribu. Untuk lurik batik kainnya kita batik lagi, baik dengan print, cap maupun tulis, tentunya melihat permintaan pasar juga. Selain itu, ada lagi lurik lukis, jadi setelah dilurik, dibatik cap terus dilukis dengan kuas dan pewarnaan cat akrilik, bukan pewarna tekstil, ucap Yusuf.

    Pemasaran lurik cawas ini telah sampai di Pulau Jawa, Aceh, NTB, Kalimantan Tengah serta Bali. Motif lurik Cawas yang disesuaikan dengan daerah tujuan pemasaran, seperti Aceh memakai motif pucuk rebung yang dikolaborasikan dengan lurik Klaten, sedangkan Kalimantan juga mempunyai motif khusus. Selain mengirimkan lurik, paguyuban ini juga menerima permintaan motif dari pelanggan dengan latar belakang lurik.

    Produksi lurik yang dihasilkan oleh paguyuban tersebut tiap kecamatan bisa mencapai 7500 meter

    dalam satu bulan, sedangkan untuk lurik Pedan bisa lebih dari 30.000 meter perbulan. Hasil itu bisa dicapai karena diproduksi tidak bersamaan dengan musim sawah. Hasil tersebut akan turun drastis pada musim panen maupun musim tanam.

    Mengenai bahan Yusuf mengaku sudah 95% memakai produk lokal dan sisanya 5% masih impor karena benang CSM tidak diproduksi di Indonesia. Untuk pewarna bahan baku mudah didapatkan di dalam negeri karena memakai pewarna alam seperti ekstrak tanaman. Kendala justru ada pada harga bahan yang terkadang mengalami ketidakstabilan harga. Dapat harganya tidak stabil, benang didapatkan dari supplier, antara bulan ini dengan bulan berikutnya terkadang harganya berbeda jauh, Januari dan Februari itu harganya tinggi, Maret agak turun, kemudian April semakin makin turun, kemudian Mei ini ada beberapa jenis bahan yang kita butuhkan, tetapi harganya malah melambung, keluh Yusuf.

    Untuk lebih memudahkan proses produksi serta koordinasi, sejak awal pembuatan, pengrajin sudah terhimpun dalam suatu Paguyuban yang disebut Cawas Lurik Center, paguyuban pengrajin tenun se-kecamatan Cawas. Anggota dari paguyuban tersebut ada 150 orang setiap desa. Dengan 20 desa di Cawas, 10 desa mayoritas kehidupan rakyatnya dari usaha tenun setelah bertani. Tujuan utama dari paguyuban Cawas Lurik Center adalah memajukan lurik klasik yang disebut lurik Pedan buatan Cawas dengan memadukan lurik modern hasil karya Desa Cawas sehingga menghasilkan lurik Cawas yang modern untuk dipakai pada berbagai kondisi.

    Lurik CawasMAde in indonesiA

  • 17Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    per meter, and for the fabric with grade B and C they have higher prices with the differences of Rp. 30 thousand per meter respectively,. There is Lurik batik in which the fabric of lurik to be made into batik either by printing, stamp or writing, depending on the market demand. In addition, there is painting Lurik that is by painting over the Lurik batik with acrylic paint using a brush over the stamped fabric instead of textile dyes , explained Yusuf.

    The marketing coverage of Lurik Cawas has reached the entire island of Java, Aceh, West Nusa Tenggara, Central of Kalimantan and Bali, by keeping the use of Lurik Cawas motifs adjusted with the destination area of product marketing. For example, in Aceh they present bamboo shoots motif collaborated with Lurik Cawas, while Kalimantan also has its unique motifs. In addition to deliver the final products of Lurik, the weavers association also receive the customer demand of motifs with the Lurik background.

    The production capacity of Lurik Cawas can reach 7.500 meter in a month, while for Lurik Pedan can be more than 30.000 meter in a month. This level of capacity can be met in any months that does not coincide with the growing and planting seasons and it will decrease dramatically in these growing and planting seasons as most the weavers or artisans are also as farmers.

    In terms of raw materials, Yusuf claimed they have already used 95% of local inputs and the remaining 5% has still to be imported especially for CSM yarn since it is not produced in Indonesia. For raw materials such as natural dyes that are usually made of extracts of plants they have been readily available in the country. Instead, the main constraint lies in the price of raw materials that are sometimes subject to price volatility. We face the price volatility, such as the yarn obtained from suppliers, from one month to the another the price sometimes differs greatly. In January and February, the price is usually

    Inspired to promote the name of Cawas Village, many groups of people in District of Klaten, precisely located in the border area between Central Java and Yogyakarta, have developed the unique fabric and batik originally known as Lurik Pedan to further become as Lurik Cawas.

    high, somewhat decline in March, then in April likely continue to decline, then in May the price likely start increasing, complained Yusuf.

    In order to ease and coordinate the production process, the weavers or artisans establish the association of Cawas Subdistrict weavers or artisans called Lurik Cawas Center. The number of association members are about 150 people per village. From 20 villages in Cawas Subdistrict, 10 villages are the central of Lurik Cawas business and most of their residents rely on as Lurik weavers as their livelihood, in adition as being farmers. The main objective of Lurik Cawas Center is to develop the clasical Lurik called Lurik Pedan made in Cawas by incorporating the modern elements in it so that it becomes Lurik Cawas with modern-look and can be used in various conditions.

    Formerly, this product was commonly known as Lurik Pedan since it is produced in the area of Pedan subdistrict. Considering that the majority of workers come from Cawas subdistrict area and also the strong desire to explore the potency of Cawas subdistrict residents to create their own brand then they decided to make the new brand by labelling it as the name of their own subdistrict. Finally we do not use the brand of Pedan as in the past because the workers involved no longer worked in Pedan but they have worked in their own residence in Cawas so there is no reason to prevent the terminology of Lurik Cawas, explained Yusuf Sri Subroto the owner of Sumber Rejeki Tex. and the chairman of Lurik Cawas Center, the association of Lurik weavers of Cawas.

    Lurik Cawas has been produced since 2008, by small groups of Lurik weavers scattered in many villages and the products are similar to those produced in Pedan area. Prior to developing Lurik Cawas, most of the weavers used to work in Pedan with their familiar tradition motifs. Here after, the young weavers have tried to apply the traditional motifs with new tools, fabric structures, and motifs. We have also conducted the consultation with The Center for Textiles in Bandung to obtain the necessary inputs, and to get the facilities for testing the product quality so that we expect to be able to produce more than 10,000 meters of fine fabrics every month, said Yusuf.

    There is a fundamental difference in terms of the smoothness of fabric as the fabric structure of Lurik Cawas is more subtle compared to Lurik Pedan. In addition, the quality of raw material used for Lurik Cawas is also better so the price is also more expensive than that of Lurik Pedan. In terms of price, he explained that for a meter of fabric is sold at about Rp. 40 thousand. The price will be much more expensive when combined with batik motifs, silk materials, natural fibers, and also natural dyes.

    Yusuf added there are two kinds of dyes in the production process, one of which is natural dyes called natural dyes Lurik. The Lurik Cawas using natural dyes has specific buyers or market segment and gets a good appreciation from customers. However, due to the lack of ability to produce a good quality of natural dyes so that mass production can not be implemented resulting the expensive price of the products since the production cost can not be suppressed.

    The variety of products include classical Lurik shawl, batik shawls, and scarves. Meanwhile, the fabric of Lurik consists of three gradess namely grade A with the price of more than Rp50 thousand

    informasi | information Sumber Rejeki Tex Jl. Parikesit No. 43 RT. 02/III Cabeyan Mlese,Cawas, Klaten 57463Hp.0858 7888 0134

    MAde in indonesiA

  • 18 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Pearl of SilkLenanKekayaan Indonesia tidak hanya sebatas ragam kuliner, keindahan panorama atau sumber daya alamnya saja, negeri yang belakangan disebut-sebut sebagai benua atlantis yang hilang karena keindahan alamnya yang menyerupai ini juga memiliki beragam kain dan tekstil khas dari sejumlah daerah.

    menggunakan bahan baku sutra murbei atau yang dikenal dengan bombixmory, selain itu Ia juga menggunakan bahan baku wildsilk atau sutra liar. Sehelai kain berukuran 230 cm x 90 cm biasanya dibuat selama 4-5 bulan, tergantung tingkat kesulitan dan kualitas dari sutra yang dihasilkan. Proses menenun dilakukan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) oleh puluhan pengrajin terlatih yang menjadi karyawan Lenan Pearl of Silk tersebut. Selain menenun, proses produksi lama dihabiskan untuk menyulam, membuat pola serta memberikan warna. Lenan mengakui tenun sutra miliknya tergolong mahal karena prosesnya yang rumit dan membutuhkan waktu yang panjang. Selembar kain tenun sutra berlabel Lenan Pearl of Silk ini harganya berkisar 2-3 juta rupiah, bahkan saat dijumpai pada pameran yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum Dekranas Hj. Herawati Boediono didampingi oleh Menperin Mohammad S Hidayat ini, Lenan turut memajang koleksinya yang harganya mencapai 17 juta rupiah perhelai.

    Sebelum menekuni bisnis tekstil, Lenan berkecimpung di dunia mebel, namun karena hobinya mengoleksi kain kuno sejak lama membuat Lenan berani mengambil resiko untuk menjual bisnisnya tersebut dan benar-benar terjun di dunia fashion. Ia mulai belajar menenun secara otodidak, dari sana, Lenan mengenal macam-macam motif tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kecintaannya pada kain khas Nusantara inilah yang membuatnya memberanikan diri untuk memasarkannya secara luas. Pameran pertama yang diikutinya dengan menggunakan brand Lenan Pearl of Silk adalah Bali Intendance di tahun 2001, saat itu Ia diajak mengikuti pameran tersebut oleh desainer ternama asal Bali, Tina Gondo yang terpesona oleh tenun lamtik berwarna lembut miliknya. Sejak itulah karyanya mulai dikenal dikalangan desainer ternama dan mulai diburu oleh orang-orang penting negeri ini. Gusti Kanjeng Ratu Hemas merupakan salah satu pelanggan setia Lenan Pearl of Silk.

    Setelah kurang lebih 18 tahun menggeluti bisnis tenun sutranya, kini Lenan Pearl of Silk sudah melanglang buana ke penjuru negeri bahkan ekspornya sudah sampai ke Australia, Jepang dan beberapa negara di Timur Tengah. Kedepannya, Lenan berencana membuat produk ready to wear dari tenun lamtik miliknya, bekerjasama dengan salah satu desainer muda Indonesia bernama Flo yang belakangan ini berkolaborasi dengannya dalam pameran yang diselenggaarakan di Amerika Serikat.

    Tenun merupakan salah satu karya budaya yang diproduksi di berbagai wilayah di seluruh Nusantara serta memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi warna, motif, dan jenis bahan ataupun benang yang digunakan, dimana setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Tenun sebagai salah satu warisan budaya tinggi atau heritage merupakan kebanggaan bangsa Indonesia, dan mencerminkan jati diri bangsa. Oleh karena itu, tenun baik dari segi teknik produksi, desain dan produk yang dihasilkan harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dimasyarakatkan kembali penggunaannya.

    Setiap daerah memiliki tekstil yang kaya akan motif serta tersirat filosofi di dalamnya. Sebut saja batik, songket, ulos, tenun, tapis, ikat serta masih banyak lagi. Kebanyakan

    masyarakat lebih familiar dengan batik, yang sejak tahun 2009 lalu ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Lalu bagaimana dengan kain khas Indonesia lainnya? Tenun misalnya?

    Ada yang menarik saat diselenggarakannya Gelar Produk Kerajinan Dekranas di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Selasa, 6 Mei 2014 lalu. Tenun sutra berlabel Lenan Pearl of Silk terpajang indah dengan warna-warni alam yang cantik. Selain terlihat luks, tenun sutra asal Yogyakarta ini memiliki ciri khas pada motifnya yang merupakan akulturasi dari berbagai motif tenun Indonesia, jika diperhatikan lebih teliti, motif antara

    kain sisi depan dan belakang dibuat berbeda dengan tetap memiliki benang merah sehingga membuat tenun ini lebih istimewa.

    YS. Lenan adalah sosok dibalik keindahan kain tenun sutra ini. Saat ditemui, pria kelahiran 29 November 1962 ini bercerita bahwa dirinya menekuni bisnis kain sutra yang disebutnya sebagai Tenun Lamtik (sulam batik) sejak tahun 1996. Lenan menuturkan arti dibalik brand Lenan Pearl of Silk miliknya, pearl yang dalam bahasa Indonesia berarti mutiara merupakan jenis bebatuan yang menjadi simbol kekuatan serta keanggunan. Seekor kerang, demi kelahiran sebutir mutiara memerlukan usaha dan kerja keras yang dianggap olehnya sebagai gambaran sempurna dari proses karya cipta yang diwujudkan dalam helaian kain sutera.

    Untuk membuat tenun sutra miliknya, Lenan

  • 19Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    informasi | information lenan Jl. Patehan Lor 18, Patehan - Keraton. Yogyakarta 55133

    Indonesian is not only wealth in culinary diversity, panoramic beauty, and natural resources. The country lately called as the Lost City of Atlantis due to its panoramic beauty also possesses variety of fabric and textiles scattered in many regions. Each region offers fabric or textiles with its specific characteristic containing a set of philosophy in it. Some examples are Batik, Songket, Ulos, Tenun Tapis, Ikat, and so

    on. Most people has been probably more familiar with Batik, which since 2009 it has been claimed by UNESCO as Indonesian Cultural Heritage. And what about other typical Indonesian fabrics such as woven?

    There was an interesting thing when Dekranas held Craft Products Exhibition at the Ministry of Industry, on Tuesday, 6 of May 2014 ago. Silk woven labelled Lenan Pearl of Silk was beatifullly displayed with lovely natural colors. Besides it looks luxurious, this silk woven from Yogyakarta is characterized by its unique motifs, representing as acculturation from various woven motifs in Indonesia. When closely examined, the motifs between the front and back side of fabric is made differently but it still contains the red thread making it even more special.

    YS. Lenan is the figure behind the beauty of this silk woven. When interviewed, the man who was born on November 29th, 1962 told us that he began to run the business of silk woven called Lamtik Woven (embroidered batik) in 1996. He explained the meaning behind his brand called Lenan Pearl of Silk. Pearl which in Indonesian means mutiara is a type of rock that becomes a symbol of strength and elegance. For shells, to produce a pearl requires incredible efforts and hard work and he considers it as a perfect description of the work process manifested in strands of silk.

    To produce woven silk, he uses raw material from

    mulberry silk, commonly known as bombixmory, besides he also uses raw material from wildsilk. A sheet of woven silk with the size of 230 cm x 90 cm usually needs 4-5 months to produce, depending on the level of difficulty and quality of product being produced. The process of weaving is done by using handloom machines operated by dozens of skilled craftsmen that are the employees of Lenan Pearl of Silk. In addition to weaving process, other processes involved are embroider, making design and coloring. Lenan admitted that his product is relatively expensive due to the complicated process as well as time consuming. A sheet of woven silk with Lenan Pearl of Silk brand is priced about 2-3 million rupiah. Even when met at the exhibition directly opened by the Chairman of Dekranas Hj. Herawati Boediono accompanied by Minister of Industry, Mohamad S. Hidayat, Lenan also displayed his silk collection with the price about 17 million rupiah per sheet.

    Before running the business of textiles, Lenan engaged in furniture, but because of his hobby in collecting ancient or antique fabric he took the risk to sell his furniture business and moved into the business of fashion. He then started self-learning in weaving process, and tried to know all kinds of weaving motifs from various regions in Indonesia. His fancies toward typical Indonesian woven has led him to have the courage to widely market it. The first exhibition he participated by promoting Lenan Pearl of Silk brand was Bali Intendance in 2001, when he was invited to participate by a reputable designer from Bali, Tina Gondo who was fascinated by his soft-colored woven lamtik. Since then, his work has begun to be known among the famous designers and to be hunted by famous people of this country. Kanjeng Gusti Ratu Hemas is one of the loyal customers of Lenan Pearl of Silk.

    After approximately 18 years growing the business of silk, Lenan has successfully penetrated domestic market, even he has exported his products to Australia, Japan and some countries in the Middle East. In the near future, he is going to make ready to wear products from his lamtik woven, by collaborating with one of the young Indonesian designers named Flo, as what they did in an exhibition held in the United States recently.

    Weaving is one of the cultural works found in various regions throughout the country and possesses meaning, historical value, and high technique in terms of color, pattern, and type of material or thread used, and each region has its specific characteristic. Woven fabric as one of the high cultural heritage is the pride of the country, and reflects the national identity. Therefore, woven fabric both in terms of production techniques, designs and products must be maintained and preserved its existence, and also must be promoted in use.

  • 20 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Denim Tenunterinspirasi dari unsur celana industri di amerika di tahun 30-40an, elhaus mendesain denim dari bahan tenun dengan menambahkan unsur modern di dalamnya.

    Adanya ketertarikan untuk melestarikan ragam produk tenun bangsa, serta memodernkan kembali pakaian industri pada masa lalu, sekelompok anak muda

    merintis bisnis denim dengan mengadopsi tenun. Adalah Edo yang mencoba memulai bisnis ini dan Yenda yang mengembangkan prosesnya sehingga berada pada tahap ini. Ada tren yang baru pada waktu itu namanya denim selvedge, yaitu denim yang kain yang dibuat dari model kain jaman dulu. Pada waktu pertama kali jeans dibuat, konsepnya sebenarnya sama seperti tenun yang pinggirannya tidak digulung dan ada jahitannya lagi atau diobras, sehingga hasilnya hasilnya hampir sama seperti kain tenun bukan mesin, ucap Yenda.

    Memang pada saat ini proses produksinya sebagian masih memakai bahan impor dari Jepang, tetapi perlahan mereka mengadopsi produk terapan asli indonesia dengan mengarahkan pengerajin tenun dari Pekalongan agar mempunyai ciri khas kain berkualitas seperti Jepang. Untuk menambah kesan Indonesia, Yenda juga berkeinginan memasukan warna-warna alami dalam proses pembuatan denimnya karena ciri khas dari denim selvedge terletak pada cara pemakaianya yang digulung sehingga memperlihatkan sisi dalam denim berupa jahitan yang berwarna, ciri khas lainya terletak pada alat yang digunakan untuk membuat selvedge yang hanya bisa menggunakan mesin jahit jaman dulu.

    Saat ini merek Elhaus sudah mulai dikenal di beberapa negara seperti Australia dan Singapura serta ada kerjasama memproduksi tema Elhaus yang dibuat khusus untuk salah satu toko di Inggris. Selain itu Elhaus juga membuka toko di Panglima Polim, serta sistem titip jual di The Good Dept. yang sudah permanen dan sudah mempunyai 4 cabang yaitu di Plaza Indonesia, PIM 2, Pacific Place dan di Lotte. Yenda juga mengaku masih gencar mempromosikan denim tenun melalui sosial media. Promosi sosial

    media masih merupakan cara yang terbesar buat kita. Instagram dan facebook, kita pakai untuk promosi. Selain itu, juga melalui forum seperti darahkubiru.com, semacam forum pencinta denim anak Indonesia, tambah Yenda.

    Mengenai harga elhaus memang berada pada segmentasi menengah ke atas tetapi untuk menjangkau semua kalangan elhaus membagi denim utamanya menjadi tiga kategori, pertama denim tenun dengan kisaran harga 1 juta ke atas, kedua denim premium yang biasa disebut denim selvedge dijual dengan harga sekitar Rp920ribu dengan kualitas bahan impor dari Thailand dan ketiga denim yang dijual dengan harga berkisar antara Rp500-600 ribu. Elhaus juga menyediakan denim sekitar Rp300 ribuan dengan kualitas bahan dari sisa konveksi yang ditambahkan aksen pada lipatan celana, jadi walaupun dilipat masih terlihat ciri khas dari denim tersebut serta tak kalah berkualitas dengan produk unggulannya.

    Untuk proses produksi, Yenda mengaku masih mengandalkan stok yang jumlahnya tidak menentu setiap bulannya, biasanya setiap tiga bulan sekali mereka memproduksi denim untuk menambah stok yang telah laku dipasaran. Untuk denim tenun dan selvedge kita sudah stok dengan perkiraan untuk 3 bulan atau sekitar 4000 buah. Karena bahannya harus dipesan dari jauh-jauh hari dan akan sampai sekitar seminggu, kita pesan agak banyak, ujar Yenda.

    Selain memproduksi denim, Elhaus juga menyediakan varian dompet, kemeja, jaket dan sisanya aksesoris yang dibuat dari tenun dan bukan tenun. Untuk produk jaket Elhaus menyediakan banyak varian yang terbuat dari bahan tenun atau berbagai macam denim seperti denim hurringbone, broken twill dan chambray sehingga menghasilkan banyak alternatif pilihan bagi konsumen.

    Yenda mengaku agak terkendala untuk mendapatkan bahan baku. Kurangnya komitmen

    yang ditujukan supplier dalam negeri menjadi hambatan untuk memproduksi saat ini. Kita subsidi untuk tenun, ada yang berasal dalam negeri dan ada yang dari luar negeri, karena kalau tidak seperti itu kita tidak ada bahan baku untuk produksi. Setelah kita buat produk seperti ini, banyak produk lain yang mengikuti, kebetulan supplier-nya sama juga, mereka mencari tahu kita membuat dimana, Jadi karena supplier-nya berada dari mana-mana jadi ya susah untuk komitmen, ujarnya.

    Ada sedikit harapan yang ditujukan untuk pemerintah agar lebih banyak membantu dalam sistem pemasarannya, Lebih ke funding, kalau alat tidak terlalu karena kalau pameran ibaratnya kita bayar Rp50-100juta untuk ikut pameran tanpa tahu akan ada pesanan atau tidak tetapi jika digunakan untuk membeli bahan uang Rp50-100juta ditambah ongkos produksi 10 juta sudah bisa jadi berapa produksi dan sudah menjadi aset, kalau tidak laku pun kita sale masih bisa mendapatkan keuntungan, tetapi kalo pameran sudah harus bayar Rp50-100 juta belum jelas pendapatannya berapa, belum lagi biaya hotel dan biaya kirim , tutupnya.

    Mengembalikan Sisi Modernisme Industri Masa Lalu

  • 21Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Recalling the Modern Aspect of the Past Products

    informasi | information denim Common House Building No.16, Jalan Panglima Polim IX, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12150.Telp.021-78720468

    Started with the interest to preserving the variety of woven products in the country as well as modernize the apparel products of the past, a group of young people have started running the business of denim by adopting woven. They are Edo, one that has tried starting the business of denim and Yenda who has developed the production process so they have been at this stage. There was a new trend at that time namely Selvedge denim, the denim in which its fabric is made from woven model in the past. At the beginning the jeans were made, its concept is relatively the same as woven in which its edges are not rolled, and there is stitches or obras so that the results are almost the same as woven fabric produced manually , said Yenda.

    Indeed at this time, most of raw materials in the production process still have to be imported from Japan, but slowly they have adopted the apllied indigenous Indonesian products by mobilizing weaving artisans from Pekalongan to produce the high quality woven fabrics as good as Japan products. To improve the impression of Indonesia, Yenda has also incorporated natural colors in the denim manufacturing process since the characteristic of Selvedge denim lies in the manner of wearing by rolling it so that it shows the inner side of denim that is colored stitching. Another characteristic lies from the equipment used to make selvedge which can be produced only by old-age sewing machine.

    Currently the brand of Elhaus has already been known in some countries such as Australia and Singapore, and there is a trade agreement to produce a theme specifically produced for one store in the UK. In addition, Elhaus has also opened a store at Panglima Polim Street, and sold with entrusted system in permanent Stores namely The Good Dept. which has already owned 4 branches located in Plaza Indonesia, PIM 2, Pacific Palace and Lotte. She also admitted to aggressively promote the denim woven through social media. In terms of promotion, the social media such as instagram and facebook are still the most important. Besides, we also use the forum

    such as darahkubiru.com to promote, our products that is a kind of denim lovers of Indonesian people forum, Yenda added.

    Regarding to the price, Elhaus products are mainly produced for the middle and upper class. To reach out all segments, however, Elhaus has devided the denim into three categories. First, the denin woven with a price range of Rp. 1.0 million and above. Second, the premium denim commonly called denim Selvedge with materials imported from Thailand that is sold at the price around Rp. 920 thousand. And third, the denim that is sold at the price ranging from Rp. 500 to 600 thousand. Elhaus has also provided the denim with the price around Rp. 300 thousand by using the material from the convection fabric remnants which is added with accents on folds of pants, so that although folded the characteristic of denim is stll visible and it is not less qualified to the superior products.

    In terms of the production process, Yenda explained that she still relies on the uncertainty of monthly supplies. Usually she produces denim every three months to keep the availability of the supplies. For woven denim and selvedge, we provide supllies with the estimation for 3 months about 4000 pcs, since the materials should be ordered far in advance with the estimation of arriving for about a week, so we make orders quite a lot in number, Yenda explained.

    In addition to producing denim, Elhaus has also produced a variety of wallets, shirts, jackets and accessories made of woven and non woven. For the product of jackets, Elhaus has provided many variants made of woven materials or a variety of denim like denim hurringbone, broken twill and chambray so that various alternatives are available for consumers.

    Yenda admitted there is a bit constraint to obtain the raw materials The lack of commitment shown by the domestic suppliers to be the main constraint in the production process recently. That is why we take the trade-off, for the woven materials we use partly form domestic market and the rests are

    imported. Otherwise, we do not have any supplies to produce and sell. After we produce these products, apparently many other people following our business. Coincidentally their suppliers are relatively the same, so they could ask them where we are producing. Due to the suppliers coming from various places, it becomes very difficult to build the commitment, she argued.

    In order to further promote her business, she expects the government to give more help in product marketing, especially in terms of funding. For equipments we do not really expect the aid, but for exhibition, for example, we have to pay Rp. 50-100 million only to participate in the exhibition without knowing whether there will be an order or not. Supposed that amount of money mentioned is used to purchase materials plus Rp. 10 million for the cost of production, it would be enough to produce the products and become an asset. Even if it is not salable, we can sale with discount and still generate profits. But in exhibition we have to pay 50-100 million without knowing the result, not to mention the cost of hotel accomodation and product delivery. So, the priority needs is much more in funding to participate in the exhibition, she concluded.

    Inspired by industrial clothes in United States in 30s to 40s, Elhaus designed denim from woven fabrics with the touch of modern elements on the products

  • 22 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    F-FLOHarus berani menggunakan warna kontras dalam menuangkan lukisannya menggunakan media kuas. Itu adalah syarat umum yang diterapkan Fera, pemilik merek F-flo, desainer lukis di atas kain yang ditemui dalam ajang Pameran Produk Indonesia 2014 di Bandung, beberapa waktu lalu.

    Saya memulai bisnis ini sebenarnya dari hobi melukis, yang menurut saya cukup menyenangkan. Sebenarnya sejak masih SMP saya sudah mulai melukis di atas kanvas, dan akhirnya karena juga menyenangi bidang fesyen, saya justru meninggalkan pekerjaan saya selaku arsitekstur landscape dan menekuni bisnis ini, sejak sekitar tahun 2011, ujar penyuka obyek lukisan bunga (flower) yang mengilhami merek dagangnya.

    Saya mengembangkan desain penuh warna

    Gunakan Warna Kontras, Desain Lukis Media Kain

    (full colour) yang kuat dengan ciri khas bunga dan dilukis di atas media berbagai kain seperti sifon, georgette, sutera, termasuk juga bahan katun dan kaos. Namun demikian sejak tahun 2013 kemarin saya mulai mencoba variasi pada berbagai jenis pola, yang dikombinasi sesuai permintaan para pembeli. Misalnya para pembeli menginginkan desain bunga tulip, fusli, dan pengembangkan kain seperti dari batik dari daerah Kalimantan. Penyesuaian tersebut seperti

    di daerah Kalimantan tidak ada warna ungu, sehingga warna yang dilukis, disesuaikan pengembangan warna di daerah tersebut.

    Ini sejalan dengan ide di mana kain yang dilukis, lantas dikombinasi dengan pola tradisional daerah setempat misalnya dari Sumatera ada batik Sumatera dan tenun dari Kalimantan. Pengembangan ini diperoleh berkat dari bimbingan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Selain itu saya juga banyak belajar dari berbagai literatur untuk melihat trend terakhir terutama untuk pengembangan pola tradisional. Biasanya saya membutuhkan waktu sekitar 2 s/d 3 bulan penyesuaian bahan dan pola, jelas Flo yang banyak memasarkan produk desain rancangannya secara online ini.

    Namun demikian pameran juga menjadi salah satu indikator apa yang diinginkan oleh para pembeli sesuai selera mereka, selain juga untuk mengukur daya saing produknya. Tidak hanya mengikuti pameran rutin berskala internasional Indonesia Fashion Week, kadang dirinya mengikuti juga pameran di berbagai daerah seperti di Bali, Medan (Sumut), Pontianak (Kalbar), Balikpapan (Kaltim), sampai ke Makassar (Sulsel). Selain menawarkan produk kain yang dilukis, sejak tahun 2014 ini ia juga mencoba secara bertahap, memproduksi berbagai perlengkapan busana seperti perhiasan (aksesoris), termasuk juga memanfaatkan aksesoris dari kain perca, karena bagi para desain tantangannya adalah bagaimana mampu memproduksi fashion secara lengkap.

    Saat ini saya bekerja dengan 10 orang pegawai, terdiri atas tiga orang penjahit, satu orang yang menangani administrasi, dan enam orang sebagai tenaga pelukis. Tidak mudah mengarahkan para pelukis ini, karena tidak semua orang menyukai seni terutama seni lukis. Kalaupun ada, setiap orang punya aliran atau paham lukis yang berbeda-beda. Karena itu mereka saya arahkan pada patron saya, yakni harus berani menggunakan desain full colour yang karakternya kuat. Hasilnya setiap tahun kami mengeluarkan edisi terbaru hasil para desainer (pelukis) yang disesuaikan dengan bahan dasar kain, ungkap penyuka desain motif bunga, yang diilhami dari profesi sebelumnya yang membidangi arsitektur landscape.

    Setiap bulan diperkirakan produksinya yang berlokasi di Bandung (Jabar), menghasilkan sekitar 500 s/d 750 pieces, dan pesanan terbesarnya terutama untuk menghasilkan blus, abaya, dan juga kain serta selendangnya. Harga jual produknya bervariasi antara Rp 100 ribu,- per lembar s/d yang termahal Rp 1,5 juta. Penggunaan berbagai jenis aksesoris pelengkap busananya seperti payet dan batu-batuan menjadikan produk busananya bernilai lebih tinggi. Karena itu produknya mampu menembus mal seperti Grand Indonesia, dan juga salah satu toko di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

    Selain pembeli lokal, produknya juga dibeli warga Malaysia dan Brunei Darussalam. Selain banyak yang menjadi pembeli langsung pakai, ada juga yang membeli produknya untuk dijual

  • 23Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Initially I started running this business from a hobby to paint, which I think to be enjoyable. When I was as junior school student I have started painting on canvas and as I have also fancied the field of fashion, I have finally left my job as a landscape architect and pursued this business since 2011, explained Fera, the lover of painting flowers that inspiring her brand trademark.

    I have developed a strong full-color design with characteristic of flowers and painted on various media of fabrics such as chiffon, georgette, silk, as well as cotton and nylon. However, since 2013 I have tried to make adjustment on different types of patterns that are combined according to the demand of the buyers, she explained. She should serve the buyers favoring the specific design such as tulip design, fusli, and fabric development like batik from Kalimantan. Such adjustment such as in Kalimantan in which there is no purple color, so that the color to be used on painting is customized with the color development in that area.

    It is consistent with the idea to combine the painted fabric with the traditional pattern of the local culture such as batik of Sumatra and woven fabric of Borneo. This creative development is due to the assistance and guidance of the Ministry of Tourism and Creative Economy. In addition, she has also learned from a lot of literatures to be familiar with the latest trends, especially for the development of traditional-based pattern. I usually take about 2 to 3 months for adjustment of materials and design or patterns, explained Fera who markets

    her product designs through online media. However, the exhibition is also important as

    one indicator of what demanded by the buyers according to their tastes, as well as to measure the competitiveness of the products. Not only participating in international scale of exhibitions such as Indonesia Fashion Week on regular basis, but she has also participated in exhibitions in various regions such as in Bali, Medan (North Sumatra), Pontianak (West Kalimantan), Balikpapan (East Kalimantan), and also Makassar (South Sulawesi). In addition to offering painted-fabric product, since 2014 she has also tried in stages to produce a wide range of fashion accessories such as jewelry, and producing accessories from the utilization of fabric remnants. Fera argued that the chalenge of a designer is how to be able to produce a complete fashion.

    I am currently working with 10 employees, consisting of three tailors, one administration staff, and six painters. Not easy to train the painters since not everyone likes arts especially painting. If any, everyone has different genre or stream. Therefore, I direct them to be familiar with my patron, that is we should dare to use full color design with strong character. Therefore, we produce the latest edition of our designer products annually, by adjusting with the usage of raw material of fabric, explained Fera, a lover of flower motif design, inspired from her former profession as a landscape architect.

    The production capacity of F-Flo which is

    informasi | information F-Flo Kompleks Lemigas No.9 Jakarta SelatanTelp: 0821-2687-0042email: f_flo21@gmail.com

    Using Contrasting Colors For Painted Design on The FabricWe have to dare to use contrasting colors in painting process on fabrics by using a brush. It is the main requirement implemented by Fera, F-flo brand owners, and also the designer of painting on fabric when interviewed on Indonesia Product Expo (IPE) in Bandung recently.

    located in Bandung (West Java) is approximately 500 to 750 pieces for a month, and its largest orders are blouse, abaya, and also painted fabric with its shawl. The product prices vary from Rp 100 thousand per sheet to Rp. 1.5 million. The use of various types of complementary fashion accessories like sequins and stone jewelry has led to the higher-value of her products. Therefore, her products are able to be displayed on prestigious department stores such as the Grand Indonesia, and also one of the stores in the area of Kemang, South Jakarta.

    In addition to local buyers, the products are also purchased by buyers from Malaysia and Brunei Darussalam. Besides the customers as end-users of the product, many customers buy them for resale. Fera admitted that more of sales is carried out through online system, compared with those by direct sales on the spot. The buyers are mostly (75%) in the age between 30 to 45 years, eventhough there are also buyers with the age about 50 years favoring her product design. Therefore, by relying on the painting on fabric, she believes her works is not easily imitated, because basically no one can make a hand painting that is precisely the same as another.

    kembali (re-seller). Tetapi Fera mengaku, penjualan lebih banyak dilakukan secara online, dibanding dengan penjualan secara langsung di tempat. Para pembelinya kebanyakan (75%) berada di kisaran usia antara 30 s/d 45 tahun. Kendati demikian ada juga pembelinya yang berusia sekitar 50 tahunan, dan menyukai produk rancangannya. Karena itu, dengan mengandalkan seni lukis di atas kain tersebut, dirinya yakin karyanya tidak mudah dijiplak, karena pada dasarnya tidak ada orang yang goresan lukisan tangannya sama satu dengan lainnya.

  • 24 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Pameran Produksi Indonesia (PPI) tahun 2014 yang diselenggarakan di Bandung, 22-25 Mei 2014 dengan menyajikan produk industri unggulan, telah berakhir dan sukses.

    Alhasil, berkat dukungan kedua tenaga ahli tersebut dan kerja keras segenap pimpinan dan karyawan MT Jewelry, pemasaran perhiasan pun mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Permintaan konsumen di dalam negeri dan luar negeri terus menunjukkan peningkatan. Menurut penuturannya, pada tahun 2012 kebutuhan emas sebagai bahan baku perhiasan, jumlahnya mencapai 30 ton, dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 37,8 ton. Peningkatan kebutuhan emas merupakan pertanda bahwa desain perhiasan MT Jewelry sangat digemari konsumen, terutama di pasar lokal. Hal itu terbukti dengan pangsa pasar lokal yang mencapai 80% sementara ekspor 20%, ujar Dodi penuh bangga.

    Permintaan yang terus meningkat itu dicapai berkat desain perhiasan MT Jewelry yang memadukan desain luar negeri dan dalam negeri. Salah satu contoh, lanjut Dodi, Baraque adalah desain koleksi terbaru MT Jewelry yang diilhami seni eropa abad 17 yang bernuansa elegan dan dramatis. Selain itu, Baraque yang juga merupakan hasil riset trend global tahun 2014, memberi kesan nostalgia, dengan membawa keindahan tradisional serta memberikan pengalaman baru yang berbeda bagi penggunanya.

    MAde in indonesiA

    Tembus Pasar Mancanegara

    pemasaran tidak terlepas dari komitmen perusahaan untuk menghasilkan perhiasan berkualitas terbaik bagi pelanggannya lewat pelayanan terbaik sekaligus menjadikan MT Jewelry sebagai merek dagang terpercaya. Menurut pengakuannya, sejak tahun 2010 sampai saat ini, MT Jewelry sudah memiliki sekitar 20.000 item desain perhiasan. Sementara itu, visi perusahaan ini adalah menjadi trend setter sekaligus menjadi produsen perhiasan terbaik di Indonesia.

    Menjawab pertanyaan mengapa memanfaatkan tenaga ahli asing sebagai konsultan, dia mengakui bahwa, tenaga ahli asal Amerika Serikat dan Italia itu memiliki banyak keunggulan yang belum dipunyai tenaga ahli lokal. Ia mencontohkan, kemampuannya dalam penguasaan pengetahuan desain perhiasan, jauh lebih kaya dibanding tenaga lokal. Mereka sering mangamati perkembangan fashion di dunia internasional, mengingat perhiasan mempunyai kaitan yang erat dengan dunia fashion atau mode pakaian yang sedang naik daun di pasar global, ujar Dodi Hamdani Sukiman kepada reporter Majalah KINA. Namun demikian, tambah Dodi, kedua tenaga ahli tersebut tidak selamanya dipekerjakan di MT Jewelry, mengingat tenaga lokal secara bertahap makin meningkat pengetahuannya berkat adanya transfer pengetahuan dan teknologi.

    MT Jewelry P

    ameran Produksi Indonesia (PPI) Tahun 2014 yang diselenggarakan di Bandung, 22-25 Mei 2014 dengan menyajikan produk industri unggulan, telah berakhir dan

    sukses. Pameran yang digelar untuk memperkenalkan potensi dan kemampuan industri dalam negeri, diakui berbagai kalangan telah membuka wawasan masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya akan kemajuan sektor industri dewasa ini. Betapa tidak, selama berlangsungnya pameran ini, masyarakat disuguhkan berbagai produk berkualitas dan berdaya saing dari 130 perusahaan peserta pameran. Bisa disebut disini, produk otomotif dan komponennya, alat transportasi, mesin pertanian, kerajinan dan aksessories serta masih banyak lagi yang lainnya.

    Salah satu produk yang cukup menonjol dan menarik perhatian pada PPI tahun 2014 ini adalah, perhiasan atau jewelry berbahan baku emas yang diproduksi oleh MT Jewelry, perusahaan asal Kota Bandung, Jawa Barat. Menurut penuturan Dodi Hamdani Sukiman, wakil manajer pemasaran, MT Jewelry pada awal berdirinya adalah sebuah toko perhiasan emas yang didirikan pada tahun 1958. Sekitar tahun 1990-an, lanjut Dodi Hamdani Sukiman, toko perhiasan ini berkembang menjadi pabrik perhiasan emas, dengan fasilitas modern dan berteknologi canggih. Berkat penggunaan fasilitas dan teknologi yang terbilang canggih itu, MT Jewelry mampu memproduksi berbagai produk perhiasan seperti cincin, gelang, anting dan kalung. Selain itu, untuk memperkuat kemampuan produksi dan premasaran, perusahaan ini juga mendatangkan tenaga desainer dari negara Paman Sam, Amerika Serikat serta konsultan asal Italia.

    Kedua tenaga ahli tadi sengaja dikontrak guna memperkuat produksi dan daya saing perhiasan, baik di pasar lokal maupun ekspor, ujar Dodi Hamdani Sukiman, ketika ditemui reporter Majalah KINA di Stand MT Jewelry pada Pameran Produksi Indonesia 2014 di Bandung, belum lama ini. Dia menambahkan, untuk mendukung kedua tenaga ahli tersebut, pihak MT Jewelry juga membentuk Tim Riset yang terdiri dari tenaga ahli lokal yang cukup berpengalaman. Tim riset dan tenaga ahli/konsultan asing itu, tambahnya, saling bekerjasama guna membahas berbagai hal terkait trend atau selera pasar, baik dalam maupun luar negeri.

    Dia menambahkan, perkuatan produksi dan

  • 25Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Penetrating Global MarketsMT Jewelry

    informasi | information pt. mt jewelry Jl. Raya DayeuhKolot 431-D, Dayeuhkolot, Bandung 40258Telp: 022-5202421Fax : 022-5204775

    matters relating to market trends and tastes, both domestic and international markets.

    He further added, the strengthening of production capability and marketing has been the implementation of the companys commitment to produce the best quality of jewelry and deliver the best services to customers as well as build MT Jewelry to be a trusted trademark. According to him, since 2010 MT Jewelry has already had about 20,000 items of jewelry design. Meanwhile, the companys vision is to be a trend setter as well as the best jewelry manufacturer in Indonesia.

    Answering the question about the involvement of expatriates, he acknowledged that experts from the United States and Italy have many superiorities of knowledges that are not possessed by local experts yet. He pointed out, their competence in jewelry design knowledge are much higher than local experts. They have been more capable in understanding the development of global fashion trend, since the jewelry business has had a close relationship with the dynamic trend of clothing fashion in the global market, explained Dodi. However, he stated that the expatriates would be only temporary employed in his company, considering the local experts resources will gradually increase their knowledge through knowledge and technology transfer.

    In sum, by the contribution of foreign experts and the hardwork of all management staffs and employees of MT Jewelry, the market share has experienced a significant increase. The demand from domestic and global market has continued to increase. He said that in 2012 the demand for gold as jewelry raw materials reached 30 tonnes, and in 2013 it increased to 37.8 tonnes. The increase demand of gold as raw material is a sign that designs of the MT jewelry are favored by consumers, especially in the local market. It was proven with the local market share reaching 80% while exports is only 20%, Dodi said proudly.

    The increasing demand has been enjoyed due

    The Indonesian Products Expo (IPE) 2014 held in Bandung, 22-25 of May, 2014 presenting superior industrial products came to end successfully.

    to the design of MT Jewelry that incorporates the international and domestic designs in its jewelry products. One example, added Dodi, Baraque is the newest MT Jewelry design inspired by the 17th century European art that is elegant as well as dramatic. In addition, Baraque which is also a result of the global trend of research in 2014, gives the impression of nostalgia, bringing the beauty of traditional as well as providing a new and different experience for its users.

    The exhibition held to introduce the potential and capability of domestic industry, has been appreciated by various parties for its success to bring more information for Bandung recidents and surrounding communities about the development of the industrial sector today. Imagine, during the exhibition, the visitors had been introduced a variety of quality and competitive products from 130 exhibiting companies. The products on display among others were automotive products and components, transportation equipments, agricultural machineries, handicrafts and accessories and others.

    One of the products drawing so much attention at the IPE 2014 was gold jewelry produced by MT jewelry, a company located in Bandung, West Java. According to Dodi Hamdani Sukiman, the deputy of marketing manager, MT Jewelry was originally established as a gold jewelry store in 1958. Around the 1990s, added Dodi, it grew into a gold jewelry factory equipped with modern facilities and sophisticated technology. By the use of both modern facilities and advance technology, MT Jewelry has been able to produce a wide range of jewelry products such as rings, bracelets, earrings and necklaces. In addition, to strengthen the production capabilities and marketing, the company has also employed the designer from the United States as well as consultant from Italy.

    The expatriate designer and consultant have been deliberately hired to strengthen the production capability as well as the competitiveness of the jewelry products, both in domestic market and globally, expained Dodi to Kina Magazine at MT Jewelry Stand in IPE 2014 in Bandung recently. He added, to support these expatriate experts, the MT jewelry has also established a research team consisting of some experienced local experts. The Research team and exaptriate experts, he added, have worked together to discuss and analyse various

  • 26 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Collection

    pameran tertentu. Kalau dijual di pertokoan atau outlet, pembelinya tidak sebanyak jika mengikuti pameran. Dengan begitu, pameran seperti halnya Pameran Produksi Indonesia ini merupakan andalan bagi pemasaran aksesoris wanita, ujar Riani ketika berwawancara dengan reporter Majalah KINA pada PPI 2014 di Bandung, belum lama ini.

    Riani mengungkapkan bahwa, Anbiyaa Collection didirikan pada tahun 2009. Namun sebelum berbisnis aksesoris wanita ini, ia berusaha dibidang konveksi, sekitar tahun 2001 sampai tahun 2008. Ketika membuat pakaian jadi, banyak pelanggannya yang menyarankan untuk membuka bisnis baru terkait dengan konveksi yakni aksesoris sebagai pelengkap busana.

    Berkat masukan dari pelanggannya itu, maka pada tahun 2009, Riani membuka Anbiyaa Collection hingga saat ini. Untuk berbisnis aksesoris ini, tambahnya, persoalan desain dan bahan baku menjadi sangat penting artinya guna memajukan pangsa pasar. Untuk desain kami menciptakan sendiri dengan mengadopsi pengetahuan dari buku-buku desain aksesoris yang lagi ngetrend di pasar lokal maupun pasar mancanegara. Sementara itu, untuk bahan baku, salah satunya adalah batu alam asal Sukabumi untuk pembuatan bross, cincin, kalung, gelang dan anting, ujar Riani penuh bangga.

    Selain faktor desain dan bahan baku, lanjutnya, untuk meningkatkan pangsa pasar lokal, Anbiyaa Collection, kerapkali mengikuti pameran besar berskala internasional di dalam negeri, seperti Inacraft, Pameran Produksi Indonesia, dan pameran lain yang digelar berbagai Kementerian. Ia menambahkan, desain aksesoris yang dihasilkannya selalu berganti-ganti, disesuaikan dengan permintaan pasar.

    Secara perlahan tapi pasti, usaha Anbiyaa Collection pun mulai dikenal banyak orang. Puncak kesuksesan pemasaran aksesoris wanita karya Anbiyaa Collection, terjadi sekitar tahun 2012-2013, Pada waktu itu, tutur Riani, omzet penjualan rata-rata pertahun mencapai Rp 500 juta atau lebih. Namun, tambahnya, sejak akhir tahun 2013 lalu sejalan dengan

    meningkatnya jumlah pebisnis aksesoris wanita di Kota Bandung, omzet penjualan Anbiyaa Collection mengalami sedikit penurunan. Maklum persaingan merebut pasar di Kota Bandung semakin ketat, akibat bermunculannya pebisnis baru, ujar Riani kepada reporter Majalah KINA di Stand Anbiyaa Collection, PPI 2014, Bandung. Tetapi, lanjut Riani, diantara sesama produsen aksessoris wanita se Kota Bandung, tidak terjadi persaingan yang saling menjatuhkan seperti saling membanting harga dan sebagainya.

    Selain persaingan yang semakin ketat dewasa ini, persoalan yang selama ini dihadapi Anbiyaa Collection dan usaha sejenis lainnya, adalah modal kerja yang terbatas. Modal kerja dibutuhkan untuk mengatasi biaya produksi yang mengalami kenaikan akibat harga bahan baku yang merangkak naik, seperti halnya batu alam. Harga batu alam asal Sukabumi mengalami kenaikan akibat potensinya sudah makin berkurang, ujar Riani. Karena itu, tambahnya, selain dukungan dalam aspek permodalan, juga diharapkan adanya bantuan promosi di dalam maupun di luar negeri dari pemerintah.

    Pameran Produksi Indonesia (PPI) tahun 2014 yang digelar di Bandung, 22-25 Mei 2014, ternyata tidak hanya menyajikan produk unggulan yang mengandalkan teknologi canggih saja, tetapi juga produk berteknologi tepat guna yang umumnya dimanfaatkan industri kecil dan menengah.

    Produsen Aksesoris Berkualitas

    AnbiyaaM

    eski memanfaatkan teknologi tepat guna, namun kualitas produk yang dihasilkannya tetap terjaga. Selain itu, desain yang menarik serta bahan

    baku yang digunakan, seringkali menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung pameran, terutama kaum perempuan. Produk tersebut adalah, perhiasan atau aksessoris wanita yang banyak diproduksi oleh puluhan pengrajin Bandung dan sekitarnya.

    Dari sekian banyak pengrajin akesesoris wanita asal Bandung, salah satunya adalah Anbiyaa Collection. Usaha kecil aksesoris milik Riani ini, memproduksi berbagai macam perhiasan seperti gelang, cincin, anting-anting, bross, dan sebagainya, dengan bahan baku berupa batu alam, tulang diukir, kayu jati ukir, kerang dan lain-lain.

    Ketika menjawab pertanyaan mengapa memilih bisnis aksesoris wanita, Riani mengatakan, kebutuhan wanita seperti aksesoris ini tidak pernah mengenal musim. Artinya, tambah Riani, setiap hari, setiap bulan, dan seterusnya, aksesoris wanita tetap saja dicari dan diperlukan. Menurut penuturannya, meski aksesoris wanita ini tidak mengenal musim, tetapi penjualan terbesarnya terjadi hanya pada saat

  • 27Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Eventhough using simple technology, but the good quality products can be maintained. In addition, by providing attractive design as well as raw materials used, the products were able to attract special attention to many visitors, especially women. Such products were jewelry or women accessories produced by dozens of artisans of Bandung and its surroundings.

    Of the so many women accessories artisans in Bandung, one of them is Anbiyaa Collection. This small businesses owned by Riani has produced various kinds of jewelry such as bracelets, rings, earrings, bross, and so on, with raw materials from natural stone, carved bone, carved teak wood, shells and others.

    When answering the question of why choosing the business of women accessories, she argued that the needs of woman for accessories never depends on season. It means, she added that every day, every month, and so forth, the woman accessories remains to be sought and needed. She explained although women accessories does not depend on season, but the biggest purchaser occurs only in exhibitions. When sold at the store or outlet, the buyers are not as much if sold at exhibition. Thereby, the exhibition like Indonesian Product Expo (IPE) is a mainstay event for selling and marketing women accessories, said Riani when interviewing with Kina magazine on IPE 2014 Bandung recently.

    Riani revealed that Anbiyaa Collection was established in 2009. Before doing business of woman

    accessories, in 2001 to 2008 she tried to run business in garment. As she run the business of garment, many customers suggested her to open a new business associated with garment, that is accessories as complement products of garment or fashion.

    By considering the input from some customers, then in 2009 she established Anbiyaa Collection and has run the business until now. To do the business of women accessories, she added, the matter of design and materials have been very crucial aspects to increase the market demand. In terms of design we create our own designs by adopting the knowledge from accessories design books that are becoming the trend both in local market as well as globally. Meanwhile, in terms of raw materials, one of them is natural stone supplied from Sukabumi to produce bross, rings, necklaces, bracelets and earrings, she said proudly.

    In addition to the design and material aspects, she added, in order to increase the local market share Anbiyaa Collection has often participated in large-scale international exhibitions in the country, such as Inacraft, IPE, and other exhibitions held by various ministries. She also explained that the design accessories produced has continuously changed, following the trend and market demand.

    Slowly but surely, the product of Anbiyaa Collection has started to be recoqnized by consumers. The peak successful marketing effort of women accessories of Anbiyaa Collection occurred around the year 2012-2013. At that time, according to Riani, an average sales turnover reached more than Rp.500 million a year. However, she added, since the end of 2013 in line with the increasing number of women accessories businesses in Bandung, its sales turnover has decreased slightly. It can be understood since the competition has been increasing due to the emergence of new businesses in Bandung, argued Riani to Kina reporters at Anbiyaa Collection Stand in IPE 2014, Bandung. However, Riani further explained that among the fellow producers of women accessories in Bandung, there is no unfair competition such as price war, and so on.

    In addition to the increase of competition nowadays, the main issue faced Anbiyaa Collection and other similar businesses is the limitation of working capital. Working capital is needed to overcome the increase of production costs due to the rising of raw material prices such as natural stone. The price of natural stone from Sukabumi has increased as a result of the decreasing of potential supply volume, said Riani. Therefore, she added, in addition to the support of working capital, the govermnet support in promotion both in domestic and foreign markets is also expected.

    informasi | information Anbiyaa Collection Jl. Reog I no. 11 BANDUNGTlp (022) 7300240, Hp 08122349574email : rianibuntaran@gmail.com

    Indonesia Product Expo (IPE) 2014 held in Bandung 22 to 25 May 2014, did not only present superior products based on advanced technology production process, but also involve simple appropriate technology in particular adopted by most of small and medium industries.

    Producing High Quality Women Accessories

  • 28 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Produk perhiasan atau aksesoris wanita asal Tiongkok, ternyata sudah menjadi penghuni tetap pasar baru di Kota Bandung, sejak 10 tahun yang silam. Menurut pengakuan Puspa, seorang pengusaha kecil aksesoris asal Bandung, produk aksesoris asal Tiongkok sudah membanjiri pasar di Kota Bandung sejak puluhan tahun lalu.

    Di pasar lokal ini, tambah Puspa, masyarakat Kota Bandung dengan mudah bisa memperoleh aksesoris asal Tiongkok yang harganya lebih murah ketimbang produk

    lokal. Bagi masyarakat atau pembeli yang betul-betul mengetahui kualitas produk Tiongkok, mereka umumnya tidak akan membeli. Tapi, bagi masyarakat yang belum memahami kualitas produk Tiongkok, hampir bisa dipastikan mereka akan tergiur untuk membeli karena harga yang murah, ujar Puspa pemilik Puspa Collection ketika ditemui reporter Majalah KINA pada saat berlangsungnya PPI 2004 di Bandung, belum lama ini. Untuk itu, tambahnya, tidak pilihan lain bagi pengrajin aksesoris di Kota Bandung agar terus meningkatkan daya saing guna menghadapi persaingan produk sejenis asal impor, termasuk produk Tiongkok.

    Menjawab pertanyaan alasan memilih bisnis aksesoris wanita, Puspa yang lulusan Fakultas Sospol Universitas Pasundan tahun 1990, mengaku cuma menyalurkan hobi. Dengan hobinya itu, Puspa membuat berbagai macam aksesoris dan tidak dijual. Tapi lama kelamaan, katanya, banyak kolega yang mengetahui aksesoris buatannya, dan menyarankan agar mengembangkan bisnis yang didasari hobinya itu. Dengan pertimbangan menyalurkan hobi sekaligus mencari tambahan penghasilan keluarga, akhirnya pada tahun 2009 berdirilah Puspa Collection, ujar Puspa dengan wajah sumringah.

    Untuk berbisnis aksesoris, lanjutnya, diperlukan tambahan berbagai pengetahuan, seperti bagaimana menciptakan desain yang bagus, pengetahuan soal

    PuspaMAde in indonesiA

    bahan baku, sumber pasokan bahan baku, di samping pelatihan teknis produksi. Kesemuanya itu kami penuhi dengan mengikuti pelatihan desain, teknis produksi dan pengetahuan bahan baku di salah satu pusat pelatihan di Jakarta, tutur Puspa kepada Majalah KINA belum lama ini di Bandung.

    Menyinggung perkembangan pasar aksesoris wanita di pasar lokal Bandung, ia mengakui semakin berat karena persaingan pasar yang kian menajam. Dewasa ini, lanjutnya, selain persaingan dengan produk Tiongkok, juga diwarnai oleh bermunculannya pebisnis baru, dengan menawarkan produk beraneka ragam yang cukup menawan. Melihat perkembangan pasar seperti itu, Puspa pun mulai memutar otak guna mempertahankan keberlangsungan Puspa Collection dengan menambah produk lainnya di luar aksesoris. Produk baru yang digeluti Puspa disamping aksesoris adalah tas tenun untuk wanita. Penjualan tas tenun ini rupanya mendapat tanggapan positif dari masyarakat yang ditandai dengan banyaknya pembali tas karya Puspa Collection. Hasil penjualan tas ini akhirnya bisa menutupi perolehan aksesoris yang mulai menurun, ujar Puspa.

    Akhirnya, sebelum mengakhiri bincang-bincangnya bersama Majalah KINA ia pun berharap kepada pemerintah kiranya dapat membantu mempromosikan produk aksesoris wanita lewat pameran. Sebab, pameran merupakan ajang yang tepat untuk meningkatkan pemasaran produk pengusaha kecil termasuk aksesoris wanita yang dihasilkannya.

    Banjiri Pasar Lokal Bandung

    Collections

  • 29Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    The jewelry or women accessories products from China, have already become the permanent residents at Pasar Baru, Bandung, since 10 years ago.

    To run the business of women accessories, she added, additional wide range of knowledges are required, such as how to create a good design, the knowledge of raw materials, the sources of supply of raw materials, and also technical training on production. All of them are met by us by taking the training of design, production technique, and knowledge of raw materials in one of the training centers in Jakarta, said Puspa to Kina Magazine in Bandung recently.

    Considering the market development of women accessories in Bandung local market, she admitted that the competition has been getting tougher. Currently, she added, in addition to compete with the Chinese products, many new business players also emerge, by offering a wide range of interesting products. By looking at the development of the current market, she has to think and work hard to maintain the continuity of Puspa Collection by producing other products besides accessories. The new products produced by Puspa Collection in addition to accessoriess is woven bag for women. The sales of her woven bag has apparently received positive responses from the customers characterized by the high number of people to buy. The encouraging sales of the woven bag could eventually cover the declining of the sale of accessories products, explained Puspa.

    Finally, before ending the interview session with Kina Magazine she looked forward that the government can be able to help promoting the women accessories products through exhibitions. In fact, the exhibition is an appropriate event to promote and market the products of small businesses, including the product of women accessories.

    According to Puspa, a small business woman of accessories from Bandung, the accessories products made in China have flooded the Bandung market since few decades ago. In local market, added Puspa, the people of Bandung can easily obtain the women accessories from China with cheaper price than the local product. For the people or buyers who have already understood about the quality of Chinese products, they generally will not intend to buy. In contrast, for people who do not understand it, most likely they will be tempted to buy due to the cheaper price, said Puspa, the owner of Puspa Collection when interviewed by Kina Magazine reporters at the time of Indonesia Product Expo, 2014 in Bandung, recently. For this reason, there is no choice for accessories businesses in Bandung to continuously develop the competitiveness of their products to face the competition from imported products, including the products from China.

    Answering the questions regarding the reason of choosing the business of women accessories, Puspa who graduated from the Faculty of Social and Political Science, the University of Pasundan in 1990, admitted that firstly it was only for a hobby. With her hobby, Puspa made various kinds of accessories but not for sale. Overtime, however, she said, many colleagues recognized her accessories products, and suggested her to further develop and commercialize the business which is based on her hobby. With the consideration to channel the hobby as well as to seek an additional family income, finally in 2009 she established Puspa Collection, said Puspa with a happy face.

    MAde in indonesiA

    informasi | information PUSPA COLLECTIONS Jl. Jakarta XI no 27 Antapani BandungHp 08122349574, email : riani_buntaran@yahoo.co.id Handphone Ibu Riani (08122349574)

    Flooding The Bandung Local Market

  • 30 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Bermula dari kerajinan anyaman sederhana, Bu Wenny mengembangkan usahanya hingga kini memproduksi berbagai jenis tas. Pada tahun 1998, beliau mematenkan

    brand produknya dengan nama WeBe. Brand tersebut diambil dari nama pasangan pemilik perusahaan ini, yaitu We adalah Wenny Sulistiowaty dan Be adalah Budi Usodo.

    Berbekal hobi yang cukup mendalam di bidang kerajinan, beliau membuat tas dengan desain yang unik dan khas Indonesia, yaitu anyaman. Anyaman ini dibuat dari serat eceng gondok, yang diolah menjadi benang polyester dengan kualitas terbaik.

    Ketika produk tas WeBe ini pertama kali dipasarkan, respon yang antusias justru datang dari luar negeri. Dimana ketika itu, tas dari bahan eceng gondok ini sangat digemari oleh masyarakat Eropa dan Amerika. Kemudian, ekspor tas WeBe berkembang

    ke negara Jepang yang berhasil menjalin kerja sama secara berkelanjutan hingga 7 tahun lamanya.

    Produk WeBe justru baru berkembang di pasar domestik setelah terlebih dahulu mengisi pasar ekspor. Secara resmi WeBe memasarkan produknya di Indonesia pada tahun 2010, setelah kita putus kontrak dengan Jepang. Dan ternyata konsumer di Indonesia juga menyambut baik produk ini, setelah nama WeBe terkenal di Amerika dan Eropa, ujar Jenny S. Kesuma, Marketing Regional dan Internasional WeBe.

    Tantangan terbesar yang dihadapi bisnis ini adalah banyaknya barang palsu atau tiruan yang beredar di Indonesia. Meskipun produk-produknya sudah dipatenkan, namun peredaran barang palsu masih marak terjadi, sehingga membuat WeBe harus lebih kreatif dan menyiasatinya dengan strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Hal ini justru dipandang oleh Bu Wenny bukan sebagai hambatan,

    Sukses memang bukan barang instan. Di dalam kesuksesan terkandung nilai kerja keras, usaha, komitmen dan kesabaran. Seperti yang dialami oleh Wenny Sulistiowaty, seorang pengusaha wanita dari Kota Semarang, yang memulai usahanya dengan memanfaatkan serat eceng gondok untuk diolah menjadi handycraft.

    Anyaman Eceng Gondok Khas Indonesia

    WeBemelainkan sebuah kesuksesan. Berarti produk-produk Webe memang berkualitas tinggi dan diminati masyarakat luas, sehingga ada peluang untuk orang lain membuat barang tiruannya.

    Selain itu, kesempatan mengikuti pameran-pameran yang diadakan oleh pemerintah seperti Pameran Produk Indonesia (PPI) 2014 yang belum lama ini diikuti adalah bentuk support pemerintah untuk menjawab tantangan besar tadi. Karena tujuan dari keikutsertaan dalam berbagai pameran yang ada di Indonesia adalah untuk mengedukasi pembeli agar membeli produk yang asli, membedakan antara produk orisinil dan yang palsu, juga memberitahukan pada khalayak luas bahwa Webe adalah produk asli karya anak bangsa.

    Meskipun sudah sering mengikuti pameran, masih banyak masyarakat yang bertanya ini produk apa. Bahkan ada yang menganggap bahwa WeBe ini adalah produk impor yang diberi label di Indonesia. Padahal itu salah, karena produk ini berbahan baku asli Indonesia, dan diproduksi di Indonesia, papar Jenny S. Kesuma saat ditemui di PPI 2014 lalu di Bandung.

    Perusahaan ini bermula dari home industry yang berlokasi di Jl. KH. Wahid Hasyim 142 Semarang. Lalu sejak tahun 2003, Bu Wenny memiliki Galeri di Kampung Semarang, yang kemudian berkembang menjadi Perseroan Terbatas (PT), yaitu PT Webe Inter Tirzada. Bu Wenny memiliki misi sosial yang sangat tinggi, sehingga beliau tidak berminat mendirikan toko, melainkan menggunakan sistem reseller untuk penjualannya. Karena menurutnya, dengan system reseller beliau bisa menggugah semangat entrepreneurship masyarakat Indonesia.

    Kalau beliau membuka toko atau store di mall atau sejenisnya itu sama saja dengan, memproduksi sendiri, dijual sendiri, dan untung juga untuk diri sendiri. Beda kalau reseller, kan siapa saja bisa ikut jualan, tetapi tetap ada kualifikasinya, jelas Jenny. Di samping membagi rezeki ke sesama, beliau juga tidak segan untuk berbagi ilmu dengan memberi pembelajaran kepada masyarakat lokal Semarang tentang cara pembuatannya.

    Pada akhir tahun 2013, WeBe mengeluarkan produk terbarunya yang dikenal dengan sebutan Meisie dan Reizo yang sekaligus menjadi best seller pada saat ini, dengan desain warna yang tetap konsisten, yaitu warna cerah dan mencolok yang menjadi khasnya selama ini. Dengan kapasitas produksi kurang lebih 150 tas/hari, kini WeBe sudah menjadi trend fashion ke seluruh pelosok dunia.

  • 31Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    The Typical Indonesian Webbing of Water Hyacinth

    Armed with a strong hobby in the field of craft, she has produced a variety of bags characterized by the unique and typical Indonesian design, that is the webbing. The webbing is made from water hyacinth fibers, which is further processed into polyester yarn with the best quality.

    When the Webe products were firstly marketed, enthusiastic response just came from abroad. The WeBe bags from the water hyacinth fibers were highly favored by the customer from Europe and America. Then, the export of WeBe bags started penetrating Japan market and she succeeded in making a long-term contract arrangement for up to 7 years.

    The WeBe products have just penetrated domestic market following its success to serve the export market. Officially, WeBe has started selling its products in Indonesia since 2010, soon after

    the termination of contract arrangement with Japan. And surprisingly, the domestic

    consumers have also welcomed these products, trailing the success of WeBe brand that has already been famous in America and Europe , said Jenny, the Regional and International Marketing of WeBe.

    The biggest challenge faced by

    this business is the high number of imitation

    or counterfeit products circulating in Indonesia. Although the products have

    been patented, the circulation of imitation products can not be stopped, and it has forced WeBe to be more creative and right on target by implementing the more effective marketing strategies. This condition is not perceived by Mrs. Wenny as an obstacle, but a success. It means the Webe products has met the high quality and public interest, and one of the consequences is opening the opportunity for someone to deliberately make the imitation products.

    In addition, the opportunity to participate in various exhibitions held by the government such as Indonesia Product Expo (IPE) 2014 recently is a form of the government support to address the major challenge as mentioned earlier. Since the purpose of participatiing in various exhibitions is to educate the buyers to buy the genuine products, to distinguish between original and imitated products, also to inform the people that WeBe is the genuine work of the nation.

    Although WeBe has often participated in various exhibitions, there are still many people asking the WeBe products. Some people even think that WeBe products are imported that are labeled in Indonesia. In fact it is completely a mistake, because the products entirely use domestic raw materials, and are produced in Indonesia, said Jenny when met at IPE 2014 Bandung recently.

    WeBe started running the business from a home industry located in Jl. KH. Wahid Hasyim 142 Semarang. Since 2003, Mrs. Wenny has had a Gallery in Semarang, and then WeBe has evolved into a Limited Liability Company called PT Webe Inter Tirzada. She has a very high social mission, so instead of establishing shops she prefers implementing reseller system to sale the products. According to her, the reseller system could inspire the spirit of entrepreneurship in the country.

    If she opens the shops or stores in the mall or the like it means that she produces, sells, and generates profits by herself and for herself ony. Different with the adoption of reseller system, anyone can join to sale, eventhough the qualification are still required, Jenny explained. In addition to share the profits to others, she is not reluctant to share knowledge of producing WeBe bags to other people especially in her local community in Semarang.

    At the end of 2013, WeBe released its newest product, known as Meisie and Reizo which has become the best seller today, by maintaining the consistency of its color design, that is the bright and striking colors that has been becoming WeBe trademark over the years. With the production capacity of approximately 150 bags per- day, now WeBe has become a fashion trend in all over the world.

    informasi | information PT WEBE INTER TIRZADA Kawasan Industri Candi Blok 23A/1, Semarang Telp.024-7627000 Fax.024-7527007 Hp.081931323550 / 08122154583 (Ibu Irma Sari)

    Success is not the instant stuff. Within the success implies the values of hard work, efforts, commitment and patience. As experienced by Wenny Sulistiowaty, a woman entrepreneur from Semarang, she started doing the business by utilizing water hyacinth fibers to be processed into handicrafts. Starting from the simple webbing handicrafts, Mrs. Wenny has been developing her business and now producing various kinds of bags. In 1998, she patented her product with WeBe brand name. This WeBe Brand is taken from the name a pair of owners of the company, namely We for Wenny Sulistiowaty and Be for Budi Usodo.

  • 32 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    KAYUN

    Tidak hanya memproduksi furniture interior berbahan kayu, secara terintegrasi usaha ini juga melibatkan teknik konstruksi bangunan dan konsultasinya sebagai

    bagian yang berkesinambungan, mulai dari bahan baku kayu, diperoleh seni dan teknik produksi, sampai perawatan atau pemeliharaan produknya, melibatkan hubungan emosional yang tidak hanya terjadi antara pembeli dan penjual, tetapi lebih dalam lagi, satu produk furniture dari tanaman kayu, mampu mengubah karakter dan jiwa seseorang.

    Karakter kayu yang memang adalah makhluk hidup, tidak akan mati begitu saja, saat kayunya diambil, dipotong, dijadikan produk mebel atau furnitur dan juga diukir atau dicukil. Karena jika dipelihara dengan baik, kayu yang sudah menjadi perangkat produk furnitur itu akan lebih hidup, bahkan tampak luarnya akan menjadi lebih berkilau dibanding saat barang tersebut baru saja dibeli, papar I Nengah Ranten selaku tenaga Riset dan Pengembangan dari Kayun di perusahaan Bidadari Co. Ltd, yang didampingi Komang Ayu Laksmi Dewi selaku tenaga marketing dari Kayun.

    Menurut Komang, Awalnya pelanggan kami hanya singgah sebentar di galeri kami, sambil melihat-lihat furniture interiornya. Lama-kelamaan dia tidak hanya membeli satu atau dua produk, tetapi lebih jauh hubungannya lebih terasa sebagai seperti sahabat lama, bahkan mampu menjadi tenaga pemasar kami yang efektif bagi calon pelanggan lainnya. Ini terjadi, karena kami tidak hanya menjual satu produk interior atau satu set perlengkapan rumah, kantor, hotel, tetapi kami juga menjelaskan cara merawat perabotan tersebut, termasuk menyediakan jenis minyak kayun, sebagai minyak pembersih perabotan kayu. Hal tersebut menginspirasi perusahaan menggunakan tagline heart touching wood.

    Kami harus menjual produk kami secara eksklusif, karena yang kami sajikan, terutama untuk

    Filosofi kedekatan manusia dengan alam menjadi dasar pemikiran industri dan seni ukir kayu Kayun, yang usahanya berada di ubud, Bali.

    INDUSTRI DAN SENI UKIR desain interior, hanya satu desain setiap produknya. Dengan demikian yang kami hasilkan adalah jenis produk antik, edisi terbatas, tetapi biasanya tetap dikombinasi dengan bahan lain. Bahan baku untuk produksi kayu adalah kayu mangga, kayu nangka, kayu suar, kayu leci, dan sebagainya. Limbah sisa serutan kayu, masih dapat diproduksi lagi menjadi berbagai produk seperti sumpit atau mangkok kayu. Ibaratnya tidak ada bahan yang terbuang sia-sia di sini, tegas Nengah Ranten.

    Usaha ini dimulai sejak tahun 1992, dan tahun 1993 mulai mengerjakan proyek hotel dan juga rumah tinggal. Awalnya memang kami menggarap tenda untuk pawai di festival kerajaan di Jepang yang namanya Matsuri. Di sini kami mempelajari teknik pewarnaan alam sampai penyelesaian pembuatan kimono dengan teknik pencelupan kain di kayu. Akhirnya berkembang menjadi usaha Kayun di tahun 2005 yang spesifik menggarap interior desain. Kami tetap menggunakan bahan dasar kayu dan juga obi (kain di pinggang kimono).

    Dengan kondisi seperti itu, maka ada juga yang meminta produksi kami diekspor, dan diperkirakan total nilai ekspor sekitar Rp 2 miliar per unitnya, untuk 2 kontainer isi produk rumah tinggal pribadi berbahan utama kayu. Setiap tahunnya omzet bisa berkisar antara Rp 6 s/d Rp 8 miliar, bahkan pernah juga mencapai Rp 12 miliar. Dari sini kami mengembangkan usaha memproduksi galeri seni yang namanya Bidadari Art Gallery tahun 2004 dan

    Kayun Restoran. Sebagai gambaran untuk mengerjakan satu

    rumah tinggal, kalau sebagian besar bangunan rumah tersebut (setengah bangunan) dibuat dari kayu kelas satu, maka material lainnya dikombinasi dengan bahan logam (metal). Harga jual satu pintu klasik ukir sekitar Rp 250 juta dan biasanya dikerjakan 2,5 bulan. Sementara untuk menggarap satu meja lebar waktunya antara 1 s/d 4 minggu, bergantung pada masa keringnya kayu saat diukir. Semakin kering kayu tersebut, maka akan jauh dari kondisi lembab. Artinya kualitas kayu tersebut akan semakin tinggi.

    Sejumlah mitra pelanggan Kayun antara lain pengerjaan hotel Ayana Resort Hotel & Spa ; Rimba Hotel yang keduanya berada di daerah Jimbaran; Grand Ina Kuta; dan Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, semuanya berada di Bali. Untuk pengerjaan rumah tinggal yang digarap secara eksklusif, berada di sejumlah wilayah seperti Bali, Jakarta, Bandung, sejumlah daerah di Jawa, Sumatera, Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Amerika Serikat. Sebenarnya kami lebih suka mengerjakan projek di dalam negeri, karena keinginan kami adalah kayu yang berasal dari Indonesia seharusnya tidak keluar dari Indonesia, kendati kami sering dimintai konsultasi pengerjaan projek perumahan, hotel, dan apartemen di Vietnam dan Thailand, tukasnya di akhir pembicaraan.

    MAde in indonesiA

  • 33Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Not only manufacturing interior wood- based furniture, it runs an integrated business by involving in building construction and consulting as part of ongoing process, ranging from the wood raw material, techniques of production and arts, up to the product maintenance, involving emotional relationship occured not only between buyers and sellers, but more deeply, one furniture product from wood is able to change anyones character and soul.

    The character of wood that is indeed living creature, simply will not die when that wood is felled cut, and made to be furniture or carved or gouged. Because if it is properly maintained, the wood that has become furniture producst will be more alive, even its outer surface will apear more lustrous than as it was just purchased, explained I Nengah Ranten, a staff of the research and development of Kayun, at the office of PT Bidadari Co. Ltd., accompanied by Komang Ayu Laksmi Dewi, a Marketing staff of Kayun.

    According to Komang, At the beginning our customers had just dropped for a while in our gallery while watching around our interior furniture products. Eventually they did not just buy one or two products, but then the relationship has continued as like old friends, even they have become our effective marketing power for other potential customers. It happens, because we do not just sell one interior product or a set of furnishings of home stay, office, hotel, but we also explain the way of maintenance of the furniture, including we provide the type of Kayun oil, as oil cleaner of wood furnitures. These jobs has inspired

    The philosophy of human closeness to nature has become the rationale of Kayun Art Carving Industry, the business located in Ubud, Bali.

    the company to use the tagline heart-touching wood. We have to sell our products exclusively, as we

    produce very specific interior designs, only one design of each product. Thus the products we have produced are kind of antique products, limited edition, but usually it remains to be combined with other materials. The wood materials used are mango, jackfruit, flare, lychee, and so on. The residual waste of wood shavings still can be utilized into various products such as chopsticks or a wooden bowl. In other words, there is no wasted materials at all, Nengah Ranten explained.

    The business was started in 1992, and in 1993 it began to accomplish the project of hotels and also home stays. Firstly, we accomplished a tent for a march in the festival of Japanese empire named Matsuri. There, we learned the technique of natural coloring until the completion of the production of kimono by using fabric dyeing techniques in the wood. Eventually it evolved into the business of Kayun in 2005 specializing in the business of interior design. We still use wood-based materials and also the obi (the fabric at the waist of kimono).

    With these conditions, then there was a request our products to be exported, and the estimated total value of exports was about Rp. 2 miliar per unit of house, by using 2 containers for one private house made from wood. Each year the turnover could reach between Rp. 6 to 8 billion, even once reached Rp 12 billion. Hereafter we have started developing the business of producing art gallery named Bidadari Art Gallery in 2004 and Kayun Restaurant.

    As an ilustration to do a home stay, if the most of the house materials are made from first grade of wood, then they are still combined with metal material. The selling price of the classical carving door is approximately Rp. 250 million with the processing time is about 2.5 months. Meanwhile to accomplish the wide table it takes between 1 to 4 weeks, depending on the dryness of wood in the process of carving. The more dry the wood, the better it is, since it will be far away from damp conditions. It means that the quality of wood will be higher.

    There are a number of Kayun customers including Ayana Resort Hotel & Spa and Rimba Hotel in Jimbaran; Grand Ina in Kuta; and Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, all of them are located in Bali. For home stay projects exclusively worked out, they are scattered in a number of areas such as Bali, Jakarta, Bandung, and other areas in Java, Sumatra, Singapore, Malaysia, Philippines, Japan, and the United States. Actually we prefer carrying out projects in the country, because we expect the wood of Indonesia should not come out from Indonesia, though we give consulting services in terms of housing projects, hotels, and apartments in Vietnam and Thailand, he said while closing the interview.

    informasi | information Kayun BaliJl. Raya Mas 47, Mas - Ubud, Bali - Indonesia 80571Telp. 0361-973091 / 0361-974741email: info@kayun-bali.comwebsite: www.kayun-bali.com

    MAde in indonesiA

    ART CARVING INDUSTRY

  • 34 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    WiracanaMAde in indonesiA

    Banyak sekali produk atau barang yang selain memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi indikator status sosial bagi orang yang memiliki atau menggunakannya. Salah satunya adalah kipas tangan.

    Sentuhan Teknologi pada Produk Kipas Tangan Berkualitas

    Kipas tangan merupakan salah satu produk asesoris wanita yang di negara-negara Eropa, Jepang, China dan Korea khususnya pada abad pertengahan menjadi indikator

    status sosial wanita yang membawanya. Tentu saja kipas tangan yang dibawa oleh para wanita selebriti dan terpandang di negara-negara tersebut bernilai tinggi, baik harganya maupun nilai seni, budaya dan estetikanya.

    Karena itu, seringkali produk kipas tangan yang menjadi aksesoris kalangan wanita selebriti dan terpandang di abad pertengahan dibuat seindah dan semenarik mungkin. Bahkan, kipas tangan menjadi salah satu karya seni yang bergengsi di masyarakat kala itu. Selain menjadi karya seni yang indah, kipas tangan yang bernilai tinggi juga biasanya terbuat dari bahan yang bernilai dan bermutu tinggi. Misalnya, rangkanya dibuat dari bahan gading gajah, tulang hewan langka atau bahkan emas atau perak,

    sedangkan kainnya terbuat dari kain sutera atau jenis kain mahal lainnya.

    Berkembangnya budaya membawa kipas tangan di kalangan kaum wanita menjadi peluang tersendiri bagi mereka yang memiliki naluri bisnis yang tajam. Salah satunya adalah Ketut Wiranantaja dengan bendera kipas tangan Wiracana. Bagi Ketut, yang kini dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) provinsi Bali, menggeluti bisnis kipas tangan tidak hanya sekedar pekerjaan yang menyenangkan, tetapi lebih dari itu, menjadi profesi sekaligus semacam panggilan jiwa yang harus digeluti dan ditekuni dengan sepenuh hati. Karena itu, tidak mengherankan jika Ketut mencurahkan seluruh daya pikir dan perhatiannya untuk mengembangkan bisnis kipas tangan ini. Tidak tanggung-tanggung, demi membangun industri kerajinan kipas tangan yang tanguh dan modern, Ketut rela menghabiskan banyak biaya, waktu, tenaga dan pikirannya untuk

    mempelajari secara otodidak industri pembuatan kipas tangan di sejumlah negara di Eropa, khususnya di negara-negara yang memiliki budaya menggunakan kipas tangan yang kuat seperti Spanyol, Inggris, dan Italia.

    Berbagai ilmu yang diperolehnya di mancanegara itu kemudian diterapkan Ketut di industri kerajinan kipas tangan miliknya yang berlokasi di Denpasar, Bali. Dengan ilmu yang diperolehnya itu Ketut kini mampu memanfaatkan berbagai teknologi canggih seperti teknologi informasi dan komputer, teknologi laser hingga teknologi mesin untuk keperluan pemotongan bahan rangka kipas tangan dengan presisi tinggi secara terukur, akurat dan rapi.

    Teknologi informasi dan komputer digunakan Ketut untuk membuat desain kipas tangan, sedangkan teknologi laser digunakan untuk memotong bahan kain supaya mulus, rapih dan rata sesuai dengan desain yang sudah dibuat serta

  • 35Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    tidak menimbulkan bekas potongan yang kurang rapi. Sedangkan untuk mesin pemotong kayu, Ketut berhasil menciptakan desain mesin yang khusus digunakan untuk keperluan pemotongan/pengirisan dan pembentukan kayu yang akan digunakan di dalam pembuatan kipas tangan. Mesin tersebut memiliki kapasitas pemotongan/pengirisan/pembentukan/pelubangan lebih dari 2.000 buah per hari.

    Bahan yang digunakan Ketut dalam pembuatan kipas tangan utamanya adalah kayu untuk rangka, benang, kain dan sejumlah asesoris lainnya yang seluruhnya dapat diperoleh di dalam negeri. Kayu yang digunakan Ketut merupakan kayu lokal terpilih yang memiliki sifat dan karakter tertentu. Hal ini sangat penting untuk menjaga kualitas produk kipas tangan yang dihasilkan. Pemilihan jenis kayu dan perlakuan fisik dan kimia terhadap bahan kayu sangat penting agar kayu yang digunakan tidak mudah pecah, bengkok atau patah khususnya ketika di bawa ke

    negara dengan empat musim. Dengan menggunakan berbagai teknologi mutakhir dan bahan baku bermutu itu Ketut mampu memproduksi kipas tangan berkualitas prima yang banyak digandrungi pembeli lokal maupun mancanegara.

    Kualitas kipas tangan Wiracana sudah banyak diakui berbagai pihak di tanah air maupun mancanegara. Pada tahun 2012, misalnya, desain kipas tangan Wiracana mendapat penghargaan Gold Award dari Indonesia Good Design Selection (IGDS). Bahkan Wiracana pernah mendapatkan pesanan pembuatan suvenir kipas tangan untuk pernikahan salah satu pangeran kerajaan Inggris.

    Dengan mempekerjakan 150 karyawan tetap dan bekerjasama dengan 300 perajin dari masyarakat sekitar, Ketut setiap harinya rata-rata memproduksi 2.700 kipas tangan Wiracana yang sekitar 35% diantaranya diekspor ke mancanegara (a.l. ke Eropa, Australia dan Jepang). Dengan kualitas premium dan

    harga yang kompetitif, produk kipas tangan Wiracana lebih banyak menyasar pasar kelas menengah ke atas. Pemasaran Wiracana selain diakukan melalui galeri dan sejumlah outlet di Bali dan Jakarta, juga melalui pemasaran secara online.

  • 36 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    The hand-fan is one of the womens accessories products of which in European countries, Japan, China and Korea, has been a social status indicator of women who use it since the Middle Ages. Of course, the hand-fans owned and used by the celebrities and respectable women in these countries has a high value, both in terms of its price as well as the value of art, culture and aesthetics.

    Therefore, the hand-fan products which become accessories among the celebrities and respectable women in Middle Ages were usually produced as beautiful and attractive as possible. Even, the hand-fan had become one of the prestigious works of art in the society at that time. In addition to being the lovely work of art, the high-value hand-fan has usually been made of the valuable and high quality raw materials. For example, the frame is made of the elephant ivory material, the scare animal bones or even gold or silver, while the fabric is made of silk or other expensive types of fabrics.

    The growing culture of bringing hand-fans among women has become the opportunity for those who have a keen business sense. One is Ketut Wiranantaja with his Wiracana hand-fans. He is a businessman of Balinese handicrafts which is now trusted to be the Chairman of the Association of Indonesian Furniture and Rattan Handicraft of Bali province.

    For Ketut himself, doing the business of hand-fans is not just a fun job, but also to be the profession as well as the some sort of heart calls that must be seriously engaged. Therefore, it is not surprising that he has devoted all his attentions and thoughts to develop his hand-fan business. In order to build the modern and strong hand-fans industry, he has spent a lot of money, time, energy and thinking to learn

    There are lots of products or goods besides having a specific function in daily life also becoming an indicator of social status for those who own or use them. One of them is a hand-fan.

    The Touch of Technology on Qualified Hand-Fan Products

    MAde in indonesiA

  • 37Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    informasi | information WIRACANAJl. Raya Sesetan 63. Gang Merpati no.3, Bali 80223Telp.(0361) 234800

    the hand-fans manufacturing industry in a number of countries in Europe, especially in countries with strong cultures of using hand- fans such as Spanish, English, and Italian.

    A variety of knowledges gained abroad are applied by Ketut in his own hand-fans industry located in Denpasar, Bali. With the knowledge acquired, Ketut has now been able to utilize a variety of advanced technologies such as information technology and computer, the laser technology and also machinery technology for the cutting process of hand-fans frame materials with high precision, measurable, accurate and neat.

    The information technology and computer are used to create the hand fans design, while the laser technology is used to cut the fabric in order to be smooth, neat and flat in accordance with the desired designs without leaving less neat pieces. Whereas, for the wood cutting machine, Ketut has created a specific machine design used for cutting/slicing and wood formation in his production process. This machine has a capacity of cutting/slicing/forming/perforating of more than 2,000 pieces per day.

    The main raw materials used by Ketut in the production of hand-fans is the wood for the frame, thread, fabric, and a number of other accessories that can be fully obtained in the country. The woods are the selected local wood with certain nature and characteristics, and it is very important to maintain

    the quality of hand-fan products. The selection of wood material including the physical and chemical treatment of the wood is very crucial in order the woods are not easily fractured, bent or broken, especially when delivered to four-season countries. By using a variety of cutting-edge technologies and high quality of raw materials, Ketut has been able to produce higher-quality hand fans favored by local and foreign buyers.

    The quality of Wiracana hand-fans has been widely recognized by various market segments at home and abroad. In 2012, for example, the Wiracana hand-fan design was awarded the Gold Award of Indonesia Good Design Selection (IGDS). Even, Wiracana ever received hand-fans orders for wedding souvenirs of one of the British royal princes wedding.

    By employing 150 permanent employees and partnering with 300 artisans from the surrounding communities, Ketut has produced about 2,700 Wiracana hand-fans per-day, with approximately 35% of which to be exported to other countries (i.e Europe, Australia and Japan). With the premium quality and competitive price, Wiracana hand-fan products has been much more marketable for the middle and upper class societies. The marketing efforts for Wiracana, in addition through the galleries and a number of outlets in Bali and Jakarta, it is also carried out through online marketing.

    MAde in indonesiA

  • 38 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Mandiri Art ShopLahir dari keluarga seni secara tidak langsung akan menumbuhkan jiwa seni dalam diri seseorang tersebut. Seperti peribahasa Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah kira-kira kisah ibu Tira yang berasal dari Jember ini.

    Berawal dari bisnis keluarga di bidang ukir kayu, yang tidak memiliki pengetahuan mengenai promosi produk yang bagus, maka keluarga ibu Tira mengirim barang

    ke pengepul yang ada di Bali. Sehingga perajin tidak pernah tahu pasar mereka dan tidak bisa berkembang.

    Dari pengalaman itu, Perempuan separuh baya ini mencoba mempelajari tentang seni ukir kayu dan cara memasarkannya. Pada tahun 1997, beliau mulai mendesain sendiri untuk membuat ukiran kayu dengan memanfaatkan kayu lesung/lumpang. Pengerjaan pembuatan kerajinan dilakukan di Solo, tempat kelahiran Ibunda Bu Tira, dimana kayu lesung mudah di dapatkan dan secara ongkos juga terhitung lebih ekonomis. Kemudian beliau membawa kerajinan yang diproduksi dari Solo itu untuk dijual dengan cara menitipkan barangnya di Regent Hotel dan Sarinah Jakarta. Semakin hari Bu Tira semakin produktif dengan menciptakan desain-desain baru yang menawan, hal tersebut membuat semakin menumpuknya kerajinan yang diproduksi di Jawa Tengah. Karena itu Bu Tira mulai terpikir untuk memiliki toko di Jakarta.

    Kemang adalah lokasi pilihan ibu Tira untuk memulai bisnisnya. Karena Kemang saat itu adalah kampung bule, jadi beliau berharap bisa memiliki buyer asing yang mungkin bisa mengembangkan tokonya. Tepatnya 1999 Mandiri Art berdiri di Kemang. Sesuai harapannya, Mandiri Art memiliki buyer asing yaitu tiga orang dari Spanyol, satu orang dari Kanada dan satu orang dari Hongkong. Mereka menjadi buyer setia hingga memiliki showroom seperti Mandiri Art di masing-masing negara mereka. Kelebihan yang selalu diunggulkan pemilik Mandiri Art ini adalah bahan dasar dan warna alami yang jarang digunakan orang di masa sekarang. Dan beliau bisa membaca ketertarikan orang asing terhadap barang-barang kuno tetapi tetap artistik.

    Orang-orang bule lebih suka kerajinan dari kayu

    yang sudah lama (yang berumur puluhan tahun) karena lebih keluar warnanya dan semakin artistik Kata ibu Tira saat ditemui di Pameran Indocraft di Jakarta Convention Center. Karena keuntungan besar di dapat dari penjualan kerajinan yang berasal dari kayu-kayu besar dan berumur tua, dengan warna alami, yang dibentuk menjadi bangku taman, congklak, dan lain-lain.

    Tetapi Krisis global membuat bu Tira juga merasakan imbasnya. Karena buyernya dengan perlahan menutup toko mereka dan tidak lagi mengambil barang di Mandiri Art. Hal itu tidak menyurutkan hati bu Tira, beliau mencari cara untuk mencari buyer baru. Mulailah beliau dengan mengikuti pameran-pameran yang diadakan pemerintah, dengan bekal info dari teman dan saudara.

    Sekarang saya mulai rajin mengikuti pameran-pameran seperti ini. Dapat info dari teman atau saudara ada pameran dimana, saya berangkat, asal dananya mencukupi. Karena memang saya harus mencari pelanggan baru. Tegas Bu Tira

    Disamping ukiran kayu, beliau mengembangkan bisnisnya dengan memilih bahan dari logam/kuningan sebagai bahan dasar. Karena di keluarga suami ada yang bisnis di bidang logam, jadi lebih mudah untuk bertukar ilmunya. Dan tujuan utamanya adalah menambah variasi produk yang di display di toko. Seperti halnya kayu bule juga lebih suka logam dalam warna yang natural. Itulah bedanya bule dan orang Indonesia, mereka tahu warna yang lebih bagus. Jadi mereka lebih suka warna natural, seperti kerajinan kayu, untuk tembaga dan logam juga lebih suka warna natural jelas Bu Tira.

    Proses pembuatan produk yang berasal dari logam ini adalah dengan mendesain moldingnya yang kemudian diperbanyak untuk proses cetak. Untuk produksi sekali cetak membutuhkan 1 kwintal kuningan untuk 2 minggu hari kerja. Jika kurang dari itu, takutnya rugi. Karena dalam proses cetak itu 3 hari hanya untuk mencetak model, setelah kering baru bisa finishing, begitu seterusnya. Hal tersebut juga terjadi pada ukir kayu, mengukir dulu semua kayu yang telah dibentuk, lalu diteruskan ukir, baru setelah itu dilakukan finishing.

    Saya memiliki kerajinan yang paling saya banggakan yaitu boneka yang rangka bonekanya dari kayu jati, terbungkus dengan kain batik yang dalamnya diisi kertas chips. Jadi benar-benar Indonesia dan jika ada orderan dalam jumlah yang banyak, saya juga bisa memperkerjakan masyarakat sekitar. Sehingga saya bisa ikut mensejahterahkan masyarakat sekitar saya

    yang di daerah. Kisaran harga produk yang ada di toko Bu Tira ini

    mulai dari 30.000 Rupiah hingga yang paling mahal adalah 10jt Rupiah. Tetapi kalau ada pesanan khusus produk logam yang terbuat dari perunggu itu sangat mahal, bisa sampai 30jt Rupiah.

    Harapan Bu Tira adalah dapat menjadi binaan dari Kementerian Perindustrian. Kementerian juga bisa mengangkat perajin UKM yang masih minim dari segi peralatan, pengetahuan dan proses pemasaran, agar bisa mensejahterahkan masyarakat di daerah. Menurut beliau, Kementerian sekarang sudah bagus dalam hal pembinaan. Kementerian-Kementerian sekarang ini sudah bagus-bagus kinerjanya dalam membina perajin, mungkin karena saya kurang silahturahmi jadi saya belum bisa jadi binaan, walaupun sebenarnya sangat ingin, kata Bu Tira saat menutup pembicaraan dengan tim KINA.

    MAde in indonesiA

  • 39Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Born from an art lovers family is indirectly will foster the arts soul of person in that family. Like the proverb The fruit does not fall far from the tree. That is the story of Tira from Jember, East JavaStarting from the family business in the field of wood carvings and without enough knowledge in product promotion, Tiras family just delivered their products to intermediate trader so that the producer did not ever know its markets and its business could not experience the significant progress.

    From that experience, this middle-aged woman has tried to learn the art of wood carving and how to market it. In 1997, she began to make her own design of wood carving by utilizing the wood mortar/pestle. The work process of wood carving was carried out in Solo, the birthplace of her, in which the wooden mortar can be easily obtained and also more economical. Then she brought her wood carving products for sale by asking for help the Regent Hotel and Sarinah Jakarta to display them. Then she has been getting more and more productive by creating exited new designs, and it has caused the number of products in Central Java to be piled. For that reason

    she thinks better to have a store in Jakarta.Kemang was chosen by Tira to start her business.

    Since Kemang is known as the village of white (foreigners), so she expected to have the foreign buyers to further develop her shop. Precisely in 1999, Mandiri Art was established in Kemang. As her expectation, Mandiri Art has foreign buyers that are three people from Spain, one from Canada and one from Hong Kong. They have become loyal buyers so that they have their own showroom like Mandiri Art in their respective countries. The superiority embedded in the product of Mandiri Art is the basic materials and natural colors that are rarely used by others at this time. And she could capture the foreigner interest toward the antiquities and artistic stuff of the products.

    Foreigners prefer wood carvings from long-aged wood (several decades) because its color is more come out and more artistic, she said when met at Indocraft Exhibition at the Jakarta Convention Center recently. The significant profits has mainly been generated from the sale of wood carving products made from big size logs with old age and natural color, which are formed into a park bench, congklak, and others.

    But the global crisis really hamperred her business. Her buyers slowly closed their shops and no longer bought the product of Mandiri Art. However it did not dampen her motivation to look for the new ways to get new buyers. She started participating in exhibitions held by the government, with the information given by friends and relatives.

    Now I begin to actively follow the exhibitions. As I get the information from friends or relatives where an exhibition will take place, I set to participate as long as sufficient funds is available. Because I have to get the new customers. she explained.

    In addition to carving wood, she has also developed her business by choosing the material of metal/brass as the base material. Since one of her husbands family runs the businesses of metal, so it is easier to exchange knowledge. The main purpose is to increase the variety of products displayed at the store. As in the case of wood, foreigners also prefer metal with natural color. The differences between foreigners and local people is that foreigners understand the better color. So they prefer natural colors, such as wood carving, and for copper and metals they also prefer natural color explained Tira.

    The process of producing metal products is started by designing the molding, and then to be reproduced for mass production process. For one production process it requires 1 to 2 quintals of brass with 2 weeks working days. Less than that, it leads to potential loss. Within production process, it needs 3 days just to make the mould of design, and after being dried the finishing process is carried out. It also occurs in wood carving, the carving process of wood that has been formed is firstly completed and then followed by finishing process.

    I have my proudest wood carving product that is a puppet with the puppet framework of teak wood, wrapped with batik cloth that is filled with paper chips. It is really typical Indonesian and when there are orders in large numbers, I usuallly employ the

    local people in the production process. So I can also participate in improving the welfare of local people, she further explained.

    Price list of products in her store ranging from Rp. 30,000 to the most expensive one that is Rp. 10 million. But for the special order product made of bronze metal it could be very expensive, reaching Rp. 30 million.

    Tira expects that she could be the trained partners of the Ministry of Industry. The Ministry is expected to develop the SMEs characterized by the limitation in terms of equipment, knowledge and marketing process, to become more competitive in order to prosper the local community According to her, the Ministry of Industry has already been good in terms of coaching. Now some ministries have already performed well in coaching artisans. Probably due to my lack of communication so that I have not become the trained partner yet, although in fact I am very eager she said when closing the interview with KINA Magazine Team.

    informasi | information Mandiri Art Shop Jl Kemang Utr 60, Bangka, Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12730Phone: 021 7195276Fax: 021 7195276

    MAde in indonesiA

  • 40 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Wujudkan Industri Kreatif yang InovatifRealizing the Innovative Creative Industries

    Komunitas Pensil Kertas

    Awalnya, tiga orang pemuda yang merupakan alumni sekolah menengah kejuruan bidang seni rupa di kota kembang, itu rutin melakukan pertemuan setelah mereka

    gantung seragam. Seiring waktu, mereka merasa perlu membentuk wadah untuk menyalurkan bakat dan hobinya dalam menggambar dan mendesain. Setiap Sabtu sore, mulai pukul 15.00 WIB, kami sering kumpul di markas, Gang H. Kurdi Nomor 111, Kiaracondong, Bandung. Di sebuah ruko lantai dua itu, kami selalu berdiskusi dan berbagi info tentang perkembangan seni rupa. Akhirnya, kami membentuk sebuah komunitas, kenang Arie Rahmat, salah satu pendiri Komunitas Pensil dan Kertas yang ditemui pada acara PPI 2014 di Bandung, beberapa waktu lalu.

    Komunitas Pensil dan Kertas diresmikan pada tanggal 13 Februari 2009. Sebelumnya komunitas ini diberi nama Pensil Terbang. Ternyata saat itu, nama komunitas pensil terbang sudah ada yang menggunakan di Jogja, dan sudah dipatenkan. Terpaksa kami merubah nama jadi pensil kertas. Jadi, secanggih apapun teknologi yang digunakan sebagai alat menggambar, dasarnya tetap dari pensil dan kertas. Itulah filosofi dari nama Komunitas Pensil dan Kertas, ujarnya mengungkapkan.

    Arie mengatakan, setiap Minggu pagi saat car free day, anggota komunitasnya kerap ngeriung (berkumpul) sambil membuat berbagai karya seni rupa seperti karikatur, ilustrasi dan komik, hingga seni kertas lipat. Semua karya itu digelar sepanjang Jalan Dago mulai jam 06.00 10.00 WIB. Bahkan, mereka juga mengajak warga Bandung untuk ikutan partisipasi menggambar sketsa dengan menuangkan ide dan impiannya tentang kota Bandung masa depan. Temanya beragam, seperti masalah sampah, kemacetan, dan lingkungan. Kami ingin warga

    mewujudkan kota yang layak huni, katanya.

    Di Komunitas Pensil dan Kertas, para anggotanya tidak hanya belajar menggambar, tapi juga dibekali dengan ilmu seni rupa lainnya. Awalnya kami kasih pelajaran mengenai teknik seni rupa dasar, seperti latihan teknik tebal tipisnya garis dalam menggambar. Selain itu, kami juga belajar mengenai fotografi dan animasi, tutur Arie. Bahkan, mereka sering menerima pesanan untuk membuat souvenir dari berbagai perusahaan di Bandung. Mereka juga sudah mampu menerima pesanan untuk membuat iklan, website, dan film animasi.

    Mereka juga menawarkan kursus ke berbagai sekolah. Biayanya dipatok Rp 500 ribu per bulan untuk dua kali pertemuan tiap pekan. Penghasilan itu digabung dengan iuran bulanan sekitar Rp 10 ribu dari masing-masing anggota, ditambah sumbangan sebesar 30 persen dari tiap karya yang terjual. Dana itu dipakai untuk biaya operasional kegiatan komunitas, seperti untuk membayar sewa ruko, listrik, air, dan transportasi, hingga membeli peralatan.

    Saat ini, anggota Komunitas Pensil dan Kertas di Bandung sudah mencapai ratusan orang. Selain di Bandung, komunitas kami juga baru berdiri di Tangerang. Rencananya di Cirebon akan terbentuk, kata Arie. Kegiatan rutin komunitas ini biasanya kumpul bareng untuk saling berinteraksi dalam mencari ide baru, sekaligus mengekspresikan bakat seni mereka hingga menghasilkan sebuah karya. Tidak jarang ada pengunjung yang tertarik dan membeli karya mereka.

    Pada kesempatan yang sama, Ayub yang juga pendiri Komunitas Pensil dan Kertas mengatakan, hal-hal unik yang telah dan akan dilakukan oleh komunitas ini terhadap Kota Bandung adalah

    Karya seni yang bernilai tidak selalu dihasilkan dari barang-barang mewah atau alat-alat berteknologi tinggi. Melalui modal kreativitas dan inovasi, sekelompok pemuda di Bandung mampu menciptakan karya yang penuh inspirasi dari benda sederhana seperti pensil dan kertas.

    berencana untuk mempercantik tampilan tong-tong sampah yang akan dihiasi dengan gambar menarik agar masyarakat ingat untuk membuang sampah pada tempatnya.

    Komunitas ini sudah malang-melintang di berbagai kegiatan lokal, nasional sampai internasional. Prestasi yang cukup membagakan mereka adalah pemecahan Rekor Komik Strip 3D terbesar di dunia. Selain itu, karena memiliki visi untuk menjadikan Bandung sebagai kota desain, maka tidak sedikit hasil karya komunitas ini yang dicetak dalam bentuk kaos distro dan dijual. Diharapkan, kreativitas anak muda lewat komunitas ini dapat berkembang menjadi industri kreatif yang menjanjikan.

    Dapat disampaikan, industri kreatif yang umumnya merupakan industri kecil dan menengah (IKM), memiliki peran strategis karena mampu memberikan sumbangan yang cukup besar bagi perekonomian nasional. Ini terlihat dari jumlah IKM sebanyak 3,9 juta unit pada 2013, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,3 juta orang. Dari jumlah itu, memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sebesar USD 19.579 juta. Bahkan, nilai produksi IKM mencapai Rp 753 triliun atau memiliki kontribusi sebanyak 10 persen dalam pembentukan PDB sektor industri terhadap PDB nasional.

    Sementara dalam upaya meningkatkan kualitas produk IKM yang sesuai standar dan mutu serta mampu memenuhi order yang besar dalam waktu singkat, Kementerian Perindustrian terus berupaya melakukan pengembangan sumber daya manusia IKM melalui berbagai macam pelatihan dan memberikan fasilitasi bantuan mesin peralatan baik program revitalisasi maupun program restrukturisasi untuk dapat meningkatkan produktivitas IKM.

  • 41Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    At the beginning, the three young men who are the alumni of a vocational school majoring in arts in Bandung had held regular meetings after they hanged the uniform. Over time, they found it necessary to form a forum to channel their talents and hobbies in drawing and designing. Every Saturday afternoon, starting at 15:00 pm, we often gathered together at the hangeout, Gang H. Kurdi No. 111, Kiaracondong, Bandung. In a two-floor shop, we always discussed and shared information about the development of arts. In the end, we established a community, recalled Arie Rahmat, one of the founders of the Community of Pencils and Paper when met at Indonesia Product Expo 2014 in Bandung, some time ago.

    The community of Pencils and Paper was formally inaugurated on February 13, 2009. Previously, this community was called the Flying Pencils. Evidently, at that time the name of Flying Pencils Community had been already used in Jogja, and had been patented. Inevitably, we were forced to change the name to be Pencils and Paper. For us, no matter how sophisticated the technology used as a drawing equipment, basically it remains on Pencils and Paper. That is the philosophy of the name of Pencils and Paper, he explained.

    Arie said, every Sunday morning on the car free day, the community members often gather together while making a variety of artworks such as caricatures, illustrations and comics, and also the art of paper foldings. All of the works were displayed along Jalan Dago, Bandung starting at 6:00 to 10:00 pm. Even, they also invite the Bandung residents to participate drawing sketches by outpouring their ideas and dreams about the future of Bandung city.

    The themes are diverse such as the problem of garbage, congestion, and environment. We expect the Bandung residents to realize a livable city, he said.

    In the Community of Pencils and Paper, its members do not only learn to draw, but are also equipped with other knowledge of arts. Initially we give the lesson about the basic arts techniques, such as the technique to draw the thickness of the line. In addition, we also learn about photography and animation, Arie explained. Even, they often receive orders to make souvenirs from various companies in Bandung. They have also been familiar to receive orders to make advertisementss, websites, and animated films.

    They offer courses to various schools. The cost is set at Rp500 thousand per month for two sessions per week. This income is further combined with the monthly fee of about Rp10 thousand from each member, plus the donations generated from 30 percent of each artwork sold. The total funds are used as operating costs to run the community activities, such as to pay the shop rent, electricity, water, and transportation, and also to buy the equipments.

    Currently, the community members of Pencils and Paper in Bandung have reached hundreds of people. Besides in Bandung, we have just established the community in Tangerang. The community will also be formed in Cirebon soon, Arie said. The regular activities of this community is usually in the form of gathered together to interact with each other in searching the new ideas, and at once to express their arts talent to produce the artworks. Often there are visitors who are interested and buy their artworks.

    At the same occasion, Ayub who is also the founder of the Community said the unique things that have been and will be done by this community to Bandung city is their plan to beautify the appearance of rubbish bins by decorating them with interesting pictures so that people will always remember to throw the rubbish into the place.

    This community has been highly experienced and has actively participated in various local activities, national and even globally. The proudly achievements of them is the record-breaking of the biggest Strip 3D comics in the world. In addition, due to having a vision to make Bandung as the city of design, there are many artworks of this community that are printed in the form of t-shirts to be sold. It is expected that creativity of young people through this community can be further developed to become a promising creative industries.

    It can be informed that the creative industries which are mostly categorized as the small and medium

    informasi | information Komunitas Pensil Kertas Bpk.Irvan HP: 0877-2204-8136 / 085317587397 Abuy 081573031212 Arie 089666129730 Email: pensilkertas13@gmail.com pensildan kertas@yahoo.com Bbm: 74A5A97C

    The valuable works of art is not always generated from the luxury goods or high-tech equipments. Through creativity and innovation capital, a group of young men in Bandung have been able to create inspiring works from the simple objects such as pencils and paper.

    industries (SMEs) have a strategic role due to their substantial contribution to the national economy. It can be seen from the number of SMEs amounting to about 3.9 million units in 2013, and employing about 10.3 million people. Of that amount, it contributed to the export value of USD 19.579 million. Even, the production value of SMEs reached Rp 753 trillion or contributed about 10 percent of the GDP in industrial sector to national GDP.

    Meanwhile, in efforts to improve the quality of products to meet the standards and also able to fulfill the large orders within a short period, the Ministry of Industry has continued to actively perform human resource development of SMEs through various training and provide support facilities such as machinery equipments through revitalization and restructuring programs in order to improve the productivity of SMEs.

  • 42 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Banana paper

    Bisnis Manis Kertas Dari Batang Pisang

    Perjalanan bisnis Banana Paper bermula pada tahun 1995, saat Pak Syafiq bekerja di Yayasan Istiqlal Al Quran di divisi desain/kreatif. Beliau bersama temannya berpikir

    untuk bisa melepaskan statusnya sebagai karyawan dan maju untuk membuat usaha sendiri. Bermodalkan ilmu otodidak yang didapat ketika melihat proses pembuatan kertas untuk Al Quran, alumnus Fakultas Syariah IAIN ini terinspirasi untuk membuat kertas dari bahan limbah, dengan serat yang lebih kasar atau bertekstur khas. Kemudian, melalui serangkaian percobaan yang beliau lakukan, akhirnya dapat menghasilkan sebuah kertas dengan tekstur yang diharapkan.

    Setelah itu, Pak Syafiq mencoba menjual kertas lembaran seadanya, dan untuk pertama kalinya mendapatkan order dengan konsep undangan. Ternyata, order undangan tersebut adalah awal dari karir yang sebenarnya dari Pak Syafiq ini, dimana setelah pengerjaan order tersebut, konsumennya merasa terkesan lalu tersebar informasi dari mulut ke mulut bahwa beliau memiliki kertas dengan serat dan tekstur yang khas.

    Karena bisnis yang dijalaninya terkendala modal yang masih minim, beliau menawari teman-temannya untuk menanamkan saham pada usahanya tersebut. Akhirnya didapat modal patungan bersama enam orang yang masing-masing menyumbang kurang lebih Rp100 ribu. Dari modal tersebut, lembaran kertas yang bisa diproduksi belum bisa banyak. Tetapi karena pada saat itu belum ada kertas dengan tekstur yang kasar, maka permintaan untuk jenis kertas tersebut masih relatif besar, sehingga produknya cukup laku di pasaran.

    Lompatan berikutnya terjadi pada tahun 1997, yaitu saat ada media yang meliput tentang usahanya. Dengan modal kurang lebih Rp 1 juta, omzet awal yang dihasilkan sebesar Rp5 juta. Kemudian terbentuk perusahaan yang bernama Suhuf Art Paper. Setelah peliputan media tersebut, makin banyak konsumen yang mengenali kertas buatan Pak Syafiq dan membeli produknya. Hal ini membuat nama Suhuf Art Paper semakin melejit, hingga pada tahun 1998 omzet perusahaan ini mencapai Rp1 miliar pertahun dan jumlah pegawai sebanyak 100 orang.

    Setelah beberapa tahun sukses menjalani bisnis lewat Suhuf Art Paper, pada tahun 2005 Pak Syafiq memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut dan sempat vakum dari aktivitas bisnis selama enam bulan.

    Namun jiwa kreatif yang tumbuh subur pada pria asal Jawa Tengah ini membuatnya bangkit kembali untuk memulai usaha sendiri secara mandiri, tetapi kali ini menggunakan batang pisang sebagai bahan dasar kertasnya. Hal ini karena batang pohon pisang adalah serat terbaik di dunia. Usaha barunya ini awalnya diberi nama Syafiq Paper. Hingga akhirnya,

    saat kepercayaan dirinya benar-benar telah tumbuh, beliau mengganti nama usahanya dengan Banana Paper yang bertahan hingga sekarang.

    Melalui Banana Paper tersebut, Pak Syafiq bercerita bahwa dia pernah mendapat tantangan dari pengusaha Jepang untuk mendesain wallpaper sebuah rumah makan dengan contoh bahan dasar kertas yang dibawa langsung dari Jepang.

    Saya mengaku bahwa saya tidak bisa membuat bahan yang persis seperti bahan yang dibawa oleh klien dari Jepang, tetapi saya yakinkan bahwa saya punya kertas yang lebih bagus. Lalu saya bawa contoh kertas saya ke klien tersebut. Kemudian dia bilang bahwa kertas saya lebih bagus dan murah dibandingkan kertas yang dia bawa dari Jepang kenang Pak Syafiq.

    Walaupun kertas yang mampu dicetaknya baru berukuran 64cm x 46cm, beliau berhasil meyakinkan kliennya hingga akhirnya mendapatkan order untuk mendesain rumah makan Sushi Tei di Bandung. Sejak itulah, untuk kedua kalinya Pak Syafiq bisa membesarkan dan mengenalkan usaha kertasnya pada masyarakat luas.

    Hingga saat ini, kapasitas produksi Banana Paper adalah sebanyak 600 lembar/hari. Dengan dibantu karyawan sebanyak 20 orang, omzet yang dihasilkan mampu mencapai puluhan juta rupiah.

    Setelah terkenal melalui Banana Paper, dengan rendah hati Pak Syafiq mengaku sering diundang menjadi narasumber pada berbagai forum/pelatihan, seperti pertemuan Ikatan Mahasiswa Kehutanan Asia, pelatihan kewirausahaan, dan lain-lain untuk mengajarkan mengenai cara mengolah kertas.

    Pada saat ini, Banana Paper tidak hanya menghasilkan produk berupa lembaran kertas, tetapi juga album foto, craft, interior ruang, dan lain-lain. Diversifikasi produk tersebut diharapkan dapat lebih mengembangkan bisnisnya sekaligus bisa bereksperimen dengan jenis-jenis produk baru yang lebih beragam mengikuti perkembangan pasar.

    Harapan Pak Syafiq kepada Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian adalah agar hasil-hasil penelitian dari Balai Besar Pulp dan Kertas bisa lebih dibuka aksesnya sehingga dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Termasuk juga membantu para pengrajin kertas dalam pengembangan produk-produk baru berbahan kertas. Selain itu, beliau juga berharap agar proses KUK (Kredit Usaha Kecil) dapat lebih mudah agar pengusaha kecil dapat meningkatkan daya saingnya sehingga bisa ikut dalam persaingan global.

  • 43Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    informasi | information Banana Paper Jl. Sadang Serang No. 8, Bandung 40123, Tlp (022) 70003332. Email : bananapaperbandung@gmail.com

    The Promising Business of Paper From Banana TrunksThe business trip of Banana Paper began in 1995, when Shafiq was working in Quran Istiqlal Foundation in design/creative division. With his friend, they considered to leave their job and try to set up their own business. Armed with self-taught knowledge gained from observing the process of making paper for the Quran, Shyafiq, an alumnus of the Faculty of Syariah, the Institute of Islamic Studies was inspired to make paper from the waste materials, with the more rough of fibers or distinctive texture. Then, through a series of experiments, he finally was able to produce paper with the texture as expected.

    There after, Shafiq tried to sell sheet of paper, and he firstly received the order with the concept of invitation. Apparently, this invitation order is the beginning of the real career of Syafiq, since following the completion of that work order, his customer felt impressed and then the information about his competence to produce paper with a distinctive texture spreaded out by word of mouth.

    Due to the capital constrained, he offered his friends to invest their shares in his business. Finally, the working capital was obtained from his 6 colleagues who each contributed Rp100 thousand. From that amount of working capital, sheet of paper to be produced could not be much. However, because at that time there was no sheet of paper with a rough texture, the demand for this type of paper was still relatively high, so that the products were completely sold in the market.

    The next leap occurred in 1997, as one media reported his business story. With the working capital was less than Rp1 million, the initial turnover reached Rp5 million. Then he established a company called Suhuf Art Paper. After the released of news coverage, more and more consumers began to recognize sheet of paper produced by Shafiq and bought the products. The popularity of Suhuf Art Paper skyrocketed, and in 1998 the sales turnover achieved Rp1 billion per year with 100 employees. After several years experiencing the success of doing business through Suhuf Art Paper, in 2005 he decided to resign from the company and vacuum from the business activity

    for six months.But the creative spirit thriving on this man from

    Central Java, it brought him bounced back to start his own businesses independently, but this time he used banana trunks for paper base material. He argued that the banana trunks are the best fiber in the world. This new business was initially given the name of Shafiq Paper. Until his confidence ultimately grew, he changed the name of his business with Banana Paper which has been able to survive until now.

    Through the Banana Paper, Shafiq told that he had ever received a challenge from the Japanese businessmen to make design for a restaurant wallpaper with the paper base material sample taken directly from Japan.

    I tell him that I could not make the paper base material exactly as the material brought by my client from Japan, but I am sure that I have a better paper. Then I take my paper samples to the client. Then he tell me that my paper is better and cheaper than his paper brought from Japan, Shafiq recalled.

    Although the size of paper produced was only for 64 cm x 46 cm, he was able to convince his client, and he finally got the order to design Sushi Tei Restaurant in Bandung. Since then, for the second time he has been able to introduce and develop the paper business in the wider community.

    Recently, the production capacity of Banana Paper has been about 600 sheets/day. With 20 employees, the sales turnover has reached tens of millions rupiah.

    After getting the popularity through Banana Paper, Shafiq admitted that he has oftenly invited as a speaker at various forums/trainings, such as Asia Forestry Students Association Meeting, entrepreneurship training, and others to teach about the paper processing technology.

    At this time, Banana Paper does not only produce a sheet of paper, but also photo albums, craft, interior designs, and others. The product diversification is expected to further grow the business at once can carry out experiments to produce a variety of new products following the market development.

    Syafiq expected the Government especially the Ministry of Industry that the results of research of

    the Center of Pulp and Paper can be openly accessible for public so that it can be more beneficial to the wider community. It can also helps the paper artisans in the development of new paper-based products. In addition, he also expected that the process to get the Small Business Loan can be easier and simpler so that the small businesses can improve their competitiveness and participate in global competition.

    I tell him that Icould not make the paper base material exactly as the material brought by my client from Japan, but I am sure that I have a better paper.

    Saya mengaku bahwa saya tidak bisa membuat bahan yang persis seperti bahan yang dibawa oleh klien dari Jepang, tetapi saya yakinkan bahwa saya punya kertas yang lebih bagus.

  • 44 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Melalui bendera Anak Bangsa Cerdas (ABC) Toys yang dikibarkan sejak 14 Mei 2003, Rita memiliki visi untuk Mewujudkan Anak Bangsa Cerdas dengan Alat

    Permainan Edukatif.Rita pun memaparkan, alat permainan edukatif

    haruslah mampu merangsang daya pikir sang anak. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan ABC Toys memiliki beragam fungsi yang tentunya bermanfaat untuk tumbuh kembangnya si anak, diantaranya adalah melatih kemampuan motorik halus dan kasar. Ada mainan anak yang kami ciptakan untuk merangsang motorik halus seperti mainan balok karena dia akan memainkannya dengan cara meraba dan memegang. Sedangkan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakan mainannya, melempar, dan mengangkat, tuturnya menjelaskan.

    Fungsi edukatif lainnya yang terdapat dalam permainan anak adalah melatih kosentrasi, mengenalkan konsep sebab akibat, melatih

    Mendorong kreativitas anak lewat mainan berkualitas

    Berawal dari keinginan memberikan mainan yang aman dan edukatif bagi buah hatinya, Rita Indriana memutuskan untuk membuatnya sendiri. tak disangka, hasil kreasinya kini telah dimainkan oleh anak-anak Indonesia.

    abc Toys

    kemampuan bahasa dan wawasan, serta mengenalkan warna dan bentuk. Di samping itu, Rita juga menyebutkan, syarat pembuatan mainan anak harus aman dengan pengunaan cat nontoxic, bahan dasarnya yang rapi, dan tidak tajam. Untuk mainan kayu, kami gunakan kayu pinus dan mahoni. Desain 90 persen kami tangani sendiri, selebihnya dikembangkan dari permintaan konsumen. Selain itu, kami juga meminta masukan psikolog UGM dan terapis autistik, ujarnya.

    Tak heran, ibu dua anak ini berani mengklaim mainan yang diproduksi ABC Toys mempunyai kemanfaatan tersendiri bagi anak berkebutuhan khusus. Produk kami telah banyak dipesan oleh terapi autis ataupun sekolah luar biasa, tegasnya. Diharapkan, anak berkebutuhan khusus bisa juga bermain sambil belajar seperti anak-anak pada umumnya. Namun demikian, anak berkebutuhan khusus harus banyak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

    Kemudian Rita menceritakan, dengan modal awal Rp25 juta, kini ABC Toys telah mampu produksi sebanyak 500 buah mainan setiap bulannya. Bahkan, omzetnya mencapai Rp30 juta perbulan dari penjualan berbagai jenis mainan yang dibandrol harga berkisar Rp20-90 ribu. Menjelang tahun ajaran baru adalah musim ketika permintaan mainan anak meningkat, tegasnya seraya berharap kedepannya ABC Toys dapat memproduksi mainan anak yang memiliki corak tradisional atau khas budaya Indonesia.

    Hebatnya, lulusan Sarjana Ekonomi ini telah berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan sedikitnya untuk 10 orang. Saya dibantu oleh suami saya yang kebetulan guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Selain itu dua karyawan kami adalah lulusan SLB, ujarnya mengungkapkan. Pekerjaan yang dilakukan mereka di antaranya menggergaji kayu dan bagian pengecatan. Sementara, pekerja lainnya bertugas mengukur dan mendesain mainan. Ibu-ibu sekitar tempat usahanya yang berada di Gedongkiwo Mantrijeron Yogyakarta pun tak ketinggalan ikut dilibatkan dalam proses pengamplasan.

    Mengenai penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No.24 Tahun 2013 tentang Pemberlakukan SNI Mainan Anak, Rita mengaku merasa terkendala dalam proses kelengkapan perizinan usaha. Di sisi lain, adanya pemberlakuan MEA pada 2015, Rita justru menyatakan kesiapannya bertarung dengan produsen mainan anak dari luar negeri. Produk kami cukup memiliki daya saing dengan produk luar negeri, makanya kami ingin sekali pengurusan izin SNI dapat dipermudah, tegasnya. Sejak 2012, merek dagang ABC Toys sudah dipatenkan di Dirjen HAKI.

    Sementara itu, menurut Dirjen IKM Euis Saedah, pelaku industri kecil dan menengah mainan anak harus siap untuk menerapkan SNI. Apalagi implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN hanya tinggal beberapa bulan lagi. Mainan anak menjadi salah satu produk yang wajib bagi IKM memiliki SNI selain helm dan pakaian bayi.

    Penerapan SNI bagi produk tersebut untuk melindungi kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan masyarakat dalam aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan hidup. Selain itu juga bertujuan untuk efisiensi industri dalam negeri sehingga mempunyai daya saing yang kuat di pasar dalam maupun luar negeri. Kementerian Perindustrian telah menunjuk beberapa balai dan perusahaan untuk membantu para pelaku IKM mengurus sertifikasi SNI. Salah satunya PT Superintending Company of Indonesia (Sucofindo).

    Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah IKM hingga 2013 mencapai 3,4 juta unit dan mampu menyerap 9,7 juta tenaga kerja. Dari jumlah itu, investasi tercatat sebanyak Rp 284 triliun dengan nilai ekspor sebesar US$ 18,6 miliar atau 10,19 persen dari total ekspor industri non-migas. Ini menunjukkan bahwa IKM memiliki peran penting bagi pertumbuhan industri nasional.

    MAde in indonesiA

  • 45Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Starting from the desire to provide safe and educative toys for her baby, Rita Indriana decided to make the toys by herself. Unexpectedly, her products creation has now been played by Indonesian children.

    Stimulate children creativity through quality toys

    Through PT. Anak Bangsa Cerdas (ABC) Toys established in May 14, 2003, she has created a vision of realizing the smart Indonesian children through educative toys.

    Rita explained the educative toys should be able to stimulate the childrens cognitive. Therefore, the products of ABC Toys have a variety of functions that are beneficial to the growth of children, including to train the childrens motoric capability both fine and rough. We produce toys to stimulate the fine motoric capability such as toy beams that are played by means of fingered and holds. While to stimulate the rough motoric capability, it can be practiced by moving, throwing, and lifting the toys, she explained.

    Other educative functions of the toys include to train the children concentration, to introduce the concept of cause and effect relationship, to practice the language and insight, as well as to introduce colors and shapes. In addition, Rita also mentioned that the production process of toys is absolutely safe for children by using non-toxic paints, neat and not sharp materials. For wooden toys, we use pine and mahogany. In terms of design, we handle about 90 percent of it, and the rest depends on consumer demand. In addition, we have also established the partnership with the Faculty of Psychology the University of Gadjah Mada Yogyakarta and autism therapyst to obtain inputs, she said.

    It is not surprising that she, the mother of two children, claimed the products of ABC Toys possess certain benefits for children with special needs. Our products have been widely ordered by autism therapy or special school for disabled, she said. It is expected, the children with special needs can also play while studying like children in general. However, the children with special needs should get a lot of attention and affection from their parents.

    She also explained, with an initial capital of Rp25 million, ABC Toys has now been able to produce about 500 toys every month. Even, its turnover reached Rp30 million per month from the sale of various types of toys with the price ranging from 20-90 thousand rupiah per toy. Approaching the new school year is the season in which the demand for childrens toys increases, she said while expecting that in the near future ABC Toys can produce toys with traditional style or typical culture of Indonesian.

    Amazingly, this women with Bachelor of Economics title has contributed to provide jobs at least for 10 people. I am supported by my husband who is incidentally a teacher of a School for disabled, moreover two of our workers are graduated form my husbands School, she explained. The work carried out by them are sawing woods and paintings. Meanwhile, the others are in charge in the process of measuring and designing toys. Some women living around the workshop located in Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta are also involved, especially for sanding process.

    Regarding to the implementation of Indonesian National Standard (SNI) following the Minister of Industry Decree No.24, 2013 on the Promulgation of SNI Toys, Rita admitted there is a constraint in the completeness of business licensing process. On the other hand, facing the enactment of AEC in 2015, Rita expressed her readiness to compete with toy producers from abroad. Our products are competitive compared to foreign products, so we expect that SNI permitting process could be made easier, she said. Since 2012, the trademark of ABC Toys has been patented in the Directorate General of HAKI.

    Meanwhile, according to the Director General of SMEs, Euis Saedah, the SMEs of children toys industry should be ready to apply the SNI. Moreover, the implementation of the ASEAN Economic Community will take place in a few months. The children toys will become one of the products that are subject to having SNI besides helmets and baby clothes.

    The implementation of SNI for these products is intended to protect the consumer interests, business players, and communities in the aspects of health, safety, security, and environmental sustainability. It is also addressed to improve the efficiency of domestic industry so that the domestic products have strong competitiveness in domestic and overseas markets. The Ministry of Industry has appointed several industrial centers and companies to assist

    SMEs to get SNI certification. One of them is PT Superintending Company of Indonesia (Sucofindo).

    Based on data from the Ministry of Industry, until 2013 the number of SMEs has reached 3.4 million units and has been able to absorb 9.7 million workers. Of that amount, the investment has been recorded at Rp284 trillion, with exports of US$18.6 billion, or 10.19 percent of the total exports of non-oil and gas industry. It shows that SMEs has a vital role to the growth of national industry.

    informasi | information ABC ToysGedongkiwo MJ I/676 Yogyakarta - DIYTelp. (0274) 376880 - 7816173Hp. 08157907451 / 081903777733

    MAde in indonesiA

  • 46 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Khusus di desa Kayu Mas, para petani kopi tetap bertahan dengan konsep pertanian organik, artinya mereka menghindari penggunaan berbagai bahan kimia dan

    pestisida dalam mengelola perkebunan kopinya, baik saat pemupukan maupun pemberantasan hama dan penyakit, serta saat pengolahan biji kopi menjadi HS (ada cangkang lunak) atau ose (biji kopi kering) sehingga baik untuk kesehatan.

    Meskipun kopi organik Kayu Mas telah lama laris di pasar negara-negara maju seperti Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat karena kualitasnya yang tinggi, namun tidak diimbangi dengan kesejahteraan para petaninya. Hal tersebut diungkapkan Didik Suryadi, pemilik Waroeng Kopi Kayu Mas sekaligus perintis Kelompok Petani Sejahtera Desa Kayu Mas ketika ditemui pada Pameran Kopi Nusantara di Kementerian Perindustrian, akhir Juni lalu.

    Dari keprihatinannya itu, Didik berinisiatif untuk memberdayakan para petani kopi desa Kayu Mas agar lebih sejahtera sekaligus memajukan perekonomian kampung halamannya. Didik mengatakan, kala itu yang menjadi kendala utama dalam pengembangan SDM para petani kopi desa Kayu Mas adalah minimnya pengetahuan, permodalan, dan teknologi. Mereka sebagian besar hanya mampu menjual hasil panen kopi langsung ke para tengkulak tanpa mengetahui bagaimana proses pengolahan kopi yang sebenarnya

    Kopinya Juara, Petaninya Sejahtera

    Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kopi terbesar tiga dunia setelah Brasil dan Vietnam. Bahkan kualitas kopi Indonesia juga diakui terbaik di dunia sehingga laku di pasar ekspor. Salah satunya yang unggul adalah kopi organik asal desa Kayu Mas, Situbondo, Jawa Timur.

    KOPERASI KOPI KAYUMAS

    bisa menambah penghasilan mereka, papar Didik. Oleh karena itu, Didik membentuk kelompok petani untuk memberikan edukasi mengenai produksi dan promosi sekaligus pelatihan mesin industri kopi yang terkini.

    Bayangkan, saat itu kami butuh modal yang sangat besar, karena mesin pengolahan kopi untuk 1 Kg saja seharga Rp40 juta-an dan kalau yang 5 Kg itu bisa di atas Rp100 juta. Bahkan, untuk mesin ekspresonya paling murah Rp50 juta, belum lagi mesin-mesin lainnya, kata Didik mengungkapkan. Dengan memiliki pengalaman di dunia perbankan, ia terus gigih membuat proposal untuk mencari pinjaman modal ke bank dan pengajuan alat-alat industri ke pemerintah.

    Pada tahun 2010, Didik mendirikan usaha dengan nama Waroeng Kopi Kayu Mas. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mempromosikan kopi organik Kayu Mas jenis arabica yang unggul di pasar ekspor.

    Seperti dikutip dari pemberitaan publiknasional.com, desa Kayu Mas sangat cocok dijadikan sentra penanaman kopi organik arabica jenis special T (special taste) karena kondisi lingkungan yang relatif terjaga dan minim dari polusi. Saat ini, komposisi tanaman kopi organik arabica di desa Kayu Mas sangat dominan, sekitar 90:10 dengan tanaman kopi robusta. Bahkan, keunggulan penanaman kopi

    arabica organik di Kayu Mas juga mendapat perhatian berbagai pihak internasional.

    Sekretaris Asosiasi Kopi Jawa Timur ini juga membuka peluang bisnis kepada masyarakat yang ingin melakukan kerjasama dengan Waroeng Kopi Kayu Mas. Hingga kini, kami sudah menjalin kerjasama dengan mensuplai produk-produk kami ke beberapa hotel dan kafe ternama di Jakarta dan kota besar lainnya. Ada enam jenis produk yang kami tawarkan, yaitu arabica, robusta, kopi lanang, luwak arabica, luwak robusta, dan yang blend. Kami juga sedang mencari model bisnis untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin franchise Waroeng Kopi Kayu Mas, ungkapnya.

    Hebatnya, Waroeng Kopi Kayu Mas menyabet berbagai penghargaan tingkat nasional, diantaranya Juara 1 Festival Kopi Indonesia tahun 2010 dan Juara 2 IKM berprestasi se-Jawa Timur tahun 2013. Bahkan, Didik juga telah menginisiasi terbentuknya koperasi di desa Kayu Mas dan kini terdapat tujuh kelompok petani sebagai anggotanya, dimana satu kelompok ada sekitar 20 orang petani yang umumnya mengelola 10 hektar perkebunan kopi. Diharapkan koperasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi produk kopi organik Kayu Mas sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani setempat.

  • 47Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    informasi | information KOPERASI KOPI KAYUMASJl. Raya Asembagus - Situbondo, Jawa Timuremail: warkop.kayumas@gmail.comHp: 081358901994

    MAde in indonesiA

    educated them about the production process and promotion as well as conducted the training about the latest coffee machineries.

    Just imagine, at that time we required a very large of capital, because for a 1 kg-coffee processing machine, it costed about Rp40 million and for 5 Kg costed more than Rp100 million. Even, for the cheapest expresso machine, it costed about Rp50 million, not to mention other machines, Didik explained. By having enough experience in the banking industry, he persistently continued to submit the proposals to seek loans to the bank and propose the machinery equipments support to the goverment.

    In 2010, Didik established a business called Waroeng Kopi Kayu Mas (Kayu Mas Coffee Shop). The first step to do was promoting Kayu Mass arabica organic coffee which have been excel in the export market.

    As quoted from the news of publiknasional.com, the Kayu Mas village is very appropriate as the farming center for special T arabica organic coffee because of the relatively stable environmental condition and also minimal pollution. Today, the composition of organic arabica coffee plants in Kayu Mas village is very dominant, around 90%, and the remaining 10% is for robusta coffee plants. Even, the excellence of the plantation of arabica organic coffee in Kayu Mas village has also got attention from various international parties.

    Didik, the Secretary of East Java Coffee

    Indonesia has been known as the third largest coffee producer in the world after Brazil and Vietnam. Even, the quality of Indonesian coffee has been recognized to be the best and highly salable in export markets. One of Indonesian prominent coffee is an organic coffee from Kayu Mas Village, Situbondo, East Java.

    The Champion Coffee, the Prosperous Farmers

    Association has also opened the business opportunity to everyone who want to do a partnership with Kayu Mas Coffee Shop. To date, we have established a partnership scheme with some famous hotels and cafes in Jakarta and other big cities to supply our products. We have six types of products to offer, namely Arabica, Robusta, Lanang coffee, luwak arabica, luwak robusta, and the blended products. We are also looking for a new business model to provide a business opportunity for overyone who want to franchise Kayu Mas Coffee Shop, he said.

    Remarkably, Kayu Mas Coffee Shop has won various awards at national level, including to be the winner in the Indonesian Coffee Festival in 2010 and the 2nd place of SME achievement of East Java Region in 2013.Even, Didik also initiated the formation of the cooperative venture in Kayu Mas village and now there are seven groups of farmers as members with about 20 farmers for each group and each member generally cultivates about 10 acres of coffee plants. It is expected that the cooperative venture can provide added value for Kayu Mas organic coffee products as well as to improve the welfare of local farmers.

    Spesific to the Kayu Mas village, the coffee farmers has been stuck with the concept of organic farming, by avoiding the use of chemicals and pesticides in growing their coffee plants, both in the process of fertilization and eradication of pests and diseases, as well as during the manufacturing process form coffee beans into HS (soft shell ) or ose (dry beans), so that it has been proven good for health.

    Although the organic coffee of Kayu Mas has long been in demand by the market of developed countries such as Japan, Europe, and the United States due to its high quality, but it has not necessarily been followed by the welfare of the farmers. It was revealed by Didik Suryadi, the owner of Kayu Mas Coffee Shop and the pioneer of Walfare Farmers Group of Kayu Mas Village, in an ocassion at the Nusantara Coffee Exhibition in the Ministry of Industry, end of June ago.

    Of his concerns, Didik has taken the initiative to empower the coffee farmers of Kayu Mas village to be more prosperous as well as to improve his hometown economy.

    Didik said that the limitation of knowledge, capital, and technology were the major constraint to be taken into account for developing the coffee farmers of Kayu Mas village. They mostly sold their coffee harvest directly to the broker without understanding the best processing technique of coffee that is able to increase their income. Therefore, he formed a group of farmers and

  • 48 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    Farl PatisserieHampir sebagian besar warga masyarakat di Jawa Barat dan daerah sekitarnya seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, dan sebagainya, mengakui bahwa, Kota Bandung menjadi daerah tujuan wisata yang sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal, yang salah satunya disebabkan karena kulinernya yang cukup dikenal.

    pada tahun 2013 lalu omzet mencapai Rp 100 juta per bulan, maka pada tahun 2014 ini diperkirakan bisa mencapai dua kali lipat dari tahun 2013, ujar Angga Herdiansyah.

    Optimisme yang diutarakan Angga Herdiansyah tadi tampaknya cukup beralasan. Sebab, meski usia perusahaan tergolong muda, tapi ketersediaan mesin/peralatan berteknologi canggih serta dukungan 27 tenaga terampil, diharapkan mampu merebut pangsa pasar kuliner yang lebih besar lagi. Apalagi, produk kuliner Farel Patisserie Caf dihadirkan ketengah-tengah konsumen, selain dengan harga yang terjangkau, juga sudah melalui riset pasar yang cukup lama.

    Hasil riset itu menyimpulkan bahwa, colenak strudel dan roti lapedo dengan resep yang mereka miliki, ternyata belum diproduksi oleh usaha kuliner lainnya di Kota Bandung. Berbekal hasil riset itulah, kami memberanikan diri membuat dan memasarkan kuliner Farel Patisserie Caf, ungkap Angga Herdiansyah. Lebih lanjut ia menegaskan, roti lapedo dan colenak strudel tidak memakai bahan pengawet, sehingga aman dikonsumsi. Karena tanpa bahan pengawet, tambahnya, roti lapedo dan colenak strudel memiliki daya tahan tidak lebih dari 5 hari. Menyinggung rencana pengembangan usaha ke depan, ia mengatakan masih ingin memperkuat pemasaran dengan menambah dua atau tiga outlet di Kota Bandung.

    Tidak saja rasanya yang enak dan khas, tetapi juga variasi atau keragaman jenis panganan yang tidak terbilang jumlahnya, disamping harga yang terjangkau. Setiap

    hari barangkali muncul panganan baru yang khas dengan resep-resep baru yang tergolong istimewa.

    Kemunculan panganan baru dengan resep baru boleh dibilang waktunya sangat dekat. Mungkin dalam hitungan tidak lebih dari tujuh hari, sudah bisa dipastikan muncul panganan baru yang umumnya langsung digemari konsumennya. Kondisi seperti itu mengindikasikan bahwa masyarakat Kota Bandung tergolong kreatif dan inovatif dalam menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis. Selain kuliner, masyarakat kota Bandung juga gemar memunculkan produk-produk industri yang sangat disukai konsumennya, terutama pembeli asal Jakarta. Karena itu, tidaklah mengherankan bila musim libur tiba, Kota Bandung diserbu calon pembeli terutama asal Jakarta. Kemacetan lalu lintas yang panjang merupakan pemandangan yang lumrah terjadi ketika turis lokal asal kota-kota diseputar Bandung, berkunjung untuk berbelanja.

    Diantara sekian banyak pengusaha kuliner di Kota Bandung, terdapat seorang pengusaha baru, Angga Herdiansyah, dengan bendera usaha Farel Patisserie Caf yang memproduksi makanan khas (kue/cake). Dari bengkel kerja sekaligus outlet-nya di Jalan Terusan Buah Batu Nomor 259, Bandung, Farel Patisserie Caf menawarkan kepada konsumennya makanan andalan berupa Colenak Strudel dan Roti Lapedo.

    Menjawab pertanyaan apakah Colenak (dicocol enak) merupakan makanan yang terbilang baru,

    Angga Herdiansyah mengaku produk lama yang bahan bakunya dari tape singkong. Dibilang baru, tambah Angga Herdiansyah, karena colenak tadi dikombinasi dengan strudel atau pastry, sehingga menghasilkan cita rasa yang begitu tinggi. Sementar itu, roti lapedo adalah sejenis roti yang biasa dikonsumsi warga asing, namun dengan rasa yang berbeda. Lapedo saat ini sangat laku di pasaran, karena rasanya yang nikmat dan gurih. Resep roti lapedo yang unik didapat pada saat paman bekerja di Hotel Jumeria, Dubai, Uni Emirat Arab, pada tahun 2008, ujar Angga Herdiansyah kepada reporter Majalah KINA ketika ditemui di Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2014 yang digelar di Bandung belum lama ini. Dia menambahkan, usaha roti dan kue Farel Patisserie Caf, didirikan pada 10 Nopember 2012 setelah paman kembali ke Indonesia dari Dubai, Uni Emirat Arab. Praktis usaha kami berjalan baru setahun lebih dengan memproduksi colenak Strudel dan roti lapedo sebagai unggulan, ujar Angga Herdiansyah dengan wajah sumringah.

    Menyinggung persoalan bahan baku dan produksi, Angga Herdiansyah mengatakan, sebagian besar bahan baku diperoleh di dalam negeri kecuali butter dan cream yang masih diimpor. Sedangkan produksi, lanjutnya, Farel Patisserie Caf, mampu memproduksi roti lapedo diatas 50 boks per hari dan colenak strudel juga diatas 50 boks per hari. Meski baru seumur jagung, namun omzet penjualan Farel Patisserie Caf menunjukkan perkembangan yang lumayan. Kalau

  • 49Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    MAde in indonesiA

    informasi | information FARREL PATTISERIE Jl. Terusan Buah Batu No. 259, Bandung - Indonesia+62 22 87526336, +62 22 87770422http://farelpatisseriecafe.com/

    Not only because of the tastes that are delicious and unique, but also the variety or diversity of types of food that are not spelled out in number along with affordable prices. Every day some new and unique comestibles might be offered with new recipes that are quite special.

    The emergence of new kind of food with new recipes does take a very short time. Maybe within no more than seven days, a new kind of food or comestible will generally emerge and be directly favored by customers. Such condition indicates that the people of Bandung can be classified as creative and innovative in producing the product having economic value. In addition to the culinary, the people of Bandung have often manufactured the product of industry highly favored by the customers, especially the buyers from Jakarta. Therefore, it is not surprising when the holiday season comes, the city of Bandung is flooded by prospective buyers mainly from Jakarta. Long traffic jams are a common sight occured when local tourists from the cities around Bandung visit to the city to go shopping.

    Among the many culinary entrepreneurs in the city of Bandung, there is a new entrepreneur namely Angga Herdiansyah, with the flag of the business called Farel Patisserie Caf producing typical foods (pastry/cake). From his workshop at once as its outlet located in Jalan Terusan Buah Batu No. 259, Bandung, it offers its mainstay comestible to customers that is colenak Strudel and Lapedo Bread.

    Answering the question whether the colenak (meaning delicious when dipped) is classified as

    a relatively new kind of food, he argued that it is actually an old food with raw materials from fermented cassava. To be said as a new product, added Angga, because colenak is further combined with strudel or paste, resulting a high level of taste. Meanwhile, Lapedo bread is a type of bread commonly consumed by foreigners, but with a different flavor. Lapedo bread is currently very saleable in the market, due to its delicious and savory taste. The unique recipe of lapedo bread was obtained when my uncle worked at Jumeria Hotel, Dubai, United of Arab Emirates in 2008, explained Angga to Kina Magazine reporters when interviewed at Indonesia Product Expo (IPE) 2014 held in Bandung recently. He added that the business of bread and comestibles of Farel Patisserie Caf was founded on 10 November 2012 after my uncle returned to Indonesia from Dubai, United of Arab Emirates. Practically my business has just run for more than a year by producing strudle colenak and lapedo bread as the main products, explained Angga with a happy face.

    In terms of raw materials and production process, he said that most of raw materials can be supplied domestically, except butter and cream that are still to be imported. While the production capacity, he continued, Farel Patisserie Caf is able to produce the lapedo bread of more than 50 boxes per day and also more than 50 boxes of strudel colenak per day. Although still a new in the business, yet sales turnover of Farel Patisserie Caf has shown a considerable progress. If in 2013 the turnover reached Rp. 100 million per month, then in 2014 the

    sales turnover is estimated to be nearly doubled from that of 2013, said Angga.

    The optimism expressed by Angga seems to be reasonable. Because, although the age of the company is still very young, but the availability of sophisticated and advanced of machines/equipments and supported by 27 skilled workers, is expected to be able to capture the grater market share of culinary business. Moreover, the culinary products of Farel Patisserie Caf are sold to customers with affordable prices along with a considerable market research.

    The research analysis concluded that strudel colenak and lapedo bread with their specific recipes has not been produced by other culinary businesses in the city of Bandung. Armed with the research analysis, we are quite confident to make and market the culinary product of Farel Patisserie Caf, explained Angga. Furthermore, he assure that lapedo bread and strudel colenak do not use preservatives, so the are safe for consumption. Without using preservatives, he added, lapedo bread and strudel colenak have the durability no more than 5 days to be consumed. In terms of the future business development plan, he argued that he still needs to strengthen his marketing effort by adding two or three outlets in Bandung.

    Most of the residents of West Java and its surrounding areas such as Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, and so on, have acknowledged that Bandung city has become the main tourist destination especially for local travelers, one of which is due to its well-known culinary city.

  • 50 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    teknologi

    Jika berhasil, produksi mobil nasional ini akan menjadi trend setter bagi pengembangan mobil rendah emisi guna mendukung program low carbon emission project (LCEP)

    Untuk mendukung terlaksananya produksi mobil listrik secara massal, PT LEN Industri telah memberikan kontribusinya berupa pembuatan alat yang berfungsi sebagai inverter atau pengubah tenaga pada mobil listrik.

    Adapun cara kerja alat tersebut adalah mengkonversi energi atau arus DC (direct current) yang ada di dalam baterai menjadi energi atau arus AC (alternating current) yang digunakan sebagai motor listrik pada mobil bertenaga listrik.

    Alat ini juga berfungsi untuk mengatur torsi motor pada mobil listrik, kata Arinata Fatchun, tenaga ahli pada PT LEN Industri.

    Produk inverter itu memiliki kemampuan untuk mengkonversi energi DC menjadi energi AC sebanyak 75 kilowatt atau 75 tenaga kuda (horse power).

    Kegiatan konversi energi langsung berjalan begitu pengemudi mobil listrik menginjak pedal gas mobil, ujarnya.

    Alat ini juga memiliki keunggulan berupa pemberian tanda peringatan kepada pengemudi mobil listrik jika energi listrik yang ada pada kendaraan tersebut sudah mau habis.

    Alarm atau pemberitahuan tersebut akan muncul jika energi listrik yang ada pada mobil tersebut tinggal 20% ke bawah, tutur Arinata.

    Menurutnya, alat inverter itu dirancang selama dua tahun oleh para ahli di LEN Industri dengan menyerap teknologi yang telah ada dan menggabungkannya dengan teknologi baru yang ditemukan BUMN itu.

    Setelah dua tahun dirancang, maka alat inverter itu mulai diproduksi untuk diuji di pabrik kami, ujar Arinata.

    Walaupun masih dalam tahap pengujian, namun kemampuan LEN untuk memproduksi alat tersebut melalui proses perancangan selama dua tahun, patut diapresiasi. Pasalnya, di banyak negara, dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun lebih untuk meneliti, merancang dan memproduksi alat konversi energi pada mobil litrik .

    Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak (BBM) dan pengurangan emisi karbon, pemerintah saat ini terus menggalakkan proyek mobil listrik. Rencananya, pada tahun 2014 ini, mobil listrik bisa diproduksi secara massal di dalam negeri.

    Alat Konversi Energi pada Mobil Listrik Buatan LEN

    Mengenai komponen yang ada pada produk inverter yang dihasilkan LEN Industri, Arinata menjelaskan kalau sebagian software yang ada pada alat tersebut didesain sendiri oleh pihak LEN. Panel dan rekayasanya juga dibuat di dalam negeri, ucapnya.

    Namun untuk chip atau komponen hardware, diakui kalau pihak LEN masih harus mendatangkannya dari luar negeri karena belum adanya produsen di dalam negeri yang menjual komponen tersebut di pasar lokal.

    Menurut Arinata, sebenarnya ada sejumlah produsen di dalam negeri yang memproduksi beberapa chip atau komponen yang dibutuhkan dalam pembuatan produk inverter tersebut, namun sayangnya, produk komponen tersebut hanya ditujukan untuk ekspor atau pesanan pihak asing. Dengan begitu, untuk mendapatkannya, kita harus beli di luar negeri, paparnya.

    Pihak LEN Industri berharap kegiatan pengujian produk inverter tidak berlangsung lama sehingga dalam waktu dekat alat yang berfungsi mengkonversi energi DC menjadi energi AC pada mobil listrik bisa diproduksi secara massal di dalam negeri.

  • 51Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    teknologi

    Energy Conversion Device for Electric-powered Cars Manufactrured by PT LEN Industry

    In efforts to reduce the dependence on fuel oil and the reduction of carbon emissions, the government has continued to promote the electric-powered car projects. In its plan, in 2014 the mass production of electric-powered cars is expected to be realized in the country.

    If it succeeds, this national electric-powered car product is expected to be a trend setter for the development of low-emission cars to support the program of low carbon emission project (LCEP).

    To support the implementation of mass production of electric-powered cars, PT LEN Industry (a state-owned Company) has contributed in producing inverter device or power converter of electric-powered cars.

    The working process of invertor is to convert DC (direct current) energy stored in the batteries into AC (alternating current) energy which is used as electric motor on electric-powered cars.

    The inverter also functions to regulate the motor torque in electric-powered cars, said Arinata Fatchun, an expert at PT LEN Industry.

    The inverter device of PT LEN has the capacity to convert DC energy into AC energy as much as 75 kilowatts or 75 HP (Horse Power).

    Energy conversion activity runs as the driver steps the electric-powered car accelerator (car

    pedal), he said. This device has also the advantage by sending an

    allert to the driver when the electrical energy stored is going to run out.

    Allert will appear as the electrical energy stored in the car leaving 20% downward, said him.

    According to him, this inverter is designed within two years by PT LEN Industry experts, by using the existing technology combined with the new technology found by PT LEN Industry itself.

    After spending two years to make complete design, this inverter device is ready to be manufactured for testing in our factory, added Arinata.

    Although it is still in testing phase, but the capability of PT LEN to manufacture the device through two years of designing process should be appreciated. Because, in many countries it takes about 10 years to doing research, designing, and producing an energy conversion device for an electric-powered car.

    Regarding the components of inverter produced

    by PT LEN Industry, he explained that most of the software installed is designed by the PT LEN itself. The panel is also manufactured in the country, he said.

    But for chips or hardware components, he admitted that they are still imported since there is no domestic manufacturer selling required chips and hardware components in domestic market.

    According to him, there are actually a number of manufacturers in the country producing chips or components needed by PT LEN to its inverter product, but unfortunately, these chip and component products are only marketed for export or for foreign orders. That is why, to get them we have to buy from abroad, he explained.

    PT LEN Industry expects that the testing phase for its inverter product does not take too much time so that this device that converts DC energy into AC energy used for electric-powered cars can be mass-produced in the country soon.

    informasi | information PT LEN Industri (Persero)Jalan Soekarno-Hatta 442 Bandung, 40254 IndonesiaTelp 62 22 5002682 Fax 62 22 5202695Web : www. len.co.idEmail :marketing@len.co.id

  • 52 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    teknologi

    Sejumlah negara maju telah memanfaatkan potensi energi yang ditimbulkan dari gelombang laut sebagai sumber listrik. Gelombang laut tak berbeda dengan

    matahari dan angin yang tak akan pernah habis.Di Indonesia sendiri, teknologi pembangkit listrik

    tenaga gelombang laut sudah mulai diterapkan oleh sejumlah pihak. Berbagai alat atau teknologi juga terus dimunculkan. Salah satunya adalah teknologi yang ditawarkan oleh Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia (UKI).

    Mahasiswa dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik UKI telah meluncurkan alat atau teknologi yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL).

    Menurut Patar Haposan, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan Mesin UKI, alat yang mereka buat bertujuan untuk memanfaatkan naik turunnya permukaan air yang disebabkan oleh gelombang laut dan energi gelombang laut itu akan dikonversi ke energi listrik.

    Adapun teknologi yang dikembangkan adalah teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Tipe Apung Dengan Sistem Massa Pegas. Sesuai namanya, alat ini cukup diapungkan di tengah laut atau dipasang di tepi pantai.

    Patar Haposan menjelaskan, alasan pemilihan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Tipe Apung antara lain dikarenakan pembuatan pembangkit listrik jenis itu akan cenderung lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gelombang yang dibangun permanen dilaut.

    Teknologi ini juga lebih fleksibel dan mudah perawatan dan dapat dirancang dalam keadaan gelombang tinggi dan rendah, katanya

    Metode kerja pembangkit listrik tenaga gelombang laut tipe apung dengan sistem massa pegas itu adalah perputaran roda gigi yang digerakkan oleh bandulan atau pelampung ban karet yang dibebani besi yang mengapung di permukaan laut. Perputaran roda gigi itu nantinya akan diteruskan ke generator untuk menghasilkan listrik.

    Cara kerjanya, saat permukaan laut naik, rantai bergerak naik karena tarikan pegas dan pelampung. roda gigi atas akan berputar dan menggerakkan puli dan putaran puli akan diteruskan ke generator yang

    Indonesia merupakan negara dengan wilayah laut yang sangat luas. Keberadaan laut yang luas dengan tinggi gelombang yang beragam itu memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.

    Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Tipe Apung

    akan menghasilkan listrik.Sementara saat permukaan air turun rantai

    bergerak turun karena gaya berat bandul lebih besar dari gaya pegas. Pada kondisi itu, roda gigi bawah akan berputar dan menggerakkan puli dan putaran puli akan diteruskan ke generator untuk menghasilkan listrik.

    Menurut Patar Haposan, besar kecilnya tenaga listrik yang dihasilkan bergantung gerakan gelombang laut yang muncul. Semakin tinggi dan semakin cepat datangnya gelombang laut, maka semakin besar pula tenaga listrik yang dihasilkan.

    Teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut yang dibuat mahasiswa UKI itu saat ini masih terus mengalami evaluasi untuk mendapatkan perbaikan-perbaikan.

    Walaupun begitu, teknologi tersebut saat ini sudah mulai diminati oleh pemerintah daerah. Misalnya saja pemerintah DKI Jakarta yang berminat menerapkan teknologi tersebut untuk lampu pemandu kapal di kawasan laut yang berbahaya yang ada di wilayah DKI Jakarta.

  • 53Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    teknologi

    Sea Wave Power Plants with Floating TypeIndonesia is a country with very large sea areas. The existence of vast seas with varying wave hight has a great potential to be utilized as an energy source.

    A number of developed countries have utilized the potential of energy generated by sea wave as an electricity source. The sea wave is not different with the sun and wind that will never run out.

    In Indonesia, the technology of sea wave power plant has begun to be applied by a number of parties. A variety of devices and technologies have also been intruduced. One of them is the technology offered by the Faculty of Engineering, the University of Kristen Indonesia (UKI).

    The students of Mechanical Engineering, The Faculty of Engineering, UKI have launched a device or technology that can be used for sea wave power plant.

    According to Patar Haposan, the secretary of student association of mechanical engineering, UKI, their device is designed to utilize the energy caused by the rise and fall of the water level of ocean waves, and to be further converted into electrical energy.

    The technology being developed is the Sea Wave Power Plant with Floating Type by using Mass Spring System. As the name implies, this device is simply floated in the middle of the sea or near the beach.

    He explained that the reason to choose Sea Wave Power Plants with Floating Type, among others, due to the cheaper price to produce this type of device compared to the Sea Wave Power Plant built permanently in the sea.

    In addition, this technology is more flexible and easier to be maintained. It can also be designed in the condition of high and low waves, he said

    The working process of this device is the rotation of gear that is driven by a pendulum or a rubber tire buoy with its iron ballast that floats on the surface of the sea. The rotation of the gear is then transferred to a generator to produce electricity.

    How it does work, when the sea water level rises, the chain moves up due to the pull of the spring and buoy. Then top gear will rotate and drive the pulley and the pulley rotation will be transferred to a generator to produce electricity.

    Meanwhile, when the sea water level goes down, the chain moves down due to gravity pendulum is greater than the spring force. In that condition, the gears will rotate and drive the pulley and the pulley

    rotation will be transferred to a generator to produce electricity.

    According to Haposan, the size of the electric power produced depends on the frequent and size of sea wave arrival. The higher and faster of the arrival of sea wave, the greater the power generated.

    The technology of sea wave power plant produced by the students of UKI recently still continues to be evaluated for improvements.

    However, this technology has been starting to be ordered by local governments. For example, the DKI Jakarta government is now interested in using this technology for ships guiding light in dangerous sea areas within Jakarta territory.

    informasi | information Fakultas Teknik Universitas Kristen IndonesiaJalan Mayjen Sutoyo Cawang, JakartaTelp 021 8009190 8092425 pes 258Fax 021 8094074Email : ft-uki@uki.ac.idWebsite: www.uki.ac.id

  • 54 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    ADE SUDRAjATS

    ubsektor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu industri unggulan Indonesia yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Sebab, industri TPT

    mampu memberikan kontribusi nilai ekspor non migas yang cukup besar, memenuhi kebutuhan sandang di dalam negeri serta menyediakan lapangan kerja yang cukup banyak bagi masyarakat.

    Namun demikian, pertumbuhan ekspor TPT Indonesia dalam tahun-tahun belakangan ini, khususnya setelah maraknya globalisasi dan liberalisasi, justru terus mengalami perlambatan. Kondisi ini membuat produk industri TPT Indonesia semakin tersisih dari percaturan pasar TPT global dan pasarnya sedikit demi sedikit diambil alih negara lain seperti Vietnam. Sementara itu, pasar TPT di dalam negeri semakin diserbu produk TPT dari negara lain.

    Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan sebetulnya potensi pasar produk TPT Indonesia, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor sangatlah besar. Namun potensi tinggallah potensi kalau tidak diikuti dengan upaya yang keras dan sungguh-sungguh dalam mengamankan pasar domestik serta membangun dan menembus pasar global.

    Menurut Ade, Vietnam pada tahun 2000 ketika rejim kuota masih berlaku merupakan eksportir garmen nomor 82 ke AS, sedangkan Indonesia ketika itu sudah menjadi negara pengekspor nomor 4. Dengan agresifitasnya dalam membangun perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan AS, pada tahun 2013 lalu ekspor TPT Vietnam sudah melampaui Indonesia dengan menjadi eksportir TPT terbesar ke-2 setelah China dengan nilai ekspor hampir US$ 20 miliar. Pada tahun yang sama ekspor TPT Indonesia ke pasar dunia hanya mencapai US$ 13 miliar dari total nilai pasar TPT dunia sekitar US$ 711 miliar. Dengan demikian pangsa pasar TPT Indonesia di pasar global masih relatif sangat kecil, yaitu hanya sekitar 1,82%, sedangkan Vietnam 2,81%.

    Kondisi itu bisa dicapai Vietnam karena Vietnam sangat aktif menjalin FTA dengan AS yang disebut dengan TPP (Trans Pacific Partnership) dan dengan UE melalui Economic Cooperation Partnership (ECP). Manfaatnya adalah bea masuk produk-produk industri Vietnam termasuk TPT lebih rendah dari bea masuk produk-produk industri Indonesia. Ini tentu membuat produk-produk industri Vietnam memiliki daya saing lebih tinggi ketimbang produk-produk industri Indonesia karena Indonesia tidak ikut bergabung dalam

    JALIN FTA DENGAN AS DAN UE, TERAPKAN SAFEGUARD DAN ANTI DUMPING

    opini

    pakta ekonomi tersebut. Karena itulah mengapa Vietnam dalam kurun

    waktu 13 tahun mampu menyalip Indonesia dan menjelma menjadi salah satu eksportir TPT besar di dunia. Sedangkan Indonesia sampai saat ini masih terus menahan diri untuk tidak bergabung baik dalam TPP maupun ECP, saya tidak tahu apa sebabnya, tutur Ade.

    Menurut Ade, Indonesia kurang pandai memanfaatkan fenomena globalisasi dan liberalisasi. Hal ini berbeda dengan negara-negara baru industri TPT seperti Vietnam yang sangat aktif dan agresif dalam menyikapi fenomena tersebut. Vietnam menjalin FTA dengan berbagai negara mitra dagangnya, sedangkan Indonesia hanya menjalin FTA dengan China dan Jepang, dan setelah itu terjebak dalam perasaan trauma dan ketakutan.

    Ada semacam fobia (ketakutan) dan trauma untuk menjalin FTA dengan negara-negara lain di luar China seperti Amerika dan Eropa yang sebetulnya pasarnya cukup besar bagi Indonesia. Ketakutan ini muncul karena kegagalan atau kesalahan dalam menilai ketika akan menjalin FTA dengan China, sehingga kemudian muncul pertanyaan mengapa kita harus menjalin FTA dengan China terlebih dahulu, tutur Ade.

    Seharusnya, lanjut Ade, FTA itu didasarkan atas kepentingan nasional Indonesia, yaitu untuk membuka pasar bagi produk-produk buatan Indonesia dan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia, baik di sektor industri maupun di sektor pertanian. Selama ini pasar untuk produk industri kita umumnya adalah Eropa dan Amerika sehingga begitu FTA dengan China disepakati kita langsung kebobolan karena pasar domestik Indonesia dibanjiri produk China. Kita terkaget-kaget seolah-olah FTA itu menimbulkan dampak negatif. Padahal tidak demikian, karena FTA itu juga banyak sisi positifnya. FTA dengan Eropa dan Amerika sangat penting karena akan menaikkan ekspor kita ke kedua wilayah itu yang merupakan pasar utama produk-produk kita selama ini.

    Ade mengatakan nilai pasar TPT domestik Indonesia dewasa ini jika dihitung dalam US$ mencapai sekitar US$ 7 miliar, namun sekitar 65%-nya atau sekitar US$ 4,5 miliar sudah dikuasai oleh produk-produk impor khususnya dari China, sehingga tinggal sekitar 35% saja yang masih dikuasai produk lokal. Sebagai contoh, sejak berlakunya FTA dengan China tahun 2010, sekitar 90% produk yang diperdagangkan

    di Tanah Abang merupakan produk asing, padahal awal tahun 2000-an produk asing itu masih sedikit. Bahkan saat ini sudah banyak para pemasok produk asing itu yang sudah membuka gudang di sini.

    Karena itu, Ade menyarankan agar selain memperkuat FTA dengan AS dan UE, pemerintah juga segera menerapkan mekanisme Safeguard dan Anti Dumping begitu terjadi indikasi adanya injury terhadap industri nasional akibat serbuan produk impor. Untuk industri TPT kondisi pasar domestik sudah cukup gawat sehingga pemerintah perlu menerapkan quick response dengan menerapkan Safeguard dan Anti Dumping, kalau perlu terapkan dulu Safeguard dan Anti Dumping Sementara sambil penyelidikan berjalan.

    Menurut Ade, seharusnya trauma FTA dengan China itu tidak dijadikan alasan untuk tidak melangkah ke FTA-FTA berikutnya, bahkan seharusnya itu dijadikan sebagai pelajaran berharga agar FTA-FTA berikutnya dipersiapkan secara lebih matang.

    Kalau masih lebih banyak keuntungan atau kelebihannya, mengapa kita tidak jalankan FTA tersebut. Biasanya negara-negara mitra dagang itu meminta akses pasar untuk produk-produk yang memang tidak/belum dibuat di Indonesia, demikian juga sebaliknya. Untuk perundingan-perundingan tersebut kami mengusulkan agar pemerintah menyewa tenaga ahli hukum di negara setempat yang mengerti tentang kedudukan Indonesia di negara tersebut, sehingga dia bisa menjembatani dari sisi hukumnya. Kalau tidak menggunakan ahli hukum, mungkin kita akan terjebak dalam hal-hal yang merugikan. Seorang ahli hukum akan memberikan saran-saran yang seharusnya kita tempuh dan dia bisa sekaligus melakukan lobi-lobi di negara yang bersangkutan sehingga perundingannya bisa berjalan lebih mulus, tegas Ade.

    Ade kembali menegaskan bahwa Indonesia sebaiknya ikut serta di dalam TPP dan ECP, karena akan berbeda dibandingkan FTA dengan China mengingat China bukan merupakan pasar bagi produk Indonesia. Indonesia dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat itu saling complimentary atau saling mengisi. UE dan AS akan mengisi produk-produk high tech ke pasar Indonesia dan Indonesia akan mengisi produk-produk low tech ke UE dan AS.

    Jadi akan sama-sama membangun, tokoh yang penting baik bagi Indonesia dan UE/AS adalah bagaimana menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya masing-masing, itu tujuan yang

  • 55Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    opini

    sebenarnya dari FTA itu supaya kesejahteraan baik di Indonesia maupun di negara-negara mitra itu sama-sama meningkat. Kalau dalam FTA dengan China, yang diuntungkan hanya China, dalam hal ini produk Indonesia dan produk China saling berkompetisi karena produk yang dihasilkan Indonesia dan China umumnya sama, tegas Ade.

    Faktanya, tambah Ade, produk-produk China memang memenangi kompetisi itu sehingga akhirnya lebih banyak produk China yang masuk ke Indonesia ketimbang produk Indonesia yang masuk ke China. Pola FTA yang seperti itu kurang pas diterapkan. Ini merupakan pembelajaran yang mahal bagi Indonesia. Mungkin suatu saat FTA dengan China ini akan bermanfaat bagi kita ketika China sudah meninggalkan industri low tech-nya dan beralih ke industri high tech, hanya pertanyaannya kapan ini akan terjadi. Saya kira hal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena penduduk China yang mencapai 1,3 miliar jiwa masih membutuhkan banyak lapangan kerja. Karena itu, peralihan ke industri high tech ini tidak akan terjadi dalam waktu cepat.

  • 56 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Sub-sectors of textile and product of textile (TPT) industry is one of the Indonesias flagship industry that is very significant for the national economy. It is due to the fact that TPT industry has been significantly contributing to the value of non-oil exports, fulfilling the needs of clothing for domestic market as well as providing significant jobs for the community.

    Nevertheless, the growth of export of textile and textile product in the recent years, especially following the rise of globalization and liberalization, has just experienced a slowdown trend. This condition has led Indonesias TPT products becoming outside from the global competition of TPT industry products and its market has been gradually taken over by other competing countries such as Vietnam. Meanwhile, the domestic market of TPT products has been increasingly flooded by TPT products from other countries.

    Ade Sudrajat, the Chairman of the Indonesian Textile Association (ITA), argued that the potential market of Indonesias TPT products is still very encouraging, both domestically and abroad. But its potential remains no meaning if not followed by high commitment and great efforts in securing the domestic market as well as building and penetrating in global markets.

    According to Ade, in the year 2000 when quota regime still took in place, Vietnam was at number 82 as garment exporters to the United States, while Indonesia stood at number 4. With its aggressiveness in building a free trade agreement (FTA) with the

    opini

    ADE SUDRAjATEstablishing FTAs With The US And EU, Implementing Safeguard And Anti-Dumping

  • 57Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    opini

    United States, in 2013 the textile exports of Vietnam has surpassed Indonesia to become the 2nd largest textile exporters after China with export value of nearly $ 20 billion.

    In the same year the Indonesian textile exports to the world market only reached $ 13 billion of the total value of world textile markets amounting around US $ 711 billion. Thus, the Indonesian textile market share in the global market is still very small, which is only about 1.82%, while the market share of Vietnam is about 2.81%.

    The success story of Vietnam is the result of its effort to actively establishing FTAs with the United States called the TPP (Trans Pacific Partnership) and with the EU through the Economic Cooperation Partnership (ECP). The benefitsof establishing FTAs is that the impor duty of Vietnamese products including textile products is lower that import duty imposed to the products from Indonesia. It certainly leads the Vietnamese industrial products have higher competitiveness than that of Indonesian industrial products since Indonesia does not join in thattrade agreement.

    Thats why within only 13 years Vietnam has been able to overtake Indonesia and has become one of the major textile exporters in the world. While Indonesia seems still reluctant to join in both the TPP and the ECP, I do not know why, said Ade.

    According to Ade, Indonesia is not smart enough to gain benefits from the phenomenon of globalization and liberalization. Different with new exporting countries of TPT products such as Vietnam which is very active and aggressive in exploiting the phenomenon. Vietnam has established FTAs with so many trading partner countries, while Indonesia has only established FTAs with China and Japan, and then Indonesia has been trapped in trauma and fear.

    There is such a phobia (fearness) and trauma to establishing FTAs with other countries outside China as America and Europe in which they are actually to be very big markets for Indonesian exporters. The trauma arised due to the failure or mistake in taking decision prior to establish FTA with China, that was followed by the dispute of why we should establish a FTA with China in advance, said Ade.

    Logically, explained Ade, FTA should be fully based on the national interests of Indonesia, which opens up as many as possible markets for Indonesian products and provides employment for the people of Indonesia, both in industry and in agriculture sectors.

    So far, the market for Indonesia industrial products has been mainly in Europe and USA so as FTA with China was signed we were immediately conceded since domestic market has been flooded by Chinese products. We are by the reason that FTA led to negative impact. Certainly it is not the case, because FTAs tends to offer positive impact. Establishing FTAs with Europe and USA will be very strategic to increase our exports to both regions since so far they have been our main export destinations.

    Ade explained the market value of TPT products in domestic market today if calculated in US$ reaches about US$ 7 billion, but about 65% of them or about

    US$ 4.5 billion has been dominated by imported products, especially from China, leaving only about 35% for local products.

    For example, since the enactment of FTA with China in 2010, approximately 90% of the products traded in Tanah Abang was imported products, much more when compared with the value of imported products in early 2000s that was still very a little. Even, today many foreign suppliers has already opened a warehouse here.

    Therefore, he suggested that in addition to strengthening FTAs with the United States and EU, the government should immediately implement Safeguards and Anti-dumping mechanism when there is the indication of injury to the national industry due to the invasion of imported products. For TPT industry the domestic market conditions has been already in danger so the government needs to implement a quick response by applying Safeguards and Anti-dumping, if necessary, first applies Safeguards and Anti-dumping while the investigation goes.

    According to Ade, the trauma of FTA with China should not be a reason for not establishing new FTAs, even it should be used as a valuable lesson to be well-prepared in next FTAs with other countries.

    Since there are more benefits or advantages, it is better for us to establish FTAs. Usually trading partner countries will request market access for their products that are not or have not been produced in Indonesia, and vice versa.

    For these discussions we suggest the government to hire legal experts from partner country who understand the legal position of Indonesia in that country, so that they could bridge in terms of laws. If the legal experts are not involved, we might be caught up in things that are harmful. A legal expert will give necessary advices, and he could help in terms of lobbying in the country concerned so that the negotiations could run more smoothly, said Ade.

    Ade emphasized that Indonesia is better to participate in TPP and ECP, and it will be different from the existing FTA with China since China is not the market for Indonesian products.

    Indonesia, with the European Union and the United States need each other or complementary. The EU and US will fulfill high-tech products to Indonesia market and Indonesia will fulfill the low tech products to the EU and the United States.

    So they will both benefit from FTAs, especially for providing employment to promote the welfare of the people in all countries involved. FTA with China, however, it has only benefited the Chinese, in this case the Chinese products and Indonesian products competes each other because the products produced in Indonesia and China are relatively the same, said Ade.

    In fact, added Ade, Chinese products mostly win the competition and eventually more Chinese products coming into Indonesia market than vice versa. This sheme of FTA between Indonesia and China is not appropriate at all. It could be an expensive lesson for Indonesia.

    Might be someday FTA with China will benefit for us when China left its low-tech industries and switch to high-tech industries, but the question is when this will happen. I think it will not happen in the near future because with the population amounting to 1.3 billion, China still needs a lot of employment. Therefore, the transition toward the high-tech industry is not going to happen in the near future.

  • 58 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Sungguh tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak Runi Palar, seorang penari keraton kerajaan Yogyakarta, kalau dirinya kelak akan menjadi seorang ahli dalam bidang desain perhiasan perak.

    Sebab, Runi yang memiliki nama lengkap Sotjawaruni Kumala Palar, ketika masih berusia muda sama sekali tidak memiliki minat untuk menggeluti dunia desain

    perhiasan perak. Padahal Runi lahir dan dibesarkan di lingkungan industri kerajinan perak Yogyakarta dimana ayahandanya, R.S. Tjokrosoeroso (alm.), adalah seorang ahli kerajinan perak bakar dan menjadi orang Indonesia pertama yang memamerkan silverwork dan cara pembuatannya di San Francisco, Amerika Serikat (AS) selama 14 bulan pada tahun 1938.

    Namun perjalanan hidupnya justru membawa Runi ke industri kerajinan perhiasan perak yang pernah digeluti ayahandanya puluhan tahun yang lampau. Awal mula ketertarikannya terhadap industri kerajinan perhiasan perak pun tidak terlepas dari kehidupan pribadi Runi, sang penari keraton kerajaan Yogyakarta. Ceritanya diawali dengan lawatan Runi ke New York, AS pada tahun 1964 sebagai penari tarian Jawa selama enam bulan penyelenggaraan Pavilion Indonesia di kota New York.

    Secara kebetulan selama berada di New York, Runi berkenalan dengan Adriaan Palar, yang tidak lain adalah desainer interior dari Pavilion Indonesia New York. Perkenalan itu terus berlanjut menjadi hubungan asmara hingga akhirnya mereka menikah pada tahun 1967. Adriaan lah yang kemudian mendorong Runi untuk mengembangkan talentanya berkarya dalam bidang seni perancangan terapan, khususnya dunia fesyen dan perhiasan perak. Karena itu, sejak pernikahannya dengan Adriaan, Runi yang hobi mendesain busana sendiri dan pernah mengenyam bangku kuliah di Institut Tekstil Indonesia (ITT) Bandung, terus melakukan eksperimen di bidang seni perancangan hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendirikan CV RUNA di Bandung pada tahun 1976 dengan fokus bisnis dalam bidang desain, produksi perhiasan emas dan perak dengan logo RUNA Jewelry.

    Profesinya sebagai penari turut mewarnai berbagai desain perhiasan perak hasil karya Runi. Berbagai gerakan tari yang biasa disugguhkan Runi dalam berbagai tarian Jawa biasanya turut

    dituangkan Runi kedalam bentuk-bentuk rancangan perhiasan perak yang menjadi ciri khas desain ciptaannya. Karena itu tidak mengherankan apabila berbagai karya desain perhiasan perak itu juga menjadi pelampiasan Runi atas rasa rindunya terhadap seni tari Jawa yang sebelumnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Melalui media perhiasan perak itu, Runi pun seolah sedang membawakan tarian namun dalam wahana tari berupa karya desain perhiasan.

    Namun selama menjalani bisnis kerajinan perhiasan perak di Bandung, Runi merasa perkembangan bisnisnya kurang berkembang kendati lokasi usahanya berada di Bandung yang jaraknya relatif dekat dengan ibukota Jakarta. Walaupun ketika itu Runi sudah berhasil melakukan ekspor perhiasan peraknya ke berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat, namun Runi merasa eksistensinya di dalam negeri sendiri belum banyak diakui.

    Bahkan, ketika pada dekade tahun 1990-an pemerintah Indonesia bekerjasama dengan lembaga pemerintah Jepang, Jetro untuk mempromosikan produk perhiasan Indonesia di pasar Jepang, produk perhiasan perak Runi tidak terpilih untuk mengikuti program promosi tersebut. Hal ini sungguh membuat Runi penasaran dan terpacu untuk mempelajari karakteristik pasar perhiasan Jepang serta terus meningkatkan daya saing produk perhiasannya melalui berbagai inovasi dan kreasi.

    Runi memang sudah sejak lama mengincar pasar perhiasan perak Jepang yang terkenal menggiurkan namun memiliki standar kualitas yang tinggi dan ketat sehingga sangat jarang dapat ditembus pengusaha perhiasan dari Indonesia. Pernah suatu waktu Runi menitipkan produk perhiasan peraknya kepada delegasi pemerintah yang akan mengikuti pameran di Jepang, hasilnya tidak satu pun produk Runi yang laku.

    Namun secercah harapan mulai muncul ketika seorang desainer perhiasan Jepang yang terlibat dalam program kerjasama promosi Indonesia-Jepang berjalan-jalan ke Bandung dan mampir ke lokasi usaha Runi. Sang desainer ternyata mengagumi

    ApA & siApA

    desain-desain Runi dan menyarankan Runi untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan promosi perhiasan di Jepang walaupun harus dengan biaya sendiri.

    Untuk lebih mengembangkan bisnis perhiasan peraknya, langkah pertama yang diambil Runi adalah memindahkan lokasi usahanya pada tahun 2000 ke kawasan Ubud, yang terkenal sebagai salah satu pusat seni di Bali. Pada tahun yang sama Runi juga mulai mencoba menembus pasar perhiasan di Jepang dengan langsung mengikuti berbagai pameran di sana.

    Berbagai upaya tersebut ternyata membuahkan hasil dimana kalangan konsumen Jepang ternyata menyukai desain-desain perhiasan perak Runi yang lebih mengedepakan desain yang sederhana dan tidak terlalu rumit namun elegan dan terkesan modern. Kini Runi dengan CV RUNA-nya secara rutin menghabiskan waktu selama enam bulan setiap tahunnya untuk mengikuti berbagai pameran bergengsi di berbagai pusat perbelanjaan terkemuka di Jepang seperti Takashimaya, Isetan, Mitsukoshi, Matsuzakaya dan lain-lain. Tidak hanya itu, setiap tahunnya Runi juga mendapatkan fasilitas pameran gratis di kapal pesiar Cruise Ship Asuka II yang memulai pelayarannya dari kota Yokohama.

    Kalangan masyarakat berduit di Jepang umumnya telah mengenal produk perhiasan perak Runi yang di pasaran di kenal melalui dua brand utama yaitu Runa dan Runi Palar. Sejumlah keluarga kekaisaran Jepang pun termasuk kalangan putri kekairan dan pejabat tinggi pemerintahan Jepang telah menjadi pelanggan tetap Runi. Bahkan, istri Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe juga menjadi pelanggan berat Runi dan pernah bekunjung ke rumah dan museum Runa milik Runi di Ubud, Bali.

    Kini Runi dengan CV Runa-nya yang mempekerjakan 50 pegawai dan bekerja sama dengan ratusan perajin perhiasan perak di Bali, Yogyakarta dan Bandung hanya memfokuskan diri untuk menggarap pasar perhiasan Jepang. Runi menghasilkan rata-rata 25-50 desain perhiasan perak setiap bulannya. Untuk mendukung bisnis perhiasan peraknya, Runi juga mengembangkan bisnis busana berbasis batik.

    RUNI PALARPenari Keraton yang Menjadi Desainer Handal Perhiasan Perak

  • 59Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    ApA & siApA

  • 60 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Young Runi, who has the full name Sotjawaruni Kumala Palar, was not interested in the field of silver jewelry design. Though she was born and raised in the silver industry community in Yogyakarta as her father, the deceased RS Tjokrosoeroso was an expert of burned silver and became the first Indonesian introducing silverwork and its production process in San Francisco, United States (USA) for 14 months in 1938.

    But her journey of life has brought Runi to be involved in handmade silver jewelry industry that ever had been done by her father few decades ago. The beginning of her interest in handmade silver jewelry industry can not be separated from her

    personal life, as the royal palace dancer. The story began when she joined a trip to New York, USA in 1964 as Javanese dances dancer during the six months of the implementation of Indonesia Pavilion in New York City.

    Coincidentally, during she was in New York she got acquainted with Adrian, an interior designer from Indonesia Pavilion New York. The acquainted then continued into romance until eventually they decided to get married in 1967. Adrian was the one that further encouraged and motivated Runi to develop her talents in the field of applied art design, especially fashion and silver jewelry. Therefore, since the marriage with Adrian, Runi who has a

    ApA & siApA

    Runi PalaR

    A Royal Palace dancer who becomes a reliable designer of silver jewelry

    It is previously unthinkable by Runi Palar, a dancer of Yogyakarta Royal Palace, that she finally becomes an expert of silver jewelry designs.

  • 61Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    hobby to make her own design on her clothes and ever studied in Indonesian Textile Institute (ITT) Bandung, continued to conduct experiments in art design until finally she decided to established CV Runa in Bandung 1976 focusing in the business of design and production of gold and silver jewelry with RUNA Jewelry logos.

    Her profession as a dancer also coloured the various designs of Runis silver jewelry works. The variety of dance movements commonly demostrated by Runi in various Javanese dance have also been poured into the forms of silver jewelry design characterizing the design of her creation. Therefore, it is not surprising that her various silver jewelry design work has become her longing impingement

    ApA & siApA

    over the art of Javanese dance that previously had been inseparable part of her life. Through the medium of the silver jewelry, she feels as if she was dancing but through dance vehicle in the form of jewelry design work.

    But during she run handmade silver jewelry business in Bandung, she felt her business development was not good enough though the business was located in Bandung that was relatively close to the Capital City of Jakarta. Although at that time she had already successfully exported silver jewelery to various countries of Europe and the United States, but she considered that her existence in home country has not been recognized yet.

  • 62 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Even, when the Indonesian government collaborated with the Japanese government agencies, Jetro to promote Indonesian products in the Japanese market jewelry in 1990s, the silver jewelry products of Runi was not chosen to participate in the promotion program. This really led Runi to be curious and was motivated to learn the characteristics of the Japanese jewelry market and continued to improve the competitiveness of jewelry products through a variety of innovations and creations.

    Runi actually has long targetted the Japanese market silver jewelry that is considerably attractive but demands the high standard quality and tight so that it is not easy for Indonesian jewelry to compete. Once upon a time Runi asked for help to the

    government delegates who attended the exhibition in Japan to introduce and sell her product but the result was none to buy.

    But a glimmer of hope began to emerge as a Japanese jewelery designer involved in the promotian co-operation program between Indonesia and Japan trevelled to Bandung and stopped by at Runi workshop. The designer turned out to be interested to Runis designs and suggested her to participate in promotional activities in Japan despite she had to finance by herself.

    To further develop her silver jewelry business, the first step taken in 2000 was to move the location of her business to Ubud area, which is known as one of the art centers in Bali. In the same year she also tried to penetrate the Japanese jewelery market by directly participated in.

    These efforts turned out to benefit since Japanese consumers apparently have favored Runis silver jewelry designs emphasizing more on simple design,

    not too complicated yet elegant and modern look. Now Runi with her CV Runa routinely has spent about six months of each year to participate in various prestigious exhibitions at leading shopping malls in Japan such as Takashimaya, Isetan, Mitsukoshi, Matsuzakaya and others. Besides, each year she also gets free exhibition facilities at Asuka II Cruise Ship with sailing departure from Yokohama city.

    The high class society in Japan generally have known Runis silver jewelry products in the market through two major brands namely Runa and Runi Palar. A number of the Japanese imperial family including the daughter of Japanese imperial as well as some high government officials of Japan have become Runis regular customers. Even, the wife of the Prime Minister of Japan, Shinzo Abe has also become the fanatic customer and ever visited to the house and museum of Runi in Ubud, Bali.

    Now Runi with her CV Runa employing 50 workers and partnering with hundreds of silver jewelry artisans in Bali, Yogyakarta and Bandung has focused on fulfilling the Japanese jewelery market. She has produced an average of 25-50 silver jewelry designs every month. To support her silver jewelry business, Runi has also developed batik-based fashion business.

    ApA & siApA

  • ApA & siApA

  • KEMENTERIAN PERINDUSTRIANwww.kemenperin.go.id

    KreasiBatikNusantara

    issn: 2303204