Infeksi Pada Susunan Saraf

  • Published on
    09-Jul-2016

  • View
    4

  • Download
    0

Transcript

Slide 1

Infeksi pada Susunan SarafHenny Tannady Tan11-2009-049Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit SarafRS Bhakti YudhaFakultas Kedokteran UKRIDA

Definisi dan Klasifikasi- Invasi dan multiplikasi kuman di dalam susunan saraf

Menurut organ : Radang saraf tepi : neuritisMeninges : meningitisMedulla spinalis : mielitisOtak : ensefalitis Menurut jenis kuman :Infeksi viralInfeksi bakteriInfeksi spiroketaInfeksi fungusInfeksi protozoaInfeksi metazoaInfeksi Virus pada Susunan Saraf

Meningitis ViralEnterovirusesArbovirusesCacarVirus keluarga herpes: HSV-1, HSV-2, VZV, EBV, CMV, dan herpes virus manusia 6 secara kolektif menyebabkan sekitar 4% kasus meningitis viral, dengan HSV-2 menjadi penyerang terbanyak.Lymphocytic choriomeningitis virus: LCMV masuk k edalam keluarga arenaviruses. Campak

Kebanyakan pasien melaporkan demam, sakit kepala, iritabilitasm nausea, muntah, kaku leher, atau kelelahan dalam 18-36 jam sebelumnya

Nyeri kepala hampir selalu ada

muntah, diare, batuk dan mialgia

kenaikan temperature

prodromal viral nonspesifik, seperti mialgia, gejala seperti flu, dan demam derajat rendah yang timbul selama gejala neurologis sekitar 48 jam. Dengan onset kaku kuduk dan nyeri kepala, demam biasanya kembali.Bagian yang penting dari riwayat adalah penggunaan antibiotic sebelumnya, dimana dapat mempengaruhi gambaran klinis meningitis bakterial.

FisikDemam lebih sering biasanya bervariasi antara 38C and 40C.Rigiditas nuchal atau tanda lain dari iritasi meningea (tanda Brudzinski atau Kernig)Iritabilitas, disorientasi, dan perubahan status mental dapat terlihat.Nyeri kepala lebih sering dan berat.PhotophobiaKejang timbul pada keadaaan biasanya dari demam

Tanda lain dari infeksi viral spesifik dapat membantu dalam diagnosis. Hal ini meliputi faringitis dan pleurodynia pada infeksi enteroviral, manifestasi kulit seperti erupsi zoster pada VZV, ruam maculopapular dari campak dan enterovirus, erupsi vesicular oleh herpes simpleks, dan herpangina pada infeksi coxsackie virus. Infeksi Epstein Bar virus didukung oleh faringitis, limfadenopati, cytomegalovirus, atau HLV sebagai agent penyebab. Parotitis dan orchitis dapat timbul dengan campak, sementara kebanyakan infeksi enteroviral dikaitkan dengan gastroenteritis dan ruam.

Pemeriksaan hematologi dan kimia harus dilakukanPemeriksaan CSF CT Scan harus dilakukan pada kasus yang berkaitan dengan tanda neurologis abnormal untuk menyingkirkan lesi intrakranial atau hidrosefalus obstruktif sebelum pungsi lumbal (LP) Hal berikut ini merupakan karakteristik CSF yang digunakan untuk mendukung diagnosis meningitis viral:Sel: Pleocytosis dengan hitung WBC pada kisaran 50 hingga >1000 x 109/L darah, Sel mononuclear predominan merupakan aturannya, tetapi PMN dapat merupakan sel utama pada 12-24 jam pertama; hitung sel biasanya kemudian didominasi oleh limfositProtein: Kadar protein CSF biasanya sedikit meningkat, tetapi dapat bervariasi dari normal hingga setinggi 200 mg/dL.Tes LainEEG dapat dilakukan jika ensefalitis atau kejang subklinis dicurigai pada pasien yang tergangguPenemuan Histologis

Kontrol simptomatik dengan antipiretik, analgetik dan anti emetic biasanya itu semua yang dibutuhkan dalam management dari meningitis viral yang tidak komplikasi.

Pada pasien yang jarang dimana viral meningitis berkomplikasi pada hidrosefalus, prosedur pemisahan CSF, seperti ventriculoperitoneal (VP) atau LP shunting, dapat dilakukan. Ventriculostomy dengan system pengumpulan eksternal diindikasikan pada kasus jarang dari hidrosefalus akut. Ensefalitis Viral

A. Penyebaran hanya dari manusia ke manusia1. Gondongan Sering, kadang-kadang bersifat ringan. 2. Campak Dapat memberikan sekuele berat.3. Kelompok virus enteroSering pada semua umur, keadaannya lebih berat pada neonatus.4. Rubela Jarang; sekuele jarang, kecuali pada rubela congenital5. Kelompok Virus Herpesa. Herpes Simpleks (tipe 1 dan 2)b. Virus varicela-zosterc. Virus sitomegalo-kongenital atau akuistad. Virus EB (mononukleosis infeksiosa) : jarange. Kelompok virus poksB. Agen-agen yang ditularkan oleh antropodaVirus arbo : menyebar ke manusia melalui nyamukCaplak : epidemi musiman tergantung pada ekologi vektor serangga.C. Penyebaran oleh mamalia berdarah panas.Rabies : saliva mamalia jinak dan liarVirus herpes Simiae (virus B) : saliva keraKeriomeningitis limfositik : tinja binatang pengerat.

Hal-hal penting dalam menegakkan diagnosis ensefalitis adalah: 1. Panas tinggi, nyeri kepala hebat, kaku kuduk, stupor, koma, kejang dan gejala-gejala kerusakan SSP.2. Pada pemeriksaan cairan serebro spinal (CSS) terdapat pleocytosis dan sedikit peningkatan protein .3. Isolasi virus dari darah, CSS atau spesimen post mortem (otak dan darah)4. Identifikasi serum antibodi dilakukan dengan 2 spesimen yang diperoleh dalam 3-4 minggu secara terpisah.

1. Mengatasi kejang adalah tindakan vital, karena kejang pada ensefalitis biasanya berat. Pemberian Fenobarbital 5-8 mg/kgBB/24 jam. Jika kejang sering terjadi, perlu diberikan Diazepam (0,1-0,2 mg/kgBB) IV, dalam bentuk infus selama 3 menit.2. Memperbaiki homeostatis, dengan infus cairan D5 - 1/2 S atau D5 - 1/4 S (tergantung umur) dan pemberian oksigen.3. Mengurangi edema serebri serta mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh anoksia serebri dengan Deksametason4. Menurunkan tekanan intrakranial yang meninggi dengan Manitol diberikan intravena dengan dosis 1,5-2,0 g/kgBB5. Pengobatan kausatif.Acyclovir intravena, 10 mg/kgbb sampai 30 mg/kgbb per hari selama 10 hari. Jika terjadi toleransi maka diberikan Adenine arabinosa (vidarabin). 6. Fisioterapi dan upaya rehabilitatif setelah penderita sembuh7. Makanan tinggi kalori protein sebagai terapi diet.

Ensefalitis Herpes Simpleksyang menjadi ciri khas bagi ensefalitis virus herpes simpleks ialah progresivitas perjalanan penyakitnya. Mulai dengan sakit kepala, demam dan muntah-muntah. Kemudian timbul acute organic brain syndrome yang cepat memburuk sampai koma. Sebelum koma dapat ditemukan hemiparesis atau afasia. Dan kejang epileptik dapat timbul sejak permulaan penyakit. Pada fungsi lumbal ditemukan pleiositosis limpositer dengan eritrositGambaran daerah tepi tidak spesifik Pemeriksaan cairan likuor memperlihatkan jumlah sel meningklat (90%) yang berkisar antara 10-1000 sel/mm3. awalnya sel polimorfonuklear dominan, tetapi kemudian berubah menjadi limfositosis. Protein dapat meningkat sampai 50-2000 mg/l dan glukosa dapat normal atau menurun EEG memperlihatkan gambaran yang khas, yaitu periodic lateralizing epileptiform discharge atau perlambatan fokal di area temporal atau frontotemporal CT kepala tetap normal dalam tiga hari pertama setelah timbulnya gejala neurologis, kemudian lesi hipodens muncul di regio frontotemporalT2-weight MRI dapat memperlihatkan lesi hiperdens di regio temporal paling cepat dua hari setelah munculnya gejalaPCR likuor dapat mendeteksi titer antibodi virus herpes simpleks (VHS) dengan cepat. Ensefalitis Arbo-VirusCiri khas ensefalitis primer arbo-virus ialah perjalanan penyakit yang bifasik. Pada gelombang pertama gambaran penyakitnya menyerupai influensa yang dapat berlangsung 4-5 hari. Sesudahnya penderita mereka sudah sembuh. Pada minggu ketiga demam dapat timbul kembali. Dan demam ini merupakan gejala pendahulu bangkitnya manifestasi neurologik, seperti sakit kepala, nistagmus, diplopia, konvulsi dan acute organic brain syndrome.

Ensefalitis Parainfeksiosatimbul sebagai komplikasi penyakit virus parotitis epidemika, mononukleosis infeksiosa, varisela dan herpes zooster RabiesGejala-gejala prodromalnya terdiri dari lesu, dan letih badan, anoreksia, demam, cepat marah-marah dan nyeri pada tempat yang telah digigit anjing. Suara berisik dan sinar terang sangat menggangu penderita. Dalam 48 jam dapat bangkit gejala-gejala hipereksitasi. Penderita menjadi gelisah, mengacau, berhalusinasi, meronta-ronta, kejang opistotonus, dan hidrofobia. Tiap kali melihat air otot pernafasan dan larings berkejang, sehingga menjadi sianotik dan apnoe. Air liur tertimbun didalam mulut oleh karena penderita tidak dapat menelan.

Masa inkubasi rabies ialah beberapa minggu sampai beberapa bulan. Jika dalam masa itu dapat diselenggarakan pencegahan supaya virus rabies tidak tiba di neuron-neuron maka kematian dapat dihindarkan. Poliomyelitis Anterior AkutaPada polio non-paralytic yang bertanggung jawab untuk kebanyakan individu-individu yang terinfeksi dengan polio, pasien-pasien tetap asymptomatic atau hanya gejala-gejala seperti flu yang ringan, termasuk kelelahan, malaise, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan muntah. Gejala-gejala, jika hadir, mungkin hanya bertahan 48-72 jam, meskipun biasanya mereka bertahan untuk satu sampai dua minggu. Paralytic polio terjadi pada kira-kira 2% dari orang-orang yang terinfeksi dengan virus polio dan adalah penyakit yang jauh lebih serius. Gejala-gejala dapat termasuk: sensasi yang abnormal, kesulitan bernapas, kesulitan menelan, retensi urin, sembelit, mengeluarkan air liur (ileran), sakit kepala, turun naik suasana hati, nyeri dan kejang-kejang otot, dan kelumpuhan.

Infeksi Slow VirusBeberapa penyakit yang hingga kini dianggap sebagai penyakit degenerative akibat faktor yang belum diketahui, telah diselidiki sehubungan dengan infeksi slow virus. Penyakit demensia Jakob-Creutzfeldt yang dahulu dianggap sebagai penyakit degenerative yang mempunyai sifat familial, telah terbukti disebabkan oleh infeksi slow virus ialah kuru.

Infeksi Bakteri pada Susunan SarafMeningitis Bakterial AkutaBiasanya akut, fulminan, khas dengan demam, nyeri kepala, mual, muntah, dan kaku nukhal. Koma terjadi pada 5-10 % kasus dan berakibat prognosis yang buruk. Kejang terjadi pada sekitar 20 % kasus, dan palsi saraf kranial pada 5 %.

CSS secara klasik memperlihatkan leukositosis polimorfonuklir, peninggian protein, dan penurunan glukosa

Patogen meningeal tersering adalah bakteria yang berkapsul. Setelah membentuk koloni dinasofaring, bakteri berkapsul melintas epitel dan membuat jalan kealiran darah.

Penisilin G dan ampisilin diketahui mempunyai manfaat yang sama pada kebanyakan infeksi S.pneumoniae dan N.meningitidis. Dengan meningkatnya H.influenzae yang membentuk beta-laktamase, saat ini sekitar 25 %, menyebabkan pemakaian ampisilin dan kloramfenikol sebagai terapi empiris. L. monocytogenes tidak sensitive sefalosporin dan terapi yang dianjurkan adalah ampisilin atau penisilin G. Pilihan lain adalah trimetoprim sulfa-metoksazol. Pasien dengan meningitis S. aureus harus ditindak dengan nafsilin atau oksasilin, dengan vankomisin dicadangkan untuk strain resisten metisilin dan S. epidermidis. Lamanya terapi meningitis, dan 21 hari untuk infeksi basil gram negatif. Dianjurkan seftazidim dicadangkan untuk pengobatan P.aeruginosa dalam kombinasi dengan aminoglikosida.

Penelitian mutakhir terapi tambahan deksametason pada bayi dan anak-anak dengan meningitis bakterial memperlihatkan bahwa sekuele neurologis jangka panjang, terutama retardasi mental dan kehilangan pendengaranMeningitis TuberkulosaManifestasi klinis : Penulis menemukan adanya panas (94%), nyeri kepala (92%), muntah muntah, kejang dan pemeriksaan neurologik menunjukkan adanya kaku tengkuk, kelumpuhan saraf kranial (terutama N III, IV, VI, VII) (30%), edema papil dan kelumpuhan ekstremitas (20%) serta gangguan kesadaran.

Diagnosis : Diagnosis Meningitis tuberkulosis ditegakkan atas dasar :1. Adanya gejala rangsangan selaput otak seperti kaku tengkuk, tanda Kernig dan Brudzinski.2. Pemeriksaan CSS menunjukkan :-- peningkatan sel darah putih terutama limfosit-- peningkatan kadar protein-- penurunan kadar glukosa3. Ditambah 2 atau 3 dari kriteria dibawah ini :-- ditemukannya kuman tuberkulosis pada pengecatan dan pembiakan CSS-- kelainan foto toraks yang sesuai dengan tuberculosis-- pada anamnesis kontak dengan penderita tuberkulosis aktif

-- Streptomisin 20 - 30 mg/kg/hari selama 2 minggu kemudian dijarangkan 3 kali/minggu hingga klinis dan laboratorium baik (perlu waktu kira-kira 6 minggu).-- INH 20 - 25 mg/kg/hari pada anak anak atau 400 mg/hari pada dewasa selama 18 bulan.-- Etambutol 25 mg/kg/hari sampai sel cairan serebrospinal normal, kemudian diturunkan 15 mg/kg/hari selama 18 bulan.-- Rifampisin 15 mg/kg/hari selama 6 - 8 minggu. Kortikosteroid hanya dianjurkan bila ditemukan tanda edema otak.

Abses SerebriAdalah infeksi purulen berbatas tegas dalam parenkim otakNyeri kepala, demam, edema otak, defisit neurologis fokal, gangguan mentalPenyebab tersering adalah infeksi sinus paranasal dan infeksi telinga tengahPemeriksaan dengan CT-SCAN (kontraindikasi LP)Terapi dengan aspirasi abses otak stereotaktik dengan tuntunan USG/CT SCAN

Abses Epidural KranialDemam, nyeri tulang belakang, defisit neurologisSering disebabkan akibat perluasan osteomielitis (S.aureus dan Streptoccocus)CSS : peninggian kadar protein yang jelas dan pleositosis ringan.MRI : perluasan massa epidural- Pengobatan : drainase, debridemen, antibiotik sistemikAbses Subdural KranialAkibat dari sinusitis paranasal dan otitis (streptoccocus, staphyloccocus, H.influenza)Nyeri kepala, demam, dan meningismus, kejang, defisit fokalCT SCAN, MRIDebridemen, drainase, antibiotika sistemik, antikonvulsi profilaktikEfusi SubduralKomplikasi dari meningitis H.influenzaGejala : epilepsy fokal, peningkatan TIKTromboflebitis KranialTromboflebitis dapat merupakan komplikasi dari osteomielitis tulang tengkorak, mastoiditis, sinusitis, abses subdural ataupun infeksi pada daerah wajah yang menggunakan system venous intracranial untuk darah baliknya. demam, sakit kepala, muntah dan mual, timbulnya edema diruang orbita serta kelopak mata. Dengan pengobatan antibiotika penyakit terlukis diatas dapat disembuhkanAbses Epidural SpinalFactor etiologi dan presipitasi yang penting bagi abses epidural yang akut ialah diabetes mellitus dan infeksi Staphylococcus aureus yang berupa bisul di kulit atau osteomyelitis pada korpus, lamina atau pedikel tulang belakang. Yang paling sering terkena adalah bagian torakal. Bagi jenis yang kronik, spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit primernya.

nyeri tulang belakang, kemudian nyeri radikuler, dan paraplegia akan tibul sedikit demi sedikit dengan gangguan perasaan getar, gerak, dan posisi sebagai gejala dininya

kultur darah dan MRI medulla spinalis. Bila MRI tidak memungkinkan maka bisa dilakukan CT myelography. Lumbal punksi dikontraindikasikan

Durasi dari pengobatan ini biasanya mencapai 3-4 minggu. Karena agen yang biasa menginfeksi ialah S.aureus, maka terapi yang diberikan ialah dari golongan penicillin, cephalosporin, atau vancomycin.

Terapi bedah yang biasa digunakan ialah dekompresi pada tulang belakang dan drainase abses, indikasi terapi pembedahan ini ialah adanya peningkatan deficit neurologik, rasa sakit menjadi-jadi dan demam yang menetap, serta leukositosis.

Abses Subdural SpinalAbses ini jarang dijumpai. Bila ada, gejala-g...