Buku Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri

  • Published on
    25-Nov-2015

  • View
    45

  • Download
    12

Transcript

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | i

    Kata Pengantar

    Kebutuhan energi akan semakin meningkat seiring adanya

    pembangunan berbagai industri sesuai dengan amanah Perpres 28

    Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Hingga saat ini

    sektor industri merupakan sektor yang mendominasi konsumsi

    energi di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan energi yang

    memadai akan menentukan keberhasilan dalam pengembangan

    industri nasional ke depan.

    Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam

    Rangka Akselerasi Industrialisasi ini disusun dalam rangka

    menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor

    industri yang relatif padat energi di Indonesia dan mengidentifikasi

    permasalahannya.

    Kami ucapkan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak

    yang telah membantu dalam penyusunan kajian ini, khususnya Tim

    INDEF (Institute for Development of Economics and Finance): Prof.

    Dr. Didik J. Rachbini, Prof. Dr. Bustanul Arifin, Prof. Dr. Ahmad Erani

    Yustika, Dr. Enny Sri Hartati, Eko Listiyanto, MSE., Ahmad Heri

    Firdaus, M.Si., Abra P.G. Talattov, SE. Imaduddin Abdullah, S.Sos.,

    Dzulfian Safian, SE.; serta asosiasi industri: Asosiasi Pertekstilan

    Indonesia (API), Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Asosiasi

    Semen Indonesia (ASI), Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI),

    Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Indonesian Iron

    and Steel Industry Association (IISIA), Gabungan Pengusaha Kelapa

    Sawit Indonesia (GAPKI), Forum Industri Pengguna Gas Bumi

    (FIPGB).

  • ii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Akhirnya kami berharap kajian ini dapat memberi kontribusi bagi

    pengembangan sektor industri dan energi di masa mendatang.

    Jakarta, Desember 2012

    Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal

    Kementerian Perindustrian

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | iii

    Ringkasan Eksekutif

    Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri

    Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sektor industri hingga saat ini merupakan sektor yang mendominasi

    konsumsi energi di Indonesia, di mana porsinya mencapai 49,4 persen

    dari total konsumsi energi nasional (Kementerian ESDM, 2012). Dalam

    sektor industri itu sendiri, terdapat beberapa industri yang dinilai paling

    padat menggunakan energi, baik yang digunakan sebagai bahan bakar

    ataupun yang digunakan sebagai bahan baku. Diantaranya adalah industri

    baja, industri semen, industri pupuk, industri keramik, industri pulp dan

    kertas, industri tekstil dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika

    dibandingkan dengan faktor input yang lain, biaya energi pada tujuh (7)

    industri tersebut bahkan lebih besar dari biaya tenaga kerja, serta

    menempati peringkat kedua setelah biaya bahan baku. Oleh karena itu,

    dalam mengalisis kebutuhan energi pada sektor industri, selain akan

    dianalisis kebutuhan energi pada masing-masing sub sektor industri (9

    sektor), juga penting dilakukan analisis secara mendalam kebutuhan

    energi pada 7 industri terpilih tersebut.

    Secara lebih spesifik, Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor

    Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi ini bertujuan untuk: 1)

    menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri

    yang lahap energi di Indonesia; 2) mengidentifikasi permasalahan energi

    yang dihadapi; 3) memproyeksi kebutuhan energi sektor industri; serta 4)

    menyusun rekomendasi kebijakan perencanaan kebutuhan energi di

    sektor industri ke depan.

    Terkait tujuan pertama, hasil analisis menunjukkan bahwa pada 2012

    dari 7 industri yang menjadi fokus kajian, industri pupuk merupakan sub

    sektor industri yang paling padat menggunakan energi. Diikuti dengan

  • iv | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    industri pulp dan kertas, industri tekstil, industri semen, industri baja,

    industri keramik, dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika skenario

    akselerasi dan akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan maka pada

    2025 industri pupuk tetap menjadi pengkonsumsi energi terbesar, namun

    urutan kedua ditempati industri tekstil dan ketiga industri pulp dan

    kertas, untuk peringkat keempat industri lain urutannya tetap. Industri

    pupuk menjadi pengguna energi yang terbesar karena lebih banyak

    menggunakan gas sebagai bahan baku. Sementara Industri pengolahan

    kelapa sawit menjadi pengguna energi terkecil karena sebagian besar

    energi yang dibutuhkan dipenuhi dari biomassa.

    Dari sekian banyak bahan bakar energi yang digunakan oleh industri-

    industri tersebut, BBM (solar), listrik dan batubara merupakan jenis

    bahan bakar yang paling banyak digunakan. Namun, belakangan gas telah

    menjadi jenis bahan bakar yang semakin banyak digunakan oleh industri.

    Tetapi dalam mendapatkan gas tersebut, industri masih menghadapi

    berbagai kendala dalam mengakses bahan bakar gas tersebut.

    Tujuan kedua yaitu mengidentifikasi permasalahan energi yang dihadapi

    oleh sektor industri. Terdapat sejumlah masalah utama yang dihadapi

    sektor industri terkait dengan akses mereka terhadap energi, antara lain:

    1) Kesulitan memperoleh gas karena terjadi defisit pasokan gas untuk

    kebutuhan industri dalam negeri, sementara di sisi lain sebagian produksi

    gas justru ditujukan untuk ekspor. 2) Terbatasnya infrastruktur energi,

    seperti jaringan transmisi gas bumi yang masih minim. 3) Ketidaksesuaian

    antara persebaran sumber energi dengan lokasi industri, misalnya

    sumber gas bumi yang melimpah di Kalimantan dan Sumatera namun

    lokasi industri terpusat di pulau Jawa. 4) Masih rendahnya pemanfaatan

    batubara untuk kebutuhan domestik sedangkan sebagian besar (70

    persen) dari produksi batubara dipasarkan ke luar negeri. 5) Diversifikasi

    energi terutama energi terbarukan masih sulit dilakukan karena selain

    biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal, infrastruktur yang dibutuhkan

    juga masih belum memadai.

    Tujuan ketiga, memproyeksi kebutuhan energi sektor industri. Pada

    tujuan ketiga ini analisis dibagi dua, yaitu kebutuhan energi pada 9

    subsektor industri dan kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif

    padat energi. Pada proyeksi 9 subsektor industri diperoleh hasil bahwa di

    tahun 2025 kebutuhan energi yang paling besar terdapat pada industri

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | v

    makanan, minuman dan tembakau, sebesar 72.210 gWh atau sekitar 26,6

    persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Saat ini, industri

    makanan, minuman dan tembakau belum menjadi industri yang paling

    banyak membutuhkan energi, namun dikarenakan industri ini

    diproyeksikan akan menjadi salah satu industri yang tumbuh paling pesat,

    maka menimbulkan konsekuensi bahwa pertumbuhan permintaan

    energinya pun turut meningkat pesat pula. Selain itu, jumlah perusahaan

    di industri ini merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan

    jumlah perusahaan di industri lainnya.

    Selanjutnya, di urutan kedua industri pupuk, kimia dan barang dari karet

    yang kebutuhan konsumsi energi pada 2025 mencapai 60.232 gWh atau

    sekitar 22,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Di tempat

    ketiga industri semen dan barang galian bukan logam yang

    membutuhkan energi sebesar 41.732 gWh (15,35 persen). Urutan

    keempat industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki yang

    diproyeksikan akan membutuhkan energi sebesar 36.050 gWh (13,0

    persen). Urutan kelima, industri alat angkutan, mesin dan peralatannya

    sebesar 18.491 gWh (6,8 persen). Keenam, industri logam dasar besi dan

    baja yang membutuhkan energi sebesar 14.431 gWh (5,3 persen).

    Ketujuh, industri kertas dan barang cetakan 10.212 gWh (3,8 persen).

    Terakhir, industri barang kayu dan hasil hutan yang diperkirakan

    mengkonsumsi energi dengan jumlah yang paling sedikit, sebesar 2.732

    gWh atau sekitar 1,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri.

    Pada proyeksi kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif padat

    energi dihitung dengan menggunakan 3 skenario; skenario Business as

    Usual (BAU), skenario akselerasi, dan skenario akselerasi disertai efisiensi.

    Pendekatan dalam menghitung kebutuhan energi secara sektoral ini lebih

    bersifat mikro, artinya perhitungan mempertimbangkan berbagai

    perkembangan yang terjadi di sektor industri tersebut, seperti

    kemampuan tumbuh (kapasitas, produksi, konsumsi) secara alamiah atau

    tren pertumbuhan industri, rencana pembangunan pabrik baru, tren

    diversifikasi penggunaan sumber energi tertentu pada suatu industri,

    upaya melakukan efisiensi biaya, mengejar target swasembada suatu

    produk, menyamai/menyetarakan konsumsi per kapita dengan negara

    lain, dll. Selain itu pendekatan juga bersifat kasuistik dan ilustratif,

  • vi | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    dengan menampilkan contoh perusahaan tertentu yang memiliki pangsa

    pasar dominan dalam suatu industri.

    Secara ringkas kebutuhan energi untuk industri baja dengan skenario

    Business as Usual (BaU) pada 2025 diperkirakan sebesar 11.626 gWh.

    Dengan skenario akselerasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan baja

    domestik (swasembada baja) diperlukan energi sebesar 29.392 gWh pada

    2025. Skenario akselerasi disertai efisiensi pada industri baja lebih

    menekankan pada kemungkinan diturunkannya intensitas energi pada

    industri baja serta dilakukannya substitusi sumber energi primer. Jika hal

    ini berhasil dilakukan maka pada 2025 dibutuhkan energi sebesar 19.595

    gWh dan penghematan yang berhasil dilakukan sebesar Rp 6,4 triliun.

    Kebutuhan energi utama pada industri tekstil adalah energi listrik.

    Mengingat pasokan listrik PLN ke industri tekstil saat ini baru sekitar 70

    persen maka sisanya sebesar 30 persen menggunakan pembangkit

    sendiri yang membutuhkan minyak, batubara, dan gas. Dihitung dengan

    skenario BaU kebutuhan energi pada industri tekstil pada 2025 sebesar

    50.417 gWh. Dengan skenario akselerasi di mana targetnya mencukupi

    seluruh kebutuhan konsumsi kain dalam negeri, maka pada 2025

    dibutuhkan energi 252.955 gWh. Hal ini mengingat proporsi impor kain di

    Indonesia masih sekitar 39 persen, serta pertumbuhan konsumsi kain

    domestik yang cukup tinggi, sebesar 17 persen per tahun. Kondisi ini

    diikuti dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2,3 persen per tahun, dan

    semakin cepatnya perubahan trend fashion. Selanjutnya, pada skenario

    akselerasi disertai efisiensi, salah satu isu utamanya adalah cukup tuanya

    mesin-mesin produksi yang digunakan industri tekstil sehingga

    penggunaan energinya relatif boros. Oleh karena itu, perhitungan

    skenario akselerasi disertai efisiensi selain menekankan pada urgensi

    untuk mencukupi konsumsi kain domestik juga pentingnya efisiensi

    dengan restrukturisasi permesinan dan substitusi energi. Hasil

    perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan energi di industri tekstil

    pada 2025 sebesar 222.600 gWh. Hasil perhitungan penghematan biaya

    yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat

    dilakukan pada industri tekstil adalah Rp12,8 triliun pada 2025.

    Perhematan tersebut bersumber dari program restrukturisasi

    permesinan yang akan menghemat pemakaian energi dan peningkatan

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | vii

    produktivitas, serta adanya diversifikasi energi untuk pembangkit listrik

    dari BBM ke batubara.

    Secara umum kebutuhan energi utama pada industri pengolahan kelapa

    sawit adalah energi listrik, di mana semakin besar kapasitas produksi dan

    jenis produk olahan, relatif semakin tinggi pula tambahan energi yang

    diperlukan dalam proses produksi. Hasil perhitungan skenario BaU

    menunjukkan bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit

    membutuhkan energi sebesar 594 gWh. Skenario akselerasi dihitung

    dengan asumsi produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia setara dengan

    Malaysia. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada 2025 industri

    pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi sebesar 832 gWh.

    Sementara itu, skenario akselerasi disertai efisiensi dihitung dengan

    asumsi selain industri CPO mampu melakukan akselerasi juga dapat

    menurunkan intensitas energinya setara world best practice yaitu sebesar

    17 kWh per Ton TBS. Hasil perhitungan dengan skenario ini menunjukkan

    bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi

    sebesar 786 gWh.

    Pulp dan kertas ibarat emas hijau bagi pembangunan Indonesia. Dari sisi

    kontribusi terhadap penerimaan negara, sektor industri pulp dan kertas

    telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.

    Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama eksportir

    di bidang kehutanan sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih dalam Ramli,

    2006). Dengan skenario Business as Usual perkiraan kebutuhan energi

    pada industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 87 ribu gWh. Energi

    tersebut diperoleh dari biomassa yang dapat menghasilkan energi sekitar

    41 ribu gWh. Selain itu, kebutuhan energi juga dipenuhi dari gas

    sebanyak 22 juta MMBTU dan batubara sebanyak 423 ribu ton.

    Saat ini Indonesia berada pada posisi ke 9 dunia sebagai produsen pulp

    dan posisi ke 8 sebagai produsen kertas. Dengan potensi sumber daya

    hutan produksi yang besar, sangat mungkin bagi Indonesia untuk

    melakukan akselerasi pada industri pulp dan kertas guna meningkatkan

    posisi sebagai produsen pulp dan kertas dunia menjadi peringkat ke 5.

    Dengan skenario akselerasi kebutuhan energi pada industri pulp dan

    kertas mencapai 145 ribu gWh. Energi tersebut diperoleh dari biomassa

    setara dengan 72 ribu gWh, gas sebanyak 40 juta MMBTU, dan 742 ribu

    ton batubara. Sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi energi

  • viii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    yang dibutuhkan menjadi berkurang, yakni gas sebanyak 34 juta MMBTU

    dan 647 ribu ton batubara. Hasil perhitungan penghematan biaya yang

    bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan

    pada industri pulp dan kertas adalah Rp14,9 triliun pada 2025.

    Penghematan tersebut sangat mungkin dicapai jika industri pulp dan

    kertas lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi dari biomassa

    seperti black liquor, kulit pohon (bark), cpo, sludge, serbuk kayu (saw

    dust), kompos, dan sebagainya.

    Kebutuhan energi industri pupuk sangat dipengaruhi oleh ketersediaan

    gas alam, mengingat konsumsi gas merupakan salah satu indikator

    penting untuk menilai produksi pupuk. Dalam perhitungan kebutuhan

    energi industri pupuk, konsumsi gas alam sebagai bahan bakar saling kait

    mengait dengan konsumsi gas alam sebagai bahan baku. Berdasarkan

    skenario BaU pada 2025 industri pupuk membutuhkan total gas alam

    sebesar 1.314 juta MMBTU yang terdiri dari 1.274 juta MMBTU untuk

    bahan baku dan 39 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 11.560

    gWh. Sementara dengan skenario akselerasi berupa peningkatan

    kapasitas produksi menjadi 86 persen (pencapaian efisiensi tertinggi

    selama delapan tahun terakhir), pada 2025 industri pupuk membutuhkan

    total gas alam sebesar 1.412 juta MMBTU yang terdiri dari 1.370 juta

    MMBTU untuk bahan baku dan 42 juta MMBTU untuk bahan bakar atau

    setara 12.414 gWh. Dalam skenario akselerasi disertai efisiensi

    diasumsikan kebutuhan energi untuk melakukan akselerasi tersebut

    dipenuhi dari batubara. Pada 2025, industri pupuk membutuhkan total

    gas alam sebesar 1.370 juta MMBTU yang seluruhnya digunakan untuk

    bahan baku, sedangkan untuk bahan bakar dibutuhkan 2,09 juta ton

    batubara setara 12.414 gWh. Substitusi sumber energi primer tersebut

    dapat menghemat biaya energy sekitar Rp2,81 triliun pada 2025.

    Industri semen merupakan industri yang sedang tumbuh subur seiring

    dengan meningkatnya pertumbuhan sektor properti dan pembangunan

    infrastruktur. Dengan skenario BaU kebutuhan energi pada industri

    semen pada 2025 mencapai 23.321 gWh. Energi tersebut dapat diperoleh

    dari 24,9 juta ton batubara dan 23.173 gWh listrik. Sementara dihitung

    dengan skenario akselerasi dan skenario akselerasi disertai efisiensi

    kebutuhan energi pada industri semen mencapai 38.589 gWh. Pada

    skenario akselerasi, jumlah energi tersebut dapat diperoleh dari 46,4 juta

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | ix

    ton batubara dan 38.320 gWh listrik. Sedangkan pada skenario akselerasi

    disertai efisiensi sumber energi dapat dipenuhi dari 23,1 juta ton

    batubara, 493.831 MMBTU gas alam dan 38.320 gWh listrik.

    Penghematan dari alih sumber energi primer ini sebesar Rp1,41 triliun

    pada 2025.

    Permintaan industri keramik saat ini sedang meningkat seiring

    meningkatnya pertumbuhan sektor konstruksi. Industri ini merupakan

    jenis industri yang relatif banyak mengkonsumsi energi, khususnya gas

    alam. Ketersediaan gas sangat menentukan keberlangsungan produksi

    keramik, karena sifat spesifik gas yang tidak bisa digantikan oleh sumber

    energi lain. Hasil proyeksi dengan skenario BaU energi yang dibutuhkan

    pada 2025 mencapai 3.299 gWh. Jumlah energi ini dapat diperoleh dari

    gas alam sebesar 129.624 MMBTU, BBM sebesar 1.053.331 barel dan

    kebutuhan listrik sebesar 1.586,4 gWh. Sementara dengan skenario

    akselerasi, kebutuhan energi industri keramik mencapai 5.479 gWh.

    Jumlah energi ini dapat diperoleh dari gas alam sebesar 179.408 MMBTU,

    BBM sebesar 1.752.607 barel, dan kebutuhan listrik sebesar 2.639,5 gWh.

    Lebih lanjut, jika skenario efisiensi yang disertai akselerasi dapat

    dilakukan maka diperkirakan energi yang dibutuhkan mencapai 5.232

    gWh. Jumlah energi tersebut dapat diperoleh dari gas alam sebesar

    170.437 MMBTU, BBM sebesar 1.664.977 barel dan listrik sebesar 2.508

    gWh.

    Hasil kajian ini merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:

    1. Seiring meningkatnya harga BBM maka penggunaan batubara dan gas

    alam sebagai sumber energi alternatif perlu lebih ditingkatkan.

    2. Dalam hal penggunaan batubara, upaya penyediaan suplai listrik oleh

    PLN dengan sumber energi pembangkit dari batubara perlu ditingkatkan.

    Penggunaan batubara terintegrasi dan terlokalisasi di pembangkit listrik

    PLN bertujuan untuk meminimalisasi pencemaran.

    3. Pentingnya melakukan program restrukturisasi permesinan pada

    berbagai sektor industri yang disertai dengan sejumlah insentif agar

    penggunaan energi lebih efisien.

    4. Perlu membuat industri pengelola limbah yang terintegrasi dengan

    berbagai industri yang lahap energi. Limbah hasil pengolahan industri

  • x | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    bisa dihubungkan dengan industri pengolahan limbah B3, dalam satu

    wilayah industri bisa dibuat satu industri pengumpul limbah yang

    berfungsi sebagai distributor limbah yang akan memanfaatkan limbah

    sebagai bahan bakar. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar ini akan

    sejalan dengan tujuan mewujudkan green industry.

    5. Pemerintah perlu mendorong penelitian-penelitian yang dapat

    menghasilkan penemuan-penemuan inovatif dalam rangka penghematan

    (efisiensi) energi di sektor industri dan upaya untuk mendorong

    penggunaan energi alternatif terbarukan.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xi

    Daftar Isi

    Kata Pengantar i

    Ringkasan Eksekutif iii

    Daftar Isi xi

    Daftar Tabel xv

    Daftar Gambar xix

    Daftar Singkatan dan Istilah xxi

    BAB I PENDAHULUAN 1

    1.1. Latar Belakang 1

    1.2. Tujuan Penelitian 5

    1.3. Manfaat Kajian 5

    BAB II GAMBARAN PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL 7

    2.1. Overview Pengelolaan Energi Negara Lain 7

    2.1.1. China 7

    2.1.2. India 11

    2.1.3. Malaysia 12

    2.2. Kebijakan Energi di Indonesia 15

    2.2.1. Kebijakan Bauran Energi 15

    2.2.2. Pasokan dan Kebutuhan Energi 16

    2.3. Kendala dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi bagi

    Industri di Indonesia 20

    BAB III METODE PENELITIAN 23

    3.1. Jenis dan Sumber Data 23

    3.1.1. Wawancara 23

    3.1.2. Focus Group Discussion 24

    3.2. Metode Analisis 24

    3.3. Asumsi 25

    3.3.1. Industri Baja 26

  • xii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

    3.3.2. Industri Tekstil 29

    3.3.3. Industri Pupuk 31

    3.3.4. Industri Pulp dan Kertas 37

    3.3.5. Industri Kelapa Sawit 39

    3.3.6. Industri Semen 40

    3.3.7. Industri Keramik 42

    3.4. Batasan Studi 43

    BAB IV KINERJA SEKTOR INDUSTRI 45

    4.1. Kinerja Sektor Industri Indonesia 45

    4.2. Kinerja Subsektor Industri 50

    4.2.1. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 50

    4.2.2. Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 52

    4.2.3. Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya 53

    4.2.4. Industri Kertas dan Barang Cetakan 54

    4.2.5. Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 55

    4.2.6. Industri Semen dan Barang Galian bukan logam 56

    4.2.7. Industri Logam Dasar Besi & Baja 57

    4.2.8. Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya 57

    4.2.9. Industri Barang lainnya 58

    4.3. Kinerja 7 Industri Terpilih 59

    4.3.1. Industri Baja 60

    4.3.2. Industri Tekstil 64

    4.3.3. Industri Pupuk 65

    4.3.4. Industri Pulp dan Kertas 67

    4.3.5. Industri Pengolahan Kelapa Sawit 71

    4.3.6. Industri Semen 73

    4.3.7. Industri Keramik 76

    BBAABB VV

    KKEEBBUUTTUUHHAANN EENNEERRGGII SSEEKKTTOORR IINNDDUUSSTTRRII

    8811

    5.1. Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Sub Sektor Industri 81

    5.2. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Kelompok

    Industri

    88

    5.3. Proyeksi Komposisi Penggunaan Energi 9 (Sembilan)

    Kelompok Industri 91

    5.4. Permasalahan Energi pada Sektor Industri 94

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xiii

    BBAABB VVII KKEEBBUUTTUUHHAANN EENNEERRGGII PPAADDAA IINNDDUUSSTTRRII TTEERRPPIILLIIHH 9999

    6.1. Industri Baja 100

    6.1.1. Komposisi Penggunaan Energi 100

    6.1.2. Kebutuhan Energi Industri Baja 102

    6.2. Industri Tekstil 107

    6.2.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Tekstil 107

    6.2.2. Kebutuhan Energi Industri Tekstil 108

    6.3. Industri Pengolahan Kelapa Sawit 113

    6.3.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri

    Pengolahan Kelapa Sawit 113

    6.3.2. Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit 114

    6.4. Industri Pulp dan Kertas 116

    6.4.1. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pulp dan Kertas 116

    6.4.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pulp dan

    Kertas

    118

    6.4.3. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan

    Kertas

    120

    6.5. Industri Pupuk 124

    6.5.1. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pupuk 124

    6.5.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pupuk 126

    6.5.3. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 127

    6.6. Industri Semen 131

    6.6.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Semen 131

    6.6.2. Kebutuhan Energi Industri Semen 132

    6.7. Industri Keramik 139

    6.7.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri

    Keramik 139

    6.7.2. Kebutuhan Energi Industri 141

    6.8. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih 146

    BAB VII PENUTUP 151

    7.1. Kesimpulan 151

    7.2. Rekomendasi 154

    7.2.1. Rekomendasi Umum 154

    7.2.2. Rekomendasi Masing-masing Industri Terpilih 156

    Daftar Pustaka 161

    Lampiran

  • xiv | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xv

    Daftar Tabel

    Tabel 3.1. Rencana Penambahan Kapasitas Produksi Baja Nasional 28

    Tabel 3.2. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri

    (Holding) 2005-2010 32

    Tabel 3.3. Realisasi Pemakaian Gas Alam Dalam Proses Pembuatan

    Urea dan Amoniak 35

    Tabel 3.4. Kapasitas, Total, dan Efisiensi Produksi Amoniak dan Urea

    2003-2010 36

    Tabel 4.1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) 45

    Tabel 4.2. Laju pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) 46

    Tabel 4.3. Neraca Gas Untuk Industri & PLN Tahun 2010 2011

    (MMSCFD) 49

    Tabel 4.4. Beberapa Indikator Kinerja Industri Makanan, Minuman

    dan Tembakau 51

    Tabel 4.5. Beberapa Indikator Kinerja Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki 53

    Tabel 4.6. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kayu dan Barang dari

    Kayu 54

    Tabel 4.7. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 55

    Tabel 4.8. Beberapa Indikator Kinerja Industri Pupuk, Kimia dan

    Barang dari Karet 55

    Tabel 4.9. Beberapa Indikator Kinerja Industri Semen dan Barang

    Galian bukan logam 56

    Tabel 4.10. Beberapa Indikator Kinerja Industri Logam Dasar Besi dan

    Baja 57

    Tabel 4.11. Beberapa Indikator Kinerja Alat Angkutan, Mesin dan

    Peralatannya 58

    Tabel 4.12. Beberapa Indikator Kinerja Industri Barang lainnya 59

    Tabel 4.13. Konsumsi per Kapita Baja Beberapa Negara Tahun 2009 62

    Tabel 4.14. Profil Industri Tekstil 65

    Tabel 4.15. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri

    (Holding) tahun 2005-2010 66

    Tabel 4.16. Pangsa Produksi CPO 72

  • xvi | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

    Tabel 4.17. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit 73

    Tabel 5.1. Nilai Watt (kWh) dari Masing-masing Jenis Bahan Bakar

    Energi 83

    Tabel 5.2. Kebutuhan Energi 9 (sembilan) Kelompok Sektor Industri

    (gWh) 84

    Tabel 5.3. Komposisi Kebutuhan Masing-masing Energi Pada Industri

    Manufaktur Tahun 2009 85

    Tabel 5.4 Distribusi Komposisi Kebutuhan Energi dari Masing-

    masing Jenis Industri 2009 86

    Tabel 5.5. Proyeksi Pertumbuhan Industri Kecil, Menengah dan

    Besar 2010-2025 (Persen) 89

    Tabel 5.6. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Kelompok

    Industri (gWh) 90

    Tabel 5.7. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Setiap Jenis Energi

    Pada 9 Kelompok Industri 92

    Tabel 5.8. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Pada 9 Kelompok

    Industri (Satuan Unit) 93

    Tabel 5.9. Persentase Kebutuhan Energi Pada Industri Manufaktur

    Tahun 2009 96

    Tabel 5.10. Persentase Jenis Energi Pada Industri Manufaktur Tahun

    2009 97

    Tabel 6.1. Agregasi Kebutuhan Energi 7 Sektor Industri Terpilih 100

    Tabel 6.2. Komponen Biaya Produksi PT. Krakatau Steel tahun 2010 101

    Tabel 6.3. Proporsi Konsumsi Energi Industri Baja Tahun 2009 102

    Tabel 6.4. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja (gWh) 103

    Tabel 6.5. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja 104

    Tabel 6.6. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Baja 106

    Tabel 6.7. Penghematan Biaya Energi pada Industri Baja 107

    Tabel 6.8. Struktur Biaya Produksi Industri TPT 107

    Tabel 6.9. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (gWh) 110

    Tabel 6.10. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit) 111

    Tabel 6.11. Proyeksi Kekurangan Kebutuhan Energi Industri Tekstil

    (satuan unit) 112

    Tabel 6.12. Penghematan dari Diversifikasi dan Efisiensi Energi 113

    Tabel 6.13. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit 115

    Tabel 6.14. Penghematan Energi pada Industri Pengolahan Kelapa

    Sawit (Rp miliar) 116

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xvii

    Tabel 6.15. Komposisi Input Energi Industri Pulp dan Kertas (Persen) 120

    Tabel 6.16. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas 122

    Tabel 6.17. Proyeksi Kekurangan Energi Industri Pulp dan Kertas 123

    Tabel 6.18. Penghematan Biaya Energi pada Industri Pulp dan Kertas

    (Rp triliun) 124

    Tabel 6.19. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2012-2025 128

    Tabel 6.20. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Pupuk 2012-

    2025 130

    Tabel 6.21. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen (gWh) 137

    Tabel 6.22. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen 138

    Tabel 6.23. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Semen 138

    Tabel 6.24. Penghematan Biaya Energi pada Industri Semen 139

    Tabel 6.25. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik (gWh) 143

    Tabel 6.26. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik 144

    Tabel 6.27. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Keramik 145

    Tabel 6.28. Penghematan Biaya Energi pada Industri Keramik 145

    Tabel 6.29. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada

    Skenario Business as Usual (gWh) 146

    Tabel 6.30. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada

    Skenario Akselerasi (gWh) 147

    Tabel 6.31. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada

    Skenario Akselerasi disertasi Efisiensi (gWh) 147

    Tabel 6.32. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada

    Skenario Business as Usual

    148

  • xviii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xix

    Daftar Gambar

    Gambar 1.1. Pemakaian Energi Akhir Menurut Sektor (persen) 2

    Gambar 1.2. Perbandingan Intensitas Energi Primer di Beberapa

    Negara 3

    Gambar 2.1. Perkembangan Permintaan Energi Primer Dunia 8

    Gambar 2.2. Perbandingan Permintaan Energi Berdasarkan Sektor 8

    Gambar 2.3. Perkembangan Intensitas Energi Di China 9

    Gambar 2.4a. Efisiensi penggunaan energi 9

    Gambar 2.4b. Kontribusi terhadap PDB 9

    Gambar 2.5. Komposisi Penggunaan Energi China 10

    Gambar 2.6. Penggunaan Energi di Sektor Industri Berdasarkan

    Wilayah 11

    Gambar 2.7. Komposisi Konsumsi Energi pada Sektor Industri di

    India (persen) 12

    Gambar 2.8. Konsumsi Energi Primer Berdasarkan Jenis Energi 13

    Gambar 2.9. Bauran Energi Pembangkit Listrik Malaysia 13

    Gambar 2.10. Pemasok Batubara untuk Pembangkit Listrik

    Malaysia 14

    Gambar 2.11. Sasaran Bauran Energi Primer Nasional 2025 15

    Gambar 2.12. Pasokan Energi di Indonesia Menurut Jenis (2000-

    2010) 17

    Gambar 2.13. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Jenis (2005-

    2010) 18

    Gambar 2.14. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Sektor

    (2004-2010) 19

    Gambar 3.1. Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak

    terhadap Total Produksi Industri Pupuk 33

    Gambar 3.2. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk tahun

    2009 (persen)

    33

    Gambar 4.1. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar

    dan Sedang Triwulanan 2009-2012 (persen) 47

    Gambar 4.2. Kontribusi Industri Non Migas terhadap PDB (persen) 49

    Gambar 4.3. Konsumsi Baja Nasional (juta ton) 60

  • xx | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

    Gambar 4.4. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak

    terhadap Total Produksi Industri Pupuk Selama

    Periode 2003-2010 66

    Gambar 4.5. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk tahun

    2009 (Persen) 67

    Gambar 4.6. Produksi Pulp Indonesia (Juta Ton) 70

    Gambar 4.7. Produksi Kertas Indonesia (Juta Ton) 70

    Gambar 4.8. Komposisi Input Industri Pulp dan Kertas 71

    Gambar 4.9. Konsumsi Semen Nasional (JutaTon) 74

    Gambar 4.10. Produksi dan Konsumsi Keramik Nasional (juta M2) 78

    Gambar 6.1. Komposisi Sumber Energi Industri Tekstil (persen) 108

    Gambar 6.2. Komposisi Biaya Energi pada Industri

    Pengolahan Kelapa Sawit (persen) 118

    Gambar 6.3. Kebutuhan Energi di Industri Pulp dan Kertas 118

    Gambar 6.4. Jenis Bahan Bakar di PT.IKPP (persen) 119

    Gambar 6.5. Komposisi Penggunaan Energi untuk Bahan

    Bakar pada Industri Pupuk 2009 126

    Gambar 6.6. Proyeksi Konsumsi Energi yang Dibutuhkan Industri

    Pupuk 129

    Gambar 6.7. Komposisi Biaya Produksi Pada Industri Semen 2009

    (persen) 131

    Gambar 6.8. Komposisi Biaya Energi Pada Industri Semen Tahun

    2009 (persen) 132

    Gambar 6.9. Konsumsi Semen Per Kapita Tahun 2010 (kilogram) 135

    Gambar 6.10. Biaya Produksi pada Industri Keramik Tahun 2009

    (Persen) 140

    Gambar 6.11. Biaya Energi pada Industri Keramik Tahun 2009

    (Persen) 141

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xxi

    Daftar Singkatan dan Istilah

    BaU : Business as Usual

    Bark : Kulit pohon

    Black liquor : Cairan hitam kental yang merupakan produk sampingan dari

    proses perubahan kayu menjadi bubur (pulp)

    Black liquor gasification-combined cycle (BLGCC) : Teknologi gasifikasi

    dengan menggunakan black liquor, kulit dan potongan kayu

    Cal : Calorie (kalori)

    CRC : Cold Rolled Coil

    gWh : Giga Watt hour

    Gr : Gram

    HRC : Hot Rolled Coil

    mWh : Mega Watt hour

    MMBTU : Million Metric British Thermal Units

    MMSCF : Mile-Mile Standard Cubic Feet

    Kkal : Kilo Kalori

    kWh : Kilo Watt Hour

    PG : Pupuk Gresik

    PIM : Pupuk Iskandar Muda

    PK : Pupuk Kujang

    PKT : Pupuk Kalimantan Timur

    PT. KS : Perseroan Terbatas Krakatau Steel

    Pusri : Pupuk Sriwijaya

    Rp : Rupiah

    Scrap : Besi rongsokan

    Saw dust : Serbuk kayu

    Sludge : Lumpur/endapan

    Tankos : Tandan kosong kelapa sawit

    US$ : US dollar

    WR : Wire Rod

  • xxii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Peranan energi sangat penting bagi akselerasi sektor industri,

    utamanya sebagai bahan bakar untuk proses produksi. Mesin

    produksi hanya dapat bekerja optimal jika energi yang tersedia

    mencukupi dan sesuai dengan karakteristik mesin. Selain sebagai

    bahan bakar, energi juga dapat dipakai sebagai bahan baku produk.

    Urgensi ini membuat upaya peningkatan pertumbuhan sektor

    industri tidak dapat lepas dari analisis penyediaan energi sektor

    industri.

    Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring pertumbuhan

    ekonomi nasional yang dicirikan antara lain dengan perkembangan

    sektor industri dan peningkatan jumlah penduduk. Namun

    pemerintah mengalami kesulitan untuk mengimbangi kenaikan

    permintaan tersebut dengan penyediaan energi yang cukup dan

    tepat sasaran serta energi yang ekonomis. Untuk itu, pemerintah

    berupaya untuk menciptakan kebijakan yang ideal sedemikian agar

    kenaikan kebutuhan energi dapat diimbangi dengan kenaikan

    penyediaan energi yang akan menghasilkan tambahan output. Jika

    kondisi ini tercapai maka setiap energi yang dikonsumsi dalam

    proses produksi akan lebih efisien, karena sesuai dengan

    karakteristik mesin dan sesuai dengan kebutuhan produk.

    Secara umum, sektor industri merupakan sektor yang

    mengkonsumsi energi akhir paling banyak bila dibandingkan dengan

    sektor lainnya (Gambar 1.1). Peningkatan penggunaan energi di

    sektor industri dalam 10 tahun terakhir terjadi karena proses

  • 2 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    transformasi struktural yang cepat dari sektor pertanian ke sektor

    industri. Selain peningkatan jumlah industri baik perluasan pabrik

    maupun pendirian industri-industri baru, diduga terjadi

    pemborosan penggunaan energi di sektor industri (ESDM; 2007,

    dalam Pambudi; 2009). Terlebih lagi sektor industri dalam negeri

    pernah sangat terpukul waktu krisis moneter 1997-1998 yang

    menyebabkan depresiasi besar nilai tukar rupiah. Tingginya tingkat

    ketergantungan terhadap mesin-mesin produksi impor membuat

    pelaku industri tidak mampu memperbarui mesin-mesin

    produksinya. Sehingga banyak industri yang harus beroperasi hanya

    dengan mengandalkan mesin-mesin tua yang relatif boros energi.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 3

    Indonesia memerlukan energi lebih banyak dibandingkan dengan

    produk yang sama di negara lain.

    Ketidakefisienan pemakaian energi sangat merugikan sektor

    industri karena terkait dengan jumlah output yang dihasilkan serta

    keuntungan agregat industri. Dampak yang lebih besar lagi adalah

    inefisiensi energi dalam skala massif dan berkepanjangan dapat

    menyebabkan inefisiensi ekonomi melalui alokasi sumber daya yang

    tidak optimal. Jika tidak segera ditangani, akan berdampak pada

    sulitnya mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 7-9

    persen per tahun sesuai dengan target Masterplan Percepatan dan

    Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

    Sumber: Handbook Energy 2010; Kementerian ESDM, 2011

    Catatan: PDB konsumsi energi primer menggunakan nilai tetap US$ tahun 2000

    Gambar 1.2. Perbandingan Intensitas Energi Primer di Beberapa

    Negara

    Disamping persoalan efisiensi penggunaan energi, besarnya energi

    yang diperlukan untuk keberlangsungan sektor industri penting

    dikaji, utamanya terkait dengan peluang investasi di suatu industri

    tertentu. Perencanaan pembangunan industri selalu terkait dengan

    besarnya energi yang dibutuhkan. Oleh karena itu analisis tentang

    kebutuhan energi di sektor industri penting untuk dilakukan, agar

    upaya akselerasi sektor industri dapat diiringi dengan penyediaan

    energi yang memadai.

  • 4 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Perhitungan kebutuhan energi pada industri terpilih yang tergolong

    padat energi atau yang paling banyak menggunakan sumber energi

    penting dilakukan. Hal ini sebagai bahan pertimbangan kebijakan

    akselerasi industri sekaligus dalam upaya mempercepat

    pertumbuhan industri nasional yang salah satunya dengan cara

    menarik investasi baru.

    Saat ini terdapat sekitar 10 perusahaan yang menggunakan energi

    terbesar di Indonesia, di mana sebagian besar merupakan industri

    yang berbasis manufaktur. Beberapa industri seperti baja, tekstil,

    semen, pupuk, dan keramik merupakan industri-industri yang

    mengkonsumsi energi relatif besar dan cenderung meningkat dari

    tahun ke tahun (KESDM, Ditjen EBTKE, 2011). Oleh karena itu,

    industri-industri tersebut dapat dijadikan sebagai suatu patokan

    perhitungan atau signal dalam analisis penyediaan energi sektor

    industri. Terlebih lagi industri tersebut yaitu: baja, tekstil, semen,

    pupuk, dan keramik menjadi prioritas dalam pengembangan

    industri nasional, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden

    No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, dan

    merupakan fokus Dokumen Akselerasi Industrialisasi Tahun 2012-

    2014 yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian.

    Perhitungan kebutuhan energi sektor industri yang dibedakan

    menurut basis industrinya yaitu industri material dasar dan industri

    manufaktur padat karya juga penting dilakukan. Peran penting

    industri material dasar dalam pembangunan antara lain terlihat

    pada industri dan baja, industri semen, industri pupuk (petrokimia),

    dan industri keramik. Sementara peran penting industri manufaktur

    padat karya salah satunya terlihat pada industri tekstil dan produk

    tekstil.

    Pada industri berbasis agro, industri pengolahan kelapa sawit dan

    industri pulp dan kertas penting juga dilihat kebutuhan energinya.

    Industri pengolahan kelapa sawit, terutama minyak kelapa sawit,

    berperan dalam meningkatkan daya dukung terhadap industri

    makanan olahan di Indonesia. Sementara industri pulp dan kertas

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 5

    berperan dalam meningkatkan nilai tambah produk seiring

    permintaan produk kertas yang meningkat.

    1.2. Tujuan Penelitian

    Penelitian tentang kebutuhan energi pada sektor industri

    dimaksudkan untuk menganalisis besarnya kebutuhan energi yang

    diperlukan oleh industri dalam proses produksinya. Dengan

    demikian penelitian ini akan menganalisis secara lebih mendalam

    mengenai besarnya tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor

    industri di Indonesia yang tergolong paling banyak menggunakan

    sumber energi atau industri padat energi. Sektor industri yang

    dianalisis secara lebih mendalam pada kajian ini terdiri dari 7 sektor

    industri terpilih yang padat energi, yaitu:

    a. Industri Baja;

    b. Industri Tekstil;

    c. Industri Pupuk;

    d. Industri Pulp dan Kertas;

    e. Industri Pengolahan Kelapa Sawit;

    f. Industri Semen; dan

    g. Industri Keramik;

    Secara lebih rinci tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah:

    1) Menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor

    industri di Indonesia yang relatif padat energi.

    2) Mengidentifikasi permasalahan energi pada sektor industri.

    3) Memproyeksi kebutuhan energi pada beberapa sektor industri

    dengan beberapa skenario.

    4) Menyusun rekomendasi kebijakan perencanaan kebutuhan

    energi di sektor industri ke depan.

    1.3. Manfaat Kajian

    Saat ini pemerintah seringkali dihadapkan pada permasalahan yang

    dianggap sangat krusial yaitu kurang tersedianya energi untuk

  • 6 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    industri yang sangat strategis. Akibat dari kurangnya perencanaan

    energi yang tidak matang, maka seringkali terjadi energi yang

    murah malah diekspor, sedangkan industri dalam negeri justru

    terpaksa menggunakan energi mahal yang tersedia. Ketidaktepatan

    kebijakan ini pada akhirnya akan menurunkan daya saing industri

    Indonesia di pasar internasional.

    Argumentasi yang seringkali diajukan pemerintah adalah tidak

    adanya perencanaan energi untuk industri yang dapat dijadikan

    pegangan bagi pemerintah. Salah satu faktor penghambat adalah

    kurang tersedianya prasarana distribusi energi sehingga konsumen

    sulit mengakses energi murah tersebut.

    Untuk itu, kajian ini diharapkan dapat menyajikan kebutuhan energi

    di masing-masing kelompok industri padat energi, dalam satuan

    aslinya, sehingga lebih mudah bagi semua pihak untuk melakukan

    perencanaan energinya. Ketersediaan data kebutuhan energi pada

    satuan aslinya akan dapat menjadi alternatif solusi bagi pemerintah

    dalam membuat kebijakan penyediaan energi di sektor industri,

    khususnya penyediaan energi di 7 sektor industri terpilih yang

    padat energi.

    Diharapkan dengan tercapainya solusi penyediaan energi di 7 sektor

    industri terpilih yang padat energi, maka secara umum dapat

    dikatakan bahwa sektor industri dapat menunjang target

    pertumbuhan ekonomi nasional.

    Selain itu kajian ini juga dapat digunakan sebagai pertimbangan

    bagi sektor industri khususnya perusahaan dalam membuat strategi

    penggunaan energi ke depan khususnya yang berkaitan dengan

    jenis energi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar maupun sebagai

    bahan baku produksi.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 7

    BAB II

    GAMBARAN PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL

    DAN BEBERAPA NEGARA LAIN

    2.1. Overview Pengelolaan Energi Negara Lain

    Indonesia perlu belajar dari negara-negara setara, yang mampu

    mengelola ketahanan energinya secara lebih baik. China dan India

    merupakan dua negara yang perekonomiannya sangat

    diperhitungkan oleh dunia saat ini. Industri yang tumbuh pesat di

    kedua negara tersebut tentunya memerlukan ketersediaan energi

    yang memadai dan berkelanjutan. Di kawasan ASEAN,

    perekonomian Malaysia relatif setara dengan Indonesia, hanya saja

    Malaysia mampu menghindar dari ketergantungan sumber energi

    minyak yang harganya terus melambung saat ini. Overview singkat

    pengelolaan energi di beberapa negara akan dapat memberi

    gambaran bagi pengelolaan energi nasional yang lebih baik ke

    depan. Meskipun kebijakan masing-masing negara masih harus

    disesuaikan dengan karakteristik yang ada, namun dengan

    benchmark negara-negara yang relatif lebih baik pengelolaan

    energinya harapan akan perbaikan kebijakan ketahanan energi di

    Indonesia bukan hal mustahil.

    2.1.1. China

    Permintaan energi dunia meningkat pesat, di mana China

    mengambil porsi terbesar atas total permintaan energi dunia.

    Bahkan jika permintaan energi di China dan India digabung, maka

    kedua negara ini mengambil porsi sebesar 50 persen dari total

    pertumbuhan permintaan energi dunia. Sebuah dominasi yang

  • 8 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    sangat besar separoh pertumbuhan permintaan energi dunia hanya

    berasal dari dua negara besar, China dan India, lihat Gambar 2.1.

    Sumber: IEA, 2011

    Gambar 2.1. Perkembangan Permintaan Energi Primer Dunia

    Permintaan kebutuhan energi di China digunakan untuk

    menghidupkan industrinya. Sebesar 71 persen permintaan energi

    di China digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi di

    sektor industri, sementara di negara-negara lain porsinya masih di

    bawah 50 persen yang digunakan untuk industri, lihat Gambar 2.2.

    Dengan demikian sangat wajar jika produk-produk China sangat

    mendominasi di pasar dunia saat ini, salah satu keunggulannya

    adalah pasokan energi di sektor industri yang memadai.

    Ketersediaan energi membuat industri-industri di China dapat

    mengoperasikan kapasitas mesin produksinya secara optimal.

    Sumber: World energi Outlook Report-IEA, 2011

    Gambar 2.2. Perbandingan Permintaan Energi

    Berdasarkan Sektor

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 9

    Menariknya, China tidak hanya fokus pada upaya pemenuhan

    kebutuhan energi dengan menyediakan pasokan yang sebesar-

    besarnya tetapi juga berupaya melakukan efisiensi penggunaan

    energi melalui berbagai inovasi teknologi secara terencana.

    Hasilnya cukup mengesankan, nilai intensitas energi di China

    mengalami penurunan signifikan yang menunjukkan bahwa

    pemanfaatan energi semakin efisien. Sejak 1978 intensitas energi di

    China semakin turun akibat pengembangan energi-intensif untuk

    industri seperti industri semen dan baja serta pengembangan

    teknologi untuk efisiensi energi, lihat Gambar 2.3.

    Sumber: World energi Outlook Report-IEA, 2011

    Gambar 2.3. Perkembangan Intensitas Energi Di China

    Perpaduan antara strategi pemenuhan pasokan energi di sektor

    industri dan upaya serius dari industri untuk meningkatkan efisiensi

    penggunaan energi di China menghasilkan output ekonomi yang

    meningkat pesat. Berbagai jenis industri lahap energi di China

    mampu meningkatkan efisiensinya dalam menggunakan energi

    yang ada disertai dengan peningkatan output produksi sehingga

    menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi, lihat Gambar 2.4.

    Sumber: World energi Outlook Report-IEA, 2011

    Gambar 2.4a. Efisiensi penggunaan energi Gambar 2.4b. Kontribusi terhadap PDB

  • 10 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Dilihat dari komposisi penggunaan energi di China batubara

    merupakan sumber energi yang paling besar digunakan yaitu

    sebesar 67 persen, sementara penggunaan minyak sebesar 17

    persen. Dengan komposisi ini maka fluktuasi harga minyak relatif

    tidak berdampak langsung pada penyediaan energi di China. Hanya

    saja mengingat batubara merupakan substitusi dari energi minyak,

    fluktuasi di harga minyak juga akan mendorong meningkatnya

    harga batubara, lihat Gambar 2.5.

    Sumber: World energi Outlook Report-IEA, 2011

    Gambar 2.5. Komposisi Penggunaan Energi China

    Kebijakan penyediaan kebutuhan energi di China cukup berhasil

    salah satunya dikarenakan sejak sebelum reformasi Deng Xioping,

    kebijakan energi sudah diselaraskan dengan kebijakan industri.

    Pada tahun 1970an, State Planning Commission (SPC) menentukan

    berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk industri, sehingga ada

    gambaran di masa depan. Pada Januari 2010, Cina membentuk

    National Energy Commission (NEC) yang ditujukan untuk

    meningkatkan strategi pengembangan energi. Konservasi Energi

    mulai direncanakan dalam Rencana Lima Tahun (2006-2010) di

    mana dalam Rencana tersebut, Cina juga menyoroti pentingnya

    kerjasama dengan dunia internasional dalam menjamin pasokan

    energi dalam negeri.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 11

    2.1.2. India

    Dari sisi global, India merupakan negara keempat terbesar dalam

    penggunaan energi bagi sektor industri (5 persen), berada di bawah

    China (24 persen), Amerika Serikat (13 persen), dan Rusia (6

    persen). Lima industri di India yang paling lahap energi yaitu

    industri baja, semen, kimia dan petrokimia, pulp and paper, dan

    aluminium. Kelima industri ini mengkonsumsi 56 persen dari

    konsumsi energi sektor industri di India, lihat Gambar 2.6.

    Sumber: IEA, 2011

    Gambar 2.6. Penggunaan Energi di Sektor Industri

    Berdasarkan Wilayah

    Batubara dan minyak bumi mendominasi penggunaan energi sektor

    industri di India. Sebesar 33 persen sumber energi sektor industri

    menggunakan batubara, 23 persen menggunakan minyak, serta

    sisanya berbagai sumber energi lain. Sektor industri mengkonsumsi

    sebesar 45 persen dari total listrik yang dihasilkan oleh pembangkit

    milik negara. Sekitar 30 persen listrik untuk industri dihasilkan oleh

    pembangkit swasta (captive power plant), lihat Gambar 2.7.

    Efisiensi penggunaan energi juga merupakan fokus kebijakan energi

    di India, terutama di tiga industri terbesar India, yaitu industri baja,

    kimia dan petrokimia, serta industri semen. Selain itu, cukup

    besarnya penggunaan listrik swasta untuk industri diharapkan

    dapat meningkatkan ketahanan energi bagi industri di India.

  • 12 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sumber: IEA, 2011

    Gambar 2.7. Komposisi Konsumsi Energi pada Sektor Industri

    di India (persen)

    2.1.3. Malaysia

    Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang

    perkembangan ekonominya relatif cepat. Perekonomian Malaysia

    ditopang oleh industri pengolahan dan penciptaan nilai tambah

    sumber daya alam. Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap

    PDB Malaysia sekitar 28,9 persen, di mana industri yang

    mengkonsumsi banyak energi di negara ini adalah baja, semen,

    kayu, makanan, kaca, pulp dan paper, keramik, dan industri karet.

    Berdasarakan sumber energinya, gas dan minyak mendominasi

    penggunaan energi primer di Malaysia, sebesar 85 persen.

    Sementara berdasarkan sektornya, transportasi dan industri

    mendominasi penggunaan energi akhir terbesar di Malaysia,

    sebesar 70,7 persen, lihat Gambar 2.8.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 13

    Sumber: PETRONAS, 2012

    Gambar 2.8. Konsumsi Energi Primer Berdasarkan Jenis Energi

    Salah satu hal menarik dari kebijakan energi di Malaysia adalah

    terkait dengan penyediaan pasokan energi listrik. Dalam penyediaan

    energi listrik, secara terencana Malaysia mampu menggeser

    ketergantungan pembangkit listriknya dari Minyak ke Gas dan

    Batubara sejak tahun 1990-an. Kebijakan diversifikasi sumber energi

    listrik sudah dimulai sejak 1980, setelah pada 1970-an terjadi shock

    harga minyak dunia. Dari sini terlihat bahwa kebijakan energi di

    Malaysia relatif lebih terencana dan konsisten dalam penerapannya,

    sehingga fluktuasi harga minyak tidak lagi secara langsung

    mengancam ketahanan energinya, lihat Gambar 2.9.

    Sumber: Energy Commission of Malaysia, 2012

    Gambar 2.9. Bauran Energi Pembangkit Listrik Malaysia

  • 14 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Malaysia mampu menggeser ketergantungan sumber energi

    listriknya dari minyak ke gas dan batubara. Menariknya, sebagian

    besar batubara yang digunakan untuk membangkitkan listrik di

    Malaysia diimpor dari Indonesia. Indonesia merupakan pemasok

    batubara terbesar bagi pembangkit listrik Malaysia, yaitu sebesar

    65 persen pada 2011, turun dibandingkan 2008 yang mencapai 84

    persen,lihat Gambar 2.10.

    Sumber: Energy Commission of Malaysia, 2012

    Gambar 2.10. Pemasok Batubara untuk Pembangkit Listrik

    Malaysia

    Dalam rencana jangka panjangnya, Malaysia akan melanjutkan

    penggunaan gas dan batubara dalam suplai sumber energi

    pembangkit listriknya. Beberapa kebijakan Malaysia tentang gas

    dan batubara ke depan untuk menjaga ketahanan nasional pasokan

    energi antara lain: a) mengkaji perjanjian pasokan gas, untuk

    meningkatkan ketahanan suplai energi; b) meningkatkan pasokan

    melalui terminal regasifikasi, terutama di Melaka dan Johor; c)

    diversifikasi negara pemasok batubara untuk menjaga ketahanan

    pasokan energi; d) menjajaki kemungkinan kepemilikan tambang di

    negara-negara pemasok; dan e) peningkatan teknologi untuk

    mengurangi emisi.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 15

    2.2. Kebijakan Energi di Indonesia

    2.2.1 Kebijakan Bauran Energi

    Dalam menghadapi ancaman krisis energi, pemerintah Indonesia

    sendiri telah mengantisipasi dengan merumuskan kebijakan energi

    nasional yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No.5 Tahun

    2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang berisi strategi untuk

    menjamin keamanan energi di Indonesia. Inti kebijakan tersebut

    ialah mendesain bauran energi di tahun 2025 dengan mengurangi

    konsumsi energi fosil dan menggantinya dengan energi baru

    terbarukan.

    * BaU = Business as Usual

    ** EBT = Energi Baru Terbarukan :

    1. Bahan Bakar Nabati/Biofuel (5%)

    2. Panas Bumi (5%)

    3. Biomasa, Buklir, Air, Surya, Angin (5%)

    4. Batubara yang dicairkan (2%)

    Sumber: Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (PEN), 2006

    Gambar 2.11. Sasaran Bauran Energi Primer Nasional 2025

  • 16 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Disamping itu, kebijakan lain yang telah disiapkan oleh pemerintah

    yakni UU No.30 Tahun 2007 tentang Energi yang bertujuan untuk

    mewujudkan kemandirian energi. UU ini juga menjadi landasan

    berdirinya lembaga Dewan Energi Nasional (DEN) yang bertugas

    dalam merancang dan merumuskan kebijakan energi nasional.

    Kemudian ada juga PP No.70 Tahun 2009 tentang Konservasi

    Energi, UU No.30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang

    didalamnya juga telah mendorong pengembangan sumber energi

    terbarukan sebagai penghasil listrik serta Blue Print Pengelolan

    Energi Nasional 2006-2025.

    Secara umum, kebijakan bauran energi yang akan dilaksanakan oleh

    Indonesia dapat dilihat pada gambar 2.11. Sasaran bauran energi

    primer dibuat dalam dua skenario yakni skenario konservatif

    (Business as Usual) serta skenario optimalisasi pengelolaan energi

    sesuai dengan Perpres Nomor 5 Tahun 2006 yang mengoptimalkan

    sumber energi terbarukan.

    Berdasarkan sasaran bauran energi primer nasional, pada 2025

    harus ada perubahan energi mix yang pada saat ini masih

    didominasi minyak bumi.Pada 2005 minyak bumi masih 54,78%,

    batubara 16,77%, gas 22,24% dan energi baru terbarukan

    6,2%.Namun pada 2025 energi mix untuk minyak bumi menjadi

    20%, gas bumi 30%, batubara 33% dan energi baru terbarukan

    sebesar 17%.

    2.2.2. Pasokan dan Kebutuhan Energi

    Selama bertahun-tahun, Indonesia menggunakan berbagai jenis

    pasokan energi mulai dari minyak, gas, batubara, hingga panas

    bumi. Akan tetapi, ketergantungan Indonesia terhadap energi

    minyak sangat besar, yaitu 46 persen dari total pasokan energi

    Indonesia. Persentase tersebut sudah lebih rendah dibandingkan

    beberapa tahun terakhir dimana minyak menguasai lebih dari 50%

    total pasokan energi Indonesia. Dari Gambar 2.12, dapat dilihat

    bahwa walaupun persentasenya semakin berkurang sejak tahun

    2000, yaitu 59,64% menjadi 46,77% pada tahun 2010, namun

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 17

    minyak tetap menjadi sumber energi utama di Indonesia. Dari

    gambar 2.12 juga dapat dilihat bahwa terjadi bauran energi yang

    semakin merata secara perlahan, dimana suplai gas dan batubara

    cenderung meningkat. Pada tahun 2000, suplai energi batubara

    hanya sekitar 12,91% dari total suplai energi, yang pada tahun

    2010, jumlahnya naik hampir dua kali lipat sehingga mencapai

    23,91% dari total suplai energi Indonesia. Hal yang sama juga terjadi

    pada energi gas, walaupun pertumbuhannya tidak terlalu signifikan

    dibandingkan batubara, dimana pada tahun 2010 suplai gas

    mencapai 24,29% dari suplai energi Indonesia. Persentase tersebut

    naik dibandingkan tahun 2000 ketika suplai energi gas mencapai

    22,6% dari suplai energi Indonesia.

    Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia, 2011

    Gambar 2.12. Pasokan Energi di Indonesia Menurut Jenis

    (2000-2010)

    Bila dilihat secara rata-rata kontribusi suplai energi pada periode

    tahun 2000 hingga 2010, maka energi minyak merupakan energi

    utama dimana kontribusinya rata-rata mencapai 58% dari total

    pasokan energi. Konstribusi energi minyak tersebut jauh di atas

    rata-rata pasokan energi batubara maupun energi gas yang

    persentase masing-masing sebesar 21% dan 24% pada periode yang

    sama. Salah satu sebab mengapa minyak masih mendominasi

    suplai energi di Indonesia adalah kebijakan subsidi minyak yang

    masih ada hingga hari ini. Besarnya subsidi minyak adalah

    sedemikian sehingga harga eceran minyak dalam negeri hanya

    setengah dari harga eceran internasionalnya.

  • 18 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Jika dilihat dari konsumsi energi menurut jenisnya, maka energi

    dalam bentuk fuel (BBM) merupakan jenis energi yang paling

    banyak dikonsumsi, lihat Gambar 2.13. Dari data yang dikeluarkan

    oleh Kementrian ESDM dalam Handbook of Energy and Economic

    Statistic of Indonesia (2011) diketahui bahwa sejak tahun 2005,

    BBM merupakan energi yang paling banyak dikonsumsi oleh

    masyarakat Indonesia baik sektor industri, komersial, transportasi,

    maupun sektor rumah tangga. Walaupun konsumsi BBM mengalami

    penurunan sejak tahun 2005, namun proporsi konsumsi BBM

    sangat besar dibandingkan jenis energi lain seperti batu bara dan

    energi gas. Pada tahun 2005, 57% dari total konsumsi energi

    Indonesia berbentuk BBM. Jumlah persentase konsumsi BBM

    berkurang menjadi 46% pada tahun 2010. Sedangkan untuk jenis

    energi gas, walaupun sempat mencapai 18% dari total konsumsi

    energi pada tahun 2009, namun peningkatan penggunaan energi

    gas tidak terlalu signifikan dalam lima tahun terakhir. Dibandingkan

    jenis energi lainnya, jenis energi batu bara merupakan jenis energi

    yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun

    2005, konsumsi energi batu bara hanya 11% dari total konsumsi

    energi di Indonesia, namun pada tahun 2010, persentase

    penggunaan energi batu baru meningkat menjadi 17%.

    Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia, 2011

    Gambar 2.13. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Jenis

    (2005-2010)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 19

    Selama ini sektor industri dan sektor transportasi merupakan dua

    sektor yang paling lahap energi, lihat Gambar 2.14. Pada tahun

    2004, sektor industri menggunakan 39,9% dari total konsumsi

    energi di Indonesia. Jumlah tersebut terus meningkat hingga tahun

    2011 sektor industri menggunakan sekitar 47% dari total konsumsi

    energi Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada sektor

    transportasi yang terus mengalami peningkatan secara persentase

    dalam penggunaan energi di Indonesia. Pada tahun 2010, sektor

    transportasi menggunakan 36% dari total konsumsi energi di

    Indonesia, meningkat dibandingkan tahun 2004 sebesar 33%.

    Berbeda dengan sektor industri maupun sektor transportasi yang

    mengalami peningkatan dalam persentase penggunaan energi di

    Indonesia, sektor rumah tangga justru mengalami penurunan dalam

    persentase total penggunaan energi di Indonesia. Pada tahun 2004,

    16,76% dari total konsumsi energi di Indonesia digunakan untuk

    sektor rumah tangga. Namun persentase tersebut semakin

    berkurang hingga tahun 2010 ketika persentase konsumsi energi di

    Indonesia untuk sektor rumah tangga hanya 11,51%.

    Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia, 2011

    Gambar 2.14. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Sektor

    (2004-2010)

  • 20 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    2.3. Kendala dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi bagi Industri

    di Indonesia

    Secara umum, sektor industri khususnya industri yang relatif

    banyak menggunakan energi hingga saat ini masih merasa kesulitan

    untuk mendapatkan energi yang murah, efisien atau ramah

    lingkungan. Hal ini dikarenakan pasokan energi yang ada harus

    diperoleh dengan biaya yang relatif tinggi, dan untuk

    mendapatkannya pun masih relatif sulit. Jika industri menggunakan

    sumber energi yang murah misalnya batubara, maka

    konsekuensinya industri tersebut akan dianggap sebagai industri

    yang tidak ramah lingkungan karena menghadapi masalah

    pelestarian lingkungan yang tertuang dalam peraturan-peraturan

    tentang lingkungan hidup (UU Lingkungan Hidup).

    Lebih lanjut, permasalahan energi gas di Indonesia antara lain

    terkait dengan pasokan untuk domestik yang minim; sistem

    distribusi gas yang kurang memadai; infrastruktur (pipa gas) yang

    belum tersebar ke seluruh pelosok konsumen, dan belum

    berkembangnya receiving terminal gas berbentuk cair (liquified

    natural gas, LNG). Selama ini pemerintah lebih banyak mengekspor

    gas alam ke luar negeri, baik melalui pipa maupun LNG, sehingga

    kebutuhan gas dalam negeri belum terpenuhi secara maksimal.

    Secara spesifik berikut kendala-kendala aktual yang dihadapi oleh

    sektor industri dalam aksesibilitasnya terhadap kebutuhan energi:

    a. Kesulitan memperoleh energi gas disebabkan

    kuranglengkapnya prasarana pendistribusian gas bumi.

    Perkiraan yang agak kasar, energi gas dikonsumsi dalam

    negeri saat ini baru memenuhi sekitar 50-60% dari

    kebutuhan akan energi gas dalam negeri. Defisit gas bumi

    juga disebabkan tingginya ekspor gas yang mencapai lebih

    dari 50 persen dari total produksi gas bumi.

    b. Terbatasnya infrastruktur pendistribusian gas bumi seperti

    jaringan transmisi gas bumi yang baru sepanjang 2.150 Km

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 21

    dan jaringan distribusi sepanjang 3.900 Km. Distribusi gas

    bumi hanya dapat menggunakan pipa atau bentuk LNG,

    padahal lokasi konsumen gas bumi tidak selalu berdekatan

    dengan sumber gas buminya.

    c. Ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dengan

    lokasi industri, misalnya sumber gas bumi yang melimpah

    tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua namun lokasi

    industri terpusat di pulau Jawa. Demikian pula energi

    batubara yang melimpah di Sumatera dan Kalimantan,

    sementara konsumennya sebagian besar terpusat di pulau

    Jawa.

    d. Masih rendahnya pemanfaatan batubara untuk kebutuhan

    domestik sedangkan sebagian besar (70 persen) dari

    produksi batubara dipasarkan ke luar negeri. Salah satu

    penyebabnya juga karena keterbatasan infrastruktur dalam

    hal distribusi. Disamping itu, isu lingkungan juga menjadi

    hambatan bagi industri dalam memanfaatkan sumber energi

    batubara, yakni dengan adanya UU Lingkungan Hidup.

    e. Diversifikasi energi terutama energi terbarukan masih sulit

    dilakukan karena selain biaya yang dikeluarkan jauh lebih

    mahal, infrastruktur yang dibutuhkan juga masih belum

    memadai.

    f. Issu lain terkait dengan pengembangan energi terbarukan

    adalah mahalnya harga energi terbarukan bila dibandingkan

    dengan harga BBM subsidi, sehingga konsumen cenderung

    tetap memilih membeli sumber energi yang lebih murah.

    g. Belum selesainya penyusunan Kebijakan Energi Nasional

    (KEN) yang akan dijadikan sebagai acuan.

  • 22 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 23

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1. Jenis dan Sumber Data

    Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data sekunder

    dan data primer. Data sekunder adalah statistik industri nasional

    dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perindustrian RI, dan

    data dari asosiasi industri terpilih. Data sekunder digunakan untuk

    menyusun pemetaan awal yang menggambarkan konfigurasi sektor

    industri yang dikaji secara umum. Sedangkan data primer

    digunakan untuk mengetahui karakteristik kebutuhan energi dan

    pemanfaatan energi sektor industri, khususnya 7 kelompok industri

    terpilih yang padat energi, sebagai tujuan utama kajian ini. Data

    primer diperoleh dari wawancara mendalam langsung ke beberapa

    pelaku industri dan asosiasi industri.

    3.1.1. Wawancara

    Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung

    kepada beberapa pelaku industri/perusahaan dan asosiasi industri,

    menggunakan kuesioner sebagai panduan agar wawancara dapat

    lebih fokus pada inti kajian. Poin pokok yang digali secara

    mendalam adalah mengenai besarnya kebutuhan energi, akses

    terhadap energi, proporsi biaya energi dalam proses produksi,

    tingkat efisiensi penggunaan energi, intensitas penggunaan energi

    pada industri yang bersangkutan, dan lain-lain aspek yang

    berkaitan.

  • 24 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    3.1.2. Focus Group Discussion

    Focus Group Discussion (FGD) dalam kajian ini ditujukan untuk

    mendapatkan konfirmasi dan masukan dari para pelaku industri

    terpilih dan para ahli agar kajian dapat menggambarkan realitas

    yang ada di industri. Selain para pelaku dan pengurus asosiasi

    industri, FGD juga melibatkan para ekonom, akademisi, serta

    birokrat dari berbagai instansi terkait.

    3.2. Metode Analisis

    Metode analisis kebutuhan energi sektor industri ini secara umum

    dibagi menjadi 2. Pertama, untuk analisis kebutuhan energi 9

    subsektor industri digunakan analisis trend, di mana basis datanya

    bersumber dari data konsumsi energi pada Industri Besar-Sedang

    (IBS) yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pada

    analisis kebutuhan energi 9 subsektor industri ini proyeksi

    kebutuhan energi ke depan mengacu pada target pertumbuhan

    masing-masing subsektor industri yang tertuang di dalam Rencana

    Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian.

    Kedua, untuk analisis 7 sektor industri terpilih yang padat energi,

    analisis kebutuhan energi dilakukan dengan metode deterministik.

    Artinya, output suatu industri diproyeksikan pada tahun depan

    dengan menggunakan 3 skenario, yang kemudian dilakukan analisis

    proporsionalitas kebutuhan energinya, dengan asumsi intensitas

    energi konstan. Setelah mengetahui kebutuhan energi di 7 sektor

    industri terpilih yang padat energi pada tahun peramalan,

    kemudian proyeksi tersebut dikurangkan dengan ketersediaan

    energi di industri masing-masing pada tahun 2009. Hasilnya adalah

    kekurangan energi pada tahun peramalan terhadap tahun 2009,

    yang mencerminkan berapa besar kekurangan energi industri ke

    depan.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 25

    Kebutuhan energi pada beberapa industri terpilih ke depan

    diproyeksi berdasarkan skenario trend pertumbuhan produksi, di

    mana skenario dibagi menjadi 3, yaitu: a) skenario Business as Usual

    (BaU); b) skenario akselerasi; dan c) skenario akselerasi disertai

    efisiensi.

    3.3. Asumsi

    Asumsi yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi pada 7

    industri terpilih yang padat energi di masing-masing skenario, ada

    yang sama, ada pula yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh

    karakteristik industri dan sumber energi yang berbeda-beda

    sehingga sulit untuk disamaratakan.

    Namun demikian, pada skenario efisiensi atau penghematan,

    digunakan asumsi patokan harga energi yang sama, yaitu harga

    energi BBM sebesar 1,11 US$/liter, dengan acuan menggunakan

    harga solar industri 20121; batubara sebesar 65 US$/Ton, dengan

    acuan menggunakan harga batubara bulan Oktober 2012 pada

    kandungan kalori 5.100 kkal/kg atau batubara kategori kalori

    sedang2; serta gas bumi sebesar 10,2 US$/MMBTU, dengan acuan

    harga gas alam yang akan mulai berlaku bulan April 2013

    mendatang3.

    Kebutuhan energi pada 7 sektor industri terpilih yang padat energi

    dihitung dengan menggunakan 3 skenario yaitu: a) skenario

    Business as Usual (BaU); b) skenario akselerasi, dan c) skenario

    akselerasi disertai efisiensi. Skenario BaU adalah suatu skenario di

    mana pemerintah tidak melakukan suatu intervensi baru di luar

    yang sudah direncanakan sehingga dunia usaha melakukan kegiatan

    usaha seperti lazimnya dengan peningkatan kegiatan yang alamiah

    mengikuti permintaan. Meskipun demikian skenario BaU bisa tetap

    bervariasi jika terjadi pengaruh luar yang cukup dominan seperti

    1 Tambangnews, 2012 dalam www.tambangnews.com

    2 Kementerian ESDM, 2012 dalam www.djmbp.esdm.go.id/sijh/HBA

    3 Kementerian ESDM, 2012 dalamwww.esdm.go.id/berita/migas

  • 26 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    resesi perekonomian dunia atau bencana alam sehingga impor

    menurun.

    Skenario akselerasi adalah suatu keadaan dimana industri tersebut

    dipacu peningkatan produksinya guna memenuhi suatu target

    tertentu. Target tersebut bisa berupa tingkat pertumbuhan

    produksi, tingkat pemenuhan suatu pasar atau penguasaan pasar,

    atau ada tujuan nasional yang ingin dicapai seperti swasembada

    produk industri tertentu.

    Skenario akselerasi disertai efisiensi adalah suatu skenario

    akselerasi sebagaimana diuraikan diatas yang pada waktu

    bersamaan dilakukan upaya-upaya penghematan penggunaan

    energi atau efisiensi energi. Efisiensi energi diberi arti yang relatif

    luas, yaitu upaya peningkatan produktivitas mesin industri sehingga

    menggunakan energi yang lebih sedikit pada tingkat produksi tetap,

    atau menggunakan energi lain (energi alternatif) yang harganya

    relatif lebih murah dan lebih ramah lingkungan.

    Berikut asumsi yang digunakan dalam menghitung kebutuhan

    energi untuk masing-masing industri padat energi.

    3.3.1. Industri Baja

    Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri baja asumsi

    yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai

    berikut:

    a. Skenario Business as Usual (BaU)

    Dalam skenario BaU, kapasitas produksi baja hingga tahun

    2025 tumbuh sebesar rata-rata pertumbuhan per tahun

    selama sepuluh tahun terakhir periode 2002-2011, yaitu

    sebesar 7,7 persen per tahun (Worldsteel Association, 2012).

    Intensitas energi pada industri baja di Indonesia sebesar 900

    kWh per Ton4. Artinya, untuk menghasilkan 1 Ton baja di

    Indonesia membutuhkan energi sebesar 900 kWh. Angka

    4 Berdasarkan hasil FGD dengan pelaku industri pada 4 Mei 2012.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 27

    intensitas ini lebih tinggi dibandingkan dengan India sebesar

    600 kWh per Ton dan Jepang sebesar 350 kWh per Ton, yang

    menunjukkan bahwa penggunaan energi untuk pembuatan

    baja di Indonesia belum seefisien kedua negara tersebut5.

    Proporsi komposisi jenis energi yang digunakan di industri

    baja tetap, sesuai dengan kondisi konsumsi energi pada

    2009, yaitu BBM 25 persen, batubara 3 persen, gas alam 7

    persen, listrik 65 persen (BPS, 2009).

    b. Skenario Akselerasi

    Mengingat porsi impor yang masih besar dalam konsumsi

    baja nasional (sekitar 52 persen), maka skenario akselerasi

    ini mengasumsikan Indonesia berusaha mencukupi seluruh

    kebutuhan konsumsi baja domestik dari produksi dalam

    negeri (swasembada baja) maksimal dapat dicapai pada

    2025.

    Berdasarkan data sekunder, diketahui bahwa hingga 2015

    yang akan datang sudah ada rencana di Indonesia akan

    dibangun beberapa pabrik baja baru dan ada ekspansi pabrik

    baja yang sudah berdiri. Berikut rencana pendirian pabrik

    baja tersebut, lihat Tabel 3.1:

    Mengingat sampai dengan 2015 sudah ada rencana

    peningkatan kapasitas produksi baja, maka proyeksi

    kebutuhan energi industri baja skenario akselerasi ini dimulai

    setelah 2015.

    5 Dalam hal efisiensi, teknologi dan jenis bahan baku yang digunakan industri baja sangat

    menentukan, di mana Indonesia cenderung menggunakan sponge iron, India menggunakan

    blast furcane/baja tanur tinggi, dan Jepang menggunakan scrap/besi tua (Hasil Rakor, 28

    November 2012).

  • 28 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 3.1. Rencana Penambahan Kapasitas Produksi Baja

    Nasional

    No Perusahaan Kapasitas Produksi

    (Ton per Tahun)

    Rencana

    Beroperasi

    1 PT Indoferro 500.000 2012

    2 PT Delta Prima Steel 100.000 2012

    3 PT Meratus Jaya Iron and Steel 315.000 2014

    4 PT Krakatau Posco 3.000.000 2014

    5 PT Sebuku Lateritic Iron and Steel 1.000.000 2014

    6 PT Jogja Magasa Iron 1.000.000 2015

    Sumber: Antara/Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), 2012

    Untuk periode 2012-2015 diasumsikan seluruh (100 persen)

    kapasitas produksi pabrik baja yang baru dibangun

    sebagaimana disebut pada Tabel 3.1. langsung dapat dipakai

    pada tahun mulai beroperasi.

    Pertumbuhan konsumsi baja nasional sebesar 9,0 persen,

    merupakan rata-rata pertumbuhan konsumsi baja 10 tahun

    terakhir (Worldsteel Association, 2012).

    Intensitas energi industri baja di Indonesia sebesar 900 kWh

    per Ton.

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Diasumsikan terjadi penurunan intensitas energi, dari 900

    kWh per Ton baja menjadi 600 kWh per Ton baja, intensitas

    energi industri baja di India digunakan sebagai benchmark.

    Terjadi pergeseran proporsi penggunaan sumber

    energi/konversi:

    o Penggunaan BBM yang saat ini masih 25 persen secara

    bertahap berkurang 1,5 persen per tahun, sehingga

    pada 2025 proporsi penggunaan BBM tinggal 5,5

    persen.

    o Penggunaan batubara yang saat ini sebesar 3 persen

    secara bertahap meningkat 1 persen per tahun,

    sehingga pada 2025 proporsi penggunaan batubara

    menjadi 16 persen.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 29

    o Penggunaan gas alam yang saat ini sebesar 7 persen

    secara bertahap meningkat 0,5 persen per tahun,

    sehingga pada 2025 proporsi penggunaan gas alam

    menjadi 13,5 persen.

    o Proporsi penggunaan energi listrik diasumsikan tetap

    sebesar 65 persen hingga 2025.

    3.3.2. Industri Tekstil

    a. Skenario Business as Usual

    Diasumsikan produksi tekstil tumbuh sebesar rata-rata

    pertumbuhan lima tahun terakhir periode 2006-2011, di

    mana pemintalan (spinning) tumbuh 7,5 persen dan

    penenunan (weaving) 6,9 persen.

    Mengingat penggunaan energi pada proses produksi tekstil

    cukup beragam dan sangat tergantung dari jenis produk yang

    dibuat, maka perhitungan energi dibatasi untuk kegiatan

    pemintalan dan penenunan. Dominasi produksi dari hasil

    pemintalan dan penenunan saat ini sekitar 70 persen dalam

    industri tekstil nasional.

    Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9,59

    gigajoule per Ton atau 2.664 kWh per Ton, sementara

    penenunan sebesar 33 gigajoule per ton atau 9.167 kWh per

    Ton (Ditjen EBTKE, KESDM, 2011).

    b. Skenario Akselerasi

    Dari total konsumsi kain domestik, sebesar 39 persen masih

    berasal dari impor. Sementara untuk konsumsi benang

    domestik sebagian besar sudah tercukupi dari produksi

    nasional, namun masih ada sekitar 13 persen berasal dari

    impor. Oleh karena itu, skenario akselerasi ini

    mengasumsikan Indonesia dapat mencukupi seluruh

    kebutuhan konsumsi kain dan benang domestik dari produksi

  • 30 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    dalam negeri (swasembada) yang ditargetkan tercapai pada

    2025.

    Pertumbuhan konsumsi kain dan benang domestik

    diasumsikan sebesar 17 persen per tahun, merupakan rata-

    rata pertumbuhan konsumsi 4 tahun terakhir periode 2007-

    2010, dalam satuan mata uang (Kementerian Perindustrian,

    2011).

    Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9,59

    gigajoule per Ton (2.664 kWh per Ton), sementara

    penenunan sebesar 33 gigajoule per ton (9.167 kWh per Ton)

    [Ditjen EBTKE-Kementerian ESDM, 2011].

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Salah satu isu utama dalam industri tekstil adalah cukup

    tuanya mesin-mesin produksi yang digunakan sehingga

    penggunaan energinya relatif boros. Pada skenario ini

    diasumsikan dilakukan restrukturisasi permesinan, sehingga

    konsumsi energi mesin lebih efisien. Berdasarkan hasil

    evaluasi restrukturisasi permesinan yang dilakukan

    Kementerian Perindustrian periode 2007-2009 (lihat

    Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Basis Industri

    Manufaktur No.01/BIM/PER/1/2011), setelah program

    restrukturisasi permesinan terjadi peningkatan efisiensi

    pengggunaan energi antara 6-18 persen, atau rata-rata

    efisiensi energi meningkat sebesar 12 persen.

    Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9,59

    gigajoule per Ton (2.664 kWh per Ton), sementara

    penenunan sebesar 33 gigajoule per ton (9.167 kWh per Ton)

    [Ditjen EBTKE-Kementerian ESDM, 2011].

    Terjadi pergeseran proporsi penggunaan sumber

    energi/konversi:

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 31

    o Penggunaan BBM yang saat ini masih 5 persen secara

    bertahap proporsi berkurang 0,4 persen per tahun,

    sehingga pada 2025 tidak lagi menggunakan BBM.

    o Penggunaan batubara yang saat ini sebesar 15 persen

    secara bertahap proporsinya meningkat 0,4 persen per

    tahun, sehingga pada 2025 proporsinya menjadi 20

    persen.

    o Proporsi penggunaan gas alam tetap sebesar 10 persen

    hingga 2025.

    o Proporsi penggunaan energi listrik tetap sebesar 70

    persen hingga 2025.

    3.3.3. Industri Pupuk

    Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri pupuk asumsi

    yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai

    berikut:

    a. Karakteristik Sektoral

    Menurut penuturan Perwakilan Asosiasi Industri Pupuk

    Nasional dalam FGD terkait kebutuhan energi sektor industri,

    pabrik pupuk minimal membutuhkan input gas senilai 80

    persen dari total input. Jika input gas kurang dari 80 persen

    maka pabrik pupuk tidak dapat berproduksi.

    Produksi pupuk di Indonesia dikuasai oleh perusahaan-

    perusahaan milik negara (BUMN). Ada lima pemain besar

    dalam industri pupuk nasional, yaitu PT Pupuk Iskandar

    Muda (PIM), PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Pupuk Kujang

    (PK), PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), dan PT Pupuk Gresik

    (PG) dimana kelima perusahaan tersebut adalah perusahaan

    BUMN6. Kelima perusahaan ini menguasai sebagian besar

    pangsa pasar pupuk di Indonesia, sedangkan perusahaan-

    6 Kebijakan Rightsizing terhadap BUMN yang dilakukan Pemerintah pada 1997 membuat

    5 perusahaan pupuk menjadi 1 holding company menjadi PT Pusri (Holding). Sebagai

    informasi tambahan silahkan dilihat: www.bumn.go.id/wp.../03200701.pdf

  • 32 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    perusahaan pupuk swasta hanya pemain kecil dari industri

    pupuk. Oleh karena itu, batas penelitian dalam analisis ini

    menggunakan data yang bersumber dari kelima perusahaan

    BUMN tersebut.

    Dua produk utama pada industri pupuk adalah produk pupuk

    dan nonpupuk. Produk pupuk rata-rata menyumbang sekitar

    65 persen dari total output, sedangkan sisanya sebanyak 35

    persen adalah produk nonpupuk, lihat Tabel 3.2.

    Tabel 3.2. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk

    PT Pusri (Holding) 2005-2010 (dalam juta ton)

    Tahun Total Pupuk Total Non-

    Pupuk Total Produksi

    1996 7,17 5,37 12,54

    1997 6,92 5,29 12,21

    1998 6,42 5,03 11,45

    1999 7,05 5,15 12,20

    2000 6,79 5,07 11,86

    2001 6,32 4,47 10,79

    2002 6,48 4,47 10,95

    2003 6,74 4,85 11,59

    2004 7,22 5,34 12,55

    2005 7,66 5,29 12,95

    2006 7,44 5,26 12,70

    2007 7,95 5,29 13,24

    2008 8,72 5,57 14,29

    2009 10,51 5,92 16,43

    2010 10,31 6,01 16,32

    Rata-rata

    Pertumbuhan 2,9% 1,0% 2,1%

    Sumber: Laporan Tahunan 2005, 2008, dan 2010 PT Pusri (Holding)

    Produk pupuk yang terbesar adalah urea, sedangkan produk

    nonpupuk terbanyak adalah amoniak. Produksi urea dan

    amoniak rata-rata menyumbang sekitar 69 persen hingga 80

    persen dengan rata-rata sekitar 75 persen sehingga industri

    pupuk menggunakan asumsi hanya 2 produk, yaitu urea

    (pupuk) dan amoniak (nonpupuk).

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 33

    Sumber : Laporan Tahunan PT Pusri Holding 2005, 2008, dan 2010

    Gambar 3.1. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak

    terhadap Total Produksi Industri Pupuk Periode 2003-2010

    Jenis energi terbesar dan utama yang dibutuhkan pada

    industri pupuk adalah gas alam, yang sebagian besar

    digunakan untuk bahan baku. Di sisi lain, kebutuhan energi

    untuk bahan bakar seperti solar, batubara, dan gas alam

    tidak terlalu signifikan bagi industri pupuk karena hanya

    menyumbang sekitar 3,1 persen dari total input energi yang

    dibutuhkan untuk industri pupuk. Oleh karena itu, penelitian

    pada industri pupuk ini menganalisis kebutuhan gas alam

    yang digunakan untuk bahan baku dan juga bahan bakar

    hingga 2025.

    Sumber: Statistik IBS-BPS 2012 dan Laporan Tahunan PT Pusri (Holding) 2009 (diolah)

    Gambar 3.2. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2009

    (persen)

  • 34 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    b. Skenario Business as Usual

    Skenario Business as Usual di sini adalah ketika kondisi

    industri pupuk tidak mengalami perubahan secara signifikan

    atau fundamental. Skenario ini disusun berdasarkan tren

    yang berlaku di tahun-tahun sebelumnya, kemudian ditarik

    rata-ratanya untuk dijadikan acuan memprediksi kondisi

    industri pupuk di masa depan.

    Dalam memprediksi konsumsi energi yang dibutuhkan oleh

    industri pupuk, proyeksi kali ini menggunakan urea dan

    amoniak sebagai sampelnya. Hal ini dikarenakan urea dan

    amoniak menyumbang sekitar 69 persen hingga 80 persen

    atau rata-rata sekitar 75 persen dari total output industri

    pupuk, lihat Gambar 1. Oleh karena itu, urea dan amoniak

    dapat digunakan untuk memprediksi batas minimum energi

    yang dibutuhkan industri pupuk, dengan asumsi tidak ada

    perubahan fundamental pada industri pupuk itu sendiri, baik

    dari faktor internal maupun eksternal (business as usual).

    Dalam skenario BaU, kapasitas produksi, produksi, serta

    utilisasi diproyeksikan berdasarkan rata-rata pertumbuhan

    selama empat tahun terakhir. Dari 2008-2011 rata-rata

    pertumbuhan konsumsi gas per tahun tumbuh sekitar 9,55

    persen untuk urea dan 5,6 persen untuk amoniak.

    Rata-rata pertumbuhan gas alam yang dibutuhkan untuk

    membuat 1 ton urea diasumsikan tumbuh sekitar 6.16 persen

    untuk urea dan 3.33 persen untuk amoniak. Angka ini berasal

    dari rata-rata pertumbuhan gas alam yang dibutuhkan untuk

    membuat 1 ton urea dan amoniak selama 2008-2011, lihat

    Tabel 3.3.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 35

    Tabel 3.3. Realisasi Pemakaian Gas Alam yang Dibutuhkan dalam

    Proses Pembuatan Urea dan Amoniak

    Tahun

    Urea (Pupuk) Amoniak (Non-Pupuk) Total

    Konsumsi

    Gas Alam

    (mmbtu)

    Konsumsi

    Gas Alam

    (mmbtu)

    Pertumbuhan

    Konsumsi gas

    alam (%)

    Konsumsi

    Gas Alam

    (mmbtu)

    Pertumbuhan

    Konsumsi gas

    alam (%)

    2008 30,3 - 37,8 - 68,1

    2009 30,7 0,42% 37,6 -0,48% 68,1

    2010 34,5 11,19% 40,3 1,65% 72,1

    2011 36,2 6,86% 41,6 8,83% 77,8

    Rata-rata 6,16% Rata-rata 3,33%

    Sumber: Laporan Tahunan 2009 dan 2011 PT Pusri (Holding)

    Komposisi jenis energi yang digunakan di industri pupuk baik

    untuk bahan baku dan bahan bakar diasumsikan tetap,

    sesuai dengan kondisi 2009, lihat Gambar 3.2.

    Selain itu, pertumbuhan energi untuk bahan bakar seperti

    solar, batubara, dan gas mengikuti rata-rata pertumbuhan

    gas alam yang dibutuhkan sebagai bahan baku yaitu sebesar

    4,8 persen per tahun. Angka 4,8 persen didapat dari rata-

    rata pertumbuhan total gas alam yang dibutuhkan untuk

    membuat 1 ton urea dan amoniak.

    c. Skenario Akselerasi

    Skenario akselerasi pada perhitungan kebutuhan energi

    industri pupuk lebih menekankan optimalisasi kapasitas

    produksi mesin pada industri pupuk sendiri karena rata-rata

    mesin tidak digunakan secara maksimal sehingga output

    produksi di bawah kapasitas produksinya.

    Skenario akselerasi ini mengasumsikan bahwa utilitas

    produksi industri pupuk dapat mencapai 86 persen, dengan

    melihat pada pencapaian tertinggi selama 2003-2010, lihat

    Tabel 3.4.

  • 36 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 3.4. Kapasitas, Total, dan Efisiensi Produksi Amoniak dan

    Urea 2003-2010

    Tahun

    Kapasitas, Total, dan Efisiensi Produksi

    Amoniak Urea Total Urea+Amoniak

    Kapasitas

    produksi

    (juta ton)

    Efisiensi

    (%)

    Kapasitas

    produksi

    (juta ton)

    Efisien

    si (%)

    Kapasitas

    produksi

    (juta ton)

    Efisiensi

    (%)

    2003 4,55 86% 6,87 79% 11,43 82%

    2004 4,55 91% 6,87 82% 11,43 86%

    2005 5,28 76% 8,03 73% 13,30 74%

    2006 5,28 76% 8,03 70% 13,30 72%

    2007 5,28 77% 8,03 73% 13,30 75%

    2008 5,28 79% 8,03 77% 13,30 78%

    2009 5,28 87% 8,03 85% 13,30 86%

    2010 5,28 86% 8,03 84% 13,30 85%

    Sumber: Laporan Tahunan 2004-2010 PT Pusri (Holding)

    Asumsi lainnya adalah total energi yang dibutuhkan pada

    skenario ini menggunakan patokan total energi pada

    skenario BaU, kemudian dikalikan dengan faktor koefisien

    sebesar 1.075 (= 86 persen/80 persen).

    d. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Skenario akselerasi disertai efisiensi dalam perhitungan

    kebutuhan energi industri pupuk lebih menekankan pada

    mencari sumber energi yang relatif lebih efisien atau

    ekonomis dibanding sumber energi utama pada saat ini,

    yaitu gas alam. Diasumsikan pada skenario ini gas alam

    digantikan dengan batubara karena pertimbangan biaya

    produksi yang lebih murah (efisien).

    Diasumsikan batubara yang digunakan adalah batubara

    ketegori sangat tinggi dengan kalori yang dihasilkan

    diasumsikan minimal sebesar 5.100 kkal/kg (kilokalori per

    kilogram).

    Diasumsikan harga gas alam sebesar 10,2 US$/MMBTU,

    sedangkan harga batubara sebesar 65 US$/ton.

    Selebihnya skenario ini memiliki asumsi yang sama dengan

    skenario akselerasi.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 37

    3.3.4. Industri Pulp dan Kertas

    a. Skenario Business as Usual

    Produksi pulp menggunakan asumsi pemanfaatan teknologi

    pulp kimiawi kayu lunak, produksi kertas menggunakan

    asumsi pemanfaatan teknologi produksi kertas rata-rata, dan

    produksi kertas berbahan baku limbah kertas (waste paper)

    menggunakan asumsi pemanfaatan teknologi pengolahan

    limbah kertas (recycle) ekstensif (Sugiyono, 2009), artinya

    dibutuhkan energi sebagai berikut:

    a. pulp = 4.170 kWh/ton

    b. kertas = 2.030 kWh/ton

    c. kertas bekas = 470 kWh/ton

    Kapasitas terpasang pulp dan kertas pada tahun 2012-2025

    akan tumbuh sebesar rata-rata pertumbuhan selama

    sepuluh tahun terakhir periode 2001-2010, sedangkan

    kapasitas terpasang kertas bekas akan tumbuh sebesar rata-

    rata pertumbuhan selama lima tahun terakhir periode 2006-

    2010, yakni:

    a. 4 persen/tahun untuk pulp

    b. 3 persen/tahun untuk kertas

    c. 8,6 persen/tahun untuk pengolahan kertas bekas

    Tingkat utilisasi produksi pada pulp dan kertas sama dengan

    rata-rata tingkat utilisasi selama sepuluh tahun terakhir

    periode 2001-2010, sedangkan tingkat utilisasi pengolahan

    kertas bekas sama dengan rata-rata tingkat utilisasi lima

    tahun terakhir periode 2006-2010:

    a. 80 persen/tahun untuk pulp

    b. 81 persen/tahun untuk kertas

    c. 56 persen/tahun untuk pengolahan kertas bekas

  • 38 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    b. Skenario Akselerasi

    Penambahan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada 2012,

    dimana hasilnya bisa dipanen pada 2019, akan menambah

    kapasitas produksi pulp nasional sebesar 8 juta ton per

    tahun.

    Pada 2019 akan ada penambahan 9 pabrik kertas baru

    ataupun rencana ekspansi, dimana ekspansi pabrik baru itu

    akan menambah kapasitas produksi kertas nasional sebesar

    700 ribu ton per tahun.

    Tingkat utilisasi pulp dan kertas sebesar 90 persen per tahun,

    sedangkan tingkat utilisasi pengolahan kertas bekas sebesar

    60 persen per tahun.

    Mengejar peringkat 5 dunia sebagai produsen pulp dan

    kertas dunia pada tahun 2025, dari saat ini di posisi ke 9

    untuk pulp dan ke 8 untuk kertas.

    Kapasitas produksi pulp dan kertas Indonesia harus tumbuh

    lebih besar dari rata-rata pertumbuhan BaU Swedia yang

    saat ini berada pada peringkat ke 5 produsen pulp dunia dan

    Finlandia yang saat ini berada pada peringkat ke 4 produsen

    kertas dunia. Tingkat pertumbuhan produksi pulp di Swedia

    dan kertas di Kanada diasumsikan sebesar 4,2 persen per

    tahun sesuai dengan tren pertumbuhan produksi pulp dan

    kertas dunia. Maka setelah 2019 industri pulp dan kertas

    Indonesia harus menggenjot produksinya dengan

    pertumbuhan produksi pulp sebesar 5,2 persen per tahun

    dan produksi kertas sebesar 7 persen per tahun.

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Penghematan energi dengan menggunakan pemanfaatan

    teknologi yang lebih efisien, pada proses pembuatan pulp

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 39

    serta pada tahapan pengeringan. Jika hal itu dilakukan, maka

    pada 2013-2015 terjadi penghematan energi sebesar 35

    persen (Sugiyono, 2009):

    a. Pulp dari 4.170 kWh/ton menjadi 2.700 kWh/ton;

    b. Kertas dari 2.030 kWh/ton menjadi 1.300

    kWh/ton;

    Pada 2016-2025 terjadi lagi penghematan energi sebesar 40

    persen (Sugiyono, 2009):

    a. Pulp dari 4.170 kWh/ton menjadi 2.500 kWh/ton;

    b. Kertas dari 2.030 kWh/ton menjadi 1.200 kWh/ton;

    3.3.5. Industri Pengolahan Kelapa Sawit

    a. Skenario Business as Usual

    Skenario BaU dihitung dengan asumsi pertumbuhan produksi

    Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sebesar rata-rata

    pertumbuhan selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,5

    persen.

    Konsumsi energi listrik di pabrik kelapa sawit adalah 17-19

    kWh per ton TBS, atau rata-rata 18 kWh per Ton TBS.

    b. Skenario Akselerasi

    Skenario akselerasi dihitung dengan asumsi produktivitas

    kebun kelapa sawit Indonesia ditingkatkan hingga setara

    dengan Malaysia. Saat ini produktivitas kebun kelapa sawit

    Malaysia 1,4 kali lebih besar dibanding Indonesia.

    Diasumsikan seluruh hasil produksi kebun kelapa sawit

    berupa TBS kelapa sawit diolah menjadi CPO (Crude Palm

    Oil/minyak sawit mentah) dengan konsumsi energi listrik

    sebesar 18 kWh per Ton TBS.

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Skenario akselerasi disertai efisiensi dihitung dengan asumsi

    intensitas energi per Ton TBS dapat diturunkan setara

  • 40 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    dengan world best practice yakni sebesar 17 kWh per ton

    TBS.

    3.3.6. Industri Semen

    Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri semen, asumsi

    yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai

    berikut:

    a. Skenario Business as Usual

    Dalam skenario Business as Usual (BAU), proyeksi kebutuhan

    energi pada industri semen menggunakan asumsi bahwa

    hingga tahun 2025, kapasitas terpasang, produksi dan

    konsumsi semen nasional akan mengalami pertumbuhan

    dengan besaran rata-rata 10 persen per tahun.

    Besaran tersebut diambil berdasarkan proyeksi Asosiasi

    Semen Indonesia (ASI) yang memperkirakan kapasitas

    terpasang industri semen akan terus meningkat karena

    banyak produsen semen yang akan segera memperluas

    usahanya dengan cara mendirikan pabrik-pabrik baru.

    Pembangunan pabrik-pabrik baru diperkirakan akan

    meningkatkan produksi semen sebesar 10 persen per tahun.

    Berdasarkan data dari Asosiasi Semen Indonesia, untuk

    menghasilkan 1 Ton semen di Indonesia membutuhkan

    energi sebesar 780 kilo kalori batubara dan 120 kwh listrik

    (103.181,4 kilo kalori). Jadi total energi yang dibutuhkan

    untuk menghasilkan 1 ton semen adalah 103.961 kilo kalori

    atau setara dengan 120,9 kWh. Saat ini industri semen

    menggunakan batubara berkalori rendah, yaitu sekitar 5100

    kkal per 1 kg batubara.

    Komposisi jenis energi yang digunakan di industri semen

    tetap, sesuai dengan kondisi saat ini.

    b. Skenario Akselerasi

    Skenario akselerasi lebih menekankan pada target yang akan

    dicapai oleh industri semen dalam meningkatkan konsumsi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 41

    semen per kapita. Hal ini menjadi target karena konsumsi

    semen per kapita Indonesia telah tertinggal jauh dibanding

    negara-negara ASEAN. Dalam hal ini dipilih rata-rata

    konsumsi per kapita tiga negara pembanding di ASEAN, yaitu

    Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

    Untuk melakukan percepatan pertumbuhan konsumsi semen

    per kapita di Indonesia maka dalam skenario akselerasi ini

    kapasitas terpasang, produksi dan konsumsi harus tumbuh

    minimal 15 persen per tahun hingga tahun 2025.

    Jika skenario ini dapat dilakukan maka mulai tahun 2016

    jumlah produksi semen Indonesia akan kembali mampu

    melebihi jumlah konsumsinya. Keuntungannya tentu saja

    Indonesia bisa menjadi net eksportir semen.

    Komposisi dan intensitas energi yang digunakan di industri

    semen sesuai dengan kondisi saat ini atau sama dengan

    Business as Usual (BaU).

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Skenario efisiensi lebih menekankan pada kemungkinan

    untuk dilakukannya pengalihan jenis energi dari energi yang

    relatif kurang efisien (mahal) ke jenis energi yang lebih

    efisien (murah). Penggunaan batubara sebenarnya kurang

    efisien karena menghasilkan produktivitas tanur putar (alat

    pembakaran bahan baku semen setinggi 14500 Celcius) yang

    lebih rendah dari pada menggunakan gas alam.

    Saat ini batubara menjadi sumber energi bahan bakar utama

    yang digunakan untuk proses pembakaran pada industri

    semen. Pada skenario ini akan disimulasikan bagaimana jika

    penggunaan batubara dikurangi dan dialihkan menjadi gas.

    Jadi asumsinya adalah pengalihan dari batubara ke gas.

    Dalam 1 kg batubara mengandung 5100 kkal sedangkan

    dalam 1 MMSCF gas mengandung 245.509 kkal.

    Pada skenario ini asumsi yang digunakan adalah penggunaan

    batubara dikurangi 50 persen. Sebagai penggantinya akan

    digunakan energi bahan bakar gas, dengan catatan bahwa

    pengalihan energi dari batubara ke gas tersebut diikuti

  • 42 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    dengan penyesuaian teknologi, agar teknologi yang

    digunakan menjadi sesuai (match) dengan bahan bakar

    energi gas.

    3.3.7. Industri Keramik

    Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri keramik,

    asumsi yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah

    sebagai berikut:

    a. Skenario Business as Usual (BaU)

    Berdasarkan data historis yang ada hingga tahun 2010,

    diasumsikan rata-rata pertumbuhan kapasitas produksi,

    produksi, dan konsumsi keramik nasional akan mencapai 8

    persen per tahun. Utilitas produksi diasumsikan konstan

    hingga tahun 2025 sebesar 70 persen.

    Penggunaan energi pada industri keramik didominasi oleh

    gas dan listrik. Untuk memproduksi 1 ton keramik rata-rata

    membutuhkan energi sebesar 347 kWh.

    b. Skenario Akselerasi

    Diasumsikan rata-rata pertumbuhan kapasitas produksi,

    pertumbuhan produksi dan pertumbuhan konsumsi keramik

    nasional mencapai 8 persen per tahun. Namun utilitas

    produksi semakin meningkat hingga 90 persen pada tahun

    2020. Hal ini berlandaskan pada sasaran atau target

    pemerintah dalam roadmap industri keramik nasional yang

    mentargetkan utilitas produksi mencapai 90 persen pada

    tahun 2020.

    Intensitas energi diasumsikan sama seperti pada skenario

    Business as Usual.

    c. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi

    Skenario ini mengasumsikan bahwa industri keramik

    mengalami konservasi energi, sejalan dengan roadmap

    industri keramik. Sasaran pemerintah jangka panjang adalah

    terciptanya peningkatan efisiensi melaui inovasi dan

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 43

    teknologi yang hemat energi, dengan kata lain, industri

    keramik nasional diharapkan dapat melakukan konservasi

    energi.

    Potensi penghematan energi pada industri keramik

    ditetapkan sebesar 5 persen. Hal ini sesuai dengan data dari

    Dirjen EBTKE Kementerian ESDM (2011) yang melihat

    potensi penghematan energi pada sektor industri keramik

    sebesar 5 persen.

    Dalam teknis perhitungan proyeksi, kebutuhan total energi

    pada industri keramik diasumsikan berkurang sebesar 5

    persen per tahun, kemudian dihitung berapa besar nilai

    penghematannya.

    3.4. Batasan Studi

    Kajian ini memiliki keterbatasan ruang lingkup permasalahan yang

    dibahas, selain disebabkan oleh keterbatasan data juga disebabkan

    oleh keterbatasan waktu, meskipun diupayakan penggunaan alat

    analisa yang semaksimal mungkin.

    Kajian ini memfokuskan diri pada 7 industri yang sangat banyak

    menyerap energi dan sesuai dengan rencana pengembangan

    industri di masa depan. Ketujuh industri padat energi yang dipilih

    tersebut tidak sama dengan pembagian subsektor energi

    sebagaimana yang sering dipakai dalam data statistik. Karena itu

    secara umum kajian ini mengandalkan data primer untuk menggali

    karakteristik industri padat energi termasuk pola konsumsi

    energinya.

    Justru ini barangkali yang menjadi kekuatan dan keunikan kajian ini

    karena mengandalkan data primer langsung ke industri atau melalui

    asosiasi industri yang mewakili suatu kelompok industri tertentu.

    Pola dan karakteristik kebutuhan energi diperoleh melalui

    wawancara mendalam terhadap para wakil industri masing-masing.

    Peramalan kebutuhan energi menggunakan asumsi faktor teknologi

    yang relatif konstan, sehingga kebutuhan energi diperoleh dari

  • 44 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    pembagian antara proyeksi tingkat produksi dengan faktor

    teknologi pada saat ini. Peramalan ini sedikit dilakukan penyesuaian

    pada skenario efisiensi dimana diasumsikan, pada beberapa

    industri, terjadi penghematan penggunaan energi, antara lain

    karena efisiensi teknologi.

    Kajian ini menganggap wilayah Indonesia sebagai titik sehingga

    tidak ada persoalan distribusi spasial. Lokasi pasokan energi,

    penyediaan, dan kebutuhan energi serta lokasi industri tidak

    menjadi issu dalam kajian ini.

    Kajian ini yang berjudul kebutuhan energi di sektor industri memiliki

    batasan lingkup yaitu:

    1. Terdapat 7 industri terpilih atau industri padat energi yang

    menjadi sampel kajian ini, mengacu pada Peraturan Presiden

    Nomor 28 Tahun 2008 dan Dokumen Akselerasi Industrialisasi

    2012-2014, yaitu industri-industri yang tergolong paling banyak

    menggunakan energi, yaitu:

    a) Industri Baja

    b) Industri Semen

    c) Industri Pulp dan Kertas

    d) Industri Pupuk

    e) Industri Tekstil

    f) Industri Pengolahan Kelapa Sawit

    g) Industri Keramik

    2. Proyeksi kebutuhan energi pada industri padat energi

    berdasarkan data primer yaitu dengan wawancara dan data

    sekunder dari berbagai instansi dan asosiasi industri.

    3. Kajian ini difokuskan pada analisa dan perhitungan kebutuhan

    energi dari sisi permintaan.

    4. Proyeksi peramalan dilakukan hingga tahun 2025.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 45

    BAB IV

    KINERJA SEKTOR INDUSTRI

    4.1. Kinerja Sektor Industri Indonesia

    Industri pengolahan merupakan bagian penting dalam

    perekonomian Indonesia karena memberikan sumbangan yang

    cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yang

    dapat dilihat dari data struktur dan tingkat pertumbuhan Produk

    Domestik Bruto (PDB) beberapa tahun terakhir, lihat Tabel 4.1.

    Meskipun demikian dominan dalam besaran sumbangan industri

    pengolahan terhadap PDB, namun kontribusi sektor ini cenderung

    mengalami penurunan.

    Tabel 4.1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen)

    Lapangan Usaha 2010 2011 Tw III

    2011 2012

    1. Pertanian, Peternakan,

    Kehutanan, dan Perikanan 15,3 14,7 15,48 15,41

    2. Pertambangan dan Penggalian 11,1 11,9 11,65 11,41

    3. Industri Pengolahan 24,8 24,3 23,99 23,87

    4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,8 0,8 0,74 0,74

    5. Konstruksi 10,3 10,2 10,08 10,44

    6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 13,7 13,8 13,71 13,81

    7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,6 6,6 6,50 6,69

    8. Keuangan, Real Estat, dan Jasa

    Perusahaan 7,2 7,2 7,04 7,19

    9. Jasa-Jasa 10,2 10,5 10,80 10,44

    PDB 100,0 100,0 100,0 100,0

    Sumber: BPS, 2012

    Secara umum kontribusi sektor industri pengolahan dalam PDB

    menurun, setidaknya sejak 2010 hingga awal tahun 2012. Pada

    triwulan I-2012 kontribusi industri pengolahan terhadap PDB

    sebesar 23,6 persen, atau lebih rendah dibandingkan dengan data

    2010 sebesar 24,8 persen serta triwulan I dan IV-2011 berturut-

  • 46 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    turut sebesar 24,1 persen dan 24,5 persen. Penurunan kontribusi ini

    merupakan salah satu indikasi awal adanya kendala dalam

    pertumbuhan sektor industri pengolahan. Salah satu kendala yang

    mungkin menyebabkan penurunan ini adalah kurang tersedianya

    pasokan energi yang cukup dengan harga yang relatif murah. Dalam

    beberapan tahun terakhir ini, harga energi domestik sangat

    berfluktuatif dan kondisi penyediaan energi di dalam negeri masih

    belum stabil serta sering mengalami kelangkaan.

    Adanya kendala dalam perkembangan industri pengolahan semakin

    terlihat jika melihat data pertumbuhannya. Jika melihat data

    triwulan I-2012 terhadap triwulan I-2011, sektor industri

    pengolahan tumbuh sebesar 5,7 persen, lebih rendah dari

    pertumbuhan PDB pada periode yang sama sebesar 6,3 persen. Jika

    data triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan IV-2011,

    pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami penurunan

    sebesar 2 persen, sementara pertumbuhan PDB pada periode yang

    sama meningkat sebesar 1,4 persen. Mengingat industri

    pengolahan merupakan kontributor terbesar PDB Indonesia, maka

    penurunan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan perlu

    dicermati untuk segera dicarikan solusinya.

    Tabel 4.2. Laju pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha

    (persen)

    Lapangan Usaha

    Tw III-2012

    Terhadap

    Tw II-2012

    Tw III-2012

    Terhadap

    Tw III-2011

    1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 6,15 4,80

    2. Pertambangan dan Penggalian 0,11 -0,09

    3. Industri Pengolahan 3,99 6,36

    4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,04 5,56

    5. Konstruksi 3,97 7,98

    6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1,79 6,91

    7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,20 10,48

    8. Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan 2,21 7,41

    9. Jasa-Jasa 1,81 4,44

    PDB 3,21 6,17

    PDB Tanpa Migas 3,40 6,88

    Sumber: BPS, 2012

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 47

    Data pertumbuhan produksi industri pengolahan atau manufaktur

    triwulan I-2012 (year on year) publikasi BPS menunjukkan bahwa

    pertumbuhan produksi Industri Besar Sedang (IBS) naik 4,88 persen

    dan IMK (Industri Mikro Kecil) naik 7,22 persen dibanding triwulan

    I-2011. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

    (triwulan IV-2011, quarter to quarter) pertumbuhan produksi IBS

    turun sebesar 0,82 persen, sedangkan IMK turun sebesar 1,12

    persen.

    Gambarl 4.1 menunjukkan bahwa dalam tiga triwulan terakhir

    (triwulan III-2011 s.d. triwulan I-2012) pertumbuhan tahunan (year

    on year) produksi industri manufaktur besar dan sedang mengalami

    perlambatan, dari 7,57 persen ke 6,54 persen, dan saat ini menjadi

    4,88 persen. Adapun jenis-jenis industri manufaktur yang

    mengalami penurunan produksi (y-on-y) pada triwulan I-2012 dari

    tahun 2011 adalah: pakaian jadi -1,37 persen; kulit, barang dari

    kulit, dan alas kaki -2,51 persen; tekstil -2,91 persen; kendaraan

    bermotor, trailer, dan semi trailer -6,84 persen; serta kayu, barang

    dari kayu, dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman

    dari bambu, rotan, dan sejenisnya -12,47 persen (BPS, 2012).

    Sumber: BPS, Mei 2012

    Gambarl 4.1. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar

    dan Sedang Triwulanan 2009-2012 (persen)

    Meskipun demikian, data BPS pada Mei 2012 mencatat terdapat

    sejumlah industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan

    produksi (y-on-y) pada triwulan I-2012 dari tahun 2011, yaitu:

  • 48 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional naik 24,65 persen;

    peralatan listrik 15,72 persen; jasa reparasi dan pemasangan mesin

    dan peralatan 10,29 persen; pengolahan lainnya 10,15 persen;

    pengolahan tembakau 9,50 persen; mesin dan perlengkapan ytdl

    8,54 persen; barang galian bukan logam 7,75 persen; pencetakan

    dan reproduksi media rekaman 7,46 persen; karet, barang dari

    karet, dan plastik 5,01 persen; serta logam dasar 4,45 persen.

    Minuman 4,20 persen; makanan 4,19 persen, produk dari batubara

    dan pengilangan minyak bumi 3,27 persen; komputer, barang

    elektronik, dan optik 3,12 persen; furnitur 2,81 persen; alat

    angkutan lainnya 2,27 persen; barang logam, bukan mesin, dan

    peralatannya 2,04 persen; bahan kimia dan barang dari bahan kimia

    1,10 persen; serta kertas dan barang dari kertas 0,84 persen.

    Penurunan pertumbuhan tahunan industri besar dan sedang

    berturut-turut sejak triwulan III-2011 harus segera diantisipasi guna

    mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan.

    Agenda pemerintah untuk mentargetkan pertumbuhan sektor

    industri di atas pertumbuhan ekonomi nasional, atau bahkan dua

    kali lipat dari pertumbuhan ekonomi seperti yang terjadi di Era

    Orde Baru memerlukan strategi khusus yang terarah. Salah satu

    persoalan mendasar industri pengolahan saat ini yang memerlukan

    solusi adalah mengenai penyediaan energi. Oleh karena itu

    pemerintah harus berinisiatif untuk mengamankan ketersediaan

    energi untuk sektor industri dengan kebijakan energi yang pro-

    industri.

    Kontribusi industri non-migas terhadap PDB mirip dengan

    kontribusi industri pengolahan terhadap PDB. Keduanya cenderung

    berfluktuasi dan cenderung mengalami tren penurunan. Kontribusi

    industri non-migas berfluktuasi dari tahun 2007 hingga 2012.

    Penurunan kontribusi industri non migas terhadap PDB ini

    memerlukan perhatian yang serius. Salah satu upaya pemerintah

    untuk mengerem laju penurunan industri non-migas adalah

    menyediakan kebutuhan pasokan energi bagi industri tersebut.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 49

    Pasokan energi perlu ditingkatkan agar industri dapat bekerja pada

    kapasitas optimal sehingga dapat meningkatkan daya saing

    ekonomi Indonesia.

    Sumber: BPS, 2012

    Ket: PDB atas dasar harga konstan 2000; data 2011 & 2012 angka sementara

    Gambar 4.2. Kontribusi Industri Non Migas terhadap PDB (persen)

    Harus diakui bahwa penyediaan energi bagi sektor industri

    memerlukan berbagai langkah-langkah terobosan, mengingat

    hingga saat ini kelangkaan energi masih kerap terjadi. Dalam

    penyediaan gas misalnya, data neraca gas untuk industri dan PLN

    menunjukkan terjadinya peningkatan defisit kebutuhan gas dari

    1.397,11 mmscfd pada tahun 2010 menjadi 1.424,59 mmscfd pada

    tahun 2011, lihat Tabel 4.3.

    Tabel 4.3. Neraca Gas Untuk Industri & PLN Tahun 2010 2011

    (MMSCFD)

    No Uraian 2010 2011

    1 Kebutuhan

    a. Industri 920,35 1.002,83

    b. Pupuk 992,20 1.000,20

    c. PLN 1.772,00 1.796,00

    Jumlah Kebutuhan 3.684,55 3.799,03

    2 Pasokan

    a. Industri 674,44 607,44

    b. Pupuk 793,00 793,00

    c. PLN 820,00 974,00

    Jumlah Pasokan 2.287,44 2.374,44

    (Pasokan-Kebutuhan) -1.397,11 -1.424,59

    Sumber: FIPGB, 2012

  • 50 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Data Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) menyatakan

    bahwa pada 2010 dan 2011 industri hanya mendapatkan pasokan

    gas bumi masing-masing sebesar 55,8 persen dan 47,1 persen dari

    kebutuhannya. Pasokan gas yang defisit ini membuat kapasitas

    terpasang industri tidak dapat dipakai secara optimal, akibatnya

    pertumbuhan sektor industri mengalami penurunan.

    Sebagai gambaran, sektor industri merupakan pemakai energi akhir

    terbesar di Indonesia yaitu 44,0 persen, sektor transportasi 36,0

    persen, sektor rumah tangga 11,5 persen, komersial 4,4 persen, dan

    lainnya 4,1 persen. Dilihat dari porsi konsumsi energi akhir, BBM

    merupakan yang terbesar 49,2 persen, batubara 18,5 persen, gas

    alam 15,6 persen, listrik 12,2 persen, serta LPG 4,4 persen. Saat ini

    rata-rata sektor industri bekerja di bawah kapasitas terpasangnya,

    karena pasokan gas bumi dan tenaga listrik di bawah kebutuhan.

    Industri hanya mendapatkan pasokan gas bumi sekitar 55 persen

    dari kebutuhannya. Memasuki ASEAN Economic Community, daya

    saing Indonesia perlu ditingkatkan dengan pasokan gas bumi dan

    energi listrik yang cukup agar industri dapat bekerja pada tingkatan

    kapasitas nominal. Selain itu, penting dilakukan diversifikasi

    penggunaan energi di sektor industri, serta mengutamakan sumber

    energi yang ramah lingkungan.

    4.2. Kinerja Subsektor Industri

    4.2.1. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau

    Industri makanan, minuman, dan tembakau merupakan industri

    penting dalam struktur industri pengolahan Indonesia. Kontribusi

    PDB sektor industri makanan, minuman dan tembakau terhadap

    PDB nasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan tren

    peningkatan dari 6,4 persen di tahun 2006 menjadi 7,4 persen di

    tahun 2011, lihat Tabel 4.4. Populasi penduduk yang besar

    didukung perekonomian domestik dan daya beli masyarakat yang

    cukup kuat menjadi pendorong utama tumbuhnya industri

    makanan dan minuman. Survei penjualan eceran yang dilakukan

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 51

    Bank Indonesia menunjukkan trend indeks penjualan riil makanan

    minuman dan tembakau yang meningkat pada tahun 2011. Kondisi

    ini diperkirakan akan berlanjut di tahun 2012. Pertumbuhan jumlah

    gerai ritel modern yang pesat dan menyediakan berbagai produk

    makanan dan minuman ikut memperkuat permintaan industri

    makanan dan minuman. Gabungan Pengusaha Makanan dan

    Minuman (GAPMMI) memperkirakan nilai penjualan makanan dan

    minuman tahun 2012 dapat tumbuh hingga 13 persen mencapai

    Rp734,5 Triliun.

    Tabel 4.4. Beberapa Indikator Kinerja Industri Makanan, Minuman

    dan Tembakau

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 7.901 7.549 7.194 6.922 6.530 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga

    Kerja (ribu orang) 1.033 1.069 1.062 1.033 1.019 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi

    (persen) 71,47 68,71 70,82 72,33 72,55 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 6,40 6,68 7,00 7,50 7,23 7,37 7,14

    Laju Pertumbuhan

    (persen) 7,21 5,05 2,34 11,22 2,78 9,19 8,19

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Industri makanan, minuman, dan tembakau merupakan industri

    yang banyak jenis dan variasi produknya. Salah satu produk dari

    industri makanan yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi

    adalah produk turunan dari tepung berbahan gandum, yaitu mie,

    roti, dan biskuit. Konsumsi mie per kapita Indonesia rata-rata

    sebesar 5-6 kg per kapita per tahun lebih tinggi dibandingkan

    negara Asia lainnya seperti China, Jepang, dan Taiwan. Dari sisi

    volume, pasar mie instant di Indonesia tahun ini diperkirakan

    tumbuh sebesar 6,7 persen menjadi 16 miliar bungkus

    dibandingkan 15 miliar bungkus tahun lalu.

    Untuk industri minuman, konsumsi minuman ringan di Indonesia

    masih didominasi oleh air minuman dalam kemasan (84,1 persen),

    diikuti teh cepat saji (8,9 persen), minuman berkarbonasi (3,5

  • 52 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    persen), dan minuman ringan lainnya (3,5 persen). Pasar minuman

    ringan di Indonesia memiliki prospek yang besar untuk tumbuh.

    Industri minuman Indonesia tumbuh menuju level matang (growing

    to mature) dimana diperkirakan akan masih mampu berkembang

    dengan fokus pada jenis minuman ringan berkarbonasi, jus, sari

    buah, dan minuman energi. Pasar minuman ringan Indonesia tahun

    2012 diestimasikan mencapai Rp 288,8 triliun-Rp 294,3 triliun,

    meningkat 5 persen-7 persen dibanding proyeksi tahun 2011 yang

    sebesar Rp 275 triliun. Penjualan air minuman dalam kemasan

    tumbuh rata-rata 12,6 persen selama tahun 2005-2011 dan

    diperkirakan pada tahun 2012 volumenya mencapai 19,8 miliar

    liter.

    Secara umum kinerja industri makanan, minuman, dan tembakau

    mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat selama 5

    tahun terakhir. Hal ini salah satunya terlihat dari peningkatan

    utilitas produksi yang mengindikasikan meningkatnya jumlah

    produksi. dilihat dari kontribusinya terhadap PDB nasional, industri

    ini menyumbang dengan rata-rata di atas 7 persen per tahun pada

    periode tahun 2006-2011, dengan laju pertumbuhan yang

    fluktuatif. Laju pertumbuhan industri ini juga memperlihatkan

    performa yang relatif baik, pernah mencapai puncaknya pada 2009

    yaitu mencapai 11,22 persen per tahun.

    4.2.2. Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki

    Industri tekstil, barang dari kulit, dan alas kaki masih merupakan

    salah satu industri yang potensial dikembangkan karena potensinya

    yang besar, baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor. Hal ini

    dibuktikan dengan pertumbuhan industri ini yang cukup tinggi

    hingga 7,52 persen pada 2011, lihat Tabel 4.5. Namun, potensi yang

    tersebut seringkali terhalang oleh berbagai permasalahan

    fundamental, seperti derasnya arus masuk barang-barang impor,

    tarif listrik yang terus merangkak naik, naiknya harga bahan baku,

    dan aneka masalah domestik yang berpengaruh pada mahalnya

    biaya produksi. Akibatnya, kontribusi industri ini terhadap PDB

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 53

    terus mengalami penurunan dari semula 2,7 persen pada 2006

    menjadi hanya 1,93 persen pada 2011.

    Tabel 4.5. Beberapa Indikator Kinerja Industri Tekstil, Kulit

    dan Alas Kaki

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 6.878 6.501 5.695 5.410 5.215 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja

    (ribu orang) 1.393 1.294 1.201 1.182 1.232 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 79,05 78,41 75,21 74,77 76,04 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 2,70 2,37 2,12 2,08 1,93 1,93 1,86

    Laju Pertumbuhan (persen) 1,23 -3,68 -3,64 0,60 1,77 7,52 1,41

    *) Sampai dengan triwulan I

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Berbagai kendala yang membentur industri ini akhirnya mengurangi

    jumlah industri di sektor ini. Jumlah perusahaan yang awalnya

    6.878 unit pada 2006 turun menjadi 5.215 unit pada 2010. Dampak

    berikutnya adalah terjadi pemutusan hubungan kerja sehingga

    jumlah tenaga kerja yang terserap dari 1,39 juta orang pada 2006

    menjadi 1,23 juta orang pada 2010.

    Banyaknya masalah yang dihadapi industri tekstil, kulit dan alas kaki

    serta merta mempengaruhi tingkat utilisasi produksi yakni dari

    semula 79 persen pada 2006 merosot menjadi 76 persen pada

    2010.

    4.2.3. Industri Kayu dan Barang dari Kayu

    Industri kayu dan barang dari kayu mengalami pertumbuhan negatif

    sepanjang 2006-2010, hanya pada 2008 dan 2011 saja terjadi laju

    pertumbuhan yang positif. Sementara itu kontribusi industri ini

    terhadap PDB cenderung mengalami tren negatif, dimapa pada

    tahun 2006 sebesar 1,30 persen meningkat hingga 1,48 persen

    pada tahun 2008, namun setelah itu terus menurun hingga tingkat

    terendah pada triwulan 1 tahun 2012 yakni 1,09 persen terhadap

    PDB, lihat Tabel 4.6.

  • 54 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 4.6. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kayu

    dan Barang dari Kayu

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 1.782 1.648 1.435 1.252 1.237 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja

    (ribu orang) 288 279 241 215 219 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 71,93 67,98 71,41 73,39 70,63 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 1,30 1,39 1,48 1,43 1,25 1,14 1,09

    Laju Pertumbuhan (persen) -0,66 -1,74 3,45 -1,38 -3,47 0,35 -0,86

    *) Sampai dengan triwulan I

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Indikator kinerja industri kayu dan barang dari kayu yang perlu

    disoroti ialah masih rendahnya tingkat ulitisasi produksi yang hanya

    70 persen. Tingkat utilisasi ini masih jauh dari tingkat ulitisasi

    produksi yang optimal. Selain itu, terjadi penurunan jumlah unit

    usaha dari 1.782 unit pada 2006 menjadi 1.237 unit pada 2010.

    Sementara itu penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan dari

    288 ribu orang pada 2006 menjadi 219 ribu orang.

    4.2.4. Industri Kertas dan Barang Cetakan

    Industri kertas dan barang cetakan menunjukkan kondisi yang

    semakin terpuruk, ditandai dengan terus menyusutnya jumlah

    perusahaan dalam industri ini. Pada 2006 masih ada 1.423 unit

    usaha dan semakin menurun hingga pada 2010 hanya tersisa 968

    unit saja. Sementara itu, jumlah tenaga kerja pada industri ini telah

    menyusut sekitar 5.000 orang sepanjang 2006-2010. Namun

    demikian, utilisasi produksi pada industri ini menunjukkan performa

    yang baik, yang terlihat dengan terus meningkatnya utilisasi

    produksi hingga mencapai puncaknya sebesar 80,33 persen di 2010,

    lihat Tabel 4.7.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 55

    Tabel 4.7. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kertas dan Barang

    Cetakan

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 1.423 1.342 1.225 1.147 968 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja (Ribu

    orang) 177 193 186 181 172 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 80,66 79,64 72,15 76,81 80,33 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 1,20 1,15 1,05 1,09 1,02 0,93 0,88

    Laju Pertumbuhan (persen) 2,09 5,79 -1,48 6,34 1,67 1,50 0,50

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Kontribusi industri kertas dan barang cetakan terhadap PDB relatif

    masih kecil, bahkan mengalami penurunan dalam enam tahun

    terakhir ini, dari 1,20 persen pada 2006 merosot menjadi 0,93

    persen pada 2011. Laju pertumbuhan industri ini memperlihatkan

    kecenderungan yang berfluktuatif dengan puncaknya pada tahun

    2009 yang mencapai 6,34 persen.

    4.2.5. Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet

    Industri pupuk, kimia, dan barang dari karet memperlihatkan

    kinerja yang cukup menggembirakan, dengan laju pertumbuhan

    yang positif sekitar 4 persen per tahun, lihat Tabel 4.8. Kontribusi

    industri ini terhadap PDB pun relatif baik yakni lebih dari 2 persen

    per tahun, bahkan pernah mencapai 3 persen pada 2008. Meskipun

    demikian, tingkat utilisasi produksi pada industri ini masih sangat

    rendah yakni hanya sekitar 70 persen per tahun.

    Tabel 4.8. Beberapa Indikator Kinerja Industri Pupuk, Kimia

    dan Barang dari Karet

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 528 548 509 459 580 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) 3.026 2.923 2.797 2.728 2.739 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 73,35 69,66 71,07 73,06 72,95 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB (persen) 2,8 2,80 3,11 2,91 2,74 2,55 2,59

    Laju Pertumbuhan (persen) 4,48 5,69 4,46 1,64 4,70 3,95 9,19

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

  • 56 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Kinerja lainnya yang perlu disorot yakni penurunan jumlah unit

    usaha dari 3.026 unit pada 2006 menjadi 2.739 unit pada 2010.

    Sementara itu, dari aspek penyerapan tenaga kerja relatif tetap

    yakni berkisar 500 ribu orang.

    4.2.6. Industri Semen dan Barang Galian bukan logam

    Industri semen dan barang galian bukan logam secara umum

    mengalami peningkatan kinerja khsusnya selama 2 tahun terakhir.

    Pemanfaatan hasil industri ini sangat erat kaitannya dengan sektor

    konstruksi seperti pembangunan perumahan dan infrastruktur di

    Indonesia. Sektor konstruksi yang meningkat dengan rata-rata

    sebesar 7 persen per tahun selama 5 tahun terakhir membuat

    permintaan akan hasil produksi industri semen dan barang galian

    bukan logam menjadi tinggi.

    Data pada Tabel 4.9. menunjukkan bahwa tingkat utilisasi produksi

    industri ini cenderung meningkat pada periode tahun 2006-2010,

    yang mencerminkan peningkatan pada produksi. Laju pertumbuhan

    mencapai puncaknya pada 2011 sebesar 7,19 persen. Sementara

    kontribusinya terhadap PDB menunjukkan angka yang tidak terlalu

    signifikan yang masih dibawah 1 persen per tahun.

    Tabel 4.9. Beberapa Indikator Kinerja Industri Semen dan Barang

    Galian bukan logam

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 2.047 1.916 1.783 1.698 1.616 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja

    (ribu orang) 191 135 177 176 172 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 74,20 74,46 75,62 71,73 79,76 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 0,90 0,83 0,81 0,78 0,71 0,68 0,69

    Laju Pertumbuhan (persen) 0,53 3,40 -1,49 -0,51 2,18 7,19 6,11

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 57

    4.2.7. Industri Logam Dasar Besi dan Baja

    Sama halnya seperti industri semen dan barang galian bukan logam,

    industri logam dasar besi dan baja juga merupakan salah satu

    industri pendukung sektor konstruksi. Kinerja industri ini juga

    menggambarkan kecenderungan yang sama dengan industri semen

    dan barang galian bukan logam. Pada tahun 2011, industri ini

    mengalami pertumbuhan yang signifikan dengan besaran 13,06

    persen, lihat Tabel 4.10.

    Tabel 4.10. Beberapa Indikator Kinerja Industri Logam Dasar

    Besi dan Baja

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha

    (unit) 1.296 1.241 1.139 1.147 1.154 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga

    Kerja (ribu orang) 178 173 182 188 195 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi

    (persen) 71,93 73,84 75,17 73,10 68,77 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap

    PDB (persen) 0,60 0,58 0,59 0,48 0,42 0,42 0,42

    Laju Pertumbuhan

    (persen) 4,73 1,69 -2,05 -4,26 2,38 13,06 5,57

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri ini menyerap lebih

    dari 195 ribu orang pada 2010, meningkat 3,6 persen dari tahun

    sebelumnya. Pada tahun 2010, jumlah unit usaha atau perusahaan

    mencapai 1.154 unit, sempat mengalami penurunan dari beberapa

    tahun sebelumnya. Utilitas produksi pada industri ini belum terlalu

    optimal dikarenakan masih berkisar di angka 68,77 persen pada

    2010. Berbeda dengan industri lainnya yang telah mencapai angka

    diatas 70 persen.

    4.2.8. Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya

    Industri alat angkutan, mesin serta peralatannya merupakan

    industri yang saat ini sedang berkembang seiring dengan

  • 58 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    meningkatnya permintaan akan alat-alat transportasi serta

    komponennya. Pertumbuhan industri ini cukup mengesankan

    selama 5 tahun terakhir, kecuali di 2009 yang sempat anjlok, namun

    kembali meningkat sebesar 10,38 persen di 2010 dan 7 persen di

    2011. Kontribusinya terhadap PDBnya pun relatif baik, dengan rata-

    rata di atas 6 persen selama 5 tahun terakhir, lihat Tabel 4.11.

    Tabel 4.11. Beberapa Indikator Kinerja Alat Angkutan,

    Mesin dan Peralatannya

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 716 682 638 607 604 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja

    (ribu orang) 159 166 179 168 191 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 72,58 70,46 73,73 73,93 80,59 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 6,30 6,44 6,67 6,18 6,05 5,75 5,67

    Laju Pertumbuhan (persen) 7,55 9,73 9,79 -2,87 10,38 7,00 6,23

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Dari sisi produksi, utilisasi industri ini selalu mengalami peningkatan

    selama 5 tahun terakhir dan telah mencapai 80,59 persen pada

    2010. Hal ini menunjukkan peningkatan produksi pada industri ini.

    Tenaga yang terserap pada industri ini juga cenderung mengalami

    peningkatan walaupun sempat turun pada 2009. Walaupun jumlah

    unit usaha cenderung menurun, tapi tampaknya terjadi

    peningkatan kapasitas dan utilisasi produksi dari masing-masing

    unit usaha sehingga produksi meningkat.

    4.2.9. Industri Barang lainnya

    Industri barang lainnya merupakan industri yang tidak

    diklasifikasikan ke dalam industri yang dibahas sebelumnya. Industri

    ini mencakup beberapa industri yaitu industri permesinan untuk

    pabrik, elektronik, peralatan kedokteran, alat media dan

    komunikasi, mainan anak-anak, furnitur dan lain-lain. Jumlah unit

    usaha pada industri ini mengalami penurunan selama 5 tahun

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 59

    terakhir. Hal ini diduga karena telah banyak produk impor yang

    membanjiri pasar domestik yang kualitas dan harganya lebih

    bersaing. Hal ini tentu saja menjadi diinsentif bagi para produsen,

    sehingga jumlahnya semakin berkurang, lihat Tabel 4.12.

    Tabel 4.12. Beberapa Indikator Kinerja Industri Barang lainnya

    Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*

    Jumlah Unit Usaha (unit) 4.326 4.097 3.704 3.484 3.175 n.a. n.a.

    Penyerapan Tenaga Kerja

    (ribu orang) 643 650 631 633 679 n.a. n.a.

    Utilisasi Produksi (persen) 73,86 71,92 71,18 73,87 73,03 n.a. n.a.

    Kontribusi terhadap PDB

    (persen) 0,20 0,19 0,18 0,18 0,16 0,15 0,15

    Laju Pertumbuhan

    (persen) 3,62 -2,82 -0,96 3,19 3,00 1,82 4,21

    *) Sampai dengan triwulan I

    n.a.) data tidak tersedia

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012 (diolah)

    Utilisasi produksi pada industri ini cenderung mengalami stagnasi

    selama 5 tahun terakhir, berkisar diantara 71 hingga 73 persen.

    kontribusi industri ini pun relatif sangat kecil, yaitu selalu kurang

    dari 0,2 persen per tahun. Dengan laju pertumbuhan yang tidak

    terlalu mengesankan yaitu maksimal 4 persen.

    4.3. Kinerja 7 Sektor Industri Padat Energi

    Sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya pada

    diantara industri pengolahan di Indonesia, dapat dibedakan

    beberapa industri yang sangat banyak mengkonsumsi energi. Dari

    dokumen yang ada, terdapat 7 sektor industri terpilih, yang

    berikutnya disebut sebagai industri padat energi, yang

    mengkonsumsi sekitar 70 persen dari total konsumsi energi pada

    industri pengolahan. Ketujuh sektor industri padat energi adalah:

    a. Industri Baja;

    b. Industri Tekstil;

    c. Industri Pupuk;

    d. Industri Pulp dan Kertas;

    e. Industri Pengolahan Kelapa Sawit;

  • 60 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    f. Industri Semen; dan

    g. Industri Keramik

    Berikut ini diuraikan kinerja dari masing-masing industri padat

    energi, baik produksi, tingkat utilisasi, input, dan yang ada

    kaitannya dengan konsumsi energi serta jenis energi yang

    dibutuhkannya.

    4.3.1. Industri Baja

    Industri baja merupakan salah satu pilar penting dari upaya

    pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.

    Perkembangan industri baja menentukan masa depan

    pembangunan Indonesia. Berbagai produk industri banyak yang

    memanfaatkan prasarana berbahan baku baja sebagai material

    dasarnya, seperti mesin-mesin pabrik, alat angkut, konstruksi

    pabrik, dll. Sayangnya, hingga saat ini kondisi industri baja di

    Indonesia masih belum seimbang antara industri hulu dan hilir.

    Akibat keterbatasan industri hulu membuat industri hilir baja masih

    sangat tergantung kepada bahan baku impor.

    Sumber: South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), 2012

    Gambar 4.3. Konsumsi Baja Nasional (juta ton)

    Penyebab utama dependensi Indonesia terhadap impor bahan baku

    baja adalah kurang berkembangnya industri baja lembaran yang

    kapasitasnya tidak banyak mengalami perubahan sejak 2004

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 61

    (Indonesia Commercial Newsletter, 2012). Kapasitas industri baja

    nasional saat ini sebesar 19 juta ton per tahun dengan total

    kebutuhan bijih besi 46 juta ton. Jika kebutuhan ini terpenuhi

    diperkirakan akan menciptakan nilai tambah sebesar US$15 miliar

    per tahun (Kemenperin, 2012).

    Namun, kebutuhan bahan baku industri hilir baja berupa iron ore,

    sponge iron, pellet, dan scrap yang mencapai 4 juta ton per tahun

    seluruhnya masih impor, padahal di sisi lain Indonesia justru

    mengekspor bijih besi secara besar-besaran. Kondisi demikian

    membuat upaya untuk meningkatkan nilai tambah bijih besi perlu

    terus dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat

    memenuhi kebutuhan bahan baku baja dalam negeri sekaligus

    mengurangi impor bahan baku.

    Dari data di atas, sebesar 54 persen konsumsi baja nasional masih

    menggantungkan diri dari impor. Di Indonesia, baja banyak digunakan

    di sektor pertambangan, konstruksi, infrastruktur, dan perhubungan. Di

    sektor pertambangan selain untuk pertambangan itu sendiri juga untuk

    pengembangan sektor minyak dan gas, serta untuk pipa dan tube. Di

    sektor konstruksi dna infrastruktur terutama untuk pembangunan

    infrastruktur, perumahan dan gedung-gedung. Sementara permintaan

    sektor perhubungan terutama untuk industri otomotif dan perkapalan.

    Tumbuh kembang industri baja seringkali dijadikan tolok ukur tingkat

    keberhasilan industrialisasi. Suatu negara dengan tingkat

    pengembangan industri baja yang sangat maju dapat dikatakan sebagai

    negara yang maju industrialisasinya. Dalam rangka itu pengembangan

    industri baja harus mendapat dukungan penyediaan energi yang

    memadai, mengingat upaya hilirisasi di industri ini masih terkendala

    penyediaan energi. Saat ini kapasitas terpasang industri baja nasional

    sebesar 6 juta ton per tahun, namun utilisasinya hanya 60 persen atau

    sekitar 3,6 juta ton per tahun akibat minimnya pasokan energi, yakni

    gas dan listrik. Oleh karena itu ketersediaan energi di industri baja

    masih harus ditingkatkan.

  • 62 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Dalam cakupan yang lebih luas, jumlah konsumsi baja suatu bangsa

    dapat dijadikan indikator tingkat kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

    Negara-negara maju umumnya mengonsumsi 700 kilogram baja per

    jiwa per tahun. Konsumsi baja di Indonesia baru 32 kilogram per jiwa

    per tahun. China, konsumsi bajanya sebesar 508 kg per kapita per

    tahun; Vietnam 115 kg per kapita per tahun, Malaysia 290 Kg per kapita

    per tahun dan Thailand 199 kg per kapita per tahun. Ini berarti

    keberadaan industri baja masih belum banyak dirasakan manfaatnya

    oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini. Padahal industri ini

    merupakan tonggak tegaknya industrialisasi, lihat Tabel 4.13.

    Tabel 4.13. Konsumsi per Kapita Baja Beberapa Negara

    Tahun 2009

    Negara Konsumsi

    (Kg per kapita per tahun)

    Indonesia 32

    Singapura 665

    China 508

    Malaysia 290

    Thailand 199

    Vietnam 115

    Sumber: Badan Standarisasi Nasional, 2010

    Dari sisi intensitas energi, untuk menghasilkan 1 Ton baja di

    Indonesia memerlukan energi yang relatif lebih besar dibandingkan

    dengan beberapa negara di Asia, seperti dengan India dan Jepang.

    Berdasarkan data Ditjen EBTKE-KESDM tahun 2011 intensitas energi

    pada industri baja di India sebesar 600 kWh per ton dan Jepang

    sebesar 350 kWh per ton. Data ini dapat digunakan sebagai

    benchmark untuk menentukan intensitas energi di industri baja

    yang lebih ideal. Mengingat besarnya energi untuk menghasilkan 1

    ton baja di Indonesia cukup beragam dan sangat dipengaruhi oleh

    bahan baku yang digunakan1, dalam kajian ini intensitas energi

    industri baja diasumsikan sebesar 900 kWh per ton. Intensitas 1 Perhitungan proyeksi kebutuhan energi dari sisi demand dengan menghitung besarnya

    intensitas energi yang dikonsumsi per ton produksi baja juga biasa di pakai di Amerika

    Serikat. Lihat Stephanie J. Battles and Robert K. Adler. Production, Energy, and Carbon

    Emissions: A Data Profile of the Iron and Steel Industry. American Council for an Energy

    Efficient Economy Summer Study on Energy Efficiency in Industry, June 1999.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 63

    energi ini mengacu pada pemain utama industri baja di Indonesia,

    yaitu PT Krakatau Steel. Berdasarkan hasil FGD, untuk menghasilkan

    1 Ton baja yang berasal dari bahan baku material dasar di PT

    Krakatau Steel membutuhkan energi sekitar 800-900 kWh.

    Sementara perusahaan lain sejenis yang menggunakan bahan baku

    besi rongsokan (scrap) memerlukan energi yang lebih rendah,

    sebesar 650 kWh per Ton.

    Kontras dengan tingkat konsumsi per kapita baja yang masih

    rendah dan intensitas energi industri baja yang masih relatif kurang

    efisien, data menunjukkan bahwa cadangan bijih besi di Indonesia

    berjumlah cukup besar. Cadangan tersebut tersebar di beberapa

    pulau, seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Irian Jaya

    dengan total melebihi 1.300 juta Ton, meskipun dengan kadar

    kandungan besi yang masih rendah antara 35-58 persen. Sementara

    itu, bahan pendukung, seperti batubara dan kapur, juga melimpah

    di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Cadangan ini dapat memenuhi

    konsumsi baja dalam negeri sekitar 2,5 ton per jiwa (Rochman,

    2003). Ini berarti dari sisi potensi Indonesia sebenarnya mempunyai

    modal untuk menjadi masyarakat berbasis industri. Sayangnya,

    hingga saat ini untuk pasokan scrap saja sebesar 70 persen masih

    harus impor, pasar domestik hanya mampu menyuplai 30 persen

    kebutuhan scrap (besi tua/besi rongsokan). Padahal setiap tahun

    industri baja membutuhkan scrap mencapai 5,2 juta ton (IISIA,

    2012).

    Agar peningkatan konsumsi baja dapat dipenuhi dari dalam negeri,

    maka pasokan energi di sektor industri baja harus ditambah.

    Kapasitas produksi baja harus dioptimalkan dari kondisi saat ini di

    mana tingkat utilisasinya hanya 60 persen. Jika kapasitas produksi

    (kapasitas terpasang) dapat dioptimalkan, maka impor baja dapat

    ditekan, karena suplai produksi baja dalam negeri akan meningkat.

  • 64 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    4.3.2. Industri Tekstil

    Dilihat dari strukturnya industri tekstil dibagi menjadi 3 yaitu; up

    stream, mid stream, serta down stream. Struktur industri up stream

    antara lain dicirikan dengan: a) padat modal, industrinya berskala

    besar; b) teknologi full automatic; c) jumlah tenaga kerja kecil tapi

    output per tenaga besar; d) penyerapan energi sangat besar; dan e)

    produksinya berupa: serat/fiber alam (cotton/kapas), serat buatan

    (sintetis: poliester, acrylic, nylon), serta serat rayon.

    Karakteristik struktur industri mid stream antara lain sebagai

    berikut: a) semi padat modal, investasi dan industrinya berskala

    besar; b) teknologi modern dan berkembang terus; c) tenaga kerja

    lebih besar dari sektor hulu; d) penyerapan energi besar; dan d)

    produksi : benang/yarn (dari: serat alam, serat buatan, dan

    campuran), dan kain/fabrics lembaran (kain grey/blace, kain

    finished, kain rajut, kain non-woven).

    Pada struktur industri down stream dicirikan dengan karakteristik

    sebagai berikut: a) padat karya, sebagian besar pekerja wanita; b)

    teknologinya selalu berkembang dan kombinasi padat karya dengan

    padat modal; c) fleksibilitas tinggi dengan kosumen akhir/pasar

    sangat bervariasi; dan d) produksi: pakaian jadi/garment/clothing,

    karpet, tenda, tekstil rumah tangga/household (bed linen, table

    linen, sarung bantal, toilet linen, kitchen linen, gorden, dan lainnya),

    Kebutuhan industri (jok mobil, angkatan perang, rumah sakit, dan

    lainnya).

    Pola distribusi dan penjualan antarsektor industri tekstil cukup

    terintegrasi dan terstruktur (API, 2012). Industri tekstil terintegrasi

    secara vertikal, yaitu mulai dari industri hulu, antara, hingga hilirnya

    sehingga efisiensi bagi buyer, atau istilahnya one stop service. Selain

    terintegrasi pola produksinya juga terstruktur, mulai dari serat,

    benang, kain, sampai dengan pakaian jadi dan barang jadi tekstil

    lainnya. Ditambah lagi pola kerja pemasaran dan distribusinya telah

    tersusun dan terbentuk.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 65

    Saat ini kapasitas terpasang industri tekstil masih tersedia sekitar

    20-25 persen dan ini merupakan cadangan dari sisa utilisasi yang

    dapat ditingkatkan untuk menerima permintaan baru dari dalam

    negeri maupun luar negeri (API, 2012). Sementara dari sisi produksi,

    API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) memperkirakan sampai dengan

    Desember 2012, diprediksikan total produksinya senilai USD 21,6

    miliar yang terdiri dari ekspor senilai USD 14 miliar dan penjualan

    domestik sebesar USD 7,6 miliar, lihat Tabel 4.14.

    Tabel 4.14. Profil Industri Tekstil

    Numbers of Company Operating Capacity

    Level Production Volume Utilization

    Unit Ton (000) Ton (000) persen

    2008 2009 2010 2008 2009 2010 2008 2009 2010 2008 2009 2010

    Fiber 30 30 30 1.184 1.192 1.254 1.009 1.017 1.041 85,2 85,3 83,0

    Yarn 219 225 230 2.761 2.837 2.837 2.199 2.207 2.502 81,0 77,8 88,2

    Fabrics 1.058 1.067 1.074 1.750 1.798 1.922 1.298 1.107 1.226 74,1 61,5 63,8

    Garment 979 996 1.008 782 801 821 483 410 486 61,8 51,3 59,2

    Others 532 535 538 110 115 130 101 102 117 91,8 89,2 90,4

    All Sector 2.818 2.853 2.880 6.542 6.742 6.963 5.090 4.843 5.985 77,8 71,8 86,0

    Sumber: API, 2012

    4.3.3. Industri Pupuk

    Produksi pupuk di Indonesia dikuasai oleh perusahaan milik negara

    (BUMN). Ada lima pemain besar dalam industri pupuk nasional,

    yaitu PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT

    Pupuk Kujang (PK), PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), dan PT Pupuk

    Gresik (PG), di mana kelima perusahaan tersebut adalah

    perusahaan BUMN2. Kelima perusahaan ini menguasai sebagian

    besar pangsa pasar pupuk di Indonesia, sedangkan perusahaan-

    perusahaan pupuk swasta hanya pemain kecil dari industri pupuk.

    Dua produk utama pada industri ini adalah produk pupuk dan

    nonpupuk. Produk pupuk rata-rata menyumbang sekitar 65 persen

    dari total output industri pupuk, sedangkan sisanya (35 persen)

    adalah produk nonpupuk, lihat Tabel 4.15.

    2 Kebijakan Rightsizing terhadap BUMN yang dilakukan Pemerintah pada tahun 1997

    membuat 5 perusahaan pupuk menjadi 1 holding company menjadi PT Pusri (Holding).

    Baca : www.bumn.go.id/wp.../03200701.pdf

  • 66 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 4.15. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri

    (Holding) tahun 2005-2010 (dalam juta ton)

    Tahun Total

    Pupuk Total Non-Pupuk

    Total

    Produksi

    1996 7,17 5,37 12,54

    1997 6,92 5,29 12,21

    1998 6,42 5,03 11,45

    1999 7,05 5,15 12,20

    2000 6,79 5,07 11,86

    2001 6,32 4,47 10,79

    2002 6,48 4,47 10,95

    2003 6,74 4,85 11,59

    2004 7,22 5,34 12,55

    2005 7,66 5,29 12,95

    2006 7,44 5,26 12,70

    2007 7,95 5,29 13,24

    2008 8,72 5,57 14,29

    2009 10,51 5,92 16,43

    2010 10,31 6,01 16,32

    Rata-rata

    Pertumbuhan 2,9% 1,0% 2,1%

    Sumber: Laporan Tahunan 2005, 2008, dan 2010 PT Pusri (Holding)

    Produk pupuk yang terbesar adalah urea, sedangkan produk

    nonpupuk adalah amoniak. Produksi urea dan amoniak rata-rata

    menyumbang sekitar 69 persen sampai dengan 80 persen dengan

    rata-rata sekitar 75 persen sehingga dalam studi industri pupuk ini

    penulis menggunakan asumsi 2 produk ini, yaitu urea (pupuk) dan

    amoniak (nonpupuk).

    Sumber : Laporan Tahunan PT Pusri Holding 2005, 2008, dan 2010

    Gambar 4.4. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak

    terhadap Total Produksi Industri Pupuk

    Selama Periode 2003-2010

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 67

    Jenis energi terbesar dan utama yang dibutuhkan pada industri

    pupuk adalah gas bumi. Gas bumi sebagian besar digunakan untuk

    kebutuhan bahan baku, yaitu sebesar 96,9 persen, lihat Gambar

    4.5. Di sisi lain, kebutuhan energi untuk bahan bakar seperti solar,

    batubara, dan gas bumi tidak terlalu signifikan bagi industri ini

    karena hanya menyumbang sekitar 3,1 persen dari total energi yang

    dibutuhkan untuk industri pupuk.

    Sumber: Statistik Industri Sedang Dan Besar BPS 2012

    dan Laporan Tahunan PT Pusri (Holding) 2009 (diolah)

    Gambar 4.5. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk

    Tahun 2009 (persen)

    4.3.4. Industri Pulp dan Kertas

    Pulp dan Kertas ibarat emas hijau bagi pembangunan Indonesia.

    Produk industri kehutanan tersebut terbukti memberikan

    sumbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang luar

    biasa besarnya. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara,

    sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari

    total penerimaan ekspor kehutanan. Hal ini menjadikan Indonesia

    sebagai salah satu pemain utama eksportir di bidang kehutanan

    sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih dalam Ramli, 2006).

  • 68 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sementara itu, sumbangan industri pulp dan kertas terhadap

    pendapatan nasional juga cukup besar yakni mencapai 45,4 triliun

    Rupiah (harga berlaku) atau sekitar 1,3 persen dari total

    pendapatan nasional pada 2007. Nilai tambah industri pulp dan

    kertas juga mengalami peningkatan dari 20 triliun Rupiah pada

    2000 (harga konstan 2000) menjadi sekitar 25,9 triliun Rupiah pada

    2007 (harga konstan 2000) atau meningkat rata-rata sebesar 3,8

    persen (Sugiyono, 2009).

    Dari aspek tenaga kerja, Industri pulp dan kertas juga berkontribusi

    terhadap penyediaan lapangan kerja yakni mampu menyerap

    238.288 tenaga kerja pada 2010 atau meningkat 13 persen dari

    tahun sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan adanya perluasan

    usaha untuk meningkatkan produksi.

    Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), saat ini

    Indonesia mempunyai 80 perusahaan produsen kertas dan 5

    diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp, selain itu juga ada 4

    perusahaan yang fokus sebagai produsen pulp. Perusahaan-

    perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal

    Dalam Negeri (PMDN), 16 perusahaan Penanaman Modal Asing

    (PMA) dan 3 perusahaan negara (BUMN). Sekitar 69 perusahaan

    berlokasi di pulau Jawa, 14 perusahaan di Sumatera dan 1

    perusahaan berlokasi di Kalimantan. Industri pulp dan kertas

    memiliki kapasitas produksi masing-masing sebesar 7,9 juta ton per

    tahun dan 12,89 juta ton per tahun.

    Indonesia sebagai negara berkembang, mengalami kemajuan yang

    pesat dalam membangun industri pulp dan kertas. Buktinya, pada

    2010 Indonesia berada diperingkat ke-9 sebagai produsen utama

    produk pulp dunia dengan volume produksi sebesar 6,28 juta ton.

    Dan pada tahun yang sama, Indonesia juga berada diperingkat ke-8

    sebagai produsen utama produk kertas dunia dengan volume

    produksi sebesar 9,95 juta ton.

    Sungguh pun begitu, gambaran kinerja yang menggembirakan

    dalam industri pulp dan kertas tersebut ternyata dibayangi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 69

    kekhawatiran akan kekurangan pasokan pulp dan kertas di masa

    yang akan datang. Terlebih lagi bila dalam 10 tahun mendatang

    kapasitas industri pulp dan kertas tidak bertambah. Padahal setiap

    tahunnya konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat rata-rata

    sekitar 5,5 persen per tahun (selama 2001-2010), sedangkan

    pertumbuhan kapasitas produksi kertas hanya meningkat rata-rata

    3,1 persen per tahun. Pada 2010 kapasitas produksi yang dimiliki

    industri kertas baru mencapai 12,89 juta ton per tahun atau

    tumbuh 30 persen sejak 2001, sedangkan konsumsi per kapitanya

    pada 2010 telah mencapai 32,6 Kg atau meningkat sebesar 40

    persen sejak 2001. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil

    dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand (62,1

    Kg/kapita/tahun), Malaysia (110,8 Kg/kapita/tahun), dan Singapura

    (197,7 Kg/kapita/tahun) (RISI, 2008). Namun, jika kebutuhan kertas

    di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita, industri

    kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun (Ramli,

    2006).

    Dengan melihat kondisi tersebut, maka harus ada upaya untuk

    terus mendorong industrialisasi di industri pulp dan kertas. Caranya

    yakni dengan meningkatkan investasi baru guna peningkatan

    kapasitas produksi maupun dengan meningkatkan efisiensi

    khususnya dalam proses produksi.

    Secara umum, potret industri pulp dan kertas di Indonesia dapat

    dilihat pada Gambar 4.6 dan Gambar 4.7. Produksi Pulp dan Kertas

    masih di bawah kapasitas terpasangnya dengan rata-rata utilisasi

    masing-masing sebesar 79,46 persen dan 81,21 persen (selama

    2001-2010). Sedangkan konsumsi domestik masih lebih rendah

    dibandingkan dengan total produksi, pada 2010 hanya 67 persen

    (kertas) dan 79 persen (pulp) dari total produksi kertas dan pulp

    yang dikonsumsi sendiri didalam negeri. Hal tersebut

    memungkinkan dilakukannya ekspor pulp dan kertas, yang

    jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

  • 70 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, Direktori 2011, diolah

    Gambar 4.6. Produksi Pulp Indonesia (Juta Ton)

    Beberapa faktor penting guna meningkatkan kinerja industri pulp

    dan kertas ialah tersedianya bahan baku berupa pulp dan juga

    kertas bekas untuk produksi kertas. Selain itu, ketersediaan energi

    sebagai penunjang proses produksi juga menjadi syarat mutlak yang

    harus dipenuhi guna menyukseskan industrialisasi.

    Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, Direktori 2011, diolah

    Gambar 4.7. Produksi Kertas Indonesia (Juta Ton)

    Sementara itu, data BPS menunjukkan bahwa rata-rata biaya energi

    yang dikeluarkan oleh Industri pulp dan kertas selama 2001-2010

    mencapai 9 persen terhadap total biaya produksi. Biaya energi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 71

    tersebut lebih besar dari biaya tenaga kerja dan sewa gedung dan

    peralatan yang total rata-ratanya mencapai 7,87 persen. Dengan

    demikian, faktor ketersediaan dan biaya energi dalam industri Pulp

    dan Kertas merupakan aspek penting yang perlu dipenuhi jika ingin

    menjadikan industri Pulp dan Kertas nasional berada di puncak

    perdagangan global.

  • 72 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    negeri, sehingga keberadaannya berpengaruh sangat nyata dalam

    perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

    Produksi CPO Indonesia tumbuh signifikan rata-rata 13,4 persen

    selama satu dasawarsa terakhir, yang didukung oleh pertumbuhan

    areal tanam rata-rata 6,7 persen per tahun, lihat Tabel 4.16. Pangsa

    produksi CPO Indonesia di pasar internasional senantiasa

    menunjukkan tren peningkatan. Total produksi minyak sawit (CPO

    dan CPKO) dunia pada 2010 sebesar 53,2 juta ton, di mana

    Indonesia dan Malaysia menguasai 80 persen produksi minyak sawit

    dunia. Pangsa CPO Indonesia sebesar 43,6 persen sedangkan

    Malaysia sebesar 36,2 persen, sisanya sebesar 20,2 persen

    merupakan share sejumlah negara-negara lain, lihat Tabel 4.17.

    Tabel 4.16. Pangsa Produksi CPO

    No. Negara Produksi Minyak

    Sawit

    Pangsa

    Produksi

    Tahun 2010 (Ton) (Persen)

    1. Indonesia 23,2 juta 43,60

    2. Malaysia 19,3 juta 36,20

    3. Negara Lainnya 10,7 juta 20,20

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2011

    Peningkatan pangsa produksi CPO tidak lepas dari dukungan

    penambahan luas areal kebun kelapa sawit. Wilayah Pulau

    Sumatera merupakan kontributor terbesar produksi kelapa sawit

    Indonesia dengan luas lahan sekitar 70 persen dari total lahan

    kelapa sawit nasional. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki

    luas areal 454,4 ribu ha, Sumatera Utara 258,6 ribu ha, Sumatera

    Barat 47,7 ribu ha, Riau 1,5 juta ha, Jambi 511,4 ribu ha, Sumatera

    Selatan 1,3 juta ha, Kalimantan Barat 1,2 juta ha, Kalimantan

    Tengah 1,4 juta ha, Kalimantan Timur 2,8 juta ha, Kalimantan

    Selatan 965,5 ribu ha, Papua 1,5 juta ha, dan Sulawesi Tengah 215,7

    ribu ha (Kementerian Pertanian, 2011).

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 73

    Tabel 4.17. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit

    Tahun Luas Areal

    (Hektar)

    Pertumbuhan

    Luas Areal (%)

    Produksi

    (Ton)

    Pertumbuhan

    Produksi (%)

    2000 4.158.077 - 7.000.508 -

    2001 4.713.435 13,4 8.396.472 19,9

    2002 5.067.058 7,5 9.622.345 14,6

    2003 5.283.557 4,3 10.440.834 8,5

    2004 5.284.723 0,0 10.830.389 3,7

    2005 5.453.817 3,2 11.861.615 9,5

    2006 6.594.914 20,9 17.350.848 46,3

    2007 6.766.836 2,6 17.664.725 1,8

    2008 7.363.847 8,8 17.539.788 -0,7

    2009*) 7.508.023 2,0 18.640.881 6,3

    2010**) 7.824.623 4,2 23.200.000 24,5

    Sumber: Ditjen Perkebunan-Kementerian Pertanian, 2011

    * = sementara ** = realisasi

    4.3.6. Industri Semen

    Semen merupakan salah satu komoditi strategis yang berperan vital

    dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur dan

    pertumbuhan ekonomi. Keberadaan semen tidak hanya memacu

    secara langsung pembangunan jalan, properti, jembatan,

    pelabuhan, bandara dan infrastruktur fisik lainnya. Semen secara

    tidak langsung juga menstimulasi kemajuan industri lain, seperti

    otomotif, pertambangan, pertanian, makanan, minuman, dan

    industri manufaktur lainnya.

    Oleh karena itu, pemerintah di berbagai negara berkembang,

    termasuk Indonesia berupaya mendorong produsen semen agar

    dapat meningkatkan kapasitas produksinya untuk menjamin

    ketersediaan semen di dalam negeri. Upaya pemerintah tersebut

    dilakukan dengan beragam insentif diantaranya adalah keringanan

    pajak. Selain pemberian insentif, faktor lain yang memicu produsen

    semen ingin meningkatkan kapasitas produksinya ialah konsumsi

    semen yang terus meningkat seperti yang saat ini sedang terjadi di

    Indonesia.

  • 74 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Meningkatnya pertumbuhan pembangunan infrastruktur serta

    permintaan sektor perumahan dan perkantoran di Indonesia secara

    langsung menyebabkan permintaan akan komoditi semen menjadi

    naik. Selama 10 tahun terakhir pada periode 2002-2011

    menunjukkan bahwa konsumsi semen nasional selalu mengalami

    peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,62 persen.

    Bahkan pada tahun 2011 pertumbuhan konsumsi semen mengalami

    peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun

    sebelumnya dan dapat dikatakan mencapai puncaknya setelah 15

    tahun terakhir.

    Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI) pada tahun 2011 konsumsi

    semen Indonesia menunjukkan tingkat pertumbuhan yang relatif

    signifikan sebesar 18 persen, yaitu dari 40,8 juta ton pada tahun

    2010 menjadi 48,0 juta ton pada tahun 2011. Angka tersebut adalah

    pencapaian sekitar 82 persen dari total kapasitas terpasang yang

    ada saat ini, lihat Gambar 4.9.

    Sumber: Asosiasi Semen Indonesia, 2012

    Gambar 4.9. Konsumsi Semen Nasional (JutaTon)

    Lebih lanjut pada Januari-Mei 2012 pertumbuhan konsumsi semen

    meningkat sebesar 13,8 persen dibanding periode yang sama pada

    tahun 2011. Yakni dari 18,91 juta ton menjadi 21,52 juta ton. Pada

    tahun 2012 pertumbuhan konsumsi semen ditargetkan meningkat

    sebesar 12 persen.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 75

    Dari 48,0 juta ton semen yang di konsumsi pada tahun 2011,

    sebesar 2,1 persennya dipenuhi dari impor. Impor semen Indonesia

    cenderung menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 proporsi

    impor semen Indonesia tercatat sebesar 3,9 persen atau 1,6 juta

    ton. Pemerintah terus mendorong produsen semen untuk

    meningkatkan kapasitas produksinya demi menjamin ketersediaan

    semen di dalam negeri. Itulah sebabnya Indonesia telah berhasil

    menghindari ketergantungan impor semen yang berlebihan, bahkan

    jumlah impor semen terus menurun yang pada tahun 2011 lalu

    hanya sebesar 1,01 juta ton.

    Peningkatan permintaan semen yang terjadi pada saat ini membuat

    pemerintah menerapkan strategi kebijakan yang bertujuan bagi

    pengembangan industri semen di Indonesia. Yaitu dengan cara

    memenuhi kebutuhan nasional, melakukan persebaran

    pembangunan pabrik semen ke luar pulau Jawa, meningkatkan

    daya saing industri semen melalui efisiensi energi, meningkatkan

    kemampuan kompetensi sumber daya manusia dalam desain dan

    perekayasaan pengembangan industri semen.

    Meskipun terjadi peningkatan, ternyata konsumsi semen Indonesia

    tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negraga lain. Hal ini

    terlihat dari tertinggalnya konsumsi per kapita semen Indonesia

    yang saat ini berkisar 200 kg per kapita. Sedangkan di negara-

    negara ASEAN seperti Brunei, Malaysia, Thailand, Singapura dan

    bahkan Vietnam sudah melebihi 350 kg per kapita.

    Peningkatan kapasitas produksi semen yang saat ini sedang

    didorong baik melalui perluasan, optimalisasi maupun

    pembangunan pabrik baru, dikhawatirkan banyak pihak, terutama

    masyarakat yang berlokasi disekitar pabrik semen. Kekhawatiran

    tersebut beralasan, sebab penggunaan bahan baku dan bahan

    bakar serta proses yang dilalui dalam memproduksi semen

    berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan dan sosial.

    Terkait dengan penggunaan bahan bakar dan energi, saat ini

    industri semen sangat tergantung pada energi batubara. Namun

  • 76 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    hasil pembakaran bahan bakar dan batubara tersebut dapat

    menyebabkan polusi udara yang sangat mengganggu keseimbangan

    lingkungan. Inilah salah satu dilema yang dihadapi industri semen

    terkait yang terkait dengan penggunan energi dan bahan bakar. Di

    satu sisi penambahan penggunaan batubara sangat diperlukan

    untuk menambah kapasitas produksi semen, namun di sisi lain

    penggunaan batubara tersebut dapat menimbulkan gangguan

    lingkungan. Di masa yang akan datang tentunya sangat diperlukan

    jenis energi yang hemat dan ramah lingkungan sebagai alternatif

    pengganti batubara untuk proses pembakaran pada industri semen.

    4.3.7. Industri Keramik

    Keramik adalah berbagai produk industri kimia yang dihasilkan dari

    pengolahan tambang seperti clay, feldspar, pasir silika dan kaolin

    melalui tahapan pembakaran dengan suhu tinggi. Industri keramik

    meliputi industri bahan baku, industri bahan penolong dan industri

    bahan setengah jadi serta produk keramik seperti tile, saniter dan

    tableware dan alat laboratorium meliputi KBLI 26201 sampai

    dengan KBLI 26209 atau HS 6901 sampai dengan HS 6914.

    Keramik adalah berbagai produk industri kimia yang dihasilkan dari

    pengolahan bahan tambang seperti kaolin, feldspar, pasir silika dan

    tanah liat (clay) melalui tahapan pembakaran dengan suhu tinggi

    (sekitar 1.3000 Celcius). Adapun karakteristik industri keramik

    meliputi:

    Padat energi

    Padat karya

    Penggunaan bahan baku tambang yang tidak dapat diperbaharui.

    Prospek pengembangan keramik ubin dalam beberapa tahun ke

    depan masih cukup potensial mengingat populasi penduduk

    Indonesia yang cukup besar dan konsumsi keramik per kapita yang

    masih rendah sekitar 1 m2, sedangkan negara - negara ASEAN

    lainnya sudah di atas 2 m2 per kapita. Selain itu pembangunan

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 77

    perumahan maupun properti yang diperkirakan terus berkembang

    akan membuka peluang pasar keramik yang cukup baik.

    Industri keramik nasional memiliki beberapa keuntungan

    dibandingkan dengan produsen keramik negara lain yaitu

    tersedianya deposit tambang bahan baku keramik yang cukup besar

    yang tersebar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar dan

    zircon di Kalimantan Barat maupun energi gas sebagai bahan bakar

    proses produksi. Ini merupakan suatu peluang bagi industri keramik

    dalam upaya meningkatkan daya saing produk keramik ubin. Lebih

    dari itu, saat ini Indonesia merupakan salah satu negara produsen

    keramik ubin terbesar keenam dunia setelah China, Italia, Spanyol,

    Turki dan Brazil. Sebanyak 20 persen dari total produksi dunia

    berasal dari Indonesia.

    Industri keramik nasional memberikan kontribusi signifikan dalam

    mendukung pembangunan nasional, yaitu melalui penyediaan

    kebutuhan keramik domestik, perolehan devisa melalui ekspor, dan

    penyerapan tenaga kerja. Sumbangan industri keramik nasional

    terhadap PDB saat ini telah mencapai 3 persen. Dengan

    memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersebar di berbagai

    daerah, industri keramik terus tumbuh baik dalam kapasitas

    maupun tipe dan desain produk yang semakin berdaya saing tinggi.

    Pada tahun 2011, industri keramik tumbuh sebesar 8 persen. Pada

    2012 ini pertumbuhan industri keramik diperkirakan bisa mencapai

    12 persen.

    Seiring dengan meningkatnyta pertumbuhan sektor konstruksi di

    Indonesia yang terlihat dengan meningkatnya pembangunan

    perumahan dan infrastruktur menyebabkan permintaan pada

    industri keramik menjadi meningkat. Gambar 4.10 menunjukkan

    produksi dan konsumsi keramik nasional selama 2006-2011. Data

    tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan konsumsi keramik

    terlihat lebih cepat daripada pertumbuhan produksinya. Jika hal ini

    terus terjadi, maka pada masa yang akan datang produksi keramik

    domestik akan tidak mampu memenuhi permintaan dalam negeri.

  • 78 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sumber: www.infotile.com/publications (2012)

    Gambar 4.10. Produksi dan Konsumsi Keramik Nasional

    (Juta M2)

    Berdasarkan data dari Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI),

    sebenarnya kapasitas produksi keramik nasional telah mencapai

    370 juta M2, namun produksi yang mampu dimaksimalkan oleh

    produsen lokal hanya 320 hingga 330 M2. Kurang optimalnya

    produksi keramik ini disebabkan karena masih terbatasnya bahan

    bakar energi utama pada industri keramik, yaitu gas. Selain itu

    masih banyak pula komponen bahan baku yang harus didatangkan

    dari luar negeri (impor). Berdasarkan data dari Badan Pengkajian

    Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI), dari kebutuhan bahan

    baku sebesar 12,5 miliar ton per bulan, 75 sampai dengan 78

    persen diantaranya masih impor.

    Meskipun industri keramik memiliki keunggulan, namun terdapat

    pula permasalahan yang dihadapi oleh industri ini, salah satunya

    terdapat pada faktor bahan bakar energi. Pasokan gas alam yang

    digunakan sebagai bahan bakar keramik belum mendapat jaminan

    khususnya untuk jangka panjang. Pasokan gas alam untuk industri

    keramik tidak dapat digantikan dengan jenis energi lain, antara lain

    karena tingginya titik bakar gas yang hanya dimiliki oleh gas bumi.

    Kebutuhan gas untuk industri keramik yang mencapai 100 Million

    Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD), namun pemerintah

    saat ini hanya bisa memenuhi sekitar 80 persen dari total

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 79

    kebutuhan. Pasokan gas yang masih jauh dari kebutuhan tersebut

    pun mengakibatkan utilisasi produksi keramik belum bisa optimal.

    Selain itu harga gas alam ditetapkan dalam US Dollar sehingga,

    sehingga apabila nilai tukar rupah melemah terhadap mata uang US

    dollar akan mengakibatkan naiknya harga pokok produksi.

    Peningkataan mutu keramik dirasa sangat perlu untuk

    meningkatkan daya saing serta pertumbuhan ekonomi nasional.

    Karena industri keramik menjadi bagian dari bahan bangunan

    mineral yang produknya dipergunakan untuk pembangunan fisik

    baik sarana dan prasarana dan kebutuhannya semakin meningkat

    sejalan dengan pembangunan nasional.

  • 80 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 81

    BBAABB VV

    KKEEBBUUTTUUHHAANN EENNEERRGGII SSEEKKTTOORR IINNDDUUSSTTRRII

    Kebutuhan energi di Indonesia dibedakan atas beberapa sektor

    pengguna energi seperti industri, rumah tangga, transportasi,

    pemerintahan, dan komersial. Menurut Ditjen EBTKE, KESDM,

    hingga saat ini sektor industri masih mendominasi konsumsi energi

    di Indonesia dengan pemakaian sebesar 329,7 juta SBM (Setara

    Barel Minyak) atau 49,4 peren dari total konsumsi energi nasional.

    Di tempat kedua, sektor transportasi menyumbang konsumsi

    sebesar 226,6 juta SBM atau 34,0 persen. Sementara rumah tangga

    dan bangunan komersial masing masing menggunakan 81,5 juta

    SBM atau 12,2 persen dan 29,1 juta SBM atau 4,4 persen.

    5.1. Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Sub Sektor Industri

    Sektor industri manufaktur (pengolahan) di Indonesia adalah

    pengguna energi terbesar yang mencakup hampir separuh dari

    seluruh kebutuhan energi nasional. Sektor industri pengolahan

    memiliki populasi dalam kategori sedang dan besar yang

    diperkirakan lebih dari 25.000 jenis industri. Industri pengolahan

    sedang dan besar tersebut dikelompokkan ke dalam 23 klasifikasi

    International Standard Industry Classification 1990 (ISIC 1990).

    Industri dengan populasi jumlah perusahaan terbanyak adalah

    berturut-turut industri makanan dan minuman, industri tekstil,

    industri garmen, dan furnitur. Populasi dari empat sektor industri

    ini secara bersama-sama bahkan sudah mencapai 50,0 persen dari

    seluruh populasi industri.

  • 82 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Untuk mempermudah analisis, terkait dengan kajian ini, ke-23

    klasifikasi sektor industri tersebut diagregasi menjadi 9 kelompok

    besar, yaitu:

    a. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau;

    b. Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki;

    c. Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya;

    d. Industri Kertas dan Barang Cetakan;

    e. Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet;

    f. Industri Semen dan Barang Galian bukan Logam;

    g. Industri Logam Dasar Besi dan Baja;

    h. Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya; dan

    i. Industri Barang lainnya.

    Analisis kebutuhan energi 9 (sembilan) jenis industri menggunakan

    asumsi bahwa jenis energi yang disertakan dalam perhitungan

    adalah bahan bakar minyak (bensin dan solar), batubara, gas, dan

    listrik. Pembatasan jenis energi ini semata-mata didasarkan pada

    pertimbangan praktis mengenai ketersediaan data yang ada. Data

    untuk jenis energi selain BBM, batubara, gas dan listrik sejauh ini

    belum dapat diperoleh. Selain itu, jenis energi yang dimaksud pada

    bagian ini hanya jenis energi yang digunakan untuk bahan bakar

    dan bukan bahan baku, kecuali untuk industri pupuk yang

    menggunakan gas bumi sebagai bahan baku utama.

    Sumber pasokan energi yang diperoleh industri berasal dari pasar

    yang dibentuk oleh beberapa produsen pemasok energi. Pasar

    energi batubara dibentuk oleh beberapa produsen besar dan

    banyak pensuplai yang lebih kecil, energi gas juga bervariasi karena

    ada yang disuplai oleh perusahaan niaga gas, namun ada pula

    industri yang langsung membeli dari produsen di hulu migas. Energi

    listrik berasal dari perusahaan listrik negara sebagai perusahaan

    negara yang melakukan monopoli penyaluran energi listrik. Terakhir

    adalah BBM, yang sebelum tahun 2001 disuplai hanya oleh BUMN

    Pertamina. Tapi sejak tahun 2006 sudah mulai bertambah banyak

    supplier energi BBM perusahaan swasta dikarenakan kebijakan

    pemerintah yang memberlakukan harga internasional bagi BBM

    industri sejak tahun 2006 yang lalu.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 83

    Masing-masing jenis energi memiliki satuan energi yang berbeda-

    beda, yang tidak bisa dijumlahkan begitu saja, seperti kWh untuk

    listrik, Kg untuk batubara, mmscfd untuk gas bumi, liter untuk BBM.

    Untuk dapat membandingkan antara satu jenis energi dengan jenis

    energi yang lain dan untuk dapat menjumlahkan kebutuhan energi

    industri, perlu dilakukan penyamaan satuan. Untuk itu satuan

    energi dari berbagai jenis energi dikonversi ke dalam satuan energi

    listrik yaitu kilo Watt hour (kWh), mega Watt hour (mWh) atau giga

    Watt hour (gWh).

    Proyeksi kebutuhan energi dilakukan dengan cara memproyeksikan

    kebutuhan energi dalam satuan kWh. Setelah diproyeksi hingga

    tahun 2025, maka total energi dalam satuan intensitas listrik (kWh)

    dapat didistribusikan menjadi menjadi beberapa jenis energi

    semula dengan asumsi tidak ada perubahan proporsi penggunaan

    energi seperti yang tercantum pada data historis beberapa tahun

    terakhir.

    Masing-masing jenis energi memiliki kandungan watt per jam yang

    berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya, nilai watt per jam dari setiap

    jenis energi disumsikan seperti pada Tabel 5.1.

    Tabel 5.1. Nilai Watt (kWh) dari Masing-masing Jenis Energi

    Jenis Energi kWh

    Bensin (liter) 9,0133

    Solar (liter) 10,6996

    Batubara (Kg) 5,9313

    Gas (MMBTU) 293,0000

    Listrik (MwH) 1.000,0000

    Sumber: PGN dan Pertamina, diolah (2012)

    Setiap jenis industri memiliki komposisi jenis energi yang berbeda-

    beda. Namun untuk pembahasan ini masing-masing jenis energi

    tersebut telah dikonversi ke dalam bentuk satuan unit listrik (gWh)

    dan dijumlahkan menjadi total peenggunaan energi seperti yang

    ditunjukkan pada Tabel 5.2. Secara umum, kebutuhan energi dari 9

  • 84 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    (sembilan) jenis industri memiliki kecenderungan yang meningkat

    kecuali pada 2009.

    Tabel 5.2. Kebutuhan Energi 9 (sembilan) Sektor Industri (gWh)

    No Jenis Industri 2006 2007 2008 2009

    Rata-

    rata

    1

    Industri Makanan, Minuman

    dan Tembakau 11.599 18.329 24.414 17.297 17.909

    2

    Industri Tekstil, Barang dari

    Kulit dan Alas Kaki 11.923 19.001 18.407 16.395 16.431

    3

    Industri Barang Kayu & Hasil

    Hutan Lainnya 2.673 3.259 3.502 1.602 2.759

    4

    Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 6.667 8.890 5.689 4.517 6.441

    5

    Industri Pupuk, Kimia &

    Barang dari Karet 13.122 17.453 20.732 18.456 17.441

    6

    Industri Semen & Barang

    Galian bukan Logam 20.061 9.120 18.079 19.257 16.629

    7

    Industri Logam Dasar Besi &

    Baja 5.945 16.317 8.725 6.574 9.390

    8

    Industri Alat Angkutan, Mesin

    & Peralatannya 4.482 4.605 4.146 4.463 4.424

    9 Industri Barang lainnya 3.371 6.454 5.209 5.745 5.195

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    Selama 2006-2009 kebutuhan energi yang paling besar terdapat

    pada industri makanan, minuman dan tembakau dengan rata-rata

    mencapai 17.909 gWh. Hal ini dapat dipahami karena industri

    makanan, minuman dan tembakau merupakan industri yang

    memiliki populasi terbesar di antara 9 industri pengolahan di

    Indonesia. Selain industri makanan, minuman dan tembakau,

    industri pupuk, kimia dan barang dari karet; industri semen dan

    barang galian bukan logam; industri tekstil, barang dari kulit dan

    alas kaki; serta industri logam dasar besi dan baja juga

    mengkonsumsi energi cukup besar. Terlihat dari kebutuhan energi

    dalam satuan intensitas listrik (gWh) yang relatif lebih besar

    diantara industri lainnya.

    Di lain hal, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (kecuali

    furniture) merupakan industri yang kebutuhan energinya paling

    sedikit diantara industri lainnya, yakni mencapai 1.602 gWh pada

    2009 . Hal ini dapat dipahami karena industri ini lebih banyak

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 85

    menggunakan energi bio massa, yang data konsumsinya tidak

    tercatat dengan baik .

    Tabel 5.3. Komposisi Kebutuhan Masing-masing Energi pada

    Industri Manufaktur Tahun 2009 (gWh)

    No Jenis Industri Bensin Solar Batubara Gas Listrik Total

    1

    Industri Makanan,

    Minuman dan

    Tembakau 878,2 10.526,1 1.942,0 742,5 3.207,9 17.296,6

    2

    Industri Tekstil, Barang

    dari Kulit dan Alas Kaki 420,5 3.782,0 6.566,8 274,9 5.350,5 16.394,6

    3

    Industri Barang Kayu &

    Hasil Hutan Lainnya 52,2 863,7 55,0 20,3 611,1 1.602,2

    4

    Industri Kertas dan

    Barang Cetakan 164,7 978,4 913,0 550,5 1.910,8 4.517,4

    5

    Industri Pupuk, Kimia

    & Barang dari Karet 1.298,8 7.643,3 3.664,5 688,7 5.161,0 18.456,3

    6

    Industri Semen &

    Barang Galian bukan

    Logam 71,9 1.872,2 13.749,5 1.293,8 2.270,1 19.257,5

    7

    Industri Logam Dasar

    Besi & Baja 207,5 2.743,5 324,6 514,6 2.783,8 6.573,9

    8

    Industri Alat

    Angkutan, Mesin &

    Peralatannya 269,0 2.142,8 0,0 442,4 1.608,9 4.463,0

    9

    Industri Barang

    lainnya 358,1 2.470,2 36,4 898,2 1.981,8 5.744,7

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS (2012)

    Dari penjelasan mengenai total kebutuhan energi pada sektor

    industri, jika dikomposisikan dari masing-masing jenis energi maka

    akan terlihat seperti pada Tabel 5.3. Pada tahun 2009 BBM

    khususnya solar paling banyak digunakan oleh industri makanan,

    minuman dan tembakau (10.526,1 gWh). Untuk jenis energi

    batubara dan gas paling banyak digunakan oleh industri semen dan

    barang galian bukan logam. Sementara itu, energi listrik paling

    banyak digunakan oleh industri tekstil, barang dari kulit dan alas

    kaki (5.250,5 gWh). Berdasarkan data 2009, industri yang paling

    banyak mengkonsumsi energi adalah industri semen dan barang

    galian bukan logam (19.257,5 gWh).

    Persentase komposisi kebutuhan dari masing-masing jenis energi

    khsusunya pada tahun 2009 ditunjukkan pada Tabel 5.4. Industri

    makanan, minuman dan tembakau lebih banyak menggunakan

    energi yang berasal dari solar yakni sebesar 60,86 persen.

  • 86 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Kemudian yang berasal dari listrik dan batubara masing-masing

    sebesar 18,55 persen dan 11,23 persen. Sementara energi yang

    berasal dari gas belum terlalu banyak digunakan pada Industri ini.

    Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, lebih banyak

    menggunakan energi batubara yaitu sebesar 40,05 persen. Selain

    itu, industri ini juga banyak menggunakan energi listrik sebesar

    32,64. persen, kemudian diikuti oleh penggunaan energi yang

    bersumber dari bahan bakar solar sebesar 23,07 persen.

    Pemanfaatan gas juga belum terlalu banyak pada industri ini,

    terlihat dari porsi energi yang bersumber dari gas hanya sebesar

    1,68 persen.

    Tabel 5.4 Distribusi Komposisi Kebutuhan Energi dari Masing-

    masing Jenis Industri Tahun 2009 (Persen)

    No Jenis Industri Bensin Solar Batubara Gas Listrik

    1

    Industri Makanan,

    Minuman & Tembakau 5,08 60,86 11,23 4,29 18,55

    2

    Industri Tekstil, Barang

    dari Kulit dan Alas Kaki 2,56 23,07 40,05 1,68 32,64

    3

    Industri Barang Kayu &

    Hasil Hutan Lainnya 3,26 53,90 3,43 1,27 38,14

    4

    Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 3,65 21,66 20,21 12,19 42,30

    5

    Industri Pupuk, Kimia &

    Barang dari Karet 7,04 41,41 19,86 3,73 27,96

    6

    Industri Semen & Barang

    Galian bukan Logam 0,37 9,72 71,40 6,72 11,79

    7

    Industri Logam Dasar Besi

    & Baja 3,16 41,73 4,94 7,83 42,35

    8

    Industri Alat Angkutan,

    Mesin & Peralatannya 6,03 48,01 0,00 9,91 36,05

    9 Industri Barang lainnya 6,23 43,00 0,63 15,64 34,50

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    Di lain hal, industri barang dari kayu dan hasil hutan lainnya saat ini

    paling tergantung pada energi yang bersumber dari BBM khususnya

    solar. Porsi energi dari solar mencapai 53,90 persen. Selain itu,

    industri ini juga memanfaatkan listrik sebagai energi yang

    diandalkan, yaitu dengan proporsi sebesar 38,14 persen. Energi

    yang bersumber dari batubara tergolong kecil pada industri ini,

    yaitu hanya 3,43 persen. Gas belum menjadi sumber energi utama

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 87

    yang dimanfaatkan dalam industri ini, terlihat dari sumbangan

    energi yang bersumber dari gas hanya sebesar 1,27 persen.

    Lebih lanjut, energi yang dimanfaatkan oleh industri kertas dan

    barang cetakan paling banyak berasal dari listrik dengan porsi

    sebesar 42,30 persen. Selain energi yang berasal dari listrik, energi

    yang berasal dari solar dan batubara juga relatif tinggi yakni masing-

    masing sebesar 21,66 persen dan 20,21 persen. Energi yang berasal

    dari gas juga relatif besar yakni sebesar 12,19 persen. Sementara

    itu, bahan bakar bensin pada industri ini menyumbang porsi energi

    paling kecil yaitu sebesar 3,65 persen.

    Untuk Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet, sumber energi

    yang paling besar adalah berasal dari solar yaitu sebesar 41,41

    persen. Diikuti oleh energi yang berasal dari listrik dan batubara

    yang menyumbang masing-masing sebesar 27,96 persen dan 19,86

    persen. Penggunaan gas sebagai bahan bakar pada industri ini

    tergolong kecil yakni sebesar 3,73 persen, dimana data konsumsi

    gas ini tampaknya hanya untuk bahan bakar saja, tidak termasuk

    penggunaan gas sebagai bahan baku. Seperti diketahui bahwa

    industri ini sangat membutuhkan gas sebagai sebagai bahan baku,

    dimana komponen gas menyumbang lebih dari 80,0 persen dari

    nilai produksinya.

    Industri semen dan barang galian bukan logam terutama

    menggunakan energi batubara pada jumlah yang sangat besar yaitu

    71,40 persen dan dari total input energi industri ini, kontribusi ini

    merupakan yang terbesar diantara 9 industri pengolahan lainnya.

    Sementara itu, energi yang berasal dari listrik dan solar juga

    tergolong besar yaitu masing-masing sebesar 11,79 persen dan 9,72

    persen. Energi yang berasal dari gas menyumbang sebesar 6,72

    persen dari total kebutuhan energi.

    Industri logam dasar besi dan baja paling banyak memanfaatkan

    listrik dan solar sebagai sumber energi dengan proporsi masing-

    masing sebesar 42,35 persen dan 41,73 persen. Gas dan batubara

  • 88 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    menyumbang porsi energi masing-masing sebesar 7,83 persen dan

    4,94 persen.

    Mirip halnya dengan industri logam dasar besi dan baja, untuk

    indutri alat angkutan, mesin beserta peralatannya juga paling

    banyak mengandalkan solar dan listrik sebagai jenis energi dengan

    proporsi masing-masing sebesar 48,01 persen dan 36,05 persen.

    Sementara itu, energi gas juga diandalkan sebagai sumber energi

    dengan porsi sebesar 9,91 persen. Batubara samasekali tidak

    digunakan di industri ini yang disebabkan oleh sulitnya proses

    penggunaannya.

    Industri barang lainnya (yang tidak diklasifikasikan ke kelompok

    industri sebelumnya) juga memanfaatkan solar dan listrik sebagai

    penghasil energi (43,00 persen dan 34,05 persen). Penggunaan gas

    juga relatif besar pada industri ini, terlihat dari sumbangan energi

    yang diberiikan sebesar 15,64 persen dari total energi.

    5.2. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Jenis Industri

    Proyeksi kebutuhan energi untuk masing-masing industri dengan

    asumsi business as usual, mengasumsikan bahwa kebutuhan energi

    untuk masing-masing industri mengalami peningkatan dengan laju

    pertumbuhan sesuai dengan proyeksi pertumbuhan industri yang

    terdapat dalam Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2010-

    2014. Pertumbuhan masing-masing industri mengalami

    pertumbuhan yang berbeda beda namun dengan kecenderungan

    meningkat. Masing-masing pertumbuhan industri secara lengkap di

    tampilkan pada Tabel 5.5. dari tabel tersebut terlihat bahwa

    industri makanan, minuman dan tembakau serta industri alat

    angkutan, mesin dan peralatannya diproyeksikan akan mengalami

    pertumbuhan yang paling besar diantara industri lainnya.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 89

    Tabel 5.5. Proyeksi Pertumbuhan Industri Kecil,

    Menengah dan Besar 2010-2025 (persen)

    No Jenis Industri 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1

    Industri Makanan, Minuman dan

    Tembakau 8,15 8,94 10,40 10,3 9,90 9,54

    2

    Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan

    Alas Kaki 3,75 4,30 5,60 5,65 5,60 5,60

    3

    Industri Barang Kayu & Hasil Hutan

    Lainnya 2,90 3,40 3,90 3,6 3,60 3,60

    4 Industri Kertas dan Barang Cetakan 4,90 5,30 5,58 5,5 5,30 5,30

    5

    Industri Pupuk, Kimia & Barang dari

    Karet 5,75 7,00 8,30 8,35 8,30 8,30

    6

    Industri Semen & Barang Galian bukan

    Logam 4,05 4,60 5,30 5,33 5,30 5,30

    7 Industri Logam Dasar Besi & Baja 4,00 4,50 5,50 5,5 5,50 5,50

    8

    Industri Alat Angkutan, Mesin &

    Peralatannya 7,78 8,30 10,20 10,2 10,20 10,20

    9 Industri Barang lainnya 6,00 6,40 6,80 6,8 6,80 6,80

    Sumber: Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2010-2014

    Hasil proyeksi menunjukkan bahwa total kebutuhan energi untuk

    industri pada 2025 sebesar 271.938 gWh. Namun meskipun jumlah

    energi tersebut dinyatakan dalam satuan intensitas listrik, tidak

    semua energi tersebut berupa energi listrik. Masing-masing industri

    tersebut menggunakan sumber energi primer seperti batubara, gas

    dan BBM. Pada beberapa industri bahkan ada yang menggunakan

    energi non fosil sebagai bahan bakar utamanya, seperti industri

    kertas dan barang kertas yang banyak menggunakan energi

    biomassa.

    Dari hasil proyeksi kebutuhan energi pada 9 (sembilan) jenis

    Industri yang terlihat pada Tabel 5.6, industri makanan, minuman

    dan tembakau pada tahun 2025 akan membutuhkan energi sebesar

    72.210 gWh atau sekitar 26,0 persen dari total kebutuhan energi

    untuk industri, terbesar diantara 8 industri yang lainnya.

    Berdasarkan data tahun 2009, industri makanan, minuman dan

    tembakau belum menjadi industri yang paling banyak

    membutuhkan energi (lihat Tabel 5.3), namun dikarenakan industri

    ini diproyeksikan akan menjadi salah satu industri yang tumbuh

    paling pesat, maka menimbulkan konsekuensi bahwa pertumbuhan

    permintaan energinya pun turut meningkat pesat pula. Selain itu,

    jumlah perusahaan di industri ini merupakan yang paling banyak

  • 90 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    bila dibandingkan dengan jumlah perusahaan di industri lainnya.

    Diperkirakan jumlah perusahaan di industri itu akan terus

    berkembang seiring dengan pertambahan kebutuhan akan produk-

    produk pangan yang pemasarannya lebih bersifat eceran.

    Tabel 5.6. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Jenis Industri

    (gWh)

    No Jenis Industri 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1

    Industri Makanan,

    Minuman dan Tembakau 21.528 23.453 25.892 28.559 45.786 72.210

    2

    Industri Tekstil, Barang

    dari Kulit dan Alas Kaki 17.966 18.738 19.788 20.906 27.453 36.050

    3

    Industri Barang Kayu &

    Hasil Hutan Lainnya 1.724 1.782 1.852 1.918 2.290 2.732

    4

    Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 5.195 5.470 5.775 6.093 7.888 10.212

    5

    Industri Pupuk, Kimia &

    Barang dari Karet 21.612 23.125 25.045 27.136 40.428 60.232

    6

    Industri Semen & Barang

    Galian bukan Logam 21.462 22.450 23.639 24.899 32.235 41.732

    7

    Industri Logam Dasar Besi

    & Baja 7.264 7.591 8.008 8.449 11.042 14.431

    8

    Industri Alat Angkutan,

    Mesin & Peralatannya 5.323 5.765 6.353 7.001 11.377 18.491

    9 Industri Barang lainnya 6.763 7.196 7.686 8.208 11.405 15.848

    Total 108.837 115.570 124.037 133.169 189.904 271.938

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    Di lain hal, industri pupuk, kimia dan barang dari karet menempati

    urutan kedua dalam kebutuhan konsumsi energi pada 2025, yaitu

    sebesar 60.232 gWh atau sekitar 22,0 persen dari total kebutuhan

    energi untuk industri. Di tempat ketiga terdapat industri semen dan

    barang galian bukan logam yang membutuhkan energi sebesar

    41.732 gWh atau sekitar 15,35 persen dari total kebutuhan energi

    untuk industri. Untuk industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki

    pada 2025 diproyeksikan akan membutuhkan energi sebesar 36.050

    gWh atau sekitar 13,0 persen dari total kebutuhan energi untuk

    industri.

    Sementara industri alat angkutan, mesin dan peralatannya beserta

    industri logam dasar besi dan baja juga juga diproyeksikan tetap

    menjadi salah satu industri yang padat energi. Pada 2025 kedua

    industri ini diproyeksikan membutuhkan energi masing-masing

    sebesar 18.491 gWh dan 14.431 gWh. Total porsi kedua industri ini

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 91

    mencapai sekitar 12,0 persen dari total kebutuhan energi untuk

    industri.

    Berbeda halnya dengan industri barang kayu dan hasil hutan yang

    diperkirakan mengkonsumsi energi dengan jumlah yang paling

    sedikit. Pada tingkat pertumbuhan konsumsi energi sebesar 3,5

    persen per tahun maka pada tahun 2025 industri ini hanya

    membutuhkan energi sebesar 2.732 gWh atau sekitar 1,0 persen

    dari total kebutuhan energi untuk industri.

    5.3. Proyeksi Komposisi Penggunaan Energi 9 (Sembilan) Jenis

    Industri

    Hasil proyeksi kebutuhan energi untuk masing-masing jenis industri

    dapat dijelaskan melalui komposisi masing-masing jenis energinya.

    Dengan menggunakan proporsi masing-masing jenis energi yang

    sama pada tahun 2009, maka pada tahun 2025 proyeksi komposisi

    kebutuhan energi masing-masing jenis energi dapat dilihat pada

    Tabel 5.7. pada satuan gWh. Jika menggunakan satuan aslinya,

    proyeksi 2025 disajikan pada Tabel 5.8.

    Pada tahun 2025, energi yang digunakan oleh industri makanan,

    minuman dan tembakau paling besar diambil dari BBM khususnya

    solar yaitu sebanyak 45.223,6 gWh atau sekitar 63,0 persen dari

    total jenis nergi yang digunakan oleh industri ini. Lain halnya

    dengan industri semen dan barang galian bukan logam serta

    industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki. Untuk kedua industri

    ini, batubara menjadi sumber energi yang paling diandalkan selain

    listrik. Pada tahun 2025 kebutuhan energi yang berasal dari

    batubara untuk kedua industri ini mencapai masing-masing sebesar

    23.550 gWh dan 11.719 gWh. Energi listrik pada kedua industri ini

    juga sangat dibutuhkan, yang berturut-turut mencapai 6.996 gWh

    dan 11.899 gWh.

    Terdapat pergeseran komposisi penggunaan jenis energi terhadap

    total kebutuhan energi pada seluruh industri. Pada tahun 2009

  • 92 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    energi listrik paling banyak digunakan oleh industri tekstil, barang

    dari kulit dan alas kaki (Tabel 5.3), namun pada 2025 energi listrik

    diproyeksikan akan paling banyak digunakan oleh industri pupuk,

    kimia dan barang dari karet (Tabel 5.8).

    Hal serupa juga terjadi pada energi gas. Pada tahun 2009 energi gas

    paling banyak digunakan oleh industri semen dan barang galian

    bukan logam (Tabel 5.3), namun pada 2025 energi gas

    diproyeksikan akan paling banyak digunakan oleh industri pupuk

    kimia dan barang dari karet (Tabel 5.8). Di lain hal, energi batubara

    dan BBM (solar) relatif tidak terjadi perubahan komposisi. Energi

    batubara diproyeksikan akan tetap paling banyak digunakan oleh

    industri semen dan barang galian bukan logam sama seperti tahun

    2009, sementara solar diproyeksikan akan tetap digunakan paling

    banyak oleh industri makanan, minuman dan tembakau.

    Tabel 5.7. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Setiap Jenis

    Energi Pada 9 (Sembilan) Jenis Industri Tahun 2025 (gWh)

    No Jenis Industri Bensin Solar Batubara Gas Listrik Total

    1

    Industri Makanan,

    Minuman dan Tembakau 2.835,1 45.223,6 7.963,6 4.996,7 11.190,6 72.209,5

    2

    Industri Tekstil, Barang

    dari Kulit dan Alas Kaki 794,8 9.618,1 11.719,2 2.019,8 11.898,9 36.050,1

    3

    Industri Barang Kayu &

    Hasil Hutan Lainnya 89,2 1.533,5 245,2 15,7 848,8 2.732,5

    4

    Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 219,4 2.179,4 2.129,6 1.718,2 3.965,4 10.211,9

    5

    Industri Pupuk, Kimia &

    Barang dari Karet 2.931,6 24.750,8 11.727,7 8.022,7 12.799,3 60.232,1

    6

    Industri Semen & Barang

    Galian bukan Logam 198,2 4.875,6 23.550,4 6.112,6 6.995,5 41.732,4

    7

    Industri Logam Dasar Besi

    & Baja 636,1 5.094,9 2.666,8 1.433,3 4.600,2 14.431,4

    8

    Industri Alat Angkutan,

    Mesin & Peralatannya 868,4 7.216,9 0,29 3.354,6 7.050,3 18.490,6

    9 Industri Barang lainnya 1.018,8 7.791,1 133,2 1.337,9 5.566,8 15.847,8

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    Jika proyeksi komposisi masing-masing jenis energi pada 2025

    dikembalikan pada satuan masing-masing jenis energi, maka seperti

    yang ditunjukkan pada Tabel 5.8. Pada tabel tersebut menunjukkan

    kebutuhan energi untuk masing-masing jenis industri dalam bentuk

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 93

    satuan standar unit energi. Kebutuhan energi tersebut dalam

    satuan tahun yaitu pada tahun 2025.

    Tabel 5.8. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Pada 9 (Sembilan)

    Jenis Industri Tahun 2025 (satuan masing-masing)

    No Jenis Industri Bensin

    (barel)

    Solar

    (barel)

    Batubara

    (Ribu

    Ton)

    Gas

    (MMBTU)

    Listrik

    (mWh)

    1 Industri Makanan,

    Minuman dan Tembakau 1.978.307 26.582.760 1.343 17.053.554 11.190.549

    2 Industri Tekstil, Barang

    dari Kulit dan Alas Kaki 554.618 5.653.574 1.976 6.893.473 11.898.084

    3 Industri Barang Kayu &

    Hasil Hutan Lainnya 62.212 901.422 413 53.679 848.792

    4 Industri Kertas dan Barang

    Cetakan 153.079 1.281.045 359 5.864.102 3.965.364

    5 Industri Pupuk, Kimia &

    Barang dari Karet 2.045.616 14.548.697 1.977 27.381.261 12.799.346

    6 Industri Semen & Barang

    Galian bukan Logam 138.324 2.865.909 3.971 20.862.269 6.995.476

    7 Industri Logam Dasar Besi

    & Baja 443.837 2.994.870 450 4.891.727 4.600.234

    8 Industri Alat Angkutan,

    Mesin & Peralatannya 605.961 4.242.181 0,05 11.449.091 7.050.331

    9 Industri Barang lainnya

    710.920 4.579.626 22 4.566.088 5.566.843

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    Gas bumi paling banyak dibutuhkan di industri pupuk, kimia dan

    barang dari karet sebanyak 27 juta MMBTU, diikuti oleh industri

    semen dan barang galian bukan logam sebanyak 20 juta MMBTU,

    dan industri makanan, minuman dan tembakau sebanyak 17 juta

    MMBTU.

    Industri pupuk, kimia dan barang dari karet, selain memerlukan gas

    paling banyak, juga memerlukan energi listrik terbesar yaitu 12 juta

    mWh, diikuti oleh tekstil, barang dari kulit dan alas kaki sebesar

    11,8 juta mWh, dan kemudian industri makanan, minuman dan

    tembakau sebesar 11,1 juta mWh.

    Kebutuhan batubara, seperti yang diperkirakan sebelumnya, paling

    banyak dibutuhkan oleh industri semen, dan barang galian bukan

    logam sebesar 4 juta ton, diikuti oleh industri pupuk, kimia dan

    barang dari karet 1,9 juta ton serta industri tekstil, barang dari kulit

    dan alas kaki sebanyak 1,9 juta ton. Industri alat angkutan, mesin

    dan peralatannya memerlukan batubara yang sangat sedikit yaitu

    hanya 0,05 ribu ton.

  • 94 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Kebutuhan BBM terutama berupa minyak solar sebesar 26 juta

    barrel untuk industri makanan, minuman dan tembakau, diikuti

    oleh industri pupuk, kimia dan barang dari karet sebanyak 14 juta

    barrel, serta industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki sebanyak

    5 juta barrel.

    5.4. Permasalahan Energi pada Sektor Industri

    Pada tahun 2010 industri makanan, minuman dan tembakau terdiri

    dari 6.530 unit usaha dan menyerap 1 juta pekerja, karena itu

    industri ini dikategorikan sebagai industri kecil dan padat karya

    serta terkait langsung dengan kegiatan ekonomi rakyat pada

    umumnya. Sumber energi yang dipakai saat ini didominasi oleh

    solar yang harganya relatif mahal. Untuk lebih meningkatkan

    efisiensi dan produktivitas, maka perlu dilakukan penggantian jenis

    energi, dengan pilihan listrik atau gas bumi. Kesulitan pada input

    gas bumi adalah perlunya ketersediaan prasarana distribusi gas

    bumi hingga mencapai pelosok unit usaha. Namun untuk industri

    yang berlokasi di kota besar dan berkelompok, maka pilihan input

    gas bumi sangat memungkinkan.

    Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki memiliki jumlah 5.215

    unit usaha dan menyerap 1,2 juta pekerja. Meski sumbangannya

    pada PDB hanya 1,93 persen, namun industri ini merupakan salah

    satu sumber devisa negara. Industri ini banyak menggunakan

    batubara, listrik, dan solar. Komponen input listrik dan solar

    berjumlah sekitar 55 persen, yang potensial untuk dialihkan ke jenis

    energi batubara atau gas bumi. Kesulitan utama yang dihadapi jika

    memilih batubara adalah masalah angkutan batubara yang relatif

    mahal.

    Industri kayu dan barang dari hutan lainnya mengalami tingkat

    pertumbuhan negatif pada tahun 2010, yang kemungkinan besar

    disebabkan oleh semakin terbatasnya pasokan kayu bulat yang siap

    diolah. Meskipun demikian, industri ini mampu memberikan

    sumbangan ke PDB sebesar 1,25 persen dengan tingkat utilisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 95

    sebesar 70,63 persen. Sumber utama energi industri ini adalah solar

    dan listrik dimana keduanya mencapai 92 persen dari total input

    energi. Tampaknya pilihan sumber energi ini didasarkan oleh lokasi

    pabrik yang terpencar, mendekati daerah sumber kayu di hutan,

    dan relatif jauh dari prasarana umum. Sehingga pilihan energi solar

    dan listrik dianggap sudah memadai.

    Industri kertas dan barang cetakan memiliki tingkat utilisasi 80,33

    persen dengan daya serap pekerja sebanyak 172 ribu orang dan

    tingkat pertumbuhan yang positif 1,67 persen pada tahun 2010.

    Sumber energi industri ini adalah listrik dan solar yang keduanya

    berjumlah 64 persen, sekitar 20 persen dari batubara. Industri ini

    masih memiliki potensi untuk mengalihkan sebagian input

    energinya menjadi gas dan batubara, bergantung pada lokasi

    masing2 pabrik.

    Industri pupuk, kimia, dan dari karet mengalami pertumbuhan cukup

    besar yaitu 4,7 persen dengan jumlah pekerja sebanya 2,7 juta pada

    tahun 2010. Industri ini cukup potensi untuk dikembangkan karena

    kontribusi terhadap PDB sebesar 2,74 persen. Sebagian besar input

    energinya berasal dari solar dan listrik sebesar 69 persen. Data ini

    tampaknya hanya menyajikan kebutuhan energi untuk bahan bakar

    saja, bukan untuk bahan baku.

    Industri semen dan bahan galian bukan logam memberikan

    sumbangan PDB relatif kecil sebesar 0,71 persen dengan tingkat

    pertumbuhan 2,18 persen pada tahun 2010 serta jumlah unit usaha

    sebanyak 1,616 buah. Industri ini sangat dominan menggunakan

    batubara sebagai input energi yaitu sebesar 71 persen, sisanya

    listrik dan solar. Input energi batubara tampaknya sudah sesuai

    dengan karakteristik lokasi industri bahan galian bukan logam juga

    untuk industri semen yang terletak jauh dari pemukiman penduduk.

    Untuk industri semen yang dekat dengan kawasan permukinan,

    maka input energi adalah gas bumi menjadi alternatif yang paling

    mungkin.

    Industri logam dasar besi dan baja hanya memberikan sumbangan

    PDB sebesar 0,42 persen dengan tingkat pertumbuhan 2,38 persen

  • 96 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    pada tahun 2010 dan tingkat utilisasi 68,77 persen. Hal yang

    menarik adalah input energi utamanya adalah solar dan listrik yang

    keduanya berjumlah 84 persen. Tampaknya sektor industri ini

    memerlukan peralihan input energi karena solar dan listrik

    termasuk dalam kategori input energi yang relatif mahal. Bahkan

    gas dan batubara hanya dipakai sebesar 13 persen saja dari seluruh

    input energi industri ini.

    Dari seluruh 9 sektor industri diatas, terdapat 4 kelompok industri

    yang penggunaan input energinya berada diatas 17 persen dari

    total input energi industri. Keempat industri itu adalah: a) makanan,

    minuman dan tembakau sebesar 18,34 persen; b) tekstil, barang

    dari kulit dan alas kaki sebesar 17,38 persen; c) pupuk, kimia dan

    barang dari karet sebesar 19,57 persen; dan d) semen dan barang

    galian bukan logam sebesar 20,42 persen. Dengan demikian,

    keempat industri tersebut merupakan industri yang lahap atau

    padat energi, dimana input energi keempat industri tersebut

    menyerap 75,72 persen dari total input energi industri, lihat Tabel

    5.9. Sementara industri barang kayu dan hasil hutan lainnya

    menggunakan input energi terkecil sebesar 1,7 persen dari total

    input energi industri. Keempat industri lainnya hanya menyerap

    22,58 persen dari total input energi industri.

    Tabel 5.9. Persentase Kebutuhan Energi Pada Industri Manufaktur

    Tahun 2009

    No Jenis Industri Total (gWh)

    Persentase

    (%)

    1 Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 17.296,60 18,34

    2 Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 16.394,60 17,38

    3 Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya 1.602,20 1,70

    4 Industri Kertas dan Barang Cetakan 4.517,40 4,79

    5 Industri Pupuk, Kimia & Barang dari Karet 18.456,30 19,57

    6 Industri Semen & Barang Galian bukan Logam 19.257,50 20,42

    7 Industri Logam Dasar Besi & Baja 6.573,90 6,97

    8 Industri Alat Angkutan, Mesin & Peralatannya 4.463,00 4,73

    9 Industri Barang lainnya 5.744,70 6,09

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 97

    Dilihat dari jenis energi yang digunakan sektor industri pengolahan

    pada tahun 2009, terlihat bahwa dominasi energi adalah solar

    sebesar 35,02 persen, diikuti oleh batubara sebesar 28,90 persen,

    dan listrik sebesar 26,39 persen, lihat Tabel 5.10. Banyaknya solar

    yang dipakai pada industri pengolahan kemungkinan besar

    disebabkan oleh kemudahan mendapatkan solar dan kecocokan

    dengan spesifikasi mesin produksi, meskipun harganya paling mahal

    diantara jenis energi lain. Hal yang sama juga berlaku untuk jenis

    energi listrik yang relatif mudah dan simpel dalam penggunaannya.

    Energi batubara relatif baru saja meningkat tingkat konsumsinya

    dan energi ini memiliki keterbatasan pemakaian yang disebabkan

    oleh masalah lingkungan. Menarik untuk dilihat adalah bahwa gas

    bumi masih sangat sedikit pemakaiannya dalam industri

    pengolahan, yaitu hanya 5,75 persen dari total input energi industri

    pengolahan.

    Tabel 5.10. Persentase Jenis Energi Pada Industri Manufaktur

    Tahun 2009

    No Satuan

    Energi Bensin Solar Batubara Gas Listrik

    1 GWH

    3.720,90

    33.022,20

    27.251,80

    5.425,90

    24.885,90

    2 Persentase 3,95 35,02 28,90 5,75 26,39

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

  • 98 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 99

    BBAABB VVII

    KKEEBBUUTTUUHHAANN EENNEERRGGII PPAADDAA IINNDDUUSSTTRRII TTEERRPPIILLIIHH

    Sektor industri hingga saat ini masih mendominasi konsumsi energi

    di Indonesia, porsinya mencapai 49,4 persen dari total konsumsi

    energi nasional (Ditjen EBTKE, KESDM, 2012). Di dalam sektor

    industri, terdapat 7 industri yang dinilai paling padat menggunakan

    energi, baik yang digunakan sebagai bahan bakar ataupun yang

    digunakan sebagai bahan baku, yaitu: a) industri baja; b) industri

    tekstil; c) industri pupuk; d) industri pulp dan kertas; e) industri

    pengolahan kelapa sawit; f) industri semen; dan g) industri keramik.

    Kebutuhan energi pada 7 industri terpilih yang padat energi dalam

    kajian ini dihitung dengan menggunakan 3 skenario, yaitu: a)

    skenario Business as Usual (BAU); b) skenario akselerasi; dan c)

    skenario akselerasi yang disertai dengan efisiensi. Penghitungan

    kebutuhan energi pada masing-masing industri terpilih bersifat

    sangat spesifik, artinya perhitungan mempertimbangkan

    karakteristik khusus yang seringkali hanya ada di sektor industri

    tersebut. Secara umum beberapa pertimbangan yang digunakan

    dalam peramalan kebutuhan energi di masa depan adalah: a)

    kemampuan tumbuh (kapasitas, produksi, konsumsi) secara

    alamiah atau tren pertumbuhan industri; b) rencana pembangunan

    pabrik baru; c) tren diversifikasi penggunaan sumber energi

    tertentu pada suatu industri; d) upaya melakukan efisiensi biaya; e)

    mengejar target swasembada suatu produk; f) menyamai/

    menyetarakan konsumsi per kapita dengan negara lain.

  • 100 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Secara umum, kebutuhan energi pada 7 industri terpilih dihitung

    dengan skenario BaU sebesar 185,1 ribu gWh pada 2025. Namun

    jika mampu dilakukan akselerasi pada masing-masing industri, maka

    kebutuhan energinya menjadi sebesar 484,1 ribu gWh pada 2025.

    Sementara jika akselerasi yang terjadi juga diikuti dengan efisiensi

    penggunaan energi, maka tingkat kebutuhan energinya turun

    menjadi 423,4 ribu gWh pada 2025. Dalam nilai uang, penghematan

    dari efisiensi penggunaan energi tersebut mencapai Rp37 triliun

    pada 2025.

    Tabel 6.1. Agregasi Kebutuhan Energi 7 Sektor Industri Terpilih

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. Business as Usual gWh 88.911 93.686 98.522 104.152 138.066 185.129

    2. Akselerasi gWh 101.267 109.920 123.733 136.048 264.177 484.133

    3. Akselerasi + Efisiensi gWh 95.121 98.075 110.370 122.094 227.912 423.435

    Penghematan *) Rp Triliun 2,87 6,87 7,27 7,42 21,71 37,02

    Keterangan:*) penghematan = akselerasi akselerasi dan efisiensi

    Sumber: Asosiasi 7 Industri Terpilih, diolah INDEF (2012)

    6.1. Industri Baja

    6.1.1. Komposisi Penggunaan Energi

    Industri baja merupakan salah satu jenis industri yang

    mengkonsumsi energi cukup besar, terutama yang berasal dari

    energi primer berupa gas dan batubara, serta energi sekunder

    berupa listrik. Segmentasi biaya penggunaan energi listrik pada

    industri baja bahkan bisa mencapai 60 persen dari total

    penggunaan energi, sisanya berupa gas alam 38 persen dan BBM

    hanya 2 persen (PT. Krakatau Steel, 2012).

    Biaya konsumsi energi juga cukup besar jika dibandingkan dengan

    komponen biaya produksi lainnya, yaitu rata-rata biaya energi di PT.

    KS mencapai 16,8 persen terhadap total biaya produksi (Laporan

    Prospektus PT. KS, 2010). Biaya energi di PT. KS yang terdiri dari

    biaya gas alam, listrik dan bahan bakar lebih tinggi dari biaya

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 101

    overhead langsung seperti biaya tenaga kerja, biaya perawatan,

    sewa, premi asuransi, dan seterusnya, yang rata-rata mencapai 12,9

    persen, lihat Tabel 6.2.

    Tabel 6.2. Komponen Biaya Produksi PT. Krakatau Steel

    tahun 2010

    Komponen Biaya Produksi HRC

    (persen)

    CRC (persen) WR (persen)

    Bahan baku yang digunakan 64,3 49,8 55,2

    Energi 14,8 17,8 17,8

    Konversi 8,2 9,0 12,4

    Overhead langsung 9,9 17,2 11,5

    Lain-lain 2,8 6,2 3,1

    Biaya Produksi 100,0 100,0 100,0

    Keterangan:

    Sumber: Prospektus PT KS, 2 November 2010

    Jika dipilah antara besarnya energi yang digunakan untuk proses

    produksi baja dengan biaya yang digunakan untuk menunjang

    aktivitas di gedung perusahaan perbandingannya sekitar 9:1,

    artinya 90 persen kebutuhan listrik di industri baja adalah untuk

    produksi, hanya 10 persen yang digunakan untuk penunjang

    aktivitas perkantoran (PT. KS, 2012). Ilustrasi ini menggambarkan

    betapa industri baja sangat memerlukan dukungan penyediaan

    energi yang sangat besar, yang memang sesuai dengan karakteristik

    industri baja.

    Dari sisi proporsi penggunaan sumber energi, energi sekunder

    berupa listrik mendominasi penggunaan energi pada industri baja.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2009 proporsi

    penggunaan energi listrik pada industri besar dan sedang mencapai

    65 persen; BBM (berupa solar) sekitar 25 persen; gas alam 7 persen;

    serta batubara 3 persen (BPS, 2009), lihat Tabel 6.3.

  • 102 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.3. Proporsi Konsumsi Energi Industri Baja* Tahun 2009

    Jenis Sumber

    Energi Volume Satuan kWh Persen

    BBM (Solar) 95.086.047 Liter 1.017.382.668 25%

    Batubara 20.545.944 kg 121.864.158 3%

    Gas Alam 24.850.328 m3 257.024.457 7%

    Listrik 2.631.424.361 kWh 2.631.424.361 65%

    TOTAL 4.027.695.645 100%

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS, diolah INDEF (2012)

    *) KBLI 27101, 27102, 27103, 27310, 28113

    6.1.2. Kebutuhan Energi Industri Baja

    Kapasitas terpasang industri baja nasional sebesar 6 juta ton per

    tahun dengan rata-rata pertumbuhan 5,3 persen per tahun dan

    tingkat utilisasi rata-rata hanya 60 persen atau sekitar 3,6 juta ton

    per tahun. Sementara rata-rata pertumbuhan produksi baja

    nasional dalam sepuluh tahun terakhir (2002-2011) sebesar 7,7

    persen per tahun, dan dalam periode yang sama konsumsi baja

    nasional tumbuh sebesar 9 persen per tahun (Worldsteel

    Association, 2012). Laju pertumbuhan produksi baja yang lebih

    rendah dibanding peningkatan permintaan baja mengakibatkan

    perlunya impor untuk mencukupi konsumsi baja di dalam negeri,

    yang saat ini mencapai 52 persen terhadap konsumsi baja nasional.

    Salah satu faktor penghambat pertumbuhan produksi baja dalam

    negeri adalah kurang tersedianya energi yang relatif lebih efisien.

    Mengingat ketersediaan energi merupakan salah satu faktor

    penentu bagi keberlangsungan sektor industri, maka penting

    diperkirakan kebutuhan energi pada industri baja ke depan agar laju

    peningkatan produksi baja dapat diiringi dengan pasokan energi

    yang mencukupi.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 103

    Tabel 6.4. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja (gWh)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. Business as Usual 4.459 4.802 5.172 5.570 8.071 11.696

    a. BBM 1.115 1.201 1.293 1.393 2.018 2.924

    b. Batubara 134 144 155 167 242 351

    c. Gas Alam 312 336 362 390 565 819

    d. Listrik 2.898 3.121 3.362 3.621 5.246 7.602

    2. Akselerasi 4.680 4.680 8.564 9.464 16.678 29.392

    a. BBM 1.170 1.170 2.141 2.366 4.169 7.348

    b. Batubara 140 140 257 284 500 882

    c. Gas Alam 328 328 599 662 1.167 2.057

    d. Listrik 3.042 3.042 5.566 6.151 10.841 19.105

    3. Akselerasi + Efisiensi 3.120 3.120 5.709 6.309 11.119 19.595

    a. BBM 780 733 1.256 1.293 1.445 1.078

    b. Batubara 94 125 285 379 1.223 3.135

    c. Gas Alam 218 234 457 536 1.223 2.645

    d. Listrik 2.028 2.028 3.711 4.101 7.227 12.737

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang diolah INDEF (2012)

    Berikut ini disampaikan asumsi yang mendasari 3 skenario, yang

    hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6.4., yaitu:

    a) Business as Usual (BaU):

    (i) pertumbuhan produksi baja 7,7 persen per tahun;

    (ii) intensitas energi 900 kWh per Ton;

    (iii) komposisi sumber energi sama seperti pada tahun 2009;

    b) Akselerasi:

    (i) pembangunan pabrik baja tahun 2012-2015 beroperasi

    sesuai target;

    (ii) pertumbuhan produksi baja 12 persen per tahun;

    (iii) pertumbuhan konsumsi baja 9 persen per tahun;

    (iv) intensitas energi 900 kWh per Ton.

    c) Akselerasi disertai Efisiensi:

    (i) intensitas energi 600 kWh per Ton;

    (ii) proporsi penggunaan BBM turun 1,5% per tahun;

    (iii) proporsi penggunaan Batubara naik 1% per tahun;

    (iv) proporsi penggunaan gas alam naik 0,5% per tahun;

  • 104 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    (v) proporsi penggunaan listrik tetap sebesar 65% per

    tahun.

    Dalam kajian ini perkiraan kebutuhan energi pada industri baja

    dibuat dalam 3 skenario, yaitu pada tahun 2025, skenario business

    as usual menghasilkan perhitungan kebutuhan energi sebesar

    11.696 gWh (gigawatt hour), skenario akselerasi menghasilkan

    perhitungan kebutuhan energi sebesar 29.392 gWh, dan skenario

    akselerasi disertai efisiensi menghasilkan perhitungan kebutuhan

    energi sebesar 19.595 gWh.

    Dalam satuan asli, kebutuhan energi untuk industri baja dapat

    dilihat pada Tabel 6.5. Pada skenari business as usual, kebutuhan

    energi pada 2025 berupa BBM sebesar 273.270 Kilo liter, batubara

    59.155 Ton, gas alam 5.388.729 MMBTU, serta listrik 7.602 gWh.

    Pada skenario akselerasi maka kebutuhan energi pada industri baja

    hingga 2025 berupa BBM sebesar 686.759 Kilo liter, batubara

    148.663 Ton, gas alam 13.542.479 MMBTU, serta listrik 19.105

    gWh.

    Tabel 6.5. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. BaU gWh 4.459 4.802 5.172 5.570 8.071 11.696

    a. BBM Kilo liter 104.181 112.203 120.843 130.147 188.588 273.270

    b. Batubara Ton 22.552 24.289 26.159 28.173 40.824 59.155

    c. Gas Alam MMBTU 1.065.238 1.229.208 1.412.114 1.615.900 3.030.168 5.388.729

    d. Listrik gWh 2.898 3.121 3.362 3.621 5.246 7.602

    2. Akselerasi gWh 4.680 4.680 8.564 9.464 16.678 29.392

    a. BBM Kilo liter 109.350 109.350 200.089 221.118 389.686 686.759

    b. Batubara Ton 23.671 23.671 43.313 47.866 84.355 148.663

    c. Gas Alam MMBTU 1.118.089 1.197.952 2.338.157 2.745.384 6.261.335 13.542.479

    d. Listrik gWh 3.042 3.042 5.566 6.151 10.841 19.105

    3. Akselerasi +

    Efisiensi gWh 3.120 3.120 5.709 6.309 11.119 19.595

    a. BBM Kilo liter 72.900 68.526 117.386 120.878 135.091 100.725

    b. Batubara Ton 15.781 21.041 48.126 63.821 206.202 528.580

    c. Gas Alam MMBTU 745.392 798.635 1.558.771 1.830.256 4.174.224 9.028.319

    d. Listrik gWh 2.028 2.028 3.711 4.101 7.227 12.737

    Sumber: Berbagai Sumber, diolah INDEF (2012)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 105

    Hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa penggunaan berbagai

    sumber energi akan dapat diefisienkan secara signifikan jika

    dilakukan alih sumber energi (diversifikasi), dari penggunaan BBM

    yang masih cukup besar porsinya ke batubara dan gas alam. Upaya

    meningkatkan efisiensi ini akan lebih terlihat apabila intensitas

    energi untuk menghasilkan per Ton baja dapat diturunkan, dari saat

    ini sebesar 900 kWh per Ton baja menjadi 600 kWh per Ton baja,

    atau menyamai intensitas energi industri baja di India.

    Jika intensitas energi industri baja dapat setara dengan India, serta

    proporsi BBM dalam komposisi penggunaan sumber energi pada

    industri baja dapat berkurang 1,5 persen per tahun, sementara

    proporsi batubara naik 1 persen per tahun, gas alam naik 0,5 persen

    per tahun, serta proporsi listrik tetap yaitu sebesar 65 persen per

    tahun, maka akan terjadi efisiensi energi yang cukup besar.

    Skenario akselerasi disertai efisiensi ini akan menghasilkan

    perhitungan kebutuhan energi pada industri baja hingga 2025

    berupa BBM sebesar 100.725 Kilo liter, batubara 528.580 Ton, gas

    alam 9.028.319 MMBTU, serta listrik 12.737 gWh.

    Analisis selanjutnya adalah membandingkan antara proyeksi

    kebutuhan energi pada tahun 2025 dalam satuan asli masing-

    masing energi dengan ketersediaan energi yang sama pada tahun

    2009. Maksud dari pada pembandingan proyeksi 2025 dengan

    eksisting 2009 ini agar terlihat berapa kekurangan penyediaan

    energi pada tahun 2025, sehingga akan terlihat berapa besar upaya

    yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan

    energi tahun 2025. Selain itu juga memberikan gambaran kepada

    dunia usaha khususnya kalangan industri terpilih yang padat energi,

    prospek penyediaan energi ke depan pada tahun 2025 tersebut.

    Jika dibandingkan dengan konsumsi energi industri baja pada 2009,

    maka pada 2025 kebutuhan BBM masih kurang 178.184 Kilo liter;

    batubara masih kurang 38.609 Ton; gas alam kurang 4.511.512

    MMBTU; serta penyediaan energi listrik masih kurang 4.971 gWh,

    lihat Tabel 6.5. Perhitungan dengan skenario akselerasi

  • 106 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    menghasilkan proyeksi kekurangan energi yang lebih besar lagi

    untuk masing-masing jenis sumber energi. Namun, jika skenario

    akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan maka perkiraan

    kekurangan energi akan berkurang secara signifikan.

    Tabel 6.6. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Baja

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. BaU gWh 431 774 1.144 1.542 4.043 7.668

    a. BBM Kilo liter 9.095 17.117 25.757 35.061 93.502 178.184

    b. Batubara Ton 2.006 3.743 5.613 7.627 20.278 38.609

    c. Gas Alam MMBTU 188.021 351.991 534.897 738.683 2.152.951 4.511.512

    d. Listrik GWh 267 490 731 990 2.615 4.971

    2. Akselerasi GWh 652 652 4.536 5.436 12.650 25.364

    a. BBM Kilo liter 14.264 14.264 105.003 126.032 294.600 591.673

    b. Batubara Ton 3.125 3.125 22.767 27.320 63.810 128.117

    c. Gas Alam MMBTU 240.872 320.735 1.460.940 1.868.167 5.384.118 12.665.262

    d. Listrik GWh 411 411 2.935 3.520 8.210 16.474

    3. Akselerasi +

    Efisiensi GWh -908 -908 1.681 2.281 7.091 15.567

    a. BBM Kilo liter -22.186 -26.560 22.300 25.792 40.005 5.639

    b. Batubara Ton -4.765 495 27.580 43.275 185.656 508.034

    c. Gas Alam MMBTU

    -

    131.825 -78.582 681.554 953.039 3.297.007 8.151.102

    d. Listrik gWh -603 -603 1.080 1.470 4.596 10.106

    Sumber: IISIA diolah INDEF (2012)

    Keterangan:

    Angka minus berarti ketersediaan sumber energi lebih dari tercukupi jika

    dibandingkan dengan konsumsi energi industri baja tahun 2009.

    Secara ekonomi jika proporsi penggunaan energi BBM dapat

    dikurangi, digantikan dengan penggunaan batubara dan gas alam,

    maka biaya energi pada industri baja akan menurun. Hal yang sama

    juga dapat terjadi jika intensitas energi untuk menghasilkan per

    satuan baja dapat ditekan, maka biaya energi juga dapat

    diturunkan. Apabila skenario akselerasi disertai efisiensi yaitu

    berupa diversifikasi energi dan penurunan intensitas energi dapat

    dilakukan, maka dapat menghemat biaya energi sebesar Rp6,4

    triliun pada 2025, lihat Tabel 6.7.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 107

    Tabel 6.7. Penghematan Biaya Energi pada Industri Baja

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Akselerasi US$ juta 134,6 135,4 249,3 277,1 502,9 911,8

    Akselerasi + Efisiensi US$ juta 89,7 85,8 149,6 157,3 206,3 238,5

    Penghematan US$ juta 44,9 49,7 99,6 119,8 296,6 673,3

    Rp miliar 426,2 471,8 946,6 1.138,3 2.817,8 6.396,6

    Sumber: IISIA diolah INDEF (2012)

    6.2. Industri Tekstil

    6.2.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Tekstil

    Dalam struktur biaya produksi di industri Tekstil dan Produk

    Tekstil/TPT nasional, biaya energi yaitu listrik, minyak, gas, dan

    batubara menempati peringkat kedua setelah biaya bahan baku,

    lihat Tabel 6.8.

    Tabel 6.8. Struktur Biaya Produksi Industri TPT

    Komponen Biaya Serat Benang Kain Garment

    Raw Material 55,0% 58,1% 56,5% 57,7%

    Energy 25,6% 18,5% 14,4% 1,3%

    Labor 6,3% 6,4% 13,3% 27,1%

    Depreciation 6,0% 5,9% 2,1% 1,4%

    Interest 4,0% 6,1% 6,4% 2,4%

    Administrasi & Marketing 3,1% 5,0% 7,4% 10,2%

    Sumber: API (2012)

    Jika dipilah berdasarkan sumber energinya, listrik merupakan

    kebutuhan energi utama pada industri tekstil, dimana sebesar 70

    persen mengandalkan suplai PLN, sedangkan sisanya sebesar 30

    persen menggunakan pembangkit sendiri yang membutuhkan

    minyak, batubara, dan gas, lihat Gambar 6.1.

  • 108 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sumber: API (2012)

    Gambar 6.1. Komposisi Sumber Energi Industri Tekstil (persen)

    6.2.2. Kebutuhan Energi Industri Tekstil

    Besarnya kebutuhan energi listrik di industri tekstil membuat

    kinerja produksi industri ini sangat ditentukan oleh ketersediaan

    energi sebagai penopangnya. Terlebih lagi industri tekstil

    beroperasi 24 jam, sehingga bila ada gangguan terhadap pasokan

    energi listrik akan mempengaruhi kegiatan produksi dan dapat

    mengakibatkan terjadinya kenaikan biaya produksi yang cukup

    tinggi dan akhirnya akan mempengaruhi daya saing produk.

    Penggunaan energi pada proses produksi tekstil cukup beragam,

    tergantung dari jenis produk yang dibuat. Dalam industri tekstil,

    kegiatan pemintalan (spinning) dan penenunan (weaving) hampir

    mencapai 70 persen dari seluruh kegiatan proses produksi.

    Menurut Ditjen EBTKE, ESDM pada 2011, kegiatan pemintalan

    memerlukan energi sebesar 9,59 gigajoule per Ton (2.664 kWh per

    Ton), sementara penenunan sebesar 33 gigajoule per Ton (9.167

    kWh per Ton). Nilai intensitas energi yang digunakan tersebut

    masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan industri tekstil di India,

    di mana pemintalan di India butuh energi 3,2 gigajoule per Ton (889

    kWh per Ton) dan penenunan butuh energi 31 gigajoule per ton

    (8.611 kWh per Ton).

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 109

    Nilai intensitas energi di atas menunjukkan bahwa penggunaan

    energi untuk industri tekstil di Indonesia relatif lebih boros

    dibandingkan dengan India, yang kemungkinan disebabkan oleh

    umur mesin yang cukup tua. Kondisi ini selain menurunkan

    produktivitas juga boros energi. Sebagai gambaran, mesin carding

    yang 15 tahun lalu biaya energinya hanya mencapai 7 persen,

    namun saat ini memakan biaya listrik sebesar 15-20 persen

    (Kementerian Perindustrian, 2011).

    Pada tahun 2010, kapasitas produksi industri tekstil sekitar 7 juta

    ton dengan volume produksi sekitar 6 juta ton serta utilisasi sebesar

    86 persen. Jika dirinci, produksi fiber sebesar 1,04 juta ton; yarn

    2,50 juta ton; fabrics 1,23 juta ton, garment 0,48 juta ton; serta

    sisanya produk-produk lain sebesar 0,12 juta ton. Produksi yarn dan

    fabrics mencapai 69,4 persen produk tekstil Indonesia. Karena itu,

    penggunaan basis intensitas energi untuk kegiatan pemintalan dan

    penenunan, yang menghasilkan kedua produk tersebut cukup

    beralasan.

    Jumlah industri tekstil (TPT) di Indonesia secara keseluruhan sekitar

    2.880 perusahaan. Industri ini mampu menyerap tenaga kerja

    sebanyak 1,41 juta orang. Melihat besarnya tingkat penyerapan

    tenaga kerja tersebut maka sangat penting untuk menjaga agar

    suplai energi pada industri ini terus tercukupi. Terkait dengan hal ini

    maka dibuat berbagai skenario kebutuhan energi industri tekstil

    untuk membantu memperkirakan kebutuhan energi ke depan, lihat

    Tabel 6.9.

    Skenario Business as Usual menghasilkan kebutuhan energi sebesar

    50.417 gWh pada 2025. Jika dilakukan akselerasi dengan target

    mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi kain atau tekstil dalam

    negeri, maka pada 2025 dibutuhkan energi 252.955 gWh. Hal ini

    mengingat proporsi impor kain di Indonesia masih sekitar 39

    persen, serta pertumbuhan konsumsi kain sebesar 17 persen per

    tahun, bersamaan dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2,3

    persen per tahun, dan percepatan perubahan trend fashion

    (Kementerian Perindustrian, 2011).

  • 110 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.9. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (gWh)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. BaU 20.551 22.019 23.592 25.277 35.695 50.417

    a. BBM 1.028 1.101 1.180 1.264 1.785 2.521

    b. Batubara 3.083 3.303 3.539 3.792 5.354 7.562

    c. Gas Alam 2.055 2.202 2.359 2.528 3.569 5.042

    d. Listrik 14.386 15.413 16.514 17.694 24.986 35.292

    2. Akselerasi 25.464 30.371 36.226 43.213 104.469 252.955

    a. BBM 1.273 1.519 1.811 2.161 5.223 12.648

    b. Batubara 3.820 4.556 5.434 6.482 15.670 37.943

    c. Gas Alam 2.546 3.037 3.623 4.321 10.447 25.295

    d. Listrik 17.825 21.260 25.358 30.249 73.128 177.068

    3. Akselerasi

    Disertai

    Efisiensi

    22.408 26.726 31.879 38.027 91.932 222.600

    a. BBM 1.120 1.234 1.349 1.463 1.768 (0)

    b. Batubara 3.361 4.112 5.027 6.143 16.619 44.520

    c. Gas Alam 2.241 2.673 3.188 3.803 9.193 22.260

    d. Listrik 15.686 18.708 22.315 26.619 64.353 155.820

    Sumber: API diolah INDEF (2012)

    Salah satu isu utama dalam industri tekstil adalah cukup tuanya

    mesin-mesin produksi yang digunakan sehingga penggunaan

    energinya relatif boros. Oleh karena itu pada skenario akselerasi

    disertai efisiensi diasumsikan program restrukturisasi permesinan

    berhasil dilakukan. Hasil evaluasi Kementerian Perindustrian

    periode 2007-2009 menunjukkan setelah program restrukturisasi

    permesinan, efisiensi pengggunaan energi meningkat antara 6-18

    persen, atau secara rata-rata efisiensi meningkat sebesar 12 persen.

    Skenario ini menggunakan asumsi akselerasi untuk mencukupi

    kebutuhan konsumsi kain domestik juga disertai restrukturisasi

    permesinan, dengan tingkat efisiensi energi sebesar 12 persen per

    tahun. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan energi di

    industri tekstil pada 2025 sebesar 222.600 gWh, lihat Tabel 6.10.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 111

    Tabel 6.10. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit)

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. BaU gWh 20.551 22.019 23.592 25.277 35.695 50.417

    a. BBM Kilo liter 96.038 102.896 110.245 118.120 166.803 235.601

    b. Batubara Ton 519.733 556.850 596.622 639.240 902.699 1.275.015

    c. Gas Alam MMBTU 7.014.091 7.514.998 8.051.744 8.626.900 12.182.438 17.207.048

    d. Listrik GWh 14.386 15.413 16.514 17.694 24.986 35.292

    2. Akselerasi GWh 25.464 30.371 36.226 43.213 104.469 252.955

    a. BBM Kilo liter 118.993 141.925 169.286 201.936 488.189 1.182.076

    b. Batubara Ton 643.964 768.063 916.136 1.092.828 2.641.965 6.397.119

    c. Gas Alam MMBTU 8.690.654 10.365.437 12.363.774 14.748.324 35.654.803 86.332.721

    d. Listrik GWh 17.825 21.260 25.358 30.249 73.128 177.068

    3. Akselerasi + Efisiensi GWh 22.408 26.726 31.879 38.027 91.932 222.600

    a. BBM Kilo liter 104.714 115.286 126.053 136.695 165.233 0

    b. Batubara Ton 566.688 693.226 847.543 1.035.664 2.801.838 7.505.953

    c. Gas Alam MMBTU 7.647.775 9.121.585 10.880.121 12.978.525 31.376.227 75.972.794

    d. Listrik gWh 15.686 18.708 22.315 26.619 64.353 155.820

    Sumber:API, diolah INDEF (2012)

    Berbagai sumber energi seperti BBM, batubara, dan gas alam

    digunakan oleh industri tekstil untuk menghasilkan listrik. Hal ini

    dilakukan mengingat pasokan listrik dari PLN untuk industri tekstil

    baru mencukupi 70 persen kebutuhan. Jika dihitung dengan

    skenario BaU, maka kebutuhan BBM berupa solar untuk

    menghasilkan listrik pada 2025 sebesar 235.601 Kilo liter; batubara

    1.275.015 Ton; serta gas alam 17.207.048 MMBTU. Kebutuhan

    berbagai jenis sumber energi tersebut akan lebih tinggi lagi jika

    perhitungan menggunakan skenario akselerasi dan skenario

    akselerasi disertai efisiensi, lihat Tabel 6.11.

    Data konsumsi energi industri tekstil pada 2009 menunjukkan

    bahwa penggunaan BBM sebesar 314.511 Kilo liter; batubara

    1.121.829 Ton; gas alam 992.323 MMBTU; dan listrik 5.168 gWh

    (BPS, 2009). Jika proyeksi kebutuhan berbagai sumber energi hingga

    2025 dikurangkan dengan konsumsi energi industri tekstil pada

    2009, maka akan diperoleh perhitungan nilai kekurangan energi,

    lihat Tabel 6.10. Pada skenario BaU kebutuhan BBM pada 2025

    sudah tercukupi, bahkan surplus 78.910 Kilo liter; batubara kurang

    153.186 Ton; gas alam kurang 16.214.725 MMBTU; serta energi

    listrik kurang 30.124 gWh. Kedua skenario lain menghasilkan

    perhitungan yang lebih tinggi, kecuali untuk penggunaan BBM. Hal

    ini dikarenakan pada skenario akselerasi disertai efisiensi

  • 112 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    diasumsikan terjadi alih sumber energi dari BBM ke batubara secara

    bertahap, sementara proporsi gas alam dan listrik diasumsikan

    tetap hingga 2025, lihat Tabel 6.11.

    Tabel 6.11. Proyeksi Kekurangan Kebutuhan Energi Industri Tekstil

    (satuan unit)

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    1. BaU gWh 5.073 6.541 8.114 9.799 20.217 34.939

    a. BBM Kilo liter -218.473 -211.615 -204.266 -196.390 -147.708 -78.910

    b. Batubara Ton -602.096 -564.980 -525.208 -482.589 -219.130 153.186

    c. Gas Alam MMBTU 6.021.768 6.522.675 7.059.421 7.634.577 11.190.114 16.214.725

    d. Listrik GWh 9.218 10.245 11.346 12.526 19.818 30.124

    2. Akselerasi GWh 9.986 14.893 20.748 27.735 88.991 237.477

    a. BBM Kilo liter -195.518 -172.586 -145.225 -112.575 173.678 867.565

    b. Batubara Ton -477.865 -353.767 -205.693 -29.002 1.520.136 5.275.290

    c. Gas Alam MMBTU 7.698.331 9.373.114 11.371.451 13.756.001 34.662.480 85.340.398

    d. Listrik GWh 12.656 16.091 20.190 25.081 67.960 171.900

    3. Akselerasi + Efisiensi GWh 6.930 11.248 16.401 22.549 76.454 207.122

    a. BBM Kilo liter -209.797 -199.224 -188.458 -177.816 -149.278 -314.511

    b. Batubara Ton -555.141 -428.603 -274.286 -86.165 1.680.008 6.384.124

    c. Gas Alam MMBTU 6.655.452 8.129.261 9.887.798 11.986.202 30.383.904 74.980.471

    d. Listrik gWh 10.517 13.540 17.147 21.451 59.185 150.652

    Sumber: API, diolah INDEF (2012)

    Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika

    skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri

    tekstil adalah Rp12,8 triliun pada 2025. Perhematan tersebut

    bersumber dari program restrukturisasi permesinan yang akan

    menghemat pemakaian energi dan peningkatan produktivitas, serta

    adanya diversifikasi energi untuk pembangkit listrik dari BBM ke

    batubara. Sumber energi berupa BBM untuk menghasilkan listrik

    yang saat ini proporsinya masih sekitar 5 persen dikurangi

    proporsinya sebesar 0,4 persen per tahun dalam komposisi energi,

    sehingga pada 2025 pembangkit listrik milik pabrik tekstil tidak lagi

    menggunakan BBM yang harganya relatif mahal. Sebagai gantinya,

    proporsi penggunaan batubara yang saat ini masih sekitar 15

    persen ditingkatkan proporsinya sebesar 0,4 persen per tahun,

    sehingga pada 2025 komposisi batubara dalam bauran energi

    industri tekstil menjadi 20 persen. Sisanya berupa proporsi gas alam

    tetap 10 persen dan listrik PLN tetap sebesar 70 persen, lihat Tabel

    6.12.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 113

    Tabel 6.12. Penghematan dari Diversifikasi dan Efisiensi Energi

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Akselerasi 000 US$ 262.885 313.546 373.994 446.125 1.078.529 2.611.497

    Akselerasi +

    Efisiensi 000 US$ 231.339 266.359 306.304 351.775 685.983 1.262.809

    Penghematan 000 US$ 31.546 47.187 67.689 94.349 392.546 1.348.688

    Rp miliar 300 448 643 896 3.729 12.813

    Sumber: API, diolah INDEF (2012)

    Aasumsi Harga:

    BBBM = 1.113 US$/Kilo liter

    BBatubara = kalori 5.100 kkal/kg, harga 65 US$/Ton

    GGas Alam = 10,2 US$/MMBTU (harga yang akan berlaku mulai April 2013)

    6.3. Industri Pengolahan Kelapa Sawit

    6.3.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pengolahan Kelapa

    Sawit

    Hasil wawancara dengan pelaku industri pengolahan kelapa sawit

    menyatakan bahwa industri ini sebenarnya sudah menggunakan

    energi terbarukan dalam proses produksi dalam jumlah yang relatif

    besar, dimana perkiraan kasar nilainya mencapai 75-80 persen.

    Beberapa jenis energi terbarukan yang sering digunakan antara lain

    cangkang, serabut, dan sekam. Namun dari sisi komposisi besarnya

    biaya energi, biaya energi solar masih merupakan yang terbesar

    dalam industri pengolahan kelapa sawit (BPS, 2009).

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, BPS (2012)

    Keterangan: data konsumsi energi industri minyak goreng dari

    minyak kelapa sawit (KBLI 15144)

    Gambar 6.2. Komposisi Biaya Energi pada Industri Pengolahan

    Kelapa Sawit (persen)

  • 114 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    6.3.2. Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit

    Upaya hilirisasi produksi kelapa sawit atau crude palm oil (CPO)

    Indonesia memerlukan dukungan ketersediaan energi yang

    memadai. Sejauh ini produk hilir CPO di Indonesia belum banyak

    berkembang dibandingkan Malaysia. Pada saat ini Indonesia baru

    memproduksi sekitar 40 jenis produk hilir kelapa sawit, sementara

    Malaysia sudah memproduksi lebih dari 100 Jenis (Kementerian

    Perindustrian, 2011). Oleh karena itu, melihat banyaknya produk

    turunan yang masih harus dikembangkan oleh Indonesia, maka

    upaya hilirisasi kelapa sawit perlu didukung dengan ketersediaan

    energi.

    Secara umum kebutuhan energi utama pada proses pengolahan

    kelapa sawit adalah energi listrik, di mana semakin besar kapasitas

    produksi dan jenis produk olahan, relatif semakin tinggi pula

    tambahan energi yang diperlukan dalam proses produksi.

    Kebutuhan energi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dipenuhi secara

    mandiri dengan menggunakan Boiler sebagai penghasil uap

    sekaligus sebagai penggerak turbin untuk membangkitkan energi

    listrik. Parameter umum konsumsi energi listrik (power

    consumption) di pabrik pengolahan kelapa sawit yakni sebesar 17-

    19 kWh/ton TBS (Tandan Buah Segar) [Rahardjo, 2012].

    Dalam kajian ini, kebutuhan energi industri pengolahan kelapa

    sawit dibuat dalam 3 skenario. Skenario Business as Usual

    menghasilkan perhitungan kebutuhan energi industri CPO pada

    2025 sebesar 594 gWh (gigawatt hour). Pada Skenario Akselerasi

    kebutuhan energi pada 2025 sebesar 832 gWh. Sementara pada

    Skenario Akselerasi disertai Efisiensi maka kebutuhan energi

    industri CPO pada 2025 sebesar 786 gWh, lihat Tabel 6.13.

    Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri

    CPO hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi.

    Berdasarkan data BPS, sumber energi terbesar pada industri CPO

    ialah solar sebesar 35 persen dari total konsumsi energi, listrik

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 115

    sebesar 24 persen, bahan bakar lain seperti cangkang dan serabut

    (biomassa) sebesar 21 persen, batubara sebesar 8 persen, dan gas

    sebesar 7 persen.

    Tabel 6.13. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri

    Pengolahan Kelapa Sawit

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU (gWh) 382 395 409 423 501 594

    Solar (juta liter) 12,50 12,93 13,39 13,84 16,40 19,44

    Listrik (gWh) 91,68 94,80 98,16 101,52 120,24 142,56

    Biomassa (gWh) 80,22 82,95 85,89 88,83 105,21 124,74

    Batubara (ribu ton) 5,10 5,30 5,50 5,70 6,70 8

    Gas (ribu mmbtu) 91 94 97 101 119 141

    Akselerasi (gWh) 535 553 572 592 702 832

    Solar (juta liter) 17,51 18,10 18,72 19,38 22,98 27,24

    Listrik (gWh) 128,40 132,72 137,28 142,08 168,48 199,68

    Biomassa (gWh) 112,35 116,13 120,12 124,32 147,42 174,72

    Batubara (ribu ton) 7,20 7,40 7,70 8 9,50 11,28

    Gas (ribu mmbtu) 127 132 136 141 167 198

    Akselerasi + Efisiensi (gWh) 505 523 541 559 663 786

    Solar (juta liter) 16,53 17,12 17,71 18,30 21,70 25,73

    Listrik (gWh) 121,20 125,52 129,84 134,16 159,12 188,64

    Biomassa (gWh) 106,05 109,83 113,61 117,39 139,23 165,06

    Batubara (ribu ton) 6,80 7 7,30 7,50 8,90 10,65

    Gas (ribu mmbtu) 120 124 129 133 158 187

    Sumber: Ditjen Perkebunan Kementan, diolah INDEF (2012)

    Asumsi:

    Business as Usual

    1. Pertumbuhan produksi TBS 3,5 persen per tahun

    2. Intensitas energi 18 kWh per ton TBS

    Akselerasi

    1. Meningkatkan produktivitas sebesar 1,4 kali

    Akselerasi Disertai Efisiensi

    1. Intensitas energi berdasarkan world best practice sebesar 17 kWh per ton TBS

    Secara ekonomi jika skenario akselerasi disertai efisiensi dilakukan

    maka akan ada penghematan sebesar Rp 33,58 miliar pada 2025.

    Penghematan tersebut cukup besar mengingat dalam skenario

    efisiensi, intensitas energi yang digunakan sebesar 17 kWh per ton

    TBS atau hanya selisih 1 kWh per ton TBS dibandingkan pada

    skenario akselerasi, lihat Tabel 6.14.

  • 116 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.14. Penghematan Energi pada Industri Pengolahan

    Kelapa Sawit (Rp miliar)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Akselerasi 390,55 403,69 417,56 432,16 512,46 607,36

    Akselerasi Disertai

    Efisiensi 368,65 381,79 394,93 408,07 483,99 573,78

    Penghematan 21,9 21,9 22,63 24,09 28,47 33,58

    Sumber: Ditjen Perkebunan Kementan, diolah INDEF (2012)

    Asumsi Harga:

    Listrik untuk Industri = Rp730 /kWh

    6.4. Industri Pulp dan Kertas

    6.4.1. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pulp dan Kertas

    Kapasitas terpasang industri pulp dan kertas nasional sebesar 7,9

    juta ton per tahun untuk pulp dan 12,9 juta ton per tahun untuk

    kertas, dengan utilisasi rata-rata hanya 79 persen untuk pulp dan 81

    persen untuk kertas. Dalam sepuluh tahun terakhir periode 2001-

    2010, rata-rata pertumbuhan kapasitas terpasang sebesar 4 persen

    per tahun untuk pulp dan 3 persen per tahun untuk kertas.

    Sementara rata-rata pertumbuhan produksi nasional untuk pulp

    sebesar 3,5 persen per tahun dan 5,8 persen per tahun untuk

    kertas. Di sisi lain, dalam periode yang sama konsumsi pulp dan

    kertas nasional tumbuh sebesar 4 persen per tahun untuk pulp dan

    5,5 persen untuk kertas.

    Meskipun kebutuhan konsumsi pulp dan kertas nasional telah

    terpenuhi seluruhnya oleh produksi di dalam negeri, tetap saja

    terdapat impor pulp dan kertas yang rata-rata pertumbuhannya

    selama sepuluh tahun terakhir ini cukup signifikan yakni 11 persen

    per tahun untuk pulp dan 12 persen per tahun untuk kertas. Agar

    produk pulp dan kertas dalam negeri tidak kalah bersaing dengan

    produk impor maka sudah semestinya industri pulp dan kertas

    nasional meningkatkan efisiensi produksi khususnya dalam

    pemanfaatan teknologi dan sumber energi yang lebih efisien.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 117

    Sementara itu, ekspor pulp dan kertas menunjukkan prestasi yang

    cukup menggembirakan. Dalam sepuluh tahun terakhir yaitu 2001-

    2010, rata-rata pertumbuhan ekspor sebesar 5,5 persen untuk pulp

    dan 7,3 persen untuk kertas. Hal ini mengindikasikan bahwa

    prospek perdagangan pulp dan kertas dunia masih sangat

    menjanjikan, selain prospek pertumbuhan konsumsi domestik. Pada

    saat ini konsumsi kertas domestik per kapita relatif masih kecil (32,6

    kg per kapita) dan terus meningkat setiap tahunnya (peningkatan

    sebesar 40 persen sejak 2001).

    Agar peningkatan konsumsi dalam negeri dan ekspor dapat

    terpenuhi, maka tidak ada jalan lain selain menambah ketersediaan

    pasokan bahan baku dan energi di industri pulp dan kertas.

    Kapasitas produksi pulp dan kertas harus dioptimalkan dari kondisi

    saat ini dimana tingkat utilisasinya baru sekitar 80 persen per

    tahun. Jika kapasitas produksi dapat dioptimalkan maka kebutuhan

    konsumsi domestik akan selalu terjaga dan ekspansi ekspor pun

    dapat digenjot lebih tinggi.

    Pada skenario Business as Usual (BaU), diasumsikan bahwa untuk

    menghasilkan 1 ton pulp dibutuhkan energi sebesar 4.170 kWh, 1

    ton kertas dibutuhkan energi sebesar 2.030 kWh, dan 1 ton kertas

    dari limbah kertas (waste paper) diperlukan energi sebesar 470

    kWh (Sugiyono, 2009). Dengan tingkat produksi selama periode

    2006-2010, maka total energi yang dibutuhkan oleh Industri Pulp

    dan Kertas dapat dilihat seperti Gambar 6.3.

    Kebutuhan energi di Industri Pulp dan Kertas terus meningkat

    selama 2006-2010 mengikuti pertumbuhan produksi. Pada 2010

    produksi pulp, kertas, dan pengolahan waste paper masing-masing

    6,3 juta ton, 11,5 juta ton, dan 4,2 juta ton. Dengan tingkat produksi

    seperti itu total energi yang dibutuhkan oleh Industri Pulp dan

    Kertas pada 2010 sebesar 51,55 ribu GWh dengan tingkat

    pertumbuhan sebesar 12,48 persen per tahun.

  • 118 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, Direktori 2011, diolah

    Gambar 6.3. Kebutuhan Energi di Industri Pulp dan Kertas

    6.4.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pulp dan Kertas

    Karakteristik teknologi energi yang digunakan pada industri pulp

    dan kertas tergantung dari jenis proses yang digunakan. Secara

    garis besar proses di industri ini dibagi menjadi empat kelompok,

    yakni: pembuatan pulp dengan proses kimia dan termokimia,

    pembuatan pulp secara mekanik, produksi kertas, dan pembuatan

    kertas secara recycle (Sugiyono, 2009).

    Industri pulp dan kertas umumnya menggunakan tenaga listrik

    sebagai sumber utama energi dalam proses produksi. Pembangkit

    tenaga listrik menggunakan steam (uap) sebagai sumber penggerak

    turbin. Steam (uap) dihasilkan dari multiple boiler dan recovery

    boiler yang berupa high pressure steam, medium pressure steam

    dan low pressure steam.

    Produksi on site dari steam dan listrik merupakan faktor pendukung

    utama dalam industri pulp dan kertas. Rata-rata 40 persen listrik

    diproduksi on site melalui kogenerasi steam. Sistem boiler

    dinyalakan dengan berbagai macam bahan bakar, dengan efisiensi

    bervariasi.

    Bahan bakar merupakan senyawa kimia yang dapat menghasilkan

    energi melalui perubahan kimia. Bahan bakar power boiler terdiri

    dari biomassa yang berasal dari proses pengulitan dan reject

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 119

    penyaringan serpih kayu (pin chips dan fines chips). Untuk

    menambah nilai kalor pada biomassa biasanya dicampur dengan

    batubara. Recovery Boiler dapat memproduksi steam 15,8 GJ (Giga

    Joule)/ton kering (ADt/air-dried ton) dan listrik 655 kWh/ADt.

    Kebutuhan steam untuk proses cukup dipenuhi dari Recovery Boiler,

    untuk kebutuhan listrik kekurangannya dapat dipenuhi dari power

    boiler berbahan bakar kulit kayu.

    Adapun bahan bakar utama yang digunakan dalam sistem boiler

    pada industri pulp dan kertas berupa biomassa yang terdiri dari

    black liqour, bark, tankos, saw dust, CPO, sludge, kompos, dsb.

    Sedangkan bahan bakar fosil seperti batubara dan solar hanya

    digunakan sebagai tambahan saja. Sebagai contoh, pada salah satu

    industri pulp dan paper terbesar di Indonesia PT. Indah Kiat Pulp &

    Paper (PT. IKPP)- bahan bakar biomassa berupa black liqour sangat

    diandalkan sekali dalam proses produksi energi listrik dan panas

    yakni mencapai 73 persen dari total penggunaan bahan bakar,

    sisanya bark (kulit pohon) 13 persen dan batubara 13 persen, lihat

    Gambar 6.4.

    *Tankos, Saw Dust, CPO, Diesel Oil, Heavy Oil, Sludge, Waste Bark, Kompos

    Sumber: Kementerian Perindustrian, 2011

    Gambar 6.4. Komposisi Jenis Bahan Bakar di PT. IKPP (persen)

    Sementara itu, data BPS juga menunjukkan bahwa dari populasi

    industri pulp dan kertas nasional, komposisi input energi didominasi

    oleh sumber bahan bakar lain yang tak lain adalah biomassa atau

  • 120 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    bahan bakar non fosil sebanyak 49,71 persen. Selain itu, banyak

    juga perusahaan pulp dan kertas yang memanfaatkan sumber

    energi listrik PLN sebanyak 28,41 persen, lihat Tabel 6.15.

    Tabel 6.15. Komposisi Input Energi Industri Pulp dan Kertas

    (Persen)

    Bahan Bakar 2008 2009

    Bensin 0,32 0,44

    Solar 6,89 6,61

    Batubara 2,11 2,76

    Listrik PLN 27,63 28,41

    Listrik Non PLN 1,8 3,51

    Gas 2,96 7,92

    Minyak Tanah 0,26 0,10

    Bahan Bakar Lain 57,56 49,71

    Pelumas 0,46 0,54

    Sumber: BPS, 2012

    6.4.3. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas

    Kapasitas terpasang industri pulp dan kertas selama sepuluh tahun

    terakhir yaitu 2001-2010, rata-rata tumbuh sebesar 4 persen per

    tahun untuk Pulp, 3 persen per tahun untuk Kertas, dan 8,6 persen

    per tahun untuk pengolahan kertas bekas (waste paper). Sementara

    itu, rata-rata tingkat utilisasi selama periode yang sama sebesar 80

    persen per tahun untuk Pulp, 81 persen per tahun untuk kertas, dan

    56 persen per tahun untuk waste paper.

    Pada 2010, produksi pulp dan kertas nasional masing-masing

    sebesar 11,5 juta ton dan 6,29 juta ton. Dari jumlah yang dihasilkan

    tersebut hanya 67 persen produksi pulp dan 79 persen produksi

    kertas yang dikonsumsi di dalam negeri, sisanya di ekspor.

    Meskipun produksi pulp dan kertas lebih besar dibandingkan

    jumlah yang dikonsumsi, ternyata impor pulp dan kertas juga

    meningkat cukup pesat selama sepuluh tahun terakhir yakni 11

    persen per tahun untuk pulp dan 12 persen per tahun untuk kertas.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 121

    Di sisi lain, konsumsi kertas per kapita di Indonesia juga masih

    relatif kecil dibandingkan negara-negara lain, maka dengan jumlah

    penduduk Indonesia yang lebih dari 230 juta jiwa dan akan terus

    bertambah, tentunya ada potensi yang begitu besar pada pasar

    pulp dan kertas di dalam negeri. Konsumsi kertas nasional pada

    2010 saja baru sebesar 32,6 kg per kapita, sedangkan konsumsi

    kertas per kapita di negara lain seperti China (54,8

    kg/kapita/tahun), Amerika Serikat (288 kg/kapita/tahun), Jepang

    (245,5 kg/kapita/tahun), Kanada (206 kg/kapita/tahun), Finlandia

    (368,6 kg/kapita/tahun), Malaysia (110,8 kg/kapita/tahun) (RISI,

    2008).

    Salah satu tantangan yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas

    ialah besarnya konsumsi energi, untuk menghasilkan 1 ton pulp

    kering dibutuhkan sekitar 2.000-6.500 kWh, bahkan untuk

    menghasilkan 1 ton kraft pulp bisa menghabiskan 8.000 kWh (SCA,

    2012). Besarnya kebutuhan energi ditambah krisis energi yang

    tengah melanda dunia, maka industri pulp dan kertas harus

    melakukan terobosan dalam upaya penghematan energi baik

    melalui penggunaan sumber energi terbarukan maupun

    penggunaan teknologi yang lebih efisien.

    Selanjutnya, dalam kajian ini perkiraan kebutuhan energi pada

    industri pulp dan kertas dibuat dalam 3 skenario. Secara ringkas,

    Skenario Business as Usual menghasilkan perhitungan kebutuhan

    energi industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 87 ribu gWh

    (gigawatt hour). Dengan Skenario Akselerasi kebutuhan energi

    industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 150 ribu gWh. Pada

    Skenario Akselerasi disertai Efisiensi maka kebutuhan energi

    industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 130 ribu gWh, lihat

    Tabel 6.16.

  • 122 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.16. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas

    (satuan unit)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU (ribu gWh) 53.41 55.44 57.31 59.74 72.17 87.54

    Biomassa (ribu gWh) 26.71 27.72 28.66 29.87 36.09 43.77

    Listrik (ribu gWh) 17.09 17.74 18.34 19.12 23.09 28.01

    Gas (juta mmbtu) 14.57 15.15 15.63 16.31 19.69 23.89

    Solar (juta liter) 349 362 375 391 472 573

    Batubara (ribu ton) 271 281 291 303 367 445

    Akselerasi (ribu gWh) 59.65 61.90 64.25 66.69 112.57 149.95

    Biomassa (ribu gWh) 29.83 30.95 32.13 33.35 56.29 74.98

    Listrik (ribu gWh) 19.09 19.81 20.56 21.34 36.02 47.98

    Gas (juta mmbtu) 16.27 16.89 17.54 18.22 30.75 40.95

    Solar (juta liter) 391 405 420 436 737 982

    Batubara (ribu ton) 303 315 327 338 572 762

    Akselerasi dengan Efisiensi (ribu

    gWh) 58.15 55.29 58.12 61.11 94.44 129.45

    Biomassa (ribu gWh) 29.08 27.65 29.06 30.56 47.22 64.73

    Listrik (ribu gWh) 18.61 17.69 18.60 19.56 30.22 41.42

    Gas (juta mmbtu) 15.87 15.08 15.87 16.68 25.80 35.35

    Solar (juta liter) 380 362 380 400 618 847

    Batubara (ribu ton) 294 281 294 310 479 657

    Sumber: APKI, diolah INDEF (2012) Asumsi:

    Business as Usual

    3. Pertumbuhan produksi pulp 4 persen/tahun, kertas 3 persen/tahun, kertas bekas 8,6 persen/tahun

    4. Tingkat utilisasi pulp 80 persen/tahun, kertas 80 persen/tahun, kertas bekas 56 persen/tahun

    5. Intensitas energi pulp 4.170 kWh/ton, kertas 2.030 kWh/ton, kertas bekas 470 kWh/ton

    Akselerasi

    1. Rencana penambahan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada 2012-2018

    2. Mengejar peringkat ke 5 dunia, dari posisi 9 untuk pulp dan 8 untuk kertas

    3. Pertumbuhan produksi pulp 5,2 persen/tahun, kertas 7 persen/tahun, kertas bekas 8,6 persen/tahun

    6. Tingkat utilisasi pulp 90 persen/tahun, kertas 90 persen/tahun, kertas bekas 60 persen/tahun

    Akselerasi Disertai Efisiensi

    2. Intensitas energi pada 2013-2015; pulp 2.700 kWh/ton, kertas 1.300 kWh/ton

    3. Intensitas energi pada 2016-2025; pulp 2.500 kWh/ton, kertas 1.200 kWh/ton

    Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri pulp dan kertas

    hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi.

    Berdasarkan data BPS, sumber energi terbesar pada industri pulp

    dan kertas ialah bahan bakar lain terutama biomassa seperti black

    liquor, bark, tankos, dan lain-lain. Pada 2009, sumber energi

    biomassa mengambil porsi sebesar 50 persen dari total energi.

    Listrik dari PLN dan Non PLN sebesar 32 persen, Gas sebesar 8

    persen, Solar sebesar 7 persen, dan batubara sebesar 3 persen.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 123

    Dari proyeksi kebutuhan energi di atas, industri pulp dan kertas

    masih kekurangan cukup banyak energi jika dibandingkan dengan

    konsumsi energi industri pulp dan kertas pada 2009, sebagaimana

    data dari BPS. Adapun kekurangan energi di industri pulp dan kertas

    hingga 2025 dapat dilihat dalam Tabel 6.17.

    Tabel 6.17. Proyeksi Kekurangan Energi Industri Pulp dan Kertas

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU (ribu gWh) 49.34 51.37 53.24 55.67 68.10 83.47

    Biomassa (ribu gWh) 24.67 25.69 26.62 27.84 34.05 41.74

    Listrik (ribu gWh) 15.79 16.44 17.04 17.81 21.79 26.71

    Gas (juta mmbtu) 13.48 14.02 14.53 15.18 18.60 22.79

    Solar (juta liter) 322 336 348 364 446 546

    Batubara (ribu ton) 250 261 271 283 345 423

    Akselerasi (ribu gWh) 55.58 57.83 60.18 62.62 108.50 145.88

    Biomassa (ribu gWh) 27.79 28.92 30.09 31.31 54.25 72.94

    Listrik (ribu gWh) 17.79 18.51 19.26 20.04 34.72 46.68

    Gas (juta mmbtu) 15.18 15.80 16.41 17.09 29.62 39.82

    Solar (juta liter) 363 378 393 409 710 955

    Batubara (ribu ton) 283 293 306 318 552 742

    Akselerasi dengan Efisiensi

    (ribu gWh) 54.08 51.22 54.05 57.04 90.37 125.38

    Biomassa (ribu gWh) 27.04 25.61 27.03 28.52 45.19 62.69

    Listrik (ribu gWh) 17.31 16.39 17.30 18.25 28.92 40.12

    Gas (juta mmbtu) 14.77 13.99 14.74 15.56 24.67 34.23

    Solar (juta liter) 354 335 353 373 592 821

    Batubara (ribu ton) 274 261 274 289 459 637

    Sumber: APKI, diolah INDEF (2012)

    Kekurangan energi pada industri pulp dan kertas masih sangat

    besar, skenario Business as Usual masih kekurangan energi sebesar

    83 ribu gWh pada 2025, skenario akselerasi kekurangan energi

    sebesar 145 ribu gWh pada 2025, skenario akselerasi disertai

    efisiensi kekurangan energi sebesar 125 ribu gWh pada 2025.

    Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika

    skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri

    pulp dan kertas adalah Rp14,9 triliun pada 2025. Penghematan

    tersebut akan tercapai setelah industri pulp dan kertas

    mengoptimalkan pemanfaatan teknologi black liquor gasification-

  • 124 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    combined cycle (BLGCC). Dengan teknologi ini, secara teknis dapat

    dilakukan penghematan energi sebesar 10-20 persen (Sugiyono,

    2009), lihat Tabel 6.18.

    Tabel 6.18. Penghematan Biaya Energi pada Industri Pulp

    dan Kertas (Rp triliun)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Akselerasi 43,54 45,19 46,90 48,68 82,18 109,46

    Akselerasi Disertai

    Efisiensi 42,45 40,36 42,43 44,61 68,94 94,50

    Penghematan 1,10 4,83 4,47 4,07 13,23 14,97

    Sumber: Hasil Olahan, 2012

    Asumsi Harga:

    Listrik untuk Industri = Rp730 /kWh

    Di samping itu, penghematan juga bisa diperoleh setelah

    menggunakan teknologi pengering yang lebih efisien. Proses

    pengeringan merupakan tahap yang sangat boros energi, maka

    secara teknis jika menggunakan teknologi pengering yang efisien

    dapat diperoleh penghematan energi sebesar 20-30 persen

    (Sugiyono, 2009).

    6.5. Industri Pupuk

    6.5.1. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pupuk

    Konsumsi gas alam merupakan salah satu indikator penting untuk

    menilai efisiensi industri pupuk, karena gas alam adalah komponen

    utama dalam produksi pupuk. Pada 2009, secara rata-rata Pusri dan

    anak-anak perusahaannya mengalami peningkatan efisiensi dalam

    penggunaan gas alam untuk produksi urea, namun di sisi lain terjadi

    penurunan efisiensi untuk produk amoniak, jika dibandingkan

    dengan tahun sebelumnya (Laporan Tahunan PT Pusri, 2009).

    Gas alam yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton urea pada 2008

    hanya sebesar 30,3 MMBTU/ton, yang meningkat menjadi 30,7

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 125

    MMBTU/ton pada tahun 2009. Di sisi lain, pemakaian gas alam

    untuk pembuatan amoniak pada 2008 sebesar 37,8 MMBTU/ton,

    kemudian menurun menjadi 37,6 MMBTU/ton pada tahun 2009.

    Pada 2010, secara rata-rata penggunaan gas alam pada pembuatan

    urea menjadi kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya.

    Tercatat pada 2009 hanya sebesar 30,7 MMBTU/ton kemudian

    meningkat menjadi 34,5 MMBTU/ton pada 2010. Hal ini disebabkan

    karena adanya cut rate dan unscheduled shutdown. Pabrik yang

    semula direncanakan hanya satu yang beroperasi tetapi dalam

    realisasinya Pabrik Urea-2 beroperasi, meski hanya dua bulan, yang

    menyebabkan pemakaian gas alam meningkat cukup besar

    (Laporan Tahunan PT Pusri (holding), 2010).

    Rasio pemakaian gas alam per ton amoniak 2010 secara rata-rata

    juga kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya. Tercatat pada

    2009 hanya membutuhkan 37,6 MMBTU/ton, lalu naik menjadi 40,3

    MMBTU/ton pada 2010 (Tabel 2). Hal ini disebabkan karena

    tingginya scheduled shutdown pabrik PT Petrokimia Gresik (Laporan

    Tahunan PT Pusri Holding, 2010).

    Secara rata-rata penggunaan gas alam untuk pembuatan urea pada

    tahun 2011 semakin kurang efisien dibandingkan tahun

    sebelumnya. Tercatat pada tahun 2010 hanya sebesar 34,5

    MMBTU/ton kemudian meningkat menjadi 36,2 MMBTU/ton pada

    tahun 2010. Hal ini disebabkan karena kondisi pabrik yang sudah

    tua (Laporan Tahunan PT Pusri Holding, 2011).

    Rasio pemakaian gas alam per ton amoniak tahun 2011 secara rata-

    rata juga semakin kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya.

    Tercatat pada tahun 2010 hanya membutuhkan 40,3 MMBTU/ton,

    lalu naik menjadi 41,6 MMBTU/ton pada tahun 2011. Hal ini juga

    disebabkan karena kondisi pabrik yang sudah tua (Laporan Tahunan

    PT Pusri Holding, 2011).

  • 126 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    6.5.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pupuk

    Penggunaan energi pada industri pupuk secara garis besar terdiri

    dari dua hal, energi untuk bahan baku dan energi untuk keperluan

    bahan bakar. Sebagian besar kebutuhan energi industri pupuk

    berasal dari gas alam (96,88 persen), sedangkan sisanya sebesar

    3,12 persen kebutuhan energi digunakan untuk keperluan bahan

    bakar. Gas alam sebesar 96,88 persen ini digunakan untuk

    keperluan bahan baku dalam industri pupuk.

    Adapun detil dari bahan bakar yang dibutuhkan dalam industri

    pupuk dapat dilihat pada Gambar 6.5. Sebagian besar bahan bakar

    pada industri pupuk juga berasal dari gas alam (86 persen),

    sedangkan solar hanya 8 persen, batubara 4 persen, dan sumber

    energi lain hanya 2 persen.

    Sebagian besar kebutuhan energi pada industri pupuk digunakan

    untuk bahan baku (96,88 persen), sedangkan bahan bakar hanya

    sisanya (3,12 persen) dimana 86 persen juga berasal dari gas alam

    maka penelitian untuk industri pupuk fokus untuk memproyeksikan

    kebutuhan gas alam di masa depan hingga 2025.

    Sumber : Statistik Industri Besar dan Sedang, BPS (2012)

    Gambar 6.5. Komposisi Penggunaan Energi untuk Bahan Bakar

    pada Industri Pupuk 2009

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 127

    6.5.3. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk

    Proyeksi kebutuhan energi untuk industri pupuk di Indonesia hingga

    2025 dapat dilihat pada Tabel 6.19. Proyeksi kebutuhan energi ini

    disusun berdasarkan tiga skenario, a) skenario business as usual

    (BaU); b) skenario akselerasi; dan c) skenario akselerasi disertai

    efisiensi.

    Pertama, skenario BaU. Diasumsikan pertumbuhan konsumsi gas

    tiap tahunnnya sebesar 9,55 persen untuk urea dan 5,6 persen

    untuk amoniak, yang didapatkan dari rata-rata tahunan data

    historis 2008-2011. Berdasarkan asumsi tersebut, kebutuhan

    minimum gas alam untuk industri pupuk pada 2015 sebesar 601

    juta MMBTU, terdiri dari 583 juta MMBTU untuk bahan baku dan

    18 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 5.289 GWH.

    Kemudian pada 2025 meningkat menjadi 1.314 juta MMBTU yang

    terdiri dari 1.274 juta MMBTU untuk bahan baku dan 39 juta

    MMBTU untuk bahan bakar, setara 11.560 GWH.

    Kedua, skenario akselerasi. Efisiensi industri pupuk nasional

    sebenarnya masih dapat diusahakan untuk lebih efisien lagi. Hal ini

    dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan kapasitas produksi

    menjadi lebih tinggi lagi. Efisiensi tertinggi total produksi pernah

    dicapai sampai tingkat 86 persen yaitu pada 2004 dan 2009. Untuk

    jenis amoniak, efisiensi tertinggi pernah tercatat hingga 91 persen

    yaitu pada 2004. Di sisi lain, efisiensi urea biasanya relatif lebih

    rendah dibandingkan amoniak dengan tingkat efisiensi tertinggi

    urea sebesar 85 persen pada 2009.

    Proyeksi total energi gas alam untuk bahan bakar yang dibutuhkan

    oleh sektor industri pupuk dengan skenario akselerasi pada 2012

    mencapai 514 juta MMBTU, terdiri dari 499 juta MMBTU untuk

    bahan baku dan 15 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara

    4.520 GWH. Pada 2025 meningkat menjadi 1.412 juta MMBTU,

    terdiri dari 1.370 juta MMBTU untuk bahan bakar dan 42 juta

    MMBTU untuk bahan bakar atau setara 12.414 GWH.

  • 128 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.19. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2012-2025

    Skenario

    Jenis

    Energi/Total

    Biaya

    Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 478 516 557 601 885 1314

    Bahan

    Baku

    Juta MMBTU

    ( B ) 464 501 540 583 859 1274

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU

    ( C ) 14 15 17 18 27 39

    GWH

    4.209

    4.540

    4.900

    5.289

    7.789

    11.560

    Akselerasi Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 514 555 599 646 952 1412

    Bahan

    Baku

    Juta MMBTU

    ( B ) 499 538 581 627 923 1370

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU

    ( C )

    15

    17

    18

    19

    29

    42

    GWH

    4.520

    4.876

    5.262

    5.680

    8.365

    12.414

    Akselerasi

    + Efisiensi

    Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 499 538 581 627 923 1370

    Bahan

    Baku

    Juta MMBTU

    ( B )

    499

    538

    581

    627

    923

    1,370

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU

    ( C )

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    GWH

    4.520

    4.876

    5.262

    5.680

    8.365

    12.414

    Batubara Juta ton

    0,76

    0,82

    0,89

    0,96

    1,41

    2,09

    Total biaya jika

    Menggunakan

    Gas

    Juta US$

    157

    170

    183

    198

    291

    432

    Triliun Rp*)

    1,49

    1,61

    1,74

    1,88

    2,77

    4,11

    Total biaya jika

    Menggunakan

    Batubara

    Juta US$

    50

    53

    58

    62

    92

    136

    Triliun Rp*)

    0,47

    0,51

    0,55

    0,59

    0,87

    1,29

    Total efisiensi

    biaya

    Juta US$

    108

    116

    126

    135

    200

    296

    Triliun Rp*)

    1,02

    1,10

    1,19

    1,29

    1,90

    2,81

    Sumber: Laporan Tahunan PT PUSRI Berbagai Tahun, diolah INDEF (2012)

    *)Asumsi : 1 US$ = Rp.9.500,-

    Ketiga, skenario akselerasi disertai efisiensi. Skenario akselerasi

    disertai efisiensi secara umum tidak terlalu berbeda dengan

    skenario akselerasi. Hanya saja skenario ini mencoba

    memperhitungkan efisiensi biaya jika industri melakukan substitusi

    energi dari gas alam ke batubara. Hasil wawancara dengan salah

    satu pelaku industri pupuk pada tahun 2012, batubara adalah

    sumber energi yang relatif lebih murah dibandingkan sumber energi

    lainnya. Oleh karena itu, pada skenario ini sumber energi diganti

    dari gas alam menjadi batubara.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 129

    Batubara yang digunakan dalam skenario ini diasumsikan memiliki

    nilai kalori 5.100 kkal/kg. Jika diasumsikan industri pupuk

    menggunakan batubara dengan kalori 5.100 kkal/kg atau 5.100

    Mkal/ton, maka total energi yang dibutuhkan pada skenario

    akselerasi pada 2025 adalah 1.370 juta MMBTU gas alam yang

    semuanya digunakan hanya untuk bahan baku. Selain itu, jumlah

    batubara yang dibutuhkan untuk bahan bakar pada 2025 sebanyak

    2,09 juta ton atau setara 12.414 GWH, lihat Tabel 6.18. Jika terjadi

    substitusi dari gas alam menjadi batubara, pada 2012 dan 2025

    Indonesia dapat menghemat secara berturut-turut sekitar Rp.1,02

    triliun atau 108 juta US$ dan Rp.2,81 triliun atau 296 juta US$, lihat

    Gambar 6.6.

    Gambar 6.6. Proyeksi Konsumsi Energi yang Dibutuhkan Industri

    Pupuk dalam Skenario Akselerasi disertai Efisiensi

    Selanjutnya, pada Tabel 6.20 menunjukkan proyeksi kekurangan

    energi pada industri pupuk hingga 2025 berdasarkan tiga skenario.

    Berdasarkan skenario BaU, pada 2012 total kekurangan energi gas

    mencapai 85 juta MMBTU dimana terdiri dari 83 juta MMBTU untuk

    bahan baku dan 3 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara

    dengan 1.105 GWH. Pada 2025, defisit energi meningkat hingga

    lebih dari sebelas kali lipat menjadi 921 juta MMBTU terdiri dari 893

    juta MMBTU untuk bahan baku, dan 28 juta MMBTU untuk bahan

    bakar atau setara 8.456 GWH, lihat Tabel 6.19.

  • 130 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Pada skenario akselerasi maupun skenario akselerasi disertai

    efisiensi di industri pupuk, jumlah kekurangan energinya sama

    besar. Hal ini dikarenakan perbedaan penggunaan sumber energi

    pada kedua skenario tersebut. Skenario akselerasi diasumsikan

    seluruh energi baik untuk bahan baku dan bahan bakar berasal dari

    gas alam, sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi, gas

    alam hanya untuk bahan baku dan gas alam untuk bahan bakar

    disubstitusi oleh batubara sehingga dapat lebih efisien secara biaya.

    Kekurangan energi pada skenario akselerasi pada 2012 mencapai

    121 juta MMBTU gas alam yang terdiri dari 118 juta MMBTU untuk

    bahan baku dan 3 juta MMBTU untuk bahan bakar. Untuk skenario

    akselerasi disertai efisiensi kekurangan gas alam sebesar 106 juta

    MMBTU untuk bahan baku, sedangkan bahan bakar tidak lagi

    menggunakan gas alam tetapi batubara, lihat Tabel 6.20.

    Tabel 6.20. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Pupuk 2012-

    2025

    Skenario Jenis Energi/

    Total Biaya Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 85 123 164 208 492 921

    Bahan

    Baku Juta MMBTU ( B ) 83 119 159 202 477 893

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU ( C ) 3 4 5 6 15 28

    GWH 1.105 1.436 1.796 2.185 4.685 8.456

    Akselerasi Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 121 162 206 253 559 1.019

    Bahan

    Baku Juta MMBTU ( B ) 118 157 199 246 542 989

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU ( C ) 4 5 6 8 17 31

    GWH 1.416 1.772 2.158 2.576 5.261 9.310

    Akselerasi

    + Efisiensi Gas

    Total

    Juta MMBTU

    ( A=B+C ) 106 145 188 234 530 977

    Bahan

    Baku Juta MMBTU ( B ) 106 145 188 234 530 977

    Bahan

    Bakar

    Juta MMBTU ( C ) - - - - - -

    GWH 1.416 1.772 2.158 2.576 5.261 9.310

    Sumber: Laporan Tahunan PT PUSRI Berbagai Tahun, diolah INDEF (2012)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 131

    6.6. Industri Semen

    6.6.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Semen

    Industri semen merupakan salah satu jenis industri yang paling

    banyak mengkonsumsi energi. Hal tersebut dapat dilihat dari

    struktur biaya produksi pada industri semen. Gambar 6.7

    menunjukkan bahwa komponen energi memakan biaya sebesar

    34,65 persen dari total biaya produksi, sedikit di bawah komponen

    biaya bahan baku yang mencapai 38,29 persen. Selain itu,

    dikarenakan industri ini merupakan industri yang tergolong capital

    intensive, maka biaya untuk tenaga kerja hanya memakan porsi

    11,26 persen.

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, 2011

    Gambar 6.7. Komposisi Biaya Produksi pada Industri Semen 2009

    (persen)

    Energi yang digunakan pada industri semen dibedakan menjadi dua

    jenis, yaitu berupa energi primer berupa batubara, dan energi

    sekunder berupa listrik. Data yang ditunjukkan pada Gambar 6.8

    menunjukkan bahwa batubara merupakan jenis energi yang paling

    banyak digunakan oleh industri semen dengan proporsi sebesar

    57,87 persen dari total biaya energi. Selain itu penggunaan energi

    listrik juga terlihat penting dalam industri ini karena memiliki

  • 132 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    proporsi yang cukup besar yakni mencapai 36,12 persen dari total

    biaya energi. Penggunaan BBM dan gas pada industri ini relatif kecil,

    saat ini proporsinya hanya kurang dari 5 persen.

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, 2011

    Gambar 6.8. Komposisi Biaya Energi pada Industri Semen

    Tahun 2009 (persen)

    Gas berpeluang untuk dioptimalkan penggunaannya dalam proses

    produksi industri semen, karena gas memiliki kadar kalori yang

    lebih tinggi dari batubara dan relatif lebih ramah lingkungan.

    Namun sulitnya untuk mendapatkan gas saat ini menjadi kendala

    dalam pemenuhan kebutuhan energi tidak hanya pada industri

    semen, melainkan pada industri lainnya yang padat energi.

    6.6.2. Kebutuhan Energi Industri Semen

    Kapasitas terpasang industri semen saat ini mencapai 56,8 juta ton.

    dengan utilisasi rata-rata baru mencapai sekitar 80 persen atau

    sebesar 45,2 juta ton semen pada 2011. Dalam sepuluh tahun

    terakhir yaitu 2002-2011, kapasitas terpasang industri semen telah

    tumbuh 19,64 persen, di mana pada 2002 sebesar 47,5 juta ton dan

    tahun 2011 mencapai 56,8 juta ton. Pertumbuhan produksi semen

    nasional selama periode tersebut meningkat jauh lebih tinggi. Pada

    2002 produksi semen nasional baru mencapai 30,7 juta ton,

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 133

    kemudian meningkat 47,25 persen pada tahun 2011 menjadi

    sebesar 45,2 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa utilisasi pada

    industri semen semakin meningkat. Pada 2002 utilisasi baru

    mencapai 65 persen, namun pada 2011 telah mencapai 80 persen,

    bahkan utilisasi industri semen sempat mencapai 86 persen pada

    2008.

    Di sisi lain, dalam periode yang sama konsumsi semen nasional

    tumbuh lebih besar lagi, yaitu mencapai 76,25 persen selama 2002-

    2011 atau sekitar 34,8 juta ton per tahun. Hal ini menjadi insentif

    tersendiri bagi produsen semen untuk terus meningkatkan

    kapasitas terpasang dan memaksimumkan utilisasi produksinya.

    Penurunan ekspor semen yang terjadi pada periode tersebut

    dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

    Sumber energi utama yang digunakan pada industri semen adalah

    batubara. Pada kapasitas terpasang saat ini, industri semen

    membutuhkan lebih dari 6 juta ton batubara atau 190 juta Giga

    Joule (GJ) yang setara dengan 31,05 juta Barrels of Oil Equivalent

    (BOE) atau Setara Barel Minyak (SBM). Namun untuk melakukan

    percepatan pertumbuhan produksi semen demi mengejar

    ketertinggalan konsumsi semen per kapita, dibutuhkan jumlah

    batubara yang lebih besar lagi. Permasalahan yang saat ini muncul

    terkait dengan suplai batubara untuk semen adalah rendahnya

    kandungan kalori batubara, karena batubara kalori tinggi lebih

    diutamakan untuk diekspor. Akibatnya industri nasional termasuk

    semen hanya mendapatkan batubara dengan kadar kalori yang

    lebih rendah.

    Untuk menghasilkan 1 ton semen di Indonesia memerlukan sekitar

    0,15 ton batubara yang mengandung 760-780 kilo kalori dan 120

    kwh listrik atau 103.181,4 kilo kalori. Jadi total kalori yang

    dibutuhkan untk menghasilkan 1 ton semen adalah 103.961 kilo

    kalori. Intensitas energi pada industri semen di Indonesia tersebut

    sedikit lebih besar dibanding Jepang. Artinya industri semen

    Indonesia sedikit lebih lebih boros dalam jumlah penggunaan

  • 134 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    batubara. Hal ini dikarenakan kualitas batubara yang digunakan

    relatif lebih buruk (rendah kalori) dibanding negara-negara lain

    sehingga membutuhkan jumlah batubara yang lebih banyak.

    Dalam kajian ini proyeksi keburuhan energi pada industri semen

    dirancang dalam 3 skenario, yaitu skenario Business as Usual (BaU),

    skenario akselerasi dan skenario akselerasi disertai efisiensi. Pada

    skenario BaU diasumsikan produksi semen, kapasitas terpasangnya

    dan konsumsi semen nasional mengalami peningkatan 10 persen

    per tahun. Sementara utilisasi produksi diasumsikan telah mencapai

    kisaran angka 85 persen per tahun. Skenario akselerasi diasumsikan

    Indonesia ingin menggenjot konsumsi semen per kapita, untuk itu

    kapasitas terpasang, produksi dan konsumsi harus tumbuh minimal

    15 persen per tahun hingga tahun 2025. Di lain hal skenario

    akselerasi disertasi efisiensi adalah skenario akselerasi yang

    menekankan pada pengalihan jenis energi, dari energi yang relatif

    kurang efisien (mahal) ke jenis energi yang lebih efisien (murah),

    selain itu disertai dengan target untuk meningkatkan konsumsi

    semen per kapita. Dalam ini penggunaan batubara sebagian

    dialihkan menjadi gas alam.

    Seperti yang telah dijelaskan bahwa kapasitas terpasang industri

    semen akan terus meningkat karena banyak produsen semen yang

    akan segera memperluas usahanya. Asosiasi Semen Indonesia (ASI)

    memproyeksikan hingga tahun 2025 kapasitas terpasang, produksi

    dan konsumsi semen nasional akan mengalami pertumbuhan

    dengan besaran rata-rata 10 persen per tahun.

    Dengan asumsi demikian atau Business as Usual (BaU), maka

    diproyeksikan pada tahun 2025 produksi semen akan mencapai

    193,11 juta ton dengan kapasitas terpasang sebesar 227.4 juta ton.

    Jumlah produksi ini telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi

    semen dalam negeri yang pada tahun 2025 nanti diprediksikan akan

    mencapai sebesar 182,3 juta ton. Saat ini produksi semen dalam

    negeri masih sedikit di bawah konsumsinya. Pada 2025, sebagian

    surplus produksi dapat dialokasikan untuk kebutuhan ekspor.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 135

    Semua hal tersebut dapat terjadi apabila utilisasi produksi semen

    mencapai 85 persen per tahun.

    Skenario BaU menghasilkan perhitungan bahwa konsumsi semen

    per kapita Indonesia akan sulit mengejar negara-negara lain

    khususnya di ASEAN seperti Brunei, Malaysia, Thailand, Singapore

    dan Vietnam. Jika menggunakan asumsi BaU, hingga tahun 2025

    konsumsi semen per kapita Indonesia baru mencapai 671 kg per

    kapita. Jumlah tersebut sedikit lebih banyak dari jumlah konsumsi

    semen per kapita Malaysia saat ini, lihat Gambar 6.9. Untuk

    menyamai Malaysia saja baru akan mungkin terjadi setelah tahun

    2022, namun dengan catatan Malaysia tidak menambah konsumsi

    semen per kapitanya hingga 2022. Maka diperlukan suatu skenario

    kebijakan dengan target mempercepat pertumbuhan konsumsi

    semen per kapita agar dapat mengejar ketertinggalan tersebut.

    Sumber: ASEAN Economic Indicator, 2011

    *) Tahun 2011

    Gambar 6.9. Konsumsi Semen Per Kapita Tahun 2010 (kilogram)

    Agar konsumsi semen per kapita Indonesia dapat meningkat dan

    mengejar ketertinggalan dari negara lain, maka pasokan batubara

    pada industri semen harus ditambah menjadi hampir dua kali lipat

    dari jumlah penggunaan yang sekarang, atau sekitar 11 juta ton

    batubara. Jika hal ini tercapai maka utilisasi industri semen akan

  • 136 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    semakin meningkat yang artinya pertumbuhan produksi semen

    mengalami percepatan. Pada skenario akselerasi ini, Indonesia

    diprediksi akan dapat mengejar konsumsi per kapita Thailand yang

    saat ini tercatat sebesar 392,93 kg per kapita.

    Pada Gambar 6.9. terlihat bahwa konsumsi semen per kapita

    Indonesia baru mencapai sebesar 200 kg per kapita, masih di bawah

    Thailand (392,9 kg per kapita), Malaysia (587 kg per kapita) dan

    Vietnam (578,6 kg per kapita). Setidaknya pada skenario akselerasi

    Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara

    tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

    Skenario efisiensi disertai akselerasi yang menekankan pada

    pengalihan sebagian jens energi dinilai dapat berpotensi

    menghemat biaya pada industri semen. Penggunaan gas alam pada

    industri semen dinilai jauh lebih efisien daripada penggunaan

    batubara. Pemakaian batubara untuk pembakaran dalam tanur

    putar atau KILN (alat pembakaran bahan dasar semen dengan suhu

    1450O Celcius) menghasilkan produktivitas yang berbeda apabila

    menggunakan energi gas. Operasi pembakaran dengan batubara

    akan memerlukan konsumsi panas persatuan produk yang lebih

    besar dibandingkan gas.

    Hal ini disebabkan adanya perbedaan pola operasi pembakaran dari

    kedua jenis bahan bakar tersebut. Operasi pembakaran batubara

    memerlukan udara dingin yang jauh lebih besar sedangkan operasi

    pembakaran gas alam memakai udara yang agak panas. Disamping

    itu, operasi pembakaran batubara menghasilkan suhu nyala yang

    lebih rendah serta stabilitas yang kurang baik dibandingkan dengan

    gas alam. Kedua hal ini akan memperpendek umur dari lapisan batu

    tahan api pada tanur putar. Keadaan inilah yang menyebabkan

    operasi pembakaran dengan memakai batubara akan kurang

    produktif dibandingkan dengan operasi pembakaran dengan gas

    alam.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 137

    Secara ringkas, ketiga skenario tersebut dapat dilihat pada Tabel

    6.20. Skenario Business as Usual memperlihatkan kebutuhan energi

    industri semen pada 2025 sebesar 23.321,54 gWh (gigawatt hour).

    Pada skenario akselerasi kebutuhan energi industri semen pada

    2025 sebesar 38.320,22 gWh. Sementara pada skenario akselerasi

    disertai efisiensi, kebutuhan energi industri semen sama seperti

    hasil pada skenario akselerasi yaitu 38.320,22 gWh, namun dengan

    tingkat diversifikasi jenis energi ke arah yang lebih efisien bagi

    industri semen,dimana penggunaan batubara diasumsikan akan

    dikurangi sekitar separuhnya dan digantikan oleh gas alam.

    Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri semen hingga

    2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi, seperti

    batubara, listrik ataupun gas alam. Dengan asumsi kebutuhan

    energi tersebut dipenuhi dari sumber energi listrik dan batubara,

    maka kebutuhan batubara pada 2025 sebesar 24,9 juta ton dan

    kebutuhan listrik sebesar 23.173,5 gWh, lihat Tabel 6.22. Pada

    skenario akselerasi disertai efisiensi, permintaan batubara

    berkurang dan permintaan gas meningkat.

    Tabel 6.21. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen (gWh)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Business as Usual 5.900,3 6.490,3 7.139,4 7.853,3 13.840,2 23.321,5

    Akselerasi 6.417,7 7.540,2 8.859,1 10.408,6 21.393,4 38.589,9

    Akselerasi Disertai Efisiensi 6.417,7 7.540,2 8.859,1 10.408,6 21.393,4 38.589,9

    Sumber: ASI, diolah INDEF (2012)

    Asumsi:

    Business as Usual

    1. Pertumbuhan kapasitas terpasang, produksi dan konsumsi semen 10 persen per tahun;

    2. Per ton semen membutuhkan 120 kWh dan 0,15 ton batubara

    3. Utilisasi 80 persen

    Akselerasi

    4. Rencana perluasan (ekspansi) pabrik semen (2012-2025) beroperasi sesuai target;

    5. Pertumbuhan produksi semen 15 persen per tahun;

    6. Pertumbuhan konsumsi semen 15 persen per tahun;

    7. Utilisasi 85 persen

    Akselerasi Disertai Efisiensi

    8. Diversifikasi energi (batubara ke gas alam )sekitar separuhnya (50 persen)

  • 138 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Tabel 6.22. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU

    a) Listrik gWh 5.862 6.449 7.094 7.803 13.752 23.173

    b) Batubara Jt Ton 6,3 6,9 7,6 8,4 14,8 24,9

    Akselerasi

    a) Listrik gWh 6.379 7.495 8.806 10.348 21.265 38.320

    b) Batubara Jt Ton 6,7 7,8 9,1 10,5 22,1 46,4

    Akselerasi Efisiensi

    a) Listrik gWh 6.379 7.495 8.806 10.348 21.265 38.320

    b) batubara Jt Ton 3,8 4,5 5,3 6,2 12,8 23,1

    c) Gas MMBTU 82.200 96.585 113.488 133.348 274.042 493.831

    Sumber: ASI, diolah INDEF (2012)

    Sesuai dengan hasil proyeksi kebutuhan energi pada Tabel 6.22,

    maka tentunya masih sangat banyak energi yang dibutuhkan hingga

    tahun 2025. Jika melihat data aktual pada tahun 2011 yang

    diperoleh dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), untuk memenuhi

    kebutuhan tahun 2025 industri semen membutuhkan energi

    sebesar 17.859 gWh (BaU) dan 33.127 gWh pada skenario

    Akselerasi. Tabel 6.23 menunjukkan hasil kalkulasi proyeksi

    kekurangan energi hingga tahun 2025 jika dibandingan dengan data

    pada tahun 2011.

    Tabel 6.23. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Semen

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU gWh 438 1.028 1.677 2.391 8.378 17.859

    a). Listrik gWh 434 1.021 1.665 2.375 8.324 17.745

    b). Batubara Juta

    Ton 0,59 1,23 1,94 2,72 9,25 19,61

    Akselerasi gWh 955 2.078 3.396 4.946 15.931 33.127

    c) Listrik gWh 950 2.066 3.378 4.919 15.836 32.892

    d) Batubara Juta

    Ton 0,88 1,96 3,21 4,66 16,22 40,52

    Akselerasi Efisiensi gWh 955 2.078 3.396 4.946 15.931 3.127

    d) Listrik gWh 950 2.066 3.378 4.919 15.836 32.892

    e) Batubara Juta

    Ton 0,6 1,2 2,0 3,0 9,5 19,8

    f) Gas MMBTU 12.243 26.628 43.530 63.390 204.084 423.874

    Sumber: ASI, diolah INDEF (2012)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 139

    Skenario BaU menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan di

    tahun 2025, industri semen kekurangan listrik sebesar 17.745 gWh

    dan batubara sebesar 19,61 juta ton. Skenario akselerasi

    memperlihatkan bahwa di tahun 2025 industri ini kekurangan listrik

    sebesar 32,892 gWh dan 40,52 juta ton batubara. Sementara pada

    simulasi akselerasi disertai efisiensi, dimana kebutuhan batubara

    diasumsikan berkurang 50 persen dan gas bertambah 50 persen,

    maka batubara masih kurang sebesar 19,8 juta ton dan gas alam

    masih kurang sebesar 432.874 MMBTU.

    Secara ekonomi jika proporsi energi batubara dapat dikurangi

    sebesar 50 persen, kemudian digantikan dengan gas alam, maka

    biaya energi pada industri semen akan menurun. Hal ini salah

    satunya dikarenakan harga gas alam lebih relatif murah dari pada

    harga batubara. Hal yang sama juga dapat terjadi jika intensitas

    energi untuk menghasilkan per satuan semen dapat dikurangi,

    maka biaya energi juga dapat diturunkan. Apabila skenario

    akselerasi disertai efisiensi yaitu berupa diversifikasi energi dapat

    dilakukan, maka dapat menghemat biaya energi sekitar Rp1,4 triliun

    pada 2025, lihat Tabel 6.24.

    Tabel 6.24. Penghematan Biaya Energi pada Industri Semen

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Penghematan US$ juta 168,3 166,4 160,9 151,1 147,5 150,8

    Rp triliun 1,58 1,56 1,51 1,42 1,38 1,41

    Keterangan: Batubara = kalori 5.100 kkal/kg, harga 65 US$/Ton

    Gas Alam = 10,2 US$/MMBTU (harga yang akan berlaku mulai April 2013)

    Sumber: ASI, diolah INDEF (2012)

    6.7. Industri Keramik

    6.7.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Keramik

    Industri keramik merupakan jenis industri yang relatif banyak

    mengkonsumsi energi. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur biaya

    produksinya. Gambar 6.10 menunjukkan bahwa komponen energi

  • 140 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    memakan biaya sebesar 26 persen dari total biaya produksi,

    meskipun komponen biaya bahan baku masih lebih dominan

    dengan porsi sebesar 43 persen. Biaya tenaga kerja mengambil

    porsi sebesar 13 persen dari total biaya produksi, sementara

    komponen biaya lainnya mengambil porsi sisanya yaitu 15 persen.

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, 2011

    Gambar 6.10. Biaya Produksi pada Industri Keramik Tahun 2009

    (Persen)

    Energi yang digunakan pada industri keramik dibedakan menjadi

    dua jenis, yaitu energi primer berupa gas alam, dan energi sekunder

    berupa listrik. Gambar 6.11 menunjukkan bahwa gas merupakan

    jenis energi yang paling banyak digunakan oleh industri keramik

    dengan proporsi sebesar 49,14 persen dari total biaya energi. Selain

    itu penggunaan energi listrik juga relatif penting karena memiliki

    proporsi 22,22 persen dari total biaya energi, sementara BBM

    mencapai 15 persen.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 141

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, 2011

    Gambar 6.11 Biaya Energi pada Industri Keramik Tahun 2009

    (Persen)

    Ketersediaan gas sangat menentukan keberlangsungan produksi

    keramik, karena sifat spesifik gas yang tidak bisa digantikan oleh

    sumber energi lain. Pembakaran tanur keramik dengan energi gas

    menghasilkan panas tinggi yang sangat dibutuhkan dalam

    pembakaran keramik, dan panas tinggi ini tidak bisa digantikan oleh

    energi lain. Namun sulitnya untuk mendapatkan gas saat ini

    menjadi kendala dalam pengembangan industri keramik masa

    depan.

    6.7.2. Kebutuhan Energi Industri

    Kapasitas terpasang industri keramik saat ini mencapai 370 juta M2,

    dengan utilisasi rata-rata mencapai 70-80 persen atau sebesar 310

    juta M2

    pada 2011. Tahun 2012 ini diprediksi kapasitas terpasang

    industri keramik akan tumbuh di atas 10 persen, yang didorong oleh

    permintaan permintaan dari sektor konstruksi yang saat ini sedang

    tumbuh pesat. Pertumbuhan konsumsi keramik nasional selama 5

    tahun terakhir meningkat lebih tinggi daripada pertumbuhan

    produksinya.

  • 142 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Pada tahun 2006 konsumsi keramik mencapai 148 juta M2,

    kemudian pada tahun 2011 tumbuh lebih dari 100 persen menjadi

    299 juta M2. Kendati demikian, konsumsi keramik per kapita

    Indonesia masih tergolong kecil, yaitu mencapai sekitar 1 m2,

    sedangkan di negara-negara tetangga sudah mencapai 2 m2 per

    kapita.

    Pertumbuhan konsumsi keramik yang tinggi tersebut menjadi

    insentif bagi produsen keramik untuk terus meningkatkan kapasitas

    terpasang industri ini. Oleh sebab itu, khususnya tahun 2012

    kapasitas terpasang industri keramik diprediksi bisa meningkat

    sebesar 12 persen, namun tingkat utilisasinya baru mencapai 70-80

    persen. Keterbatasan gas diyakini para pelaku usaha industri

    keramik sebagai hambatan untuk optimalisasi produksi keramik.

    Industri keramik membutuhkan lebih dari 140 MMSCFD untuk

    memenuhi kebutuhan kapasitas terpasang saat ini. Dari jumlah gas

    yang dibutuhkan tersebut hanya sekitar 80-90 persen yang tersedia.

    Selama ini para pelaku industri menilai bahwa gas lebih diutamakan

    untuk kebutuhan ekspor daripada untuk kebutuhan industri dalam

    negeri. Akibatnya kebutuhan gas untuk industri nasional termasuk

    keramik tidak dapat terpenuhi secara optimal.

    Di Indonesia, untuk menghasilkan 1 ton keramik memerlukan

    energi sekitar 16,6 Giga Joule (GJ) atau 4,61 mWh. Intensitas energi

    pada industri keramik di Indonesia masih lebih besar dibanding

    negara lain, misalnya Vietnam hanya membutuhkan energi sebesar

    12,9 GJ atau 3,58 mWh per ton keramik. Artinya industri keramik

    Indonesia sedikit lebih lebih boros dalam menggunakan energi.

    Teknologi dan inovasi masih sangat diperlukan untuk mendukung

    penghematan energi pada industri ini.

    Untuk memperkirakan kebutuhan energi pada industri keramik

    hingga tahun 2025, proyeksi kebutuhan energi dilakukan dengan 3

    skenario, yaitu skenario business as usual, skenario akselerasi, dan

    skenario akselerasi disertai efisiensi. Dari ketiga skenario tersebut

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 143

    juga akan dianalisis tentang proyeksi kekurangan energi untuk

    mencapai kebutuhan pada 2025.

    Pada skenario Business as Usual (BaU) diasumsikan produksi

    keramik nasional mengalami peningkatan 8 persen per tahun,

    demikian pula dengan kapasitas terpasangnya (kapasitas produksi)

    dan konsumsi keramik domestik. Sementara utilisasi produksi

    diasumsikan mencapai kisaran angka di atas 70 persen per tahun.

    Jika skenario BaU diterapkan, maka tingkat produksi keramik

    Indonesia akan sulit mengejar negara-negara lain khususnya

    Vietnam, India dan China. Saat ini meskipun Indonesia menduduki

    peringkat 6 dunia dalam jumlah produksi keramik, namun alokasi

    untuk kebutuhan ekspor tergolong sangat kecil, karena besarnya

    pasar domestik. Implikasinya adalah Indonesia tidak menjadi jajaran

    10 negara pengekspor keramik terbesar. Berbeda dengan negara-

    negara lain yang masuk dalam 10 besar produsen keramik juga

    masuk ke dalam 10 besar eksportir keramik.

    Pada skenario Business as Usual, kebutuhan energi industri keramik

    pada tahun 2025 akan mencapai 3.299 gWh, padahal pada tahun

    2012 ini kebutuhan energi industri ini baru mencapai 1.214 gWh,

    lihat Tabel 6.25.

    Tabel 6.25. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik

    (gWh)

    Skenario 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Business as Usual 1.214 1.310 1.415 1.528 2.245 3.299

    Akselerasi 1.259 1.408 1.577 1.768 3.115 5.479

    Akselerasi Disertai Efisiensi 1.202 1.344 1.506 1.688 2.974 5.232

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian, diolah

    INDEF (2012)

    Proyeksi kebutuhan energi khususnya gas dalam skema akselerasi

    berpaduan dengan roadmap industri keramik nasional. Dalam

    roadmap tersebut pemerintah membuat target atau sasaran jangka

    menengah yaitu tercapainya utilitas produksi rata-rata 90 persen

  • 144 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    hingga tahun 2020, dengan maksud agar produksi industri keramik

    mendekati titik optimalnya. Pada skenario akselerasi dengan

    menggunakan target utilisasi tersebut, maka tahun 2025

    pemerintah harus menyediakan energi sebesar 5.479 gWh.

    Ditjen EBTKE, KESDM melihat potensi penghematan energi pada

    industri, keramik sebesar 5 persen. Jika skenario diterapkan yaitu

    akselerasi disertai efisiensi, maka pada 2025 kebutuhan energi

    industri keramik mencapai 5.232 gWh.

    Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri keramik hingga

    2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi, seperti

    batubara, listrik ataupun gas alam. Dengan asumsi kebutuhan energi

    tersebut dipenuhi dari sumber energi gas, listrik dan BBM, maka

    menurut skenarion BaU kebutuhan gas pada 2025 adalah sebesar

    129.624 MMBTU, BBM sebesar 1.053.331 barel dan kebutuhan listrik

    sebesar 1.586,4 gWh, lihat Tabel 6.26.

    Pada skenario akselerasi kebutuhan gas pada 2025 adalah sebesar

    179.408 MMBTU, BBM sebesar 1.752.607 barel, dan kebutuhan

    listrik sebesar 2.639,5 gWh. Kebutuhan ini sedikit mengalami

    penurunan jika dilakukan strategi penghematan dan efisiensi

    prosed produksi di industri keramik, meskipun terlihat bahwa

    penghematan energi yang bisa dilakukan tidak terlalu besar.

    Tabel 6.26. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU

    a. Gas MMBTU 51.298 51.476 55.594 60.041 88.220 129.624

    b. BBM Barrel 387.308 418.292 451.756 487.896 716.879 1.053.331

    c. Listrik gWh 583,3 630,0 680,4 734,8 1.079,7 1.586,4

    Akselerasi

    a. Gas MMBTU 51.298 51.476 57.511 71.559 122.102 179.408

    b. BBM Barrel 401.652 449.851 503.833 564.293 994.476 1.752.607

    c. Listrik gWh 604,9 677,5 758,8 849,9 1.497,7 2.639,5

    Akselerasi Disertai Efisiensi

    a. Gas MMBTU 48.733 48.902 54.635 67.981 115.997 170.437

    b. BBM Barrel 381.570 427.358 478.641 536.078 944.753 1.664.977

    c. Listrik gWh 575,0 644,0 721,0 807,0 1.423,0 2.508,0

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian, diolah INDEF

    (2012)

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 145

    Hasil proyeksi pada Tabel 6.26 dikurangkan (selisih) dengan

    konsumsi riil energi pada industri keramik tahun 2010. Hasil

    perhitungan ini akan menghasilkan tabel yang menyatakan

    kekurangan energi tahun proyeksi terhadap konsumsi riil tahun

    2010, lihat Tabel 6.27. Pada skenario BaU, industri keramik pada

    2025 masih kekurangan gas sebesar 78.583 MMBTU, BBM sebanyak

    694.713 barel dan listrik 1.046 gWh. Sementara pada skenario

    akselerasi disertai efisiensi, maka kekurangan energi pada tahun

    2025 akan lebih kecil jika dibandingkan dengan tidak terjadi

    efisiensi energi.

    Tabel 6.27. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Keramik

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    BaU

    a. Gas MMBTU 256 434 4.552 8.999 37.178 78.583

    b. BBM Barel 28.689 59.674 93.137 129.278 358.261 694.713

    c. Listrik gWh 43 90 140 195 540 1.046

    Akselerasi

    a. Gas MMBTU 256 434 6.469 20.517 71.060 128.366

    b. BBM Barel 43.034 91.232 145.215 205.674 635.858 1.393.989

    c. Listrik gWh 65 137 219 310 958 2.099

    Akselerasi disertai Efisiensi

    a. Gas MMBTU -2.309 -2.140 3.593 16.939 64.955 119.396

    b. BBM Barel 22.952 68.740 120.023 177.460 586.134 1.306.359

    c. Listrik gWh 35 104 181 267 883 1.967

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian, diolah INDEF

    (2012)

    Selanjutnya, Tabel 6.28 menyajikan besarnya penghematan yang

    bisa dilakukan jika kita menerapkan skenario akselerasi disertai

    efisiensi. Jika penggunaan gas dapat dihemat 5 persen, maka akan

    terjadi penghematan biaya energi sebesar US$91.498 pada tahun

    2025.

    Tabel 6.28. Penghematan Biaya Energi pada Industri Keramik

    Skenario Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025

    Penghematan US$ Ribu 26,1 26,2 29,3 36,4 62,3 91,5

    Rp Juta 245 246 275 343 585 860

    Keterangan: Gas Alam = 10,2 US$/MMBtu (harga yang akan berlaku mulai April 2013)

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian, diolah INDEF

    (2012)

  • 146 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    6.8 Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih

    Kebutuhan energi pada 7 indutri terpilih yang padat energi disajikan

    pada Tabel 6.29 pada skenario Business as Usual, yang

    memperlihatkan bahwa industri pupuk paling banyak memerlukan

    energi. Namun perlu diperhatikan bahwa energi yang dibutuhkan di

    industri pupuk ini sebagian besar yaitu 96 persen dipergunakan

    untuk bahan baku pupuk. jika industri yang lain menggunakan

    energi untuk bahan bakar, maka industri yang paling memerlukan

    energi adalah industri pulp dan kertas. Sementara industri baja dan

    juga industri semen hanya membutuhkan energi sekitar 10 persen

    dari kebutuhan industri pulp dan kertas.

    Tabel 6.29. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih

    pada Skenario Business as Usual (gWh)

    No. Satuan 2012 2015 2025

    1. Baja 4.459 5.570 11.696

    2. Tekstil 20.551 25.277 50.417

    3. Pupuk 140.093 176.143 385.111

    4. Pulp dan Kertas 53.410 59.740 87.540

    5. Pengolahan Kelapa Sawit 382 423 594

    6. Semen 5.900 7.853 23.321

    7. Keramik 1.214 1.528 3.299

    Jumlah 226.009 276.534 561.978

    Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian, diolah INDEF

    (2012)

    Selanjutnya, Tabel 6.30 dan Tabel 6.31 menyajikan kebutuhan

    energi 7 industri terpiliih pada skenario akselerasi dan akselerasi

    disertai efisiensi. Kedua tabel terakhir ini memiliki pola yang sama

    dengan Tabel 6.29 namun dengan angka kebutuhan energi yang

    lebih besar. Secara umum skenario akselerasi disertasi efisiensi

    hanya mampu menghemat pemakaian energi kurang dari 10 persen

    jika dibandingkan dengan skenario akselerasi. Meskipun tidak

    terlalu besar, namun penghematan tersebut tetap patut

    dilaksanakan.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 147

    Tabel 6.30. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih

    pada Skenario Akselerasi (gWh)

    No. Satuan 2012 2015 2025

    1. Baja 4.680 9.464 29.392

    2. Tekstil 25.404 43.213 252.955

    3. Pupuk 150.644 189.331 413.833

    4. Pulp dan Kertas 59.650 66.690 149.950

    5. Pengolahan Kelapa Sawit 535 592 832

    6. Semen 6.497 10.408 38.589

    7. Keramik 1.259 1.768 5.479

    Jumlah 248.669 321.466 891.030

    Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri, diolah INDEF (2012)

    Kebutuhan energi pada skenario akselerasi hanya meningkat

    sebesar sekitar 10 persen dibandingkan dengan pada skenario BaU,

    pada tahun 2012. Pada tahun 2025, terjadi peningkatan sekitar 55

    persen jumlah total kebutuhan energinya. Hal ini mengindikasikan

    bahwa kebijakan akselerasi membutuhkan dukungan semua pihak

    dalam rangka mengamankan pasokan energi untuk 7 industri

    terpilih yang padat energi.

    Tabel 6.31. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih

    pada Skenario Akselerasi disertasi Efisiensi (gWh)

    No. Satuan 2012 2015 2025

    1. Baja 3.120 6.309 19.595

    2. Tekstil 22.408 38.027 222.600

    3. Pupuk 146.348 183.763 404.161

    4. Pulp dan Kertas 58.150 61.110 129.450

    5. Pengolahan Kelapa Sawit 505 559 786

    6. Semen 6.497 10.408 38.589

    7. Keramik 1.202 1.688 5.232

    Jumlah 238.230 301.864 820.413

    Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri, diolah INDEF (2012)

    Tabel 6.32 menunjukkan persebaran kebutuhan setiap jenis energi

    untuk setiap jenis industri yang padat energi pada skenario BaU.

    Terlihat bahwa setiap jenis industri memiliki karakteristik yang

    berbeda-beda untuk kebutuhan energinya. Industri pupuk hanya

  • 148 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    membutuhkan energi gas saja, kebutuhan energi lainnya sangat

    kecil sehingga diabaikan. Industri pulp dan kertas dan industri

    pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi biomass yang terdiri

    dari sekam, sabut, dan limbah pertanian lainnya. Hal ini sesuai

    dengan karakteristik kedua industri tersebut yang berinteraksi

    dengan produk pertanian.

    Tabel 6.32. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih

    pada Skenario Business as Usual

    No. Jenis Industri Skenario Satuan 2012 2015 2025

    1. Baja

    BBM Kilo Liter 104.181 130.147 273.270

    Batubara Ton 22.552 28.173 59.155

    Gas Alam MMBTU 1.065.238 1.615.900 5.388.729

    Listrik gWh 2.898 3.621 7.602

    2. Tekstil

    BBM Kilo Liter 96.038 118.120 235.601

    Batubara Ton 519.733 639.240 1.275.025

    Gas Alam MMBTU 7.014.091 8.626.900 17.207.048

    Listrik gWh 14.386 17.694 35.292

    3. Pupuk

    BBM Kilo Liter 0 0 0

    Batubara Ton 0 0 0

    Gas Alam MMBTU 478.000.000 601.000.000 1.314.000.000

    Listrik gWh 0 0 0

    4. Pulp dan

    Kertas

    BBM Kilo Liter 349.000 391.000 573.000

    Batubara Ton 271.000 308.000 445.000

    Gas Alam MMBTU 14.570.000 16.310.000 23.890.000

    Listrik gWh 17.090 19.120 28.010

    Biomass gWh 26.710 29.870 43.770

    5. Pengolahan

    Kelapa Sawit

    BBM Kilo Liter 12.500 13.840 19.440

    Batubara Ton 5.100 5.700 8.000

    Gas Alam MMBTU 91.000 101.000 141.000

    Listrik gWh 92 102 142

    Biomass gWh 80 89 125

    6. Semen

    BBM Kilo Liter 0 0 0

    Batubara Ton 6.300.000 8.400.000 24.900.000

    Gas Alam MMBTU 0 0 0

    Listrik gWh 5.862 7.803 23.173

    7. Keramik

    BBM Kilo Liter 61.582 77.575 167.480

    Batubara Ton 0 0 0

    Gas Alam MMBTU 51.298 60.041 129.624

    Listrik gWh 583 735 1.586

    TOTAL

    BBM Kilo Liter 623.301 730.682 1.268.791

    Batubara Ton 7.118.385 9.381.113 26.687.180

    Gas Alam MMBTU 500.791.627 627.713.841 1.360.756.401

    Listrik gWh 40.911 49.075 95.805

    Biomass gWh 26.790 29.959 43.895

    Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri, diolah INDEF (2012).

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 149

    Dari kebutuhan BBM sebanyak 623.000 KL pada tahun 2012 dan

    1.268.791 KL pada tahun 2025, terbanyak diserap oleh industri pulp

    dan kertas, sekitar 50 persen. Sisanya diserap oleh industri baja,

    tekstil, dan keramik. Sebagai catatan, kebutuhan konsumsi BBM di

    Indonesia saat ini, baik BBM subsidi maupun non-subsidi, sekitar 66

    juta KL. Sehingga kebutuhan BBM industri pengolahan hanya

    mencakup sekitar 1 (satu) persen dari volume konsumsi BBM

    nasional.

    Dari kebutuhan batubara sebanyak 7,1 juta ton pada tahun 2012

    dan 26,7 juta ton pada tahun 2025, terbanyak diserap oleh industri

    semen sekitar 90 persen, sisanya oleh industri tekstil dan pulp dan

    kertas. Batubara juga dibutuhkan oleh sektor tenaga listrik dan

    ekspor, yang berada diluar cakupan kajian ini. Karena itu kebutuhan

    batubara riil untuk konsumen domestik jauh lebih besar dari angka

    7,1 juta ton tersebut.

    Gas alam atau gas bumi sebanyak 500.791.627 MMBTU dibutuhkan

    pada tahun 2012, yang meningkat menjadi 1.360.756.401 MMBTU

    pada tahun 2025. Dalam terminologi yang umum, kebutuhan gas

    alam pada tahun 2012 dinyatakan dalam satuan MMSCFD atau

    sebesar 1.391 MMSCFD atau kebutuhan sebesar 1.391 MMSCF per

    hari. Dari kebutuhan gas alam sebesar 1.360.756.401 MMBTU pada

    tahun 2025, industri pupuk menyerap sekitar 96 persen. Sebagai

    perbandingan, produksi gas Indonesia saat ini sekitar 5.500

    MMSCFD, yang kira-kira setengahnya dijual ke luar negeri.

    Dari kebutuhan listrik sebanyak 40.911 gWh pada tahun 2012 dan

    95.805 gWh pada tahun 2025, sebagian besar diserap oleh industri

    pulp dan kertas dan industri tekstil, serta industri semen. Industri

    lain, meskipun masuk dalam kategori padat energi, memerlukan

    energi dalam bentuk yang lain.

  • 150 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 151

    BAB VII

    PENUTUP

    7.1. Kesimpulan

    1. Hasil analisis dari 9 subsektor industri terdapat 4 kelompok

    industri yang memiliki porsi pengeluaran untuk energi lebih

    dari 17 persen terhadap total biaya input. Keempat industri

    tersebut adalah: (a) industri makanan, minuman dan

    tembakau; (b) industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki;

    (c) industri pupuk, kimia dan barang dari karet; (d) industri

    semen dan barang galian bukan logam. Di lain pihak, industri

    barang kayu dan hasil hutan lainnya merupakan industri yang

    porsi untuk pengeluaran energi paling kecil. Rendahnya

    intensitas penggunaan pada sub sektor industri barang kayu

    dan hasil hutan, karena hanya sedikit menggunakan energi

    yang berasal dari fosil, dan lebih banyak menggunakan

    energi baru dan terbarukan (EBT).

    2. Pemenuhan kebutuhan energi sektor industri di Indonesia

    secara umum masih didominasi oleh solar (35,02persen),

    batubara (28,90 persen), dan listrik (26,39 persen).

    Sementara porsi gas hanya sebesar 5,75 persen dan bensin

    3,95 persen dari total konsumsi energi sektor industri.

    Padahal, potensi gas alam di Indonesia sangat besar dan

    termasuk sumber energi ramah lingkungan serta berpotensi

    menjadi sumber energi yang lebih efisien karena tidak perlu

    diimpor.

    3. Pada tahun 2010, terdapat defisit pemenuhan kebutuhan

    Gas untuk sektor industri sebesar 445,11 MMSCFD, dimana

  • 152 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    kebutuhan gas sebesar 1.912,55 MMSCFD sementara

    pasokan gas hanya sebesar 1.467,44 MMSCFD. Defisit

    pemenuhan kebutuhan gas untuk industri ini mengalami

    peningkatan pada tahun 2011, dimana defisitnya meningkat

    menjadi sebesar 602,5 MMSCFD. Hal ini dikarenakan

    kebutuhan gas meningkat menjadi 2.003,03 MMSCFD,

    sementara pasokan gas hanya sebesar 1.400,44 MMSCFD.

    4. Dari 9 sub sektorsektor industri, teridentifikasi ada 7 (tujuh)

    jenis industri yang merupakan industri padat energi. Yaitu (1)

    industri pupuk, (2) industri pulp dan kertas, (3) industri

    tekstil, (4) industri semen, (5) industri baja, (6) industri

    keramik, dan (7) industri pengolahan kelapa sawit. Total

    kebutuhan energi pada 7 industri tersebut mencapai sekitar

    70 persen dari total kebutahan energi pada sektor industri.

    5. Tingkat kebutuhan energi pada 7 industri padat energi dalam

    kajian ini menunjukkan bahwa industri pupuk merupakan

    industri yang paling padat energi. Porsi kebutuhan energi

    pada industri pupuk mencapai sekitar 60 persen dari total

    kebutuhan energi 7 industri terpilih. Hal ini dikarenakan

    kebutuhan gas untuk industri pupuk bukan hanya untuk

    bahan bakar, tetapi juga untuk bahan baku. Setelah industri

    pupuk, industri pulp dan kertas menempati urutan kedua,

    yaitu sekitar 23 persen dari total kebutuhan energi industri

    yang padat energi pada tahun 2012.

    6. Jika kebutuhan energi difokuskan hanya untuk bahan bakar

    saja, maka industri pulp dan kertas mendominasi kebutuhan

    energi pada tahun 2012, yaitu sekitar 61 persen dari total

    kebutuhan energi pada industri padat energi, diikuti oleh

    tekstil sebesar 23 persen, sementara industri baja dan semen

    relatif sama yaitu sekitar 6 persen.

    7. Pasokan energi untuk 7 industri padat energi pada tahun

    2012 mencapai 226.009 gWh. Sementara hasil proyeksi

    untuk tahun 2015 kebutuhan energi untuk 7 industri terpilih

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 153

    dengan skenario BaU mencapai 276.534 gWh. Sementara

    jika terjadi akselerasi industri kebutuhan energi mencapai

    321.466 gWh. Namun jika skenario akselerasi diserta

    efisiensi maka kebutuhan energi mengalami penurunan

    menjadi 301.864 gWh. Dengan demikian untuk pemenuhan

    kebutuhan energi pada tahun 2015 dengan skenario BaU

    masih perlu tambahan pasokan energi sebesar 50.525 gWh.

    Sementara jika dengan skenario akselerasi diperlukan

    tambahan pasokan energi sebesar 95.457 gWh. Namun jika

    akselerasi disertai efisiensi maka tambahan pasokan energi

    yang dibutuhkan sebesar 75.855 gWh.

    8. Jika terjadi akselerasi industri, tentu saja akan terjadi

    lonjakan kebutuhan energi. Sebagai contoh kebutuhan

    energi pada tahun 2025 akan meningkat sebesar 55 persen

    dibandingkan dengan skenario BaU. Namun jika akselerasi

    disertai efisiensi akan mampu melakukan penghematan

    energi. Pada 2025, jika terjadi akselerasi industri dibutuhkan

    energi sebanyak 484,1 ribu gWh. Namun jika disertai

    efisiensi akan berkurang menjadi 423,4 ribu gWh. Efisiensi

    penggunaan energi akan mengakibatkan pengurangan

    konsumsi energi sebanyak 12 persen atau senilai kurang

    lebih Rp37 triliun.

    9. Berdasarkan jenis penggunaan energi, proyeksi kebutuhan

    energi pada tahun 2025 pada 7 industri padat energi adalah :

    (a) kebutuhan BBM sebanyak 1.268.791 KL, dimana

    terbanyak diserap oleh industri pulp dan kertas, sekitar 50

    persen, sisanya oleh industri baja, tekstil, dan keramik. (b)

    Kebutuhan batubara sebanyak 26,7 juta ton, terbanyak

    diserap oleh industri semen sekitar 90 persen, sisanya oleh

    industril tekstil dan pulp dan kertas. (c) Gas alam atau gas

    bumi sebanyak 1.360.756.401 MMBTU, industri pupuk

    menyerap sekitar 96 persen, yang sebagian besar digunakan

    untuk bahan baku.

  • 154 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    10. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan industri, maka

    mutlak diperlukan upaya akselerasi industri. Sementara di

    sisi lain, terbatasnya pasokan energi, tingginya intensitas

    penggunaan energi pada hampir semua industri

    dibandingkan negara lain, serta untuk meningkatkan daya

    saing industri maka semua industri juga wajib melakukan

    efisiensi. Dengan demikian, dari ketiga skenario yang

    dilakukan dalam kajian ini, maka skenario akselerasi disertai

    efisiensi merupakan skenario yang paling ideal untuk

    diimplementasikan.

    7.2. Rekomendasi

    7.2.1. Rekomendasi Umum

    1. Untuk mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil,

    mengurangi intensitas penggunaan energi dan agar dapat

    meningkatkan daya saing industri, maka perlu dilakukan

    efisiensi penggunaan energi. Seiring meningkatnya harga

    BBM maka penggunaan batubara dan gas alam sebagai

    sumber energi alternatif perlu lebih ditingkatkan.

    2. Dalam hal penggunaan batubara dan gas, upaya penyediaan

    suplai listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan

    sumber energi pembangkit dari batubara perlu ditingkatkan.

    Penggunaan batubara terintegrasi dan terlokalisasi di

    pembangkit listrik PLN bertujuan untuk menghasilkan

    sumber energi yang lebih efisien dan meminimalisasi

    pencemaran. PLN perlu meningkatkan kapasitas pasokan

    energi untuk industri agar industri dapat mengurangi

    kebutuhan BBM untuk bahan bakar dan mendapatkan

    sumber energi yang lebih efisien.

    3. Dalam rangka pemenuhan defisit kebutuhan gas untuk

    sektor industri di dalam negeri, maka perlu dilakukan

    evaluasi terkait besarnya porsi gas yang di ekspor. Kebijakan

    penggunaan gas seyogyanya diprioritaskan dalam rangka

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 155

    pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dalam rangka

    mendukung program akselerasi industri daripada

    memposisikan gas sebagai instrumen untuk penerimaan

    devisa negara.

    4. Dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan energi,

    beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain : (a)

    program restrukturisasi permesinan pada berbagai sektor

    industri yang disertai dengan sejumlah insentif. (b) Perlu

    membuat industri pengelola limbah yang terintegrasi dengan

    berbagai industri yang lahap energi. Limbah hasil pengolahan

    industri bisa dihubungkan dengan industri pengolahan

    limbah B3, dalam satu wilayah industri bisa dibuat satu

    industri pengumpul limbah yang berfungsi sebagai

    distributor limbah yang akan memanfaatkan limbah sebagai

    bahan bakar. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar ini

    akan sejalan dengan tujuan mewujudkan green industry. (c)

    Perlu kajian yang lebih mendalam terkait kebutuhan energi

    pada industri terpilih terutama terkait dengan perubahan

    penggunaan teknologi.

    5. Disamping 7 industri terpilih, ke depan industri makanan dan

    minuman juga perlu dianalisis mengingat jumlah industri

    makanan dan minuman sangat besar sehingga kebutuhan

    energinya cukup besar dan cakupan skala industrinya yang

    beragam.

    6. Terkait dengan temuan skenario yang ideal untuk mencapai

    akselerasi industri yang hemat energi (skenario akselerasi

    disertai efisiensi), maka perlu kajian lebih mendalam untuk

    mengupayakan agar skenario ini dapat diimplementasikan

    dengan baik. Perlu dikaji secara mendalam koordinasi,

    dukungan dan peran serta antar pemangku kepentingan.

    7. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi sektor industri

    yang efisien maka perlu dikoordinasikan antara perencanaan

    pembangunan kawasan industri (sisi demand/ hilir) dengan

    rencana pembangunan rantai pasok energi (sisi supply/sisi

    hulu).

  • 156 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    8. Pemerintah perlu mendorong penelitian-penelitian yang

    dapat menghasilkan penemuan-penemuan inovatif dalam

    rangka penghematan (efisiensi) energi di sektor industri dan

    upaya untuk mendorong penggunaan energi alternatif

    terbarukan.

    9. Kementerian Perindustrian dengan instansi terkait

    (utamanya kementerian Energi dan Sumber Daya

    Mineral/ESDM) perlu membuat neraca kebutuhan energi,

    agar kebutuhan energi sektor industri terintegrasi dengan sisi

    pasokan energi.

    7.2.2. Rekomendasi Masing-masing Industri Terpilih

    1. Industri Baja

    Penggunaan batubara sebagai sumber pembangkit listrik

    perlu dilakukan sebagai pengganti dari sumber energi gas

    alam yang tingkat risiko ketersediaannya relatif rentan dan

    harganya yang relatif lebih mahal.

    Pada umumnya mesin produksi baja sudah tua sehingga

    efisiensi penggunaan energi dan daya saing rendah, oleh

    karena itu perlu kebijakan insentif investasi (misal tax

    holiday) terutama untuk industri baja yang melakukan

    peremajaan permesinan maupun ekspansi, serta bagi

    pembangunan industri baja baru yang lebih hemat energi.

    2. Industri Semen

    Konsekuensi dari target peningkatan produksi semen

    nasional untuk mengejar ketertinggalan konsumsi semen per

    kapita dengan negara-negara lain adalah kebutuhan energi

    (batubara) yang semakin meningkat. Maka dalam jangka

    pendek, dampak lingkungan yang ditimbulkan dari

    penggunaan batubara yang semakin banyak harus mampu

    dieliminir dengan cara menciptakan suatu industri pengelola

    limbah yang terintegrasi dengan industri semen.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 157

    Dalam jangka panjang, industri semen harus mampu

    melakukan diversifikasi dan konservasi energi. Diversifikasi

    energi dapat dilakukan dengan cara mensubsitusi energi dari

    batubara ke energi yang lebih tinggi kalorinya untuk

    meningkatkan efisiensi, seperti penggunaan gas alam.

    Namun, penggunaan gas alam dalam industri ini harus

    disertai dengan jaminan ketersediaan pasokan.

    3. Industri Pulp dan Kertas

    Mengingat strategisnya industri pulp dan kertas, Pemerintah

    perlu mendorong integrasi antar pabrik pulp dengan pabrik

    kertas, hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pada

    industri pulp dan kertas.

    Teknologi gasifikasi mempunyai peluang untuk

    meningkatkan efisiensi pada industri pulp dan kertas yakni

    dengan penggunaan black liquor. Teknologi ini sering disebut

    black liquor gasification-combined cycle (BLGCC) yang tidak

    hanya bisa digunakan untuk bahan bakar black liquor saja

    tetapi dapat juga menggunakan biomas seperti kulit dan

    potongan kayu. Teknologi lain yang bisa digunakan untuk

    menghemat energi adalah penggunaan teknologi pengering

    yang efisien.

    Pemerintah perlu mendorong penelitian pada industri pulp

    dan kertas agar dapat menghasilkan penemuan-penemuan

    inovatif dalam rangka penghematan (efisiensi) energi di

    industri ini.

    4. Industri Pupuk

    Pentingnya memastikan tersedianya kebutuhan gas alam

    yang mencukupi bagi industri pupuk untuk mendukung

    tercapainya peningkatan ketahanan pangan nasional.

  • 158 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    optimalisasi kapasitas produksi pada industri pupuk perlu

    mendapat perhatian khusus sehingga efisiensi produksi pada

    industri pupuk dapat meningkat, minimal rata-rata efisiensi

    menjadi 86% seperti yang pernah dicapai pada tahun 2004

    dan 2009.

    Salah satu permasalahan klasik pada industri pupuk adalah

    kondisi pabrik yang sudah tua. Oleh karena itu perlu

    pembaharuan pabrik/mesin/teknologi pada industri pupuk

    untuk meningkatkan efisiensi konsumsi energi.

    5. Industri Tekstil

    Pentingnya melanjutkan program restrukturisasi permesinan

    tekstil seperti yang sudah dijalankan, jika perlu skalanya

    diperluas terutama untuk mesin-mesin spinning, mesin

    tenun, mesin rajut, serta mesin garmen agar industri tekstil

    dapat lebih berkembang dengan penggunaan energi yang

    semakin efisien.

    Jaminan kelangsungan energi bagi industri tekstil sangat

    penting, untuk itu perlu konversi sumber energi yang sesuai.

    Seiring meningkatnya harga BBM maka penggunaan

    batubara sebagai sumber energi alternatif bagi pembangkit

    listrik lebih sesuai. Penggunaan batubara juga akan membuat

    industri ini lebih kompetitif baik di pasar domestik maupun

    internasional.

    Dukungan penyediaan suplai listrik oleh PLN perlu

    diperbesar, antara lain dengan penggunaan tenaga listrik

    dari batubara (penggunaan batubara terintegrasi di PLN agar

    lebih ramah lingkungan dan meminimalisasi pencemaran)

    dan suplai gas untuk PLN dijaga dan ditingkatkan untuk

    mendukung tumbuh-kembangnya industri tekstil.

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 159

    6. Industri CPO

    Pemerintah perlu mendorong penguatan penelitian dan

    pengembangan (Litbang) kelapa sawit untuk meningkatkan

    inovasi penggunaan sumber energi/bahan bakar ramah

    lingkungan dan percepatan hilirisasi. Upaya ini antara lain

    dapat dilakukan melalui peningkatan anggaran dan investasi

    Litbang, kerjasama penelitian dan pengembangan antara

    pemerintah, swasta dan lembaga penelitian termasuk

    perguruan tinggi, insentif bagi perusahaan sawit yang

    mengalokasikan/ menginvestasikan dananya dibidang riset,

    dll.

    Peningkatan pemanfaatan biomas dari limbah kelapa sawit

    dan pengembangan biofuel dari minyak sawit.

    7. Industri Keramik

    Pertumbuhan konsumsi keramik nasional yang lebih tinggi

    daripada pertumbuhan kapasitas terpasang maupun

    produksinya akan mengakibatkan impor keramik yang

    semakin tinggi, oleh sebab itu produksi keramik nasional

    harus ditingkatkan dengan pertumbuhan yang lebih besar

    dari pertumbuhan konsumsinya. Konsekuensi dari target

    pemenuhan kebutuhan keramik nasional adalah harus

    tersedianya pasokan energi (gas) untuk industri keramik

    yang sesuai dengan kebutuhannya.

    Untuk memperbesar kapasitas produksi, industri keramik

    membutuhkan kenaikan pasokan gas rata-rata 8 hingga 10

    persen per tahun. Ke depan, Industri keramik harus dapat

    melakukan konservasi energi dengan cara melakukan

    penghematan penggunaan gas. Negara lain seperti Vietnam

    sudah lebih berhasil dalam hal penghematan penggunaan

    energi bagi industri keramiknya.

  • 160 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 161

    Daftar Pustaka

    Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, 2011, Direktori 2011 Industri

    Pulp dan Kertas Indonesia. Jakarta.

    Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), 2010, Pulp dan Kertas

    Emas Hijau yang Memukau (Peluang, Harapan, dan

    Tantangan)

    Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), 2007,Permasalahan Atas

    Alternatif Sumber Energi, Yaitu Batubara, Untuk Industri

    Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia

    Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), 2010, Energi Untuk Industri

    Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Nasional

    Asosiasi Semen Indonesia, 2012, Indonesia Cement Statistic 2011.

    Jakarta.

    Badan Standarisasi Nasional, 2010, SNI Penguat Daya Saing Bangsa

    BPS, 2012, Statistik Industri Besar dan Sedang BPS

    Ditjen EBTKE, KESDM, 2012, Kebijakan dan Potensi Efisiensi Energi

    Di Indonesia

    Ditjen EBTKE, KESDM, 2012, Kerangka Kebijakan dan Instrumen

    Regulasi Konservasi dan Efisiensi Energi

    Energy Commission of Malaysia, 2012, Review On Energy Efficiency

    In Malaysia

    FIPGB, 2012, Kebutuhan Gas Bumi untuk Industri dalam negeri.

    Indonesia Commercial Newsletter, 2012, Perkembangan Industri

    Prioritas

    IEA, 2011, World energi Outlook Report

  • 162 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    Indonesian Iron and Steel Industry association (IISIA), 2012,

    Perkembangan Baja

    Kementerian ESDM, 2011, Handbook Energy 2010

    Kementerian ESDM, 2006, Blueprint Pengelolaan Energi Nasional

    (PEN)

    Kementerian Perindustrian, 2012, Rencana Strategis Kementrian

    Perindustrian 2010-2014

    Kementerian Perindustrian, 2011, Akselerasi Industrialisasi 2012-

    2014

    Kementerian Perindustrian, 2011, Peraturan Direktur Jenderal Basis

    Industri Manufaktur No.01/BIM/PER/1/2011

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2004

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2005

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2006

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2007

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2008

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2009

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2010

    Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2011

    PT. Krakatau Steel Tbk, 2010, Prospektus PT KS, 2 November 2010

    PT. Krakatau Steel Tbk, 2012, Analyst Meeting PT Krakatau Steel

    (Persero) Tbk. 15 Maret 2012

    Stephanie J. Battles and Robert K. Adler. 1999. Production, Energy,

    and Carbon Emissions: A Data Profile of the Iron and Steel

    Industry. American Council for an Energy Efficient Economy

    Summer Study on Energy Efficiency in Industry, June 1999

    Sugiyono, Agus, 2009, Penggunaan Energi di Industri Pulp dan

    Kertas: Aspek Teknologi dan Lingkungan, Prosiding Seminar

    Teknologi Pulp dan Kertas 18 November 2009

  • Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 163

    http://www.tambangnews.com/serba-serbi/database/1810-inilah-

    harga-bbm-non-subsidi-periode-15-januari-2012.html

    http://www.djmbp.esdm.go.id/sijh/HBA%20Oktober%202012.pdf

    http://www.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/5931-harga-jual-

    gas-industri-naik-.html

    http://www.bumn.go.id/wp.../03200701.pdf

    http://id.bestconverter.org/unitconverter_energy.php

    http://www.natgas.info/html/natgasunitscalculator.html

    http://www.sca.com/en/publicationpapers/environment/climate-

    changes/energy-management-system/

    http://www.fajarpaper.com

    http://www.asiapulppaper.com/portal/APP_Portal.nsf/c5d55c8977

    8dd4cb472570bb002ebda6/b0b6900aec7d32df4725737d00

    115344?OpenDocument

    http://www.foe.co.uk/resource/briefings/consequence_pulp_pape

    r.html

    http://suarapengusaha.com/2012/11/01/harga-domestik-lebih-

    baik-kurtubi-juga-desak-penghentian-ekspor-gas/

    http://www.bisnis.com/articles/hendi-prio-santoso-harga-gas-

    akan-ekuilibrium

    http://economy.okezone.com/read/2012/01/24/19/562608/harga-

    gas-ekspor-lebih-mahal-dari-domestik

    http://www.shnews.co/detile-3755-membedah-potensi-industri-

    pulp-dan-kertas.html

    http://www.shnews.co/detile-4474-industri-pulp-dan-kertas-ri-

    makin-dominan.html

    http://www.bisnis.com/articles/industri-pulp-and-kertas-minta-

    kesiapan-pasok-gas

    http://www.bbpk.go.id/publications/prosiding/3

  • 164 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

    http://apki.net/?p=2001

    http://www.bisnis.com/articles/industri-pulp-and-kertas-perlu-

    tambahan-1-5-juta-hektare-lahan

    http://indonesiannewnews.blogspot.com/2012/05/indonesia-

    berpotensi-rebut-pasar-pulp.html

    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/28/0337350/Tar

    if.Listrik.Industri.Turun

  • LAMPIRAN

  • 1. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI BAJA

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 22,552 1,065,238 2,898 0 104 20,546 877,217 2,631 0 95 2,006 188,021 267 0 9

    AKSELERASI 23,671 1,118,089 3,042 0 109 20,546 877,217 2,631 0 95 3,125 240,872 411 0 14

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 15,781 745,392 2,028 0 72 20,546 613,567 2,631 0 50 -4,765 131,825 -603 0 22

    2013 BaU 24,289 1,229,208 3,121 0 112 20,546 877,217 2,631 0 95 3,743 351,991 490 0 17

    AKSELERASI 23,671 1,197,952 3,042 0 109 20,546 877,217 2,631 0 95 3,125 320,735 411 0 14

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 21,041 798,635 2,028 0 68 20,546 720,053 2,631 0 42 495 78,582 -603 0 26

    2014 BaU 26,159 1,412,114 3,362 0 120 20,546 877,217 2,631 0 95 5,613 534,897 731 0 25

    AKSELERASI 43,313 2,338,157 5,566 0 200 20,546 877,217 2,631 0 95 22,767 1,460,940 2,935 0 105

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 48,126 1,558,771 3,711 0 117 20,546 877,217 2,631 0 95 27,580 681,554 1,080 0 22

    2015 BaU 28,173 1,615,900 3,621 0 130 20,546 877,217 2,631 0 95 7,627 738,683 990 0 35

    AKSELERASI 47,866 2,745,384 6,151 0 221 20,546 877,217 2,631 0 95 27,320 1,868,167 3,520 0 126

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 63,821 1,830,256 4,101 0 120 20,546 877,217 2,631 0 95 43,275 953,039 1,470 0 25

    2020 BaU 40,824 3,030,168 5,246 0 188 20,546 877,217 2,631 0 95 20,278 2,152,951 2,615 0 93

    AKSELERASI 84,355 6,261,335 10,841 0 389 20,545 877,217 2,631 0 95 63,810 5,384,118 8,210 0 294

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 206,202 4,174,224 7,227 0 135 20,546 877,217 2,631 0 95 185,656 3,297,007 4,596 0 40

    2025 BaU 59,155 5,388,729 7,602 0 273 20,546 877,217 2,631 0 95 38,609 4,511,512 4,971 0 178

    AKSELERASI 148,663 13,542,479 19,105 0 686 20,546 877,217 2,631 0 95 128,117 12,665,262 16,474 0 591

    AKSELERASI DENGAN

    EFISIENSI 528,580 9,028,319 12,737 0 100 20,546 877,217 2,631 0 95 508,034 8,151,102 10,106 0 5

  • 2. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 519,733 7,014,091 14,386 0 96 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -602,096 6,021,768 9,218 0 -218

    AKSELERASI 643,964 8,690,654 17,825 0 118 1,121,829 992,323 5,169 0 313 -477,865 7,698,331 12,656 0 -195

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 566,688 7,647,775 15,686 0 104 1,121,829 992,323 5,169 0 313 -555,141 6,655,452 10,517 0 -209

    2013 BaU 556,850 7,514,998 15,413 0 102 1,121,830 992,323 5,168 0 313 -564,980 6,522,675 10,245 0 -211

    AKSELERASI 768,063 10,365,437 21,260 0 141 1,121,830 992,323 5,169 0 313 -353,767 9,373,114 16,091 0 -172

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 693,226 9,121,585 18,708 0 115 1,121,829 992,324 5,168 0 314 -428,603 8,129,261 13,540 0 -199

    2014 BaU 596,622 8,051,744 16,514 0 110 1,121,830 992,323 5,168 0 350 -525,208 7,059,421 11,346 0 -240

    AKSELERASI 916,136 12,363,774 25,358 0 169 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -205,693 11,371,451 20,190 0 -145

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 847,543 10,880,121 22,315 0 126 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -274,286 9,887,798 17,147 0 -188

    2015 BaU 639,240 8,626,900 17,694 0 118 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -482,589 7,634,577 12,526 0 -196

    AKSELERASI 1,092,828 14,748,324 30,249 0 201 1,121,830 992,323 5,168 0 313 -29,002 13,756,001 25,081 0 -112

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 1,035,664 12,978,525 26,619 0 136 1,121,829 992,323 5,168 0 313 -86,165 11,986,202 21,451 0 -177

    2020 BaU 902,699 12,182,438 24,986 0 166 1,121,829 992,324 5,168 0 313 -219,130 11,190,114 19,818 0 -147

    AKSELERASI 2,641,965 35,654,803 73,128 0 488 1,121,829 992,323 5,168 0 315 1,520,136 34,662,480 67,960 0 173

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 2,801,838 31,376,227 64,353 0 165 1,121,830 992,323 5,168 0 314 1,680,008 30,383,904 59,185 0 -149

    2025 BaU 1,275,015 17,207,048 35,292 0 235 1,121,829 992,323 5,168 0 313 153,186 16,214,725 30,124 0 -78

    AKSELERASI 6,397,119 86,332,721 177,068 0 1,182 1,121,829 992,323 5,168 0 315 5,275,290 85,340,398 171,900 0 867

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 7,505,953 75,972,794 155,820 0 0 1,121,829 992,323 5,168 0 314 6,384,124 74,980,471 150,652 0 -314

  • 3. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI CPO

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 5,100 91,000 91 80 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 7,200 127,000 128 112 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 6,800 120,000 121 106 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    2013 BaU 5,300 94,000 94 82 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 7,400 132,000 132 116 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 7,000 124,000 125 109 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    2014 BaU 5,500 97,000 98 85 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 7,700 136,000 137 137 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 7,300 129,000 129 113 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    2015 BaU 5,700 101,000 101 88 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 8,000 141,000 142 124 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 7,500 133,000 134 117 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    2020 BaU 6,700 119,000 120 105 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 9,500 167,000 168 147 22 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 8,900 158,000 159 139 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    2025 BaU 8,000 141,000 142 124 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI 11,280 198,000 199 174 27 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 10,650 187,000 188 165 25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

  • 4. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 271,000 14,570,000 17,090 26,710 349 21,000 1,090,000 1,300 2,040 27 250,000 13,480,000 15,790 24,670 322

    AKSELERASI 303,000 16,270,000 19,090 29,830 391 20,000 1,090,000 1,300 2,040 28 283,000 15,180,000 17,790 27,790 363

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 294,000 15,870,000 18,610 29,080 380 20,000 1,100,000 1,300 2,040 26 274,000 14,770,000 17,310 27,040 354

    2013 BaU 281,000 15,150,000 17,740 27,720 362 20,000 1,130,000 1,300 2,030 26 261,000 14,020,000 16,440 25,690 336

    AKSELERASI 315,000 16,890,000 19,810 30,950 405 22,000 1,090,000 1,300 2,030 27 293,000 15,800,000 18,510 28,920 378

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 281,000 15,080,000 17,690 27,650 362 20,000 1,090,000 1,300 2,040 27 261,000 13,990,000 16,390 25,610 335

    2014 BaU 291,000 15,630,000 18,340 28,660 375 20,000 1,100,000 1,300 2,040 27 271,000 14,530,000 17,040 26,620 348

    AKSELERASI 327,000 17,540,000 20,560 32,130 420 21,000 1,130,000 1,300 2,040 27 306,000 16,410,000 19,260 30,090 393

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 294,000 15,870,000 18,600 29,060 380 20,000 1,130,000 1,300 2,030 27 274,000 14,740,000 17,300 27,030 353

    2015 BaU 303,000 16,310,000 19,120 29,870 391 20,000 1,130,000 1,310 2,030 27 283,000 15,180,000 17,810 27,840 364

    AKSELERASI 338,000 18,220,000 21,340 33,350 436 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 318,000 17,090,000 20,040 31,310 409

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 310,000 16,680,000 19,560 30,560 400 21,000 1,120,000 1,310 2,040 27 289,000 15,560,000 18,250 28,520 373

    2020 BaU 367,000 19,690,000 23,090 36,090 472 22,000 1,090,000 1,300 2,040 26 345,000 18,600,000 21,790 34,050 446

    AKSELERASI 572,000 30,750,000 36,020 56,290 737 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 552,000 29,620,000 34,720 54,250 710

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 479,000 25,800,000 30,220 47,220 618 20,000 1,130,000 1,300 2,030 26 459,000 24,670,000 28,920 45,190 592

    2025 BaU 445,000 23,890,000 28,010 43,770 573 22,000 1,100,000 1,300 2,030 27 423,000 22,790,000 26,710 41,740 546

    AKSELERASI 762,000 40,950,000 47,980 74,980 982 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 742,000 39,820,000 46,680 72,940 955

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 657,000 35,350,000 41,420 64,730 847 20,000 1,120,000 1,300 2,040 26 637,000 34,230,000 40,120 62,690 821

  • 5. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI PUPUK

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 0 478,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 85,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 514,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 121,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 760,000 499,000,000 0 0 0 760,000 393,000,000 0 0 0 0 106,000,000 0 0 0

    2013 BaU 0 516,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 123,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 555,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 162,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 820,000 538,000,000 0 0 0 820,000 393,000,000 0 0 0 0 145,000,000 0 0 0

    2014 BaU 0 557,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 164,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 599,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 206,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 890,000 581,000,000 0 0 0 890,000 393,000,000 0 0 0 0 188,000,000 0 0 0

    2015 BaU 0 601,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 208,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 646,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 253,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 960,000 627,000,000 0 0 0 960,000 393,000,000 0 0 0 0 234,000,000 0 0 0

    2020 BaU 0 885,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 492,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 952,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 559,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 1,410,000 923,000,000 0 0 0 1,410,000 393,000,000 0 0 0 0 530,000,000 0 0 0

    2025 BaU 0 1,314,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 921,000,000 0 0 0

    AKSELERASI 0 1,412,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 1,019,000,000 0 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 2,090,000 1,370,000,000 0 0 0 2,090,000 393,000,000 0 0 0 0 977,000,000 0 0 0

  • 6. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI SEMEN

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 6,300,000 0 5,862 0 0 5,710,000 0 5,428 0 0 590,000 0 434 0 0

    AKSELERASI 6,700,000 0 6,379 0 0 5,820,000 0 5,429 0 0 880,000 0 950 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 3,800,000 82,200 6,379 0 0 3,200,000 69,957 5,429 0 0 600,000 12,243 950 0 0

    2013 BaU 6,900,000 0 6,449 0 0 5,670,000 0 5,428 0 0 1,230,000 0 1,021 0 0

    AKSELERASI 7,800,000 0 7,495 0 0 5,840,000 0 5,429 0 0 1,960,000 0 2,066 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 4,500,000 96,585 7,495 0 0 3,300,000 69,957 5,429 0 0 1,200,000 26,628 2,066 0 0

    2014 BaU 7,600,000 0 7,094 0 0 5,660,000 0 5,429 0 0 1,940,000 0 1,665 0 0

    AKSELERASI 9,100,000 0 8,806 0 0 5,890,000 0 5,428 0 0 3,210,000 0 3,378 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 5,300,000 113,488 8,806 0 0 3,300,000 69,958 5,428 0 0 2,000,000 43,530 3,378 0 0

    2015 BaU 8,400,000 0 7,803 0 0 5,680,000 0 5,428 0 0 2,720,000 0 2,375 0 0

    AKSELERASI 10,500,000 0 10,348 0 0 5,840,000 0 5,429 0 0 4,660,000 0 4,919 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 6,200,000 133,348 10,348 0 0 3,200,000 69,958 5,429 0 0 3,000,000 63,390 4,919 0 0

    2020 BaU 14,800,000 0 13,752 0 0 5,550,000 0 5,428 0 0 9,250,000 0 8,324 0 0

    AKSELERASI 22,100,000 0 21,265 0 0 5,880,000 0 5,429 0 0 16,220,000 0 15,836 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 12,800,000 274,042 21,265 0 0 3,300,000 69,958 5,429 0 0 9,500,000 204,084 15,836 0 0

    2025 BaU 24,900,000 0 23,173 0 0 5,290,000 0 5,428 0 0 19,610,000 0 17,745 0 0

    AKSELERASI 46,400,000 0 38,320 0 0 5,880,000 0 5,428 0 0 40,520,000 0 32,892 0 0

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 23,100,000 493,831 38,320 0 0 3,300,000 69,957 5,428 0 0 19,800,000 423,874 32,892 0 0

  • 7. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI KERAMIK

    Tahun

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    SKENARIO Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta Liter)

    PROYEKSI

    2012 BaU 0 51,298 583 0 2,436 0 51,042 540 0 2,255 0 256 43 0 180

    AKSELERASI 0 51,298 604 0 2,526 0 51,042 539 0 2255.459 0 256 65 0 271

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 48,733 575 0 2,400 0 46,424 540 0 2255.459 0 2,309 35 0 144

    - -

    2013 BaU 0 51,476 630 0 2,631 0 51,042 540 0 2255.459 0 434 90 0 375

    AKSELERASI 0 51,476 677 0 2,829 0 51,042 540 0 2255.465 0 434 137 0 574

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 48,902 644 0 2,688 0 46,762 540 0 2255.459 0 2,140 104 0 432

    - -

    2014 BaU 0 55,594 680 0 2,841 0 51,042 540 0 2255.465 0 4,552 140 0 586

    AKSELERASI 0 57,511 758 0 3,169 0 51,042 539 0 2255.459 0 6,469 219 0 913

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 54,635 721 0 3,010 0 51,042 540 0 2255.459 0 3,593 181 0 755

    - -

    2015 BaU 0 60,041 734 0 3,069 0 51,042 539 0 2255.459 0 8,999 195 0 813

    AKSELERASI 0 71,559 849 0 3,549 0 51,042 539 0 2255.465 0 20,517 310 0 1,294

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 67,981 807 0 3,372 0 51,042 540 0 2255.459 0 16,939 267 0 1,116

    - -

    2020 BaU 0 88,220 1,079 0 4,509 0 51,042 539 0 2255.459 0 37,178 540 0 2,253

    AKSELERASI 0 122,102 1,497 0 6,255 0 51,042 539 0 2255.459 0 71,060 958 0 3,999

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 115,997 1,423 0 5,942 0 51,042 540 0 2255.465 0 64,955 883 0 3,686

    - -

    2025 BaU 0 129,624 1,586 0 6,625 0 51,041 540 0 2255.459 0 78,583 1,046 0 4,369

    AKSELERASI 0 179,408 2,639 0 11,023 0 51,042 540 0 2255.459 0 128,366 2,099 0 8,767

    AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 170,437 2,508 0 10,472 0 51,041 541 0 2255.459 0 119,396 1,967 0 8,216

  • REKAPITULASI SKENARIO Business as Usual KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    2012 1 INDUSTRI BAJA 22,552 1,065,238 2,898 0 104 20,546 877,217 2,631 0 95 2,006 188,021 267 0 9

    2 INDUSTRI TEKSTIL 519,733 7,014,091 14,386 0 96 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -602,096 6,021,768 9,218 0 -218

    3 INDUSTRI CPO 5,100 91,000 91 80 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 271,000 14,570,000 17,090 26,710 349 21,000 1,090,000 1,300 2,040 27 250,000 13,480,000 15,790 24,670 322

    5 INDUSTRI PUPUK 0 478,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 85,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 6,300,000 0 5,862 0 0 5,710,000 0 5,428 0 0 590,000 0 434 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 51,298 583 0 2,436 0 51,042 540 0 2,255 0 256 43 0

    180

    2013 1 INDUSTRI BAJA 24,289 1,229,208 3,121 0 112 20,546 877,217 2,631 0 95 3,743 351,991 490 0 17

    2 INDUSTRI TEKSTIL 556,850 7,514,998 15,413 0 102 1,121,830 992,323 5,168 0 313 -564,980 6,522,675 10,245 0 -211

    3 INDUSTRI CPO 5,300 94,000 94 82 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 281,000 15,150,000 17,740 27,720 362 20,000 1,130,000 1,300 2,030 26 261,000 14,020,000 16,440 25,690 336

    5 INDUSTRI PUPUK 0 516,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 123,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 6,900,000 0 6,449 0 0 5,670,000 0 5,428 0 0 1,230,000 0 1,021 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 51,476 630 0 2,631 0 51,042 540 0 2255.459 0 434 90 0

    375

    2014 1 INDUSTRI BAJA 26,159 1,412,114 3,362 0 120 20,546 877,217 2,631 0 95 5,613 534,897 731 0 25

    2 INDUSTRI TEKSTIL 596,622 8,051,744 16,514 0 110 1,121,830 992,323 5,168 0 350 -525,208 7,059,421 11,346 0 -240

    3 INDUSTRI CPO 5,500 97,000 98 85 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 291,000 15,630,000 18,340 28,660 375 20,000 1,100,000 1,300 2,040 27 271,000 14,530,000 17,040 26,620 348

    5 INDUSTRI PUPUK 0 557,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 164,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 7,600,000 0 7,094 0 0 5,660,000 0 5,429 0 0 1,940,000 0 1,665 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 55,594 680 0 2,841 0 51,042 540 0 2255.465 0 4,552 140 0

    586

  • 2015 1 INDUSTRI BAJA 28,173 1,615,900 3,621 0 130 20,546 877,217 2,631 0 95 7,627 738,683 990 0 35

    2 INDUSTRI TEKSTIL 639,240 8,626,900 17,694 0 118 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -482,589 7,634,577 12,526 0 -196

    3 INDUSTRI CPO 5,700 101,000 101 88 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 303,000 16,310,000 19,120 29,870 391 20,000 1,130,000 1,310 2,030 27 283,000 15,180,000 17,810 27,840 364

    5 INDUSTRI PUPUK 0 601,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 208,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 8,400,000 0 7,803 0 0 5,680,000 0 5,428 0 0 2,720,000 0 2,375 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 60,041 734 0 3,069 0 51,042 539 0 2255.459 0 8,999 195 0

    813

    2020 1 INDUSTRI BAJA 40,824 3,030,168 5,246 0 188 20,546 877,217 2,631 0 95 20,278 2,152,951 2,615 0 93

    2 INDUSTRI TEKSTIL 902,699 12,182,438 24,986 0 166 1,121,829 992,324 5,168 0 313 -219,130 11,190,114 19,818 0 -147

    3 INDUSTRI CPO 6,700 119,000 120 105 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 367,000 19,690,000 23,090 36,090 472 22,000 1,090,000 1,300 2,040 26 345,000 18,600,000 21,790 34,050 446

    5 INDUSTRI PUPUK 0 885,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 492,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 14,800,000 0 13,752 0 0 5,550,000 0 5,428 0 0 9,250,000 0 8,324 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 88,220 1,079 0 4,509 0 51,042 539 0 2255.459 0 37,178 540 0

    2,253

    2025 1 INDUSTRI BAJA 59,155 5,388,729 7,602 0 273 20,546 877,217 2,631 0 95 38,609 4,511,512 4,971 0 178

    2 INDUSTRI TEKSTIL 1,275,015 17,207,048 35,292 0 235 1,121,829 992,323 5,168 0 313 153,186 16,214,725 30,124 0 -78

    3 INDUSTRI CPO 8,000 141,000 142 124 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 445,000 23,890,000 28,010 43,770 573 22,000 1,100,000 1,300 2,030 27 423,000 22,790,000 26,710 41,740 546

    5 INDUSTRI PUPUK 0 1,314,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 921,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 24,900,000 0 23,173 0 0 5,290,000 0 5,428 0 0 19,610,000 0 17,745 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 129,624 1,586 0 6,625 0 51,041 540 0 2255.459 0 78,583 1,046 0

    4,369

    Sumber: BPS, Kemenperind dan Asosiasi Industri, diolah (2012)

  • REKAPITULASI SKENARIO AKSELERASI KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    2012 1 INDUSTRI BAJA 23,671 1,118,089 3,042 0 109 20,546 877,217 2,631 0 95 3,125 240,872 411 0 14

    2 INDUSTRI TEKSTIL 643,964 8,690,654 17,825 0 118 1,121,829 992,323 5,169 0 313 -477,865 7,698,331 12,656 0 -195

    3 INDUSTRI CPO 7,200 127,000 128 112 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 303,000 16,270,000 19,090 29,830 391 20,000 1,090,000 1,300 2,040 28 283,000 15,180,000 17,790 27,790 363

    5 INDUSTRI PUPUK 0 514,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 121,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 6,700,000 0 6,379 0 0 5,820,000 0 5,429 0 0 880,000 0 950 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 51,298 604 0 2,526 0 51,042 539 0 2255.459 0 256 65 0 271

    2013 1 INDUSTRI BAJA 23,671 1,197,952 3,042 0 109 20,546 877,217 2,631 0 95 3,125 320,735 411 0 14

    2 INDUSTRI TEKSTIL 768,063 10,365,437 21,260 0 141 1,121,830 992,323 5,169 0 313 -353,767 9,373,114 16,091 0 -172

    3 INDUSTRI CPO 7,400 132,000 132 116 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 315,000 16,890,000 19,810 30,950 405 22,000 1,090,000 1,300 2,030 27 293,000 15,800,000 18,510 28,920 378

    5 INDUSTRI PUPUK 0 555,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 162,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 7,800,000 0 7,495 0 0 5,840,000 0 5,429 0 0 1,960,000 0 2,066 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 51,476 677 0 2,829 0 51,042 540 0 2255.465 0 434 137 0 574

    2014 1 INDUSTRI BAJA 43,313 2,338,157 5,566 0 200 20,546 877,217 2,631 0 95 22,767 1,460,940 2,935 0 105

    2 INDUSTRI TEKSTIL 916,136 12,363,774 25,358 0 169 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -205,693 11,371,451 20,190 0 -145

    3 INDUSTRI CPO 7,700 136,000 137 137 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 327,000 17,540,000 20,560 32,130 420 21,000 1,130,000 1,300 2,040 27 306,000 16,410,000 19,260 30,090 393

    5 INDUSTRI PUPUK 0 599,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 206,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 9,100,000 0 8,806 0 0 5,890,000 0 5,428 0 0 3,210,000 0 3,378 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 57,511 758 0 3,169 0 51,042 539 0 2255.459 0 6,469 219 0 913

  • 2015 1 INDUSTRI BAJA 47,866 2,745,384 6,151 0 221 20,546 877,217 2,631 0 95 27,320 1,868,167 3,520 0 126

    2 INDUSTRI TEKSTIL 1,092,828 14,748,324 30,249 0 201 1,121,830 992,323 5,168 0 313 -29,002 13,756,001 25,081 0 -112

    3 INDUSTRI CPO 8,000 141,000 142 124 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 338,000 18,220,000 21,340 33,350 436 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 318,000 17,090,000 20,040 31,310 409

    5 INDUSTRI PUPUK 0 646,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 253,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 10,500,000 0 10,348 0 0 5,840,000 0 5,429 0 0 4,660,000 0 4,919 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 71,559 849 0 3,549 0 51,042 539 0 2255.465 0 20,517 310 0 1,294

    2020 1 INDUSTRI BAJA 84,355 6,261,335 10,841 0 389 20,545 877,217 2,631 0 95 63,810 5,384,118 8,210 0 294

    2 INDUSTRI TEKSTIL 2,641,965 35,654,803 73,128 0 488 1,121,829 992,323 5,168 0 315 1,520,136 34,662,480 67,960 0 173

    3 INDUSTRI CPO 9,500 167,000 168 147 22 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 572,000 30,750,000 36,020 56,290 737 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 552,000 29,620,000 34,720 54,250 710

    5 INDUSTRI PUPUK 0 952,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 559,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 22,100,000 0 21,265 0 0 5,880,000 0 5,429 0 0 16,220,000 0 15,836 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 122,102 1,497 0 6,255 0 51,042 539 0 2255.459 0 71,060 958 0 3,999

    2025 1 INDUSTRI BAJA 148,663 13,542,479 19,105 0 686 20,546 877,217 2,631 0 95 128,117 12,665,262 16,474 0 591

    2 INDUSTRI TEKSTIL 6,397,119 86,332,721 177,068 0 1,182 1,121,829 992,323 5,168 0 315 5,275,290 85,340,398 171,900 0 867

    3 INDUSTRI CPO 11,280 198,000 199 174 27 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 762,000 40,950,000 47,980 74,980 982 20,000 1,130,000 1,300 2,040 27 742,000 39,820,000 46,680 72,940 955

    5 INDUSTRI PUPUK 0 1,412,000,000 0 0 0 0 393,000,000 0 0 0 0 1,019,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 46,400,000 0 38,320 0 0 5,880,000 0 5,428 0 0 40,520,000 0 32,892 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 179,408 2,639 0 11,023 0 51,042 540 0 2255.459 0 128,366 2,099 0 8,767

    Sumber: BPS, Kemenperind dan Asosiasi Industri, diolah (2012)

  • REKAPITULASI SKENARIO AKSELERASI DISERTAI EFISIENSI KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    2012 1 INDUSTRI BAJA 15,781 745,392 2,028 0 72 20,546 613,567 2,631 0 50 -4,765 131,825 -603 0 22

    2 INDUSTRI TEKSTIL 566,688 7,647,775 15,686 0 104 1,121,829 992,323 5,169 0 313 -555,141 6,655,452 10,517 0 -209

    3 INDUSTRI CPO 6,800 120,000 121 106 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 294,000 15,870,000 18,610 29,080 380 20,000 1,100,000 1,300 2,040 26 274,000 14,770,000 17,310 27,040 354

    5 INDUSTRI PUPUK 760,000 499,000,000 0 0 0 760,000 393,000,000 0 0 0 0 106,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 3,800,000 82,200 6,379 0 0 3,200,000 69,957 5,429 0 0 600,000 12,243 950 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 48,733 575 0

    2,400 0 46,424 540 0 2255.459 0 2,309 35 0

    144

    2013 1 INDUSTRI BAJA 21,041 798,635 2,028 0 68 20,546 720,053 2,631 0 42 495 78,582 -603 0 26

    2 INDUSTRI TEKSTIL 693,226 9,121,585 18,708 0 115 1,121,829 992,324 5,168 0 314 -428,603 8,129,261 13,540 0 -199

    3 INDUSTRI CPO 7,000 124,000 125 109 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 281,000 15,080,000 17,690 27,650 362 20,000 1,090,000 1,300 2,040 27 261,000 13,990,000 16,390 25,610 335

    5 INDUSTRI PUPUK 820,000 538,000,000 0 0 0 820,000 393,000,000 0 0 0 0 145,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 4,500,000 96,585 7,495 0 0 3,300,000 69,957 5,429 0 0 1,200,000 26,628 2,066 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 48,902 644 0

    2,688 0 46,762 540 0 2255.459 0 2,140 104 0

    432

    2014 1 INDUSTRI BAJA 48,126 1,558,771 3,711 0 117 20,546 877,217 2,631 0 95 27,580 681,554 1,080 0 22

    2 INDUSTRI TEKSTIL 847,543 10,880,121 22,315 0 126 1,121,829 992,323 5,168 0 314 -274,286 9,887,798 17,147 0 -188

    3 INDUSTRI CPO 7,300 129,000 129 113 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 294,000 15,870,000 18,600 29,060 380 20,000 1,130,000 1,300 2,030 27 274,000 14,740,000 17,300 27,030 353

    5 INDUSTRI PUPUK 890,000 581,000,000 0 0 0 890,000 393,000,000 0 0 0 0 188,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 5,300,000 113,488 8,806 0 0 3,300,000 69,958 5,428 0 0 2,000,000 43,530 3,378 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 54,635 721 0

    3,010 0 51,042 540 0 2255.459 0 3,593 181 0

    755

  • 2015 1 INDUSTRI BAJA 63,821 1,830,256 4,101 0 120 20,546 877,217 2,631 0 95 43,275 953,039 1,470 0 25

    2 INDUSTRI TEKSTIL 1,035,664 12,978,525 26,619 0 136 1,121,829 992,323 5,168 0 313 -86,165 11,986,202 21,451 0 -177

    3 INDUSTRI CPO 7,500 133,000 134 117 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    Tahun No. INDUSTRI

    KEBUTUHAN PASOKAN KEKURANGAN

    Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar Batubara Gas Listrik Biomassa Solar

    (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh) (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter) (Ton) (MMBTU) (gWh) (gWh)

    (Juta

    Liter)

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 310,000 16,680,000 19,560 30,560 400 21,000 1,120,000 1,310 2,040 27 289,000 15,560,000 18,250 28,520 373

    5 INDUSTRI PUPUK 960,000 627,000,000 0 0 0 960,000 393,000,000 0 0 0 0 234,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 6,200,000 133,348 10,348 0 0 3,200,000 69,958 5,429 0 0 3,000,000 63,390 4,919 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 67,981 807 0

    3,372 0 51,042 540 0 2255.459 0 16,939 267 0

    1,116

    2020 1 INDUSTRI BAJA 206,202 4,174,224 7,227 0 135 20,546 877,217 2,631 0 95 185,656 3,297,007 4,596 0 40

    2 INDUSTRI TEKSTIL 2,801,838 31,376,227 64,353 0 165 1,121,830 992,323 5,168 0 314 1,680,008 30,383,904 59,185 0 -149

    3 INDUSTRI CPO 8,900 158,000 159 139 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 479,000 25,800,000 30,220 47,220 618 20,000 1,130,000 1,300 2,030 26 459,000 24,670,000 28,920 45,190 592

    5 INDUSTRI PUPUK 1,410,000 923,000,000 0 0 0 1,410,000 393,000,000 0 0 0 0 530,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 12,800,000 274,042 21,265 0 0 3,300,000 69,958 5,429 0 0 9,500,000 204,084 15,836 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 115,997 1,423 0

    5,942 0 51,042 540 0 2255.465 0 64,955 883 0

    3,686

    2025 1 INDUSTRI BAJA 528,580 9,028,319 12,737 0 100 20,546 877,217 2,631 0 95 508,034 8,151,102 10,106 0 5

    2 INDUSTRI TEKSTIL 7,505,953 75,972,794 155,820 0 0 1,121,829 992,323 5,168 0 314 6,384,124 74,980,471 150,652 0 -314

    3 INDUSTRI CPO 10,650 187,000 188 165 25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

    4 INDUSTRI PULP DAN KERTAS 657,000 35,350,000 41,420 64,730 847 20,000 1,120,000 1,300 2,040 26 637,000 34,230,000 40,120 62,690 821

    5 INDUSTRI PUPUK 2,090,000 1,370,000,000 0 0 0 2,090,000 393,000,000 0 0 0 0 977,000,000 0 0 0

    6 INDUSTRI SEMEN 23,100,000 493,831 38,320 0 0 3,300,000 69,957 5,428 0 0 19,800,000 423,874 32,892 0 0

    7 INDUSTRI KERAMIK 0 170,437 2,508 0

    10,472 0 51,041 541 0 2255.459 0 119,396 1,967 0

    8,216

    Sumber: BPS, Kemenperind dan Asosiasi Industri, diolah (2012)

Recommended

View more >