Anomali Overreaction Di Bursa Efek Indonesia

  • Published on
    13-Dec-2015

  • View
    10

  • Download
    2

DESCRIPTION

As reaction from market inefficient specified about information distribution, all market participant trying to reduce the effect with various means, among other things by perceiving historical behavior of share price. One of result namely contrarian strategy by believing that loser portfolio will experience of rebound conversely degradation at share winner portfolio. This study aim to prove existence of overreaction anomaly effect in Indonesia Stock Market specially the LQ-45 during 2003-2007. By using Debont-Thaler approach, empirical result express that there is no symptom of overreaction anomaly at three-month, six-month, and annual period. Therefore the study recommend the investor to avoid contrarian strategy specially of LQ-45 stocks.

Transcript

<ul><li><p>Vol. 5, No. 2, Juli 2011</p><p>DAFTAR ISI</p><p>ANOMALI OVERREACTION DI BURSA EFEK INDONESIA: PENELITIAN SAHAM LQ-45</p><p>Rowland Bismark Fernando Pasaribu87-115</p><p>PENGARUH BELANJA MODAL PADA APBD TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KABUPATEN/</p><p>KOTA DI PROVINSI BALI DALAM ERA OTONOMI DAERAH</p><p>Mufidhatul KhasanahRudy Badrudin</p><p>117-132</p><p>ANALISIS PENGARUH DIVIDEN DAN ALIRAN KAS BEBAS TERHADAP LEVERAGEPERUSAHAAN</p><p>DENGAN MODERASI SET KESEMPATAN INVESTASI</p><p>Pandu Fajar Wisudha133-143</p><p>PENGARUH KUALITAS CORPORATE GOVERNANCE, KUALITAS AUDIT, DAN EARNINGS MANAGE-</p><p>MENT TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN</p><p>Serli Ike Ari Susanti145-161</p><p>ANALISIS KUALITAS INFORMASI KEUANGAN TERHADAP KINERJA DAN KEMAMPUAN PERUSAHAAN</p><p>MENGAKSES MODAL EKSTERNAL</p><p>Rini HandayaniSutianingsih</p><p>163-172</p><p>PENGARUH LAYANAN FISKUS DAN PELAKSANAAN SUNSET POLICY TERHADAP KEPATUHAN WAJIB</p><p>PAJAK DALAM UPAYA PENINGKATAN PAJAK</p><p>PramushintaBaldric Siregar</p><p>173-189</p><p>Tahun 2007</p><p>ISSN: 1978-3116</p><p>J U R N A LEKONOMI &amp; BISNIS</p></li><li><p>87</p><p>ANOMALI OVERREACTION DI BURSA EFEK .............................(Rowland Bismark Fernando Pasaribu)</p><p>Vol. 5, No. 2 Juli 2011</p><p>Hal. 87-115</p><p>ABSTRACT</p><p>As reaction from market inefficient specified about in-formation distribution, all market participant trying toreduce the effect with various means, among otherthings by perceiving historical behavior of share price.One of result namely contrarian strategy by believingthat loser portfolio will experience of rebound con-versely degradation at share winner portfolio. Thisstudy aim to prove existency of overreaction anomalyeffect in Indonesia Stock Market specially the LQ-45during 2003-2007. By using Debont-Thaler approach,empirical result express that there is no symptom ofoverreaction anomaly at three-month, six-month, andannual period. Therefore the study recommend the in-vestor to avoid contrarian strategy specially of LQ-45stocks.</p><p>Keywords: market efficiency, overreaction, portfolio,return, risk</p><p>PENDAHULUAN</p><p>Secara praksis, terdapat 2 kelompok partisipan pasaryaitu partisipan rasional dan kuasi rasional. Kalaupartisipan pasar quasi rasional mendominasi di dalamproses pengambilan keputusan pasar, makakeseimbangan pasar rasional tidak akan tercapai.Misalnya, kalau para analis berperilaku kuasi rasional</p><p>ANOMALI OVERREACTION DI BURSA EFEK INDONESIA:PENELITIAN SAHAM LQ-45</p><p>Rowland Bismark Fernando Pasaribu</p><p>ABFI PERBANAS INSTITUTE JAKARTAJalan Komando III/2, Nomor 37 JKSL 12920</p><p>E-mail: rowland.pasaribu@gmail.com</p><p>terkait dengan insentif ekonomi atau perilaku non-ekonomis saat memprediksi earning, maka hasilprediksinya akan menunjukkan pola yang sistematikoverreaction, underreaction, optimisme, ataupesimisme seperti yang banyak dijelaskan dalamliteratur keuangan dan akuntansi.</p><p>Saat ini terdapat dua dasar penjelasan alternatifuntuk perilaku prediksi earning para analis, yang satuberdasarkan respon terhadap insentif ekonomi danyang lainnya berdasarkan perilaku non-ekonomi.Beberapa ahli berpendapat bahwa insentif ekonomidapat mempengaruhi prediksi earning analis karenabeberapa hal di antaranya hubungan underwritinganalis dan perusahaan yang diprediksi earning-nya,perihal reputasi karir, atau manajememen earning padaperusahaan yang dianalisis (Scharfstein dan Stein,1990; Dechow, Hutton, dan Sloan, 1998; Michaely danWomack, 1999; Lim, 2001).</p><p>Penjelasan kelompok kedua digambarkan dariperilaku ilmuwan dan praktisi yang menyarankan agarinvestor jangan cenderung mengikuti teori statistikmengenai prediksi, tetapi menggunakan probabilitassubyektif pada suatu event, misalnya informasi earn-ing yang tidak diharapkan untuk menentukanresponnya (Kahneman dan Tversky, 1972, 1973;Tversky dan Kahneman, 1973; Einhorn dan Hogarth,1985). Sejumlah literatur perilaku keuangan menyatakanbahwa terdapat suatu tendensi pada perilaku analisdan investor terhadap informasi earning yang tidakdiharapkan. Tendensi perilaku tersebut telahdiklasifikasikan sebagai overreaction, underreaction,</p><p>Tahun 2007</p><p>ISSN: 1978-3116</p><p>J U R N A LEKONOMI &amp; BISNIS</p></li><li><p>88</p><p>JEB, Vol. 5, No. 2, Juli 2011: 87-115</p><p>atau optimisme (De Bondt dan Thaler, 1985, 1987, 1990;Bernard dan Thomas, 1990; Abarbanell, 1991;Abarbanell dan Bernard, 1992; Easterwood dan Nutt,1999). Selanjutnya beberapa studi juga telah dilakukanuntuk mengkaji hubungan antara tendensi perilakudalam prediksi earning analis dan reaksi investorterhadap tendensi dimaksud (Abarbanell dan Bernard,1992; Dechow dan Sloan, 1997; Ackert danAthanassakos, 1997).</p><p>Sejumlah penelitian terdahulu jugamengemukakan bahwa prediksi analis menghasilkanproksi yang baik untuk ekspektasi earning investordan cenderung menggunakan model time-series(Brown dan Rozeff, 1978; Fried dan Givoly, 1982; Conroydan Harris, 1987; Brown et al, 1987; OBrien, 1988;Kross, Ro, Schroeder, 1990). Penelitian mengenaitendensi perilaku sistematik dalam prediksi analis danekspektasi investor menggunakan kesalahan prediksianalis berdasarkan prediksi analis yang dihasilkan dariberagam sumber informasi (Abarbanell dan Bernard,1992; Ali, Klein, dan Rosenfeld, 1992; Elliott, Philbrick,dan Wiedman, 1995; La Porta, 1996; Ackert danAthanassakos, 1997; Clement, 1999; Easterwood danNutt, 1999). Selain itu, telah banyak juga literaturterdahulu yang meneliti reaksi harga saham terhadaprevisi prediksi analis (Givoly dan Lakonishok, 1979,1980; Hughes dan Ricks, 1987; Cornell dan Landsman,1989; Teets, 1992; Alexander, Jr, 1992; Abarbanell danBernard, 1992). Literatur tersebut secara eksplisit danimplisit mengasumsikan bahwa reaksi investor terhadapinformasi earning adalah suatu fungsi prediksi analis,yaitu ekspektasi earning investor sama denganprediksi analis [CARit = (FEit)].</p><p>Analis dan investor adalah jenis partisipanpasar yang berbeda dan memiliki kumpulan informasiyang berbeda, karenanya memiliki karakteristik perilakuyang juga berbeda. Oleh karena itu prediksi analis,bukanlah proksi yang memadai bagi ekspektasi inves-tor. Misalkan prediksi analis adalah bias, tetapi inves-tor juga mengestimasi bias tersebut dan selanjutnyamelakukan penyesuaian. Penelitian terdahulu mengenaikonten informasi kontemporer pada earning yang tidakdiharapkan kemungkinan menghasilkan hasil yang jugakeliru atau bias. Karena prediksi analist tidak mungkinsama dengan ekspektasi earning investor, makasimpulan pada penelitian sebelumnya yangmenggunakan bentuk fungsional bahwa reaksi inves-</p><p>tor terhadap informasi earning adalah suatu fungsiprediksi analis kemungkinan mengikutsertakan asumsiyang tidak valid mengenai hubungan antara informasiearning yang tidak diharapkan dan reaksi investor.</p><p>Dimulai oleh De Bondt dan Thaler (1985),penelitian mengenai inefisiensi dalam prediksi earningdan reaksi investor terhadap pengumuman earningtelah menjadi suatu topik baru dalam studi mengenaiearning. Sampai saat ini, studi yang dilakukan terhadaptopik ini membagi reaksi analis dan atau investorterhadap informasi earning ke dalam tiga kategori, yaituoverreaction dan underreaction dari perspektif inves-tor, overreaction dan underreaction dari perspektifanalis, serta optimisme and pesimisme dari perspektifanalis. Beberapa penelitian merupakan pendukunghipotesis rasional bahwa analis dan investormengoptimalkan seluruh informasi yang tersedia danmenghasilkan ekspektasi yang tidak bias mengenaiearning mendatang, di sisi lain terdapat juga hasilpenelitian yang mendukung hipotesis kuasi rasionalbahwa ekspektasi mengenai earning mendatangcenderung menunjukkan bias yang sistematik. Studimengenai anomali overreaction di pasar modal belumterlalu banyak dilakukan di Indonesia, di antaranyaadalah Sartono (2000) yang menguji 3 hipotesisketidakpastian pasar untuk event positif dan negatif diBEJ periode 1995-1998, serta Manurung dan Priotomo(2005) yang mengaplikasikan metode De Bondt danThaler untuk mengidentifikasi anomali overreactionpada saham emiten tekstil, retailer, dan wholesaler.</p><p>Overreaction adalah salah satu tendensi padaperilaku analis dan investor terhadap informasi earn-ing yang tidak diharapkan dan dapat menimbulkanvolatility dari return yang abnormal pada saham-sahamdi pasar. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapatdirumuskan permasalahan penelitian, yaitu apakahterjadi gejala anomali overreaction di Bursa Efek Indo-nesia, khususnya saham yang tergabung kedalam LQ-45 periode 2003-2007. Tujuan penelitian ini untukmembuktikan anomali overreaction di Bursa Efek In-donesia khususnya pada saham LQ-45.</p><p>MATERI DAN METODE PENELITIAN</p><p>Literatur perilaku keuangan substantif secara aktualmengidentifikasi 2 fenomena yang cukup berbeda,keduanya disebut overreaction-effect. Pertama, para</p></li><li><p>89</p><p>ANOMALI OVERREACTION DI BURSA EFEK .............................(Rowland Bismark Fernando Pasaribu)</p><p>peneliti mengisolasi fenomena jangka pendek yangmuncul dari keterkejutan investor pada berita baik atauburuk perusahaan yang menghasilkan overshootingtemporer pada nilai keseimbangan harga sahamperusahaan yang terkena pengaruh. Para peneliti telahmenganalisis pengaruh jangka pendek overreactiondengan menggunakan beragam formasi portofolio danperiode pengujian bulanan, mingguan, dan harian.Zarowin (1989, 1990) menggunakan return bulanandalam menjelaskan pergerakan jangka pendek hargasaham di Amerika dengan menguji apakah portofoliosaham dengan kriteria winner-looser (mengacu kepadadi atas atau di bawah nilai rata-rata risk-adjusted re-turn) mengalami pembalikan harga saham pada 1 bulanmendatang. Hasil penelitiannya mengindikasikanbahwa strategi kontrarian jangka pendek menghasilkanrata-rata abnormal return yang secara statistiksignifikan sebesar 2%-5% perbulan. Penelitiannyamendukung hasil tentatif dari penelitian Rosenberg danRudd (1982) dan Rosenberg, Reid, dan Lanstein (1985)untuk strategi pembalikan return tertentu.</p><p>Howe (1986) menggunakan metodologi yanghampir sama dengan De Bondt (1985) dan De Bondtdan Thaler (1985) yang menyatakan bahwa saham yangselalu mengalami posisi return yang positif atau negatifdalam minggu tertentu akan mengalami pembalikankinerja pada minggu selanjutnya. Secara khusus, sahamkategori winner yang menghasilkan nilai returnmingguan yang selalu positif akan mengalami kinerjapasar yang underperformed sebesar 30% pada 50minggu berikutnya. Sementara harga saham kategorilooser yang menurun secara tajam dalam identifikasimingguan winer-looser, akan mengalami rebound yangkuat pada lima minggu berikutnya.</p><p>Temuan yang sama dihasilkan oleh Lehman(1992) dengan menggunakan metodologi yang berbedadengan membentuk portofolio dengan kriteria short-position untuk saham yang mengalami kenaikan hargadan long-position untuk saham yang mengalamipenurunan harga. Berdasarkan data harga saham harianDyl dan Maxfield (1987) serta Bremer dan Sweeney(1988) juga menemukan bukti mengenai pembalikanharga untuk saham winner dan looser. Dyl dan Maxfieldmenyatakan bahwa setiap 200 hari transaksi yangdipilih secara random selama periode 1974-1984 untukkriteria saham winner, 3 saham dengan kinerja pasar 1hari yang underperformed 1%-8% dalam 10 hari</p><p>perdagangan, sementara untuk kriteria saham looseradalah 3 saham yang kinerja pasar (1 hari) dari 10 hariperdagangan outperformed sebesar 3%-6%. Sementarahasil penelitian Bremer dan Sweeney menyatakanbahwa terjadi overreaction pada saham perusahaanFortune 500 selama periode 1962-1986. Nilai abnormalreturn sebesar 4% tidak dapat di-atribusikan secaranormal terhadap pengaruh perusahaan kecil, karenaperusahaan yang terkecil dalam Fortune 500 pun terlalubesar untuk dapat dibandingkan dengan rata-rataperusahan terbuka di Amerika.</p><p>Pola pembalikan rata-rata yang sama jugadinyatakan oleh Atkins dan Dyl (1990) pada returnsaham harian Amerika, tetapi mempertanyakan apakahtendensi dimaksud dapat membentuk basis strategiperdagangan yang feasible. Estimasi kinerja harga 6saham dari seluruh saham yang listing di NYSE untuk300 hari perdagangan yang dipilih secara random; 6saham tersebut termasuk 3 saham yang mengalami nilaipersentase kerugian terbesar dan 3 saham winner(persentase kenaikan harga) pada hari tertentu. Hasilpenelitiannya menyatakan bahwa rata-rata abnormalreturn untuk saham looser adalah positif untuk 8-10hari yang akan datang dihitung dari tanggal terjadipenurunan harga dan secara statistik signifikan untuk2 hari setelah event penurunan harga. Untuk sahamwinner, rata-rata abnormal return adalah negatif untuk9-10 hari setelah event kenaikan harga. Secara khusus,abnormal return secara statistik signifikan untuk harike 1, 3, dan 7.</p><p>Untuk negara Inggris, MacDonald dan Power(1992 dan 1993) juga mengemukakan simpulan yangskeptis mengenai pengaruh overreaction jangkapendek dalam return saham mingguan terhadap 40perusahaan publik periode Januari 1982-Juni 1990.Strategi jangka pendek membeli saham looser danmenjual saham winner akan memiliki kinerjaunderperformed daripada pasar dalam periode 12minggu yang akan datang setelah pembentukkanportofolio saham winner dan looser. Berdasarkan hasiltersebut, disarankan bahwa apabila pada suatutingkatan tertentu investor mempertimbangkan bahwareturn mingguan lebih baik dibanding periode bulanan,maka return saham jangka pendek tidak mengandungkomponen transitory pembalikan-rata-rata. Dengankata lain, apabila harga saham meningkat lebih daripadayang diprediksi model pasar dalam 1 minggu, kenaikan</p></li><li><p>90</p><p>JEB, Vol. 5, No. 2, Juli 2011: 87-115</p><p>harga tersebut akan mengalami penguatan olehkenaikan harga berikutnya.</p><p>Studi overreaction jangka pendek oleh Browndan Harlow (1988) serta Brown, Harlow, dan Tinic (1988)menganalisis respon pasar modal terhadap eventdengan rentang durasi 1-6 bulan. Hasil penelitiannyamenyatakan terdapat bentuk yang asimetris padarespon pasar terhadap event baik dan buruk. Dimanareaksi pasar yang negatif lebih kuat dan lebih dapatdiprediksi daripada reaksi terhadap stimulus yangpositif. Lebih lanjut Brown, Harlow, dan Tinic (1988,1990) mengeksplorasi hasil penelitiannya lebih lanjutuntuk mengenai dalil pengaruh overreaction jangkapendek sampai akhirnya mengajukan hipotesis baru,yakni Hipotesis Ketidakpastian Informasi (UncertainInformation Hypothesis, UIH) yang diyakini sebagaimodifikasi yang acceptable terhadap HipotesisEfisiensi Pasar.</p><p>UIH berpendapat semakin dalam reaksi inves-tor terhadap berita buruk dibanding berita baik karenadalam kasus terdahulu semakin tinggi tingkat diskonyang muncul dari peningkatan ketidakpastian yangdiasosiasikan dengan kejutan penguatan terhadappenurunan harga saham. Karenanya, prediksi responterhadap berita baik memisahkan UIH dari pengaruhoverreaction dan untuk menjelaskan apa yangdianggap sebagai respon diferensial terhadap kejutanberita baik (buruk). Lebih lanjut UIH berpendapatbahwa terdapat penurunan pada tingkat fluktuasi hargasaham dalam arah yang meningkat dan bervariasi padasaat downswing.</p><p>Efek overreaction jangka panjang pada returnsaham telah diekspose di Amerika, yaitu 1) secara jelastidak simetris dan 2) terdiri dari komponen yang dapatdiprediksi dan non-transitori. Dengan menggunakanpengujian regresi pada data Amerika, Fama dan French(1988) menyatakan bahwa 25%-45% variasi dalam re-turn bulanan periode 3-5 tahun dapat diprediksi darireturn historis. De...</p></li></ul>

Recommended

View more >