Anomali Iklim Di Pulau Lombok

  • Published on
    23-Oct-2015

  • View
    16

  • Download
    2

Transcript

<p>Anomali Iklim di Pulau LombokPulau Lombok yang memiliki luas lebih dari 4700 meter persegi dan populasi sekitar 4 juta jiwa ini kerap mengalami cuaca ekstrem dari kekeringan hingga banjir. Keunikan tersebut mendorong tim ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup yang diketuai Djoko Santoso Abi Suroso untuk mempelajari data curah hujan,temperatur lingkungan dan permukaan laut di Pulau Lombok selama 30 tahun terakhir.</p> <p>Peta curah hujan tahunan yang dibuat pada awal 1900an menunjukkan bahwa Pulau Lombok berada di perbatasan antara daerah yang relatif basah dan relatif kering. Artinya Pulau Lombok termasuk daerah yang sensitif terhadap perubahan iklim. Buktinya, pada januari 2007 pernah terjadi kekeringan parah di Pulau Lombok dan Sumbawa, sehingga mengakibatkan gagal panen. Padahal pada bulan itu seharusnya masuk musim hujan karena pada Desember 2006 curah hujan cukup tinggi. Anomali iklim pada bulan Januari itu tidak pernah terjadi sepanjang periode 1961-1990. Pada masa itu, curah hujan Januari berkisar 300 milimeter dan terus menurun menjadi 175 milimeter pada periode 1991-2007, kemudian hilang sama sekali saat ini.</p> <p>Selain perubahan curah hujan, ada peningkatan temperatur rata - rata hampir setiap bulan sebesar 0,5 derajat celcius, kecuali Agustus dan September. Diperkirakan sepuluh tahun lagi, suhu udara di Pulau Lombok akan naik 1 derajat celcius dan meningkat 2-3 derajat celcius mulai tahun 2070.</p> <p>Global Warming menyebabkan kenaikan tinggi permukaan air laut yang juga berkaitan dengan semakin tingginya frekuensi terjadinya El-Nino dan La-Nina. Padahal biasanya El-Nino dan La-Nina terjadi setiap &amp; tahun sekali. Kenaikan tinngi permukaan air laut terjadi pada periode transisi antara El-Nino dan La-Nina, dengan kenaikan 15-20 sentimeter di atas rata - rata tahunan. Diperkirakan pada 2030 tinggi permukaan air laut di pantai utara dan selatan Pulau Lombok mencapai 10,5-20 sentimeter dan akan meningkat menjadi 28.5-50 sentimeter pada 2080. Kenaikan tinggi permukaan air laut ini, meningkatkan risiko erosi, perubahan garis pantai, dan mereduksi daerah wetland di sepanjang garis pantai.</p>