4.1.4.1. Pemanfaatan Limbah Industri Mebel Sebagai Wood Flooring

  • Published on
    15-Jul-2015

  • View
    348

  • Download
    10

Transcript

<p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>A. JUDUL PENELITIAN : PEMANFATAAN LIMBAH INDUSTRI MEBEL SEBAGAI WOOD</p> <p>FLOORING ALTERNATIF DESAIN LANTAI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN NILAI EKONOMIS LIMBAH KAYU DI KABUPATEN REMBANG</p> <p>B. LATAR BELAKANG Secara greografis, letak wilayah Kabupaten Rembang sangat strategis karena berada pada jalur dengan tingkat aksebilitas yang tinggi, menghubungkan kota Semarang dan Surabaya, juga Pati, Tuban dan Blora. Memiliki topografi lengkap dari pantai hingga perbukitan. Sehingga memiliki potensi ekonomi dan peluang investasi yang tinggi, diantaranya: perikanan dan kelautan, pertambangan, pariwisata, pertanian, dan industri kerajian (Suaramerdeka, 2005). Salah satu produk industri kerajinan yang pertumbuhannya sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir adalah produk mebel dan furniture. Berawal dari pekerjaan rumah tangga, produk mebel menjadi industri besar dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terdidik yang tidak sedikit. Produk jenis ini secara prinsip dibagi dua kategori yaitu mebel taman (garden) dan interior dalam rumah (indoor). Produksi mebel berkembang dan tumbuh pesat seiring dengan permintaan yang meningkat dari dalam maupun luar negeri, baik desain, konstruksi, corak maupun pewarnaannya. Sentra-sentra produksi mebel di Jawa Tengah tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Jepara, Klaten, Sukoharjo, Kudus, Blora, Batang Sragen, dan Rembang. http://students.ukdw.ac.id/~22012675/produk-Mebel.htm, produk Industri mebel kayu merupakan salah satu industri yang banyak</p> <p>mengeksploitasi sumberdaya kayu. Sedangkan masyarakat terutama dalam bidang industri kerajinan kayu mebel, real estate, dan souvenir, kurang menyadari bahwa eksploitasi tersebut dapat mengakibatkan ekosistem hutan menjadi terganggu serta dapat mengakibatkan kelangkaan kayu. Penggunaan material kayu sebagai bahan utama dalam industri mebel mengakibatkan banyaknya limbah kayu yang dihasilkan seperti: limbah akar pohon, ranting kayu (cabang), hasil potongan penggergajian, serbuk gergaji dan kulit kayu.</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>Hasil wawancara dengan salah seorang pengrajin mebel di Kabupaten Rembang, tahun 2004 telah terdaftar sekitar 60 pengrajin industri mebel dan setiap pengrajin dapat menghasilkan sekitar lima kubik limbah kayu per bulannya. Sisa-sisa kayu oleh masyarakat setempat biasanya digunakan hanya sebagai bahan kayu bakar. Padahal apabila dilakukan pemanfaatan limbah kayu atau material kerajinan seni, akan dapat diperoleh nilai tambah dan nilai ekonomis. Dengan menggunakan disiplin ilmu desain, maka bahan kayu limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif desain aneka produk. Salah satu diantaranya adalah wood flooring.</p> <p>http://www.fsrd.itb.ac.id/wp-content/uploads/2007/11/PEMANFAATAN</p> <p>C. RUMUSAN MASALAH Setelah marmer dan keramik, kini para pemilik rumah mengincar lantai kayu sebagai finish lantainya. Tentu saja karena keindahan kayu, yaitu warna dan seratserat alami yang terbentuk sepanjang masa tumbuh pohonnya dan disertai kenyamanan lantai kayu tersebut. Lantai kayu mempunyai sifat alamiah yang lebih kuat, bertambah pesonanya seiring dengan bertambahnya usia, dan menimbulkan kesan cozy nan mewah. Apalagi, lantai kayu mampu menimbulkan kesan hangat, akrab sekaligus berkelas (Kontan, 2008). Serta kenyamanan lantai kayu, yaitu kemampuannya dalam menyerap panas dan meredam pantulan suara (Cheriatna, 2007). Dengan pemanfaatan limbah industri mebel, keping-keping kayu yang sama indahnya namun tersedia dalam harga yang relatif lebih murah dan dilengkapi dengan pilihan jenis kayu, warna, tekstur, serta pola serat kayu, tersedia dalam jumlah relatif banyak. Kemudian keping-keping tersebut disusun membentuk semacam mosaik yang didesain dalam beberapa pola sesuai dengan pilihan dan keinginan konsumen (Cheriatna,2007). http://123design.wordpress.com/2007/09/20/pesona-lantai-parket/. Memperhatikan fakta bahwa semakin banyaknya peminat lantai kayu, membuat peluang bisnis ini sangat menggiurkan dan apabila terus menerus dikembangkan dapat menerobos dunia perdagangan karena produk ini tidak hanya memberikan kesan mewah, namun juga memberikan kenyamanan dan dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau. Pada kegiatan kewirausahaan ini akan diproduksi wood flooring dari limbah industri mebel di Kabupaten Rembang. Produk tersebut nantinya diharapakn mengurangi limbah dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan adanya kewirausahaan</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>pembuatan wood flooring dari limbah industri mebel, dapat diketahui seberapa besar prospek wirausaha ini.</p> <p>D. TUJUAN PROGRAM Tujuan umum kegiatan PKM Kewirausahaan ini adalah menghasilkan studi kelayakan usaha pembuatan wood flooring dari limbah industri mebel. Tujuan ini dapat dijabarkan secara khusus, sebagai berikut : 1. Memproduksi wood flooring dari limbah industri mebel dengan metode pengolahan tepat guna. 2. Mengetahui kelayakan usaha pembuatan wood flooring dari limbah industri mebel. 3. Mengetahui prospek secara ekonomi dari usaha ini. 4. Mengembangkan desain pola wood flooring yang dihasilkan.</p> <p>E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Produk wood flooring dari limbah industri mebel dengan proses pengolahan tepat guna. 2. Pengembangan desain wood flooring dari limbah industri mebel. 3. Laporan berupa studi kelayakan usaha dan ekonomi dari pemanfaatan limbah industri mebel sebagai wood flooring dengan pengolahan tepat guna.</p> <p>F. KEGUNAAN PROGRAM Kegiatan PKM Kewirausahaan ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pengetahuan bagi masyarakat dalam membuka usaha pembuatan wood flooring dari limbah industri mebel yang berupa pengolahan tepat guna, pengembangan desain pola wood flooring, dan studi kelayakan secara ekonomi dan usaha. Kegunaan yang lainnya adalah untuk memanfaatkan limbah industri mebel agar mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dan mengembangkan potensi Kabupaten Rembang yang merupakan sentra pengrajin mebel dengan penghasil limbah kayu yang relatif banyak. Teknologi yang didapatkan ini nantinya bisa diterapkan pada industri mebel besar maupun kecil.</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA</p> <p>G. 1. Kapasitas Produk Produksi wood flooring dari limbah industri mebel yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah produk dengan kuantitas skala kecil terlebih dahulu dan membaca keinginan pasar serta mengembangkan kualitas produk sesuai dengan permintaan pasar. Maka dari itu, pada awal produksi, 1 m limbah kayu akan diproduksi menjadi papan wood flooring dengan dimensi 100cm x 10cm x 2cm sebanyak 500 papan atau 50m luasan lantai. Produksi akan berlangsung setiap 2 bulan.</p> <p>G.2. Perencanaan Tempat Produksi Tempat sangat mempengaruhi produksi suatu produk, karena tempat dapat mempengaruhi harga, kualitas produk, dan pasar. Maka dari itu, produksi akan dilakukan di Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tempat ini dipilih karena merupakan salah satu sentra industri mebel dengan limbah kayu yang cocok untuk dijadikan wood flooring serta merupakan daerah asal anggota penulis, sehingga dapat menghemat biaya produksi.</p> <p>G.3. Perencanaan Tempat Penjualan Tempat penjualan wood flooring dilakukan di Kota Semarang, Jawa Tengah bekerjasama dengan beberapa konsultan dan kontraktor arsitek di kota Semarang. Kota Semarang dipilih karena merupakan ibukota Jawa Tengah dan pasar yang strategis untuk wood flooring karena jumlah konsumen dan peminat yang lebih banyak daripada kota lain di Jawa Tengah.</p> <p>G.4. Langkah-Langkah Untuk Penjualan Langkah-langkah untuk penjualan dan pemasaran wood flooring dengan metode pemasaran yang baik dan tepat sasaran. Sebelum penjualan dilakukan, diperlukan riset pasar terlebih dahulu. Riset yang dilakukan adalah dengan pengenalan produk, dikarenakan adanya barang baru dengan teknologi tepat guna yang memiliki ciri khas</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>tersendiri, sehingga wood flooring dari limbah mebel dapat diterima oleh masyarakat. Riset pasar itu dapat dilakukan dengan pembagian contoh produk kepada para developer, konsultan perencana, maupun kontraktor. Setelah riset pasar selesai, produk tersebut diproduksi sesuai dengan keinginan pasar. Ada 4 (empat) metode Pembauran Pemasaran (marketing mix) untuk lebih mensukseskan penjualan, diantaranya adalah : Product, Price, Place, dan Promotion. Keempat hal tersebut sangat mempengaruhi kesuksesan suatu pemasaran produk. Apabila keempat hal tersebut diseleksi dengan ketat, niscaya pemasaran produk akan berjalan dengan baik. Selain itu, harus ada strategi Diferensiasi dan fokus dengan metode STP, yaitu : Segmentation, Targeting, dan Positioning yang lebih efektif dalam menarik konsumen, sehingga pemasaran dapat menjadi bisnis yang menjanjikan.</p> <p>G.5. Rencana Anggaran Dana Usaha Rencana anggaran dana untuk usaha wood flooring dari limbah mebel ditampilkan dalam cash flow dan analisis ekonomi di bawah ini : 1. Cash Flow Usaha Dalam perhitungan cash flow ini biaya yang digunakan adalah sebagai berikut : Harga bahan baku habis pakai selama 3 bulan Harga peralatan tidak habis pakai selama 6 bulan = Rp. 4.680.000,00 = Rp. 1.184.000,00</p> <p>Kapasitas produksi untuk jangka waktu 3 bulan adalah kurang lebih 50m2 wood flooring. Dengan pengembangan omset, pada bulan-bulan berikutnya ( tergantung pesanan konsumen).NO 1 2 3 URAIAN Modal Pengeluaran alat Operasional Produksi - pembelian bahan - pengambilan bahan - tenaga tukang - finshing - pacakging - transpor Promosi Penjualan Biaya balik modal 1 6.664.000 984.000 2 BULAN KE 3 4 5.680.000 5 6 Jumlah 12.344.000 984.000</p> <p>3.500.000 100.000 880.000 300.000 200.000 500.000 200.000 9.000.000 6.664.000</p> <p>3.500.000 100.000 880.000 300.000 200.000 500.000 200.000 9.000.000 5.680.000</p> <p>7.000.000 200.000 1.760.000 600.000 300.000 1.000.000 100.000 18.000.000 12.344.000</p> <p>4 5 6</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>7</p> <p>Laba bersih</p> <p>2.336.000</p> <p>3.320.000</p> <p>5.656.000</p> <p>Pada bulan kedua akan didapatkan profit sebesar Rp 2.336.000,00 dari hasil penjualan 50 m wood flooring. Hasil penjualan sebesar Rp 9.000.000,00 akan digunakan untuk modal pada bulan berikutnya (bulan ketiga) sebesar Rp 5.680.000,00. Sehingga usaha wood flooring akan berlangsung. Setiap tiga bulan akan memproduksi 50 m wood flooring. Dengan demikian, maka tiga bulan berikutnya diperkirakan profit akan naik menjadi Rp 3.320.000,00. Jika pesanan meningkat, setelah bulan keenam jumlah unit produksi akan ditambah dengan cara pengembangan laba yang telah didapat pada enam bulan pertama.</p> <p>2. Analisis Ekonomi Usaha I. Biaya peralatan tidak habis pakai (FCI) II. Perhitungan Profit a. Biaya produksi i. Harga bahan baku habis pakai (FOB) ii. Pengambilan bahan iii. Tenaga tukang @ Rp 40.000,00 iv. Finishing kayu v. Unit utilitas (air, listrik) vi. Promosi vi. Transportasi Jumlah =Rp. 3.500.000,00 =Rp. =Rp. =Rp =Rp. =Rp =Rp. 100.000,00 880.000,00 300.000,00 100.000,00 200.000,00 500.000,00 + =Rp. 1.084.000,00</p> <p>=Rp. 6.664.000,00</p> <p>b. Sale i. Harga pasar c. Profit (Penjualan Biaya produksi) = Rp. 9.000.000,00</p> <p>= Rp. 2.336.000,00</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM H.1 Kegiatan Tahap I: Tahap persiapan proyek Tahap ini meliputi pengadaan peralatan berupa alat-alat produksi dan mesin pemotong bahan baku kayu serta bahan baku berupa limbah mebel. Selanjutnya tahap persiapan dilanjutkan dengan mengadakan pelatihan tenaga kerja. Kemudian menyediakan lokasi produksi yang tepat yaitu memilih tempat produksi yang memiliki banyak limbah mebel sehingga bahan baku dapat diperoleh dengan mudah dan relatif lebih murah, diakhiri dengan survey pasar untuk mengetahui prospek produk. H.II Kegiatan Tahap II: Tahap Pengembangan Produk Skala Kecil Tahap ini meliputi penyempurnaan formula dan model wood flooring sesuai permintaan pasar, tes produk secara berkala yang bertujuan untuk mengetahui dengan pasti permintaan pasar, pemilihan produk layak produksi melalui proses penyortiran pada bahan baku sehingga penggunaan produk dapat dipertanggung jawabkan, pemilihan model lantai kayu mozaik yang sesuai dan dapat menarik konsumen. H.II Kegiatan Tahap III: Tahap Produksi Wood flooring Proses produksi wood flooring ini diawali dengan penyiapan bahan baku berupa limbah industri mebel dan penyortiran dilanjutkan dengan proses pemotongan kayu sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan yaitu 100cm x 100cm x 2cm dilanjutkan dengan memasah dan menghaluskan permukaan kayu agar dapat dengan mudah dibentuk. Selanjutnya adalah pembuatan pola wood flooring serta membuat lubang pengait pada semua sisi lantai sehingga dapat mempermudah pemasangan lantai kayu. Dengan teknik tersebut tidak akan ada lantai yang tidak dapat dipasangkan, karena semua memiliki lubang pengait dengan ukuran yang sama pada semua sisi wood flooring. Kemudian dilanjutkan dengan mengamplas atau menghaluskan permukaan lantai kayu agar mudah untuk diberi pewarna yang sesuai. Selanjutnya pewarnaan dengan plitur pada suhu 34 35o C selama 90 menit agar warna menempel dengan kuat dan tahan lebih lama, kemudian dilanjutkan dengan proses pendinginan. Berikutnya dilakukan proses pengemasan produk agar plitur pada wood flooring tidak mudah rusak, dilanjutkan dengan proses pengepakan untuk kemudian produk siap diedarkan.</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>Diagram proses pembuatan wood flooring secara lengkap disajikan pada blok diagram dibawah ini:Limbah kayu Penyortiran</p> <p>Pemotongan kayu 100x10x2cm</p> <p>Pembuatan Pen dan Lobang Pen Untuk sambungan</p> <p>Penghalusan permukaan</p> <p>Finishing</p> <p>Packaging</p> <p>Marketing</p> <p>Gambar 1. Blok diagram proses produksi wood flooring dari limbah industri mebel</p> <p>H.3 Kegiatan Tahap IV : Tahap Penentuan Harga dan Pemasaran Tahap akhir ini merupakan kegiatan kajian teknoekonomi terhadap proses pembuatan wood flooring dari limbah industri mebel. Kajian ini mencakup proses penghitungan menurut kaidah-kaidah kajian ekonomi dan kekuatan pasar yang ada saat ini. Proses tersebut meliputi penghitungan fixed capital investement, working capital, depresiasi, dan bunga bank.</p> <p>Departemen Riset RnB Production</p> <p>Sedangkan analisis yang dilakukan adalah cash flow, Pay Out Time (POT), dan analisis ekonomi benefit cost sehingga dapat dihitung keuntungan yang diinginkan setelah dipotong pajak. Proses penentuan besarnya keuntungan ini juga melihat kondisi pasar. Proses pemasaran terlebih dahulu dilakukan proses pengenalan produk ke masyarakat sekitar. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui program tersendiri atau diselipkan di sela-sela kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, seperti Expo Karir, Teknik Expo, Pameran UKM, seminar-seminar kewirausahaan, dan lain-lain.</p> <p>I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM</p> <p>No 1</p> <p>Rencana Kegiatan 1 Penyiapan bahan dan alat Pemotongan dan Penghalusan 2</p> <p>Bulan ke 3 4 5 6</p> <p>2 3 4</p> <p>Permukaan Kayu Finishing Pengemasan dan pemasaran Analisa hasil pengembangan</p> <p>5 6 7</p> <p>produk Pembuatan laporan Seminar hasil</p> <p>J.</p> <p>NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA</p> <p>1. Ketua Pelaksana Kegiata...</p>

Recommended

View more >